
Siapa agil?
Masih terbayang bayang di benak arinka tentang agil
Ah sudahlah buat apa pusing sendiri, lebih baik aku mengerjakan sesuatu daripada memikirkan hal yang tak berguna, tapi benarkah Tuan Renza akan menikahi giska dengan kehamilannya itu, apakah aku akan di ceraikan atau di madu, aku hanyalah wanita biasa walaupun hati ini belum menyukainya tetapi mengapa terasa menyakitkan mendengar kata-kata pernikahannya dengan wanita lain, apakah nasibku seperti ini? haruskah aku lari saja
"Nyonya, nyonya"
Bi ami memanggil manggil arinka namun arinka tak mendengarkan karena ia sedang asyik melamun di depan televisi, bi ami menepuk pundak Arinka, sontak arinka terperanjat dari duduknya.
"aaa ada apa?" gelagapan
"Maaf nya, nyonya melamun ya? sepertinya nek murti sudah datang bersama dengan bi yati didepan"
"Oh benarkah? Aku akan kedepan menyambut mereka" beranjak pergi meninggalkan bi ami
"Bi, masalah tadi tentang wanita tadi tolong rahasiakan, aku tau bibi pasti mendengar kegaduhan itu"
"Baik nya"
Senyum sumringah tepancar di wajah arinka menyambut kedatangan nenek dan bibinya, arinka sangat merindukan mereka terutama bi yati karena sejak hampir sebulan pernikahan mereka, arinka belum pernah berkunjung, bukan apa karena ia sibuk berbenah dirumah barunya dan menyesuaikan diri dirumah baru tersebut.
"bibi, nenek" arinka berhambur berlarian menuju dua orang yang disayanginya itu, bi yati dengan cepat membuka tangannya lebar tanda beliau ingin dipeluk
"bibi kangen sekali, apa kabar rin? Wahh rumah kalian besar sekali, bibi bahagia banget ketemu arin" ucap bi yati bertanya beberapa pertanyaan sekaligus
"jadi nenek dilupakan" tak ketinggalan nek murti juga ikut berbicara
Arinka berpindah dari pelukan bi yati kepelukan nek murti, arinka sangat senang dikunjungi tamu setelah hampir seminggu mereka pindah rumah, tetapi tidak dengan tamu sebelumnya.
"ayoo duduk" ucap arinka sambil menepuk-nepuk sofa
Arinka bergegas kedapur mengambil buah yang telah dipotongnya tadi dan membawanya ke meja, mereka duduk di ruang televisi, ruang itu adalah ruang berkumpul keluarga.
"Kenapa Arin sibuk membawa makanan kesini sih? kan ada bi ami yang akan membawakan makanan, arin disini saja" ucap nek murti
"Arin memang begitu orangnya, dulu waktu masih tinggal dirumah dia type orang yang banyak bergerak,mungkin tak enak jika tak mengerjakan sesuatu, maklum dia terbiasa melakukan hal seperti itu dulu dikampung" tambah bi yati sambil tertawa
"iya karena memang sudah biasa, makanya ga enak, hehe. ini kan rumahnya arin, sebagai tuan rumah arin kan harus menyiapkan jamuan untuk tamu"
Rumah arin, rumah tuan renza maksudnya
"ohh jadi kali ini kami hanya sekedar tamu" olok bi yati
"bu bukan gitu bi maksud arin" gelagapan takut salah bicara
Nek murti dan bi yati lalu tertawa bersama melihat tingkah arin, mereka bertiga terlibat percakapan seru hingga malam hari, maklum jika para wanita sudah berkumpul pasti akan ramai walaupun hanya bertiga
"Rin, bagaimana hubungan kamu sama renza?"
"hmm Baik kok nek"
"Arin harus bersabar ya, lagi-lagi itu yang bisa nenek ucapkan, nenek yakin suatu hari nanti Renza akan mencintai arin sepenuhnya"
__ADS_1
Ga mungkin, aku juga tak ingin memberi harapan apa-apa, hasilnya pasti nol, apalagi mungkin pernikahan ini akan segera kandas
"Apakah renza pernah memperlakukan arin dengan kasar?"
"tidak nek, dia tak pernah kasar"
Dia kasar dalam ucapannya, tetapi aku sudah terbiasa, di cuekin pun juga biasa.
"apakah kalian belum saling mencintai rin? " ucap bi yati lirih
Ya ampun bibi kan ga tau, gimana ini?
"sekarang sudah kok ti, wajar saja mereka baru saling mencintai sekarang, waktu mereka saling kenal kan sangat singkat" ucap nek murti menerangkan
"hmm benar juga sih, bisa karena terbiasa" bi yati terkekeh
Arinka dan nek murti saling pandang,Nek murti lupa jika bi yati tidak tau bahwa Renza sebenarnya belum mencintai Arinka sampai sekarang, nek murti juga tau siapa wanita yang dipacari renza
"Bibi doakan arin selalu bahagia yah"
"hmm makasih bi" memeluk
"Renza kapan datang sih?" ucap nek murti
"ga lama lagi nek, biasanya jam 7 sudah sampai rumah kok"
Dikantor Renza sudah siap untuk pulang kerumah,renza berjalan keluar kantor dan deni juga bergegas mengikuti dibelakang, mereka masuk kedalam mobil tanpa pembicaraan apapun, tiba-tiba suara deni memecah kesunyian
"Tadi Giska kerumah?"
"Rumah baru kalian pak, dia datang membuat kegaduhan"
"Huh, aku mulai muak dengan kelakuannya? Apakah dia memaki arinka?"
Pertama kali aku mendengar Pak renza menyebut nama istrinya, aku pikir dia lupa nama istrinya
"iya pak, dia sudah membicarakan tentang kehamilannya dan bilang akan menjadi nyonya rumah baru dirumah kalian"
Grrrrr renza mengeram kesal
"Ternyata nyonya arinka pernah ditampar oleh giska"
"Apaaa, kapan?"
"Dimalam pernikahan kalian"
Malam itu aku juga memakinya, astaga kenapa aku merasa bersalah begini kepadanya
"apa kau sudah mendapatkan bukti?"
"Sudah pak,sudah lengkap"
"hemm,lihat saja wanita munafik kau akan merasakan akibat ulahmu ini,huh.!"
__ADS_1
Aku juga sudah tak sabar ingin mempermalukannya, gumam deni dalam hati
Seketika hening, dan kemudian Deni memulai pembicaraan kembali.
"Pak, kenapa bapak tak menyukai Nyonya arinka? Dia itu sangat lembut pak, kenapa bapak tak pernah melihatnya sebagai wanita yang baik,"
"Baaaiiik, haha." renza tertawa keras
"dia menikah denganku itu atas dasar harta, mana mungkin dia mau menerima perjodohan ini kalau seandainya aku miskin dan tak punya apa-apa "
"Tapi sampai hari ini dia belum pernah membeli apapun menggunakan uang bapak,? "
"itu karena dia masih malu-malu, terlihat kampungan padahal dia type wanita yang suka harta, lihat saja ga lama lagi kau akan kewalahan menerima sms banking,"
Kenapa Renza berpikiran seperti itu, aku yakin arinka itu orang yang baik?
Pasti otaknya telah dicuci oleh giska
"jika bapak melihat sifat dan ketulusannya mungkin bapak akan berpikir dua kali untuk memakinya,"
"Haha, apa kau sudah tergila-gila dengan si kampungan itu? Sampai harus memujinya seperti ini dihadapanku. Jangan-jangan kau menyukainya? " tertawa lirih
Apa deni sungguh menyukai arinka, cih.
"maaf pak, bukan maksud saya berkata lancang begitu,"
"Jika bukan karena kau orang kepercayaanku, sekaligus temanku mungkin kau sudah aku pecat, huh"
Sejenak perjalanan mereka hening, sampai beberapa saat mereka sampai di rumah kediamannya Pak renza, satpam dengan segera membuka pintu pagar itu, Renza melihat ada mobil milik neneknya terparkir didepan rumah.
"maaf Pak, Saya lupa bilang bahwa nyonya besar datang berkunjung?"
"hmm benarkah? Aku sudah lama tak melihat nenek," berjalan masuk kedalam rumah
"aku pulang, wah wah ternyata ada tamu ya?" ucap renza sembari mendekati nenek dan bi yati lalu mencium tangan
"baru pulang ya, kami sudah lapar dari tadi menunggu kau pulang, ayo cepat kita makan bersama," tutur nek murti
"baiklah, renza naik keatas dulu mandi sebentar lalu turun lagi"
"ayoo cepat kami sudah lapar." nek murti terkekeh
Arinka naik dan mengikuti renza sekedar menyiapkan baju, sedangkan bi yati dan nek murti sudah duduk di meja makan, bi ami sudah menyiapkan makanan di meja makan.
Sampai di kamar arinka tak berbicara sama sekali hanya menyiapkan baju diatas sofa, mengisi air hangat dan kemudian turun kembali kebawah menemani bi yati dan nek murti, begitulah setiap hari rutinitas Arinka layaknya pelayan yang hanya menyiapkan keperluan majikan.
"Kau malam ini jangan tidur disofa? Tidur saja ditempat tidur?"
Apaaa!! Kenapa tiba-tiba batin arinka.
Bersambung..
Jangan lupa Vote dan comment ya
__ADS_1
Luv u all 😘