Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 87 : Dugaan tersangka


__ADS_3

Rasa penasaran dan rasa emosi menjadi satu di dalam benaknya Renza. ia ingin secepatnya menemukan pelaku yang meneror keluarganya itu. Wajahnya memerah, tangannya mengepal, giginya ia rapatkan dan menggeram.


"Siapa sebenarnya yang melakukan ini?" teriak Renza marah.


"David bilang orang itu pintar menutupi identitasnya."


"Apa motifnya? Benar-benar membuatku ingin memaki dan berkata kasar."


Tak lama, Renza mendapatkan notif pesan dari ponselnya. Renza merogoh saku jasnya dengan kasar dan membuka kunci ponselnya. Renza tercengang menatap pesan itu. Seseorang mengancamnya dan itu membuatnya benar-benar naik pitam.


"Ada apa, Pak?" tanya Deni.


Renza membacakan pesan itu kepada Deni dengan tegas dan emosi. "Aku akan membuat kalian hancur. Tidak akan aku biarkan kalian hidup bahagia."


"Siapa ini sebenarnya?" Deni memutar otak, mengingat siapapun yang dicurigainya.


"Hah! Berani-beraninya dia mengancamku. Tapi dengan begini dia menunjukkam identitasnya. Segera lacak nomor ini, aku akan mendapatkannya. Dia pikir, dia bisa mengancam seorang Renza?" tertawa menyerigai.


Renza menjulurkan tangannya memberikan ponselnya kepada Deni. Deni segera mengambil nomor pengirim itu dan mengirim pesan kepada David. Ponsel itu di kembalikan lagi kepada Renza. Kemudian, Renza meneleponnya.


Terdengar suara deringan telepon. Tak lama kemudian terdengar jawaban. Renza segera berbicara saat telepon itu tersambung. Karena nomornya masih aktif, Deni dengan senang hati melacaknya.


"Siapa kamu? Apa maksudmu mengancam keluargaku?" tanya Renza berusaha menahan emosi. Terdengar tawa dari seberang sana. Renza mengernyit mendengar tawa itu. ia berusaha menebak suara itu laki-laki atau perempuan.


"Lokasinya di temukan." gumam Deni pelan. Segera Deni memutar arah yang membuat Renza kebingungan. sambungan telepon itu terputus. Renza benar-benar emosi dibuatnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Renza.


"Aku menemukan lokasinya, ini tidak terlalu jauh dari kantor kita. Coba Pak Renza telepon terus nomor itu, biar lokasinya bisa terlacak dengan mudah."


Renza menelpon terus nomor yang mengiriminya pesan singkat. Namun, kali ini ponsel itu seperti sudah di nonaktifkan. "Sial! Sudah tidak aktif."


"Sepertinya nomor ini di daerah rumah kontrakan."


"Rumah kontarakan?"


"Iya, menurut lokasinya jalan murai ini banyak kontrakan."


"Aku sudah tidak sabar ingin memberinya pelajaran!"


Sesampainya di lokasi yang di lacak itu. David sudah terlebih dahulu berada di sana. Deni sudh tersenyum. David menundukkan pandangan saat bertemu Renza. Renza dan Deni mengernyit melihat David membawa seorang wanita di sampingnya.


"Siapa itu?" tanya Deni.


"Ini orang yang mengirim pesan itu. Dia sangat kekeuh tidak mau mengaku. Aku serahkan wanita ini kepada kalian."


Renza segera mendekat. Wanita itu berumur sekitar 30 tahun. Renza menaikkan alisnya sebelah dan menatap tajam ke arah wanita yang ada di hadapannya.


"Aku tidak mengenalmu, mengapa kau mengirim pesan mengancam kepadaku?"


"Kau suruhan seseorang, 'kan? Ayo ngaku." bentak Deni dengan melebarkan matanya penuh.


"Hee ... aku melakukannya sendiri, aku hanya kesal kepada kalian, karena kalian telah membangun kantor baru di lahan yang kami tinggali dan kami akhirnya harus mengontrak. Kalian benar-benar tidak berperasaan."


"Benarkah? Apa hanya itu?" tanya Renza masih menatap lekat wanita itu. Wanita itu mengalihkan pandangan.


"Iya, aku membenci orang-orang seperti kalian."


"Aku mencium bau-bau kebohongan," ucap David.


"Kau sangat berani, haha ... aku salut kepadamu," desis Renza seraya bertepuk tangan.


"Apa kau juga yang mengirim paket itu? Apa kau mau mendekam di balik jeruji besi. Kau tahu siapa dengan siapa kau bermain-main sekarang?" bentak Deni emosi.


Mendengar ucapan Deni, wanita itu terlihat ketakutan. Tak ada yang lebih bisa bersikap menyeramkan terlebih dari Deni. Gelarannya saja di kantor adalah si killer yang dingin.


"Sekali lagi aku tanya? Apa kau mau dipenjara? Jika kau mau, aku akan memenjarakanmu dengan senang hati." Deni menunjukkan senyum devilnya.


"Aku tidak berpikir kau itu pelakunya," ucap David.


Renza mengambil ponsel di saku jasnya dan mengirim pesan kepada Arinka bahwa ia akan terlambat. Ia fokus memainkan ponselnya sedangkan Deni dan David mengintrogasi wanita itu.


"Kenapa?" jawab Wanita yang memakai baju oblong berwarna hitam.


"Apa dia punya anak?" tanya Deni.


"Punya? Dia mempunyai balita laki-laki. Sangat tidak mungkin ia pelakunya."


"Haha ... kenapa kalian tidak mempercayaiku?" Wanita itu masih tersenyum percaya diri.


"Kau sangat percaya diri. Aku ingin bertanya? Apa isi paket yang kau kirim kepada kami?" tanya Renza menatap sinis.


Deni dan David saling bertatap. Mereka memikirkan ide yang sama. Kemudian, David pergi masuk ke rumah wanita itu dan menggendong balita.


"Kenapa aku harus memberi tahu kepada anda? Bukannya anda sudah membukanya."


"Aku sangat yakin bahwa kamu hanya membual." Renza bersikap santai.


"SIAPA YANG MENYURUHMU?" bentak Deni dengan tatapan setajam elang yang siap menerkam mangsanya.

__ADS_1


"Kau tidak mengaku? Lihat anak ini? Kau dan keluargamu akan merasakan akibatnya. Bagi kami segampang itu membuat kalian menderita. Apa kalian ingin mati kelaparan? Suamimu sedang bekerja, 'kan? Lambat laun jika kalian tidak mempunyai uang dan tempat tinggal, kalian akan mati dengan mengenaskan." ancam David, Deni dan Renza menyerigai.


Wanita itu mulai ketakutan, sorot matanya melemah menatap anaknya yang digendong oleh David.


"Apa kau masih terlihat percaya diri?" tanya Renza menyerigai sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Ayo memilih? Kau ingin mati mengenaskan atau ingin mati dengan mudah tanpa jejak," ucap Deni tertawa jahat.


"Aku beri kesempatan kepadamu. Jika kau mengatakan kebenarannya, kau akan aku ampuni. Lihat anakmu, apa kau tidak menyayangi anakmu? " Renza melemahkan nada bicaranya.


Wanita itu mulai menunjukkan wajah memelas. Deni dengan santainya memegang rambut wanita itu dan menariknya sedikit seraya berbisik, "Kau ingin hidup lebih lama, apa kau ingin mati mengenaskan? Apa kau tidak ingin hidup lebih lama dan melihat dia tumbuh?"


"Ma-maafkan saya, Pak." Wanita itu mulai melemah.


"Apa kau ingin mengaku? Jangan membuang-buang waktu, Pak Renza ini sangat sibuk!" Desis David.


"Aku tanya sekali lagi? Siapa yang menyuruhmu?" Deni mulai melemahkan suaranya.


"Se-sebenarnya aku disuruh seseorang, Pak."


"Siapa yang menyuruhmu?" Teriak Deni.


"Biarkan dia berbicara dulu," ujar Renza menepuk bahu Deni.


"Baik, Pak."


"Seorang lelaki, tapi aku tidak tahu nama dan identitas lainnya. Dia memberiku sejumlah uang dan aku tergiur."


"Lelaki?" tanya Renza.


"Iya, Pak. Aku tidak tahu siapa nama wanita itu. Dia bilang jangan bertanya. Aku hanya disuruh memberikan paket kepada kurir dan dia memberikanku sejumlah uang."


"Apa kau benar-benar tidak tahu, atau kau sengaja berbohong ... apa kau sudah bosan hidup!" bentak Deni dengan tangan terkepal.


"Aku benar-benar tidak diberitahu namanya. Dia hanya mengatakan aku harus mengirimkan paket."


"Kenapa tadi kau bilang, kau kesal karena karena pembangunan kantor cabang kami yang baru? Bukankah semua yang tinggal di daerah itu sudah mendapatkan konpensasi atas bangunan rumahnya? Tidak masuk akal. Ayo bawa saja dia ke kantor polisi." Deni benar-benar sangat kesal.


"Jika kau ingin bermain-main, sebaiknya jangan denganku. Aku bukan type orang yang suka mengasihani orang lain. Untung saja aku masih berbaik hati hari ini. Jika tidak, seperti yang di katakan lelaki itu, kau sudah aku masukan di jeruji besi."


"Baiklah, begini saja. Kami akan mengawasi siapa lelaki itu datang ke rumahmu dan menyuruhmu mengirimkan paket itu. Kau harus bekerja sama. Lelaki itu yang bernama David, akan memantaumu selama 24 jam. Jangan bermain-main, ok!" ucap Deni pelan tapi penuh penekanan.


"Ba-baik, Pak. Aku akan mengikuti apa yang kalian perintahkan." ujar wanita itu gemetar.


"Sudah seharusnya ... jika kau tidak ingin tinggal di penjara," ucap David sinis.


Renza dan Deni pergi meninggalkan tempat itu. David yang mengurus sisanya. Di dalam mobil, Renza menjadi sangat bingung. Wajahnya ia tekut dan mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa, Pak?"


"Apa kau berpikir itu Dahlan?" Renza memandang Deni tepat di kaca spion depan. Matanya benar-benar menyeramkan.


"Aku juga berpikir begitu, biar David menyelidikinya dulu dengan tenang."


"Hah, aku muak dengan kejadian seperti ini. Aku kasihan dengan istriku. Aku tidak ingin membuat dia tertekan. Nantinya akan sulit buat kami mendapatkan anak."


"Semoga ini cepat berlalu, Pak."


***


Di rumah, Arinka masih was-was menatap paket itu. Dina memperhatikan raut wajah Arinka yang berubah ketakuatan, tidak seceria sebelum menerima paket.


"Kak, aku boleh bertanya?" ucap Dina pelan.


"Hmm ... tanya saja," jawab Arinka sambil terus meremas jemarinya.


"Kenapa Kak Arin terlihat ketakutan?"


"Kau pasti mendengar, 'kan? Tadi aku menelepon suamiku. Kami mendapat paket ancaman dari seseorang. Makanya aku ketakutan."


"Astaga! Siapa yang berani berbuat begitu? Tega sekali mereka."


"Iya, padahal aku merasa tidak ada musuh."


"Mungkin ada orang yang iri dengan kebahagiaan kalian, Kak. Sabar, ya, Kak."


"Ehm ... terima kasih, Dina."


Beberapa saat kemudian, terdengar ucapan salam dari luar. Suara itu terdengar sangat familiar. Bi Ami mempersilahkan masuk. Wanita itu tersenyum sangat manis sambil membawa kantung plastik di tangannya.


"Nyonya ... ada Nona Risa," panggil Bi Ami.


"Saya akan menemuinya, Bi. Tidak perlu memberi tahu."


"Iya, Nona. Silahkan ... Nyonya Arinka berada di ruang keluarga."


Risa berjalan langkah demi langkah memasuki rumah yang di dominasi warna putih itu. Mata nya fokus ke depan menuju ruang keluarga. Terdengar suara orang berbicara dari ruangan itu. Arinka menoleh dengan senyuman manis dan menyapa.


"Risa!"

__ADS_1


"Hai Kak Arin, aku mampir. Ada Dina juga?"


"Halo, Risa." ucap Dina, tapi matanya tertuju pada kantong plastik yang di pegangnya.


"Aku bawa cemilan." Risa meletakkannya di atas meja.


"Kamu selalu repot-repot jika kesini," ujar Arinka.


"Tidak, kok. Ini tadi belinyan kebetulan lewat saja."


"Apa isinya?" tanya Arinka.


"Buka saja." Risa tersenyum.


"Wah, ini donat. Kecil-kecil sekali." Arinka tertawa melihat donat yang menggemaskan itu.


(Ahh, author jadi pengen donat juga.)


"Lucu sekali bentuknya." Dina mengambil ponselnya. "Boleh ku foto?" katanya.


"Silahkan." Risa tertawa memandang Dina yang mencari posisi yang bagus untuk mengambil foto.


Tak lama kemudian, ketika mereka masih tertawa dengan lepas. Datanglah dua lelaki dengan rambut yang sudah sedikit acak-acakkan. Namun, lelaki yang satunya masih terlihat sangat rapi.


Lelaki itu adalah Renza dan Deni. Renza masuk ke dalam rumah dengan raut panik. Renza menyusuri ruang tamu. Langkahnya di percepat. Namun, ia tersenyum ketika mendapati istrinya sedang tertawa di sana. Langkah kakinya terhenti, otomatis Deni juga ikut menghentikan langkahnya.


"Kenapa, Pak?" tanya Deni menatap Renza.


"Lihat, istriku tersenyum. Aku sangat suka. Keberadaan Risa selalu bisa membuatnya tersenyum. Kau mau mencari wanita seperti apalagi. Sudah jelas, Risa itu sangat pengertian."


Deni terdiam menatap isi ruang tamu itu. Tiga wanita sedang tertawa melihat kue donat yang di foto oleh Dina. Bola mata Deni tertuju kepada Risa dan bibirnya refleks menyunggingkan senyuman.


"Pppffttt ... kau tersenyum menatap Risa?" Renza menahan tawa.


"Tidak, Pak," ucap Renza malu-malu.


Renza melangkahkan kakinya menuju ruangan keluarga dan kemudian ia berdeham, "Hemm ... hemm ...."


"Pak Renza sudah sudah pulang," ucap Dina sembari mamasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Sudah pulang? Katanya masih ada urusan." Arinka berdiri dan melangkah membuka jas Renza.


"Uwuu ... pasangan suami istri idaman," Dina senyam-senyum.


Sementara Deni menatap Risa dengan tatapan sendu. Bibirnya tersenyum tipis ketika mata mereka saling beradu. Dina segera berdeham membuat suasana antara Deni dan Risa menjadi canggung.


"Hai," sapa Risa kaku.


"Hai juga ...," ucap Deni tersenyum sekilas.


Renza dan Arinka saling menatap dan tersenyum melihat tingkah dua manusia di depannya yang saling bersikap kaku.


"Biasa saja, jangan kaku begitu. Tadi kau sangat tegas. Kenapa kau jadi berubah begini, haha." Renza tertawa tetapi memalingkan wajahnya.


"Aku biasa saja, kok." Deni duduk di sofa tanpa diperintah.


"Wah ... siapa yang membawa kue?" tanya Renza.


"Risa. Dia selalu saja membawa kue jika ke sini. Aku jadi tidak enak hati."


"Ah, bukan sesuatu yang mahal, kok. Kak Arin tidak boleh bicara begitu." Risa mencebikkan bibirnya.


Kenapa terlihat menggemaskan, sih ... gumam Deni.


"Iya ... Kakak hanya tidak enak. Harusnya kan kakak yang menjamu jika ada tamu."


Renza menatap Deni dan memberi kode dengan menaikkan alisnya. Deni langsung peka dan mengambil kotak paket itu dan membawanya ke dapur. Risa mengernyit memelihat Deni yang berlalu begitu saja dengan kotak di tangannya.


"Kami tinggal dulu, ya. Lanjutkan saja," ucap Renza


"Iya," jawab Risa dan Dina serentak. Kemudian, mereka tertawa.


Renza dan Deni membawa paket itu ke taman belakang. Tidak menunggu lama, Deni segera membuka kotak itu dan terdapat pecahan kaca yang banyak dan bernoda merah. Di dalam paket itu terdapat surat. Deni segera membacakannya di hadapan Renza.


"Aku akan menghancurkan kalian seperti kaca ini, berkeping-keping."


Renza mengepalkan tangannya emosi. "Kurang ajar!"


"Sebentar lagi dia akan tertangkap. Lihat saja!" ucap Deni menatap dengan mata berkabut. "Anda harus sedikit bersabar, Pak."


"Iya, aku yakin David akan segera menemukan pelakunya."


***Bersambung...


Kira-kira siapa ya pelakunya? Hmm ... selamat menebak-nebak Readers 😅


Jangan lupa like dan votenya, yah 😁


Salam sayang dari Author buat Readers semua, I love u 💗😘***

__ADS_1


__ADS_2