
Risa pulang dari rumah Arinka menaiki sepeda motor, ia sangat kesal karena bertemu dengan Deni. Ujung-ujungnya pertemuan mereka selalu berakhir dengan pertengkaran.
Deni pulang kerumahnya bersama Dina, setelah mandi ia berbaring santai di depan kursi rotan panjang didepan televisi. Deni membuka sosial medianya. Tak menyangka ia mendapat undangan acara reuni sma nya nanti malam.
Deni melihat pesan masuk selanjutnya dari Mawar. Deni membalas seraya tersenyum, Deni sangat suka berbalas pesan kepada Mawar. Akhirnya, Deni memberanikan diri meminta nomor whatsapp Mawar.
Setelah mendapat nomor Mawar, mereka melanjutkan chatnya. Mawar sangat suka segala hal tentang makanan dan fotografi. Mawar berkata mengikuti kelas memasak disebuah tempat kursus. Sebuah kebetulan karena Deni akan segera mendaftarkan Arinka ikut kursus disana.
"Jika ada waktu, apa bisa nantinya kita bertemu?" tulis Deni di pesan itu.
"Iya, nanti kita akan bertemu, tapi jangan secepat ini." tulis Mawar.
Deni merasa cocok dengan karakter Mawar, ia bisa bebas bercerita apapun kepadanya.
"Apa kau masih lajang? ucap Mawar.
"*Masih, kamu?"
"Masih*."
"Sedang apa?"
Pesan itu hanya dibaca dan tidak dibalas. Deni menutup aplikasi chatnya. Deni berpikir apakah dia akan pergi menghadiri acara reuni tersebut.
Deni sedikit khawatir, karena cinta pertama yang dianggapnya cinta monyet itu ada disana. Deni sangat malas. Tetapi grup chatnya mendadak ramai karena akan ada reuni. Beberapa temannya menyebutkan dirinya harus datang.
Malam itu, Deni memakai kemeja berwarna biru langit di gulung sampai sesiku bawahannya memakai celana jeans ,tidak lupa memakai jam tangannya.
"Kemana?" tanya Ema - ibunya Deni.
"Aku akan menghadiri acara reunian."
"Baik lah, hati-hati di jalan."
Deni mengambil kunci mobilnya, ia berpamitan kepada ibunya lalu melajukan mobilnya di sebuah cafe tempat mereka akan reunian.
Sesampainya didepan cafe itu, Deni turun dan disambut beberapa temannya.
"Bro," panggil Wira dan Agung teman sekelas Deni sewaktu sma.
"Hai, Wir, Gung!"
"Wah, sudah lama ya tidak bertemu, kau semakin tampan dan sukses."
"Kalian juga," ucap Deni seraya tersenyum kaku.
"Ayo masuk kedalam, mungkin mereka sudah ramai didalam."
Deni, Agung dan Wira masuk kedalam cafe itu. Ternyata didalam sudah ramai. Ini hanya reuni kelas IPS saja, dimulai dari kelas IPS 1 dan 2.
Deni dan kedua temannya duduk di sofa panjang. Deni tertuju dengan seorang wanita yang dulunya pernah ia sukai.
"Hai, Denista." panggil wanita itu.
"Hai, Milka."
"Bagaimana kabarmu, wah sekarang semakin tampan ya?"
"Haha, tidak sopan jika bertemu seseorang langsung berbicara seperti." ucap Deni dengan nada dingin.
Seketika yang mendengar mendadak diam sejenak lalu ramai kembali. Milka merasa tertantang dengan lelaki seperti Deni. walaupun Deni pernah menyukainya tapi ia tidak pernah menampakkan bahwa ia mempunyai perasaan kepadanya.
Setelah banyak mengobrol dan bernostalgia tentang masa sma. Beberapa temannya bertanya tentang status mereka masing-masing, apakah masih lajang atau sudah menikah.
Mendengar ucapan lajang, baik Deni maupun Milka merasa lega. Sebenarnya rasa dihati Deni itu sudah lama hilang. Tapi jika menyangkut cinta pertama pasti sangat membekas.
Milka duduk berhadapan didepan Deni. Milka melempar senyum kepada Deni. Namun, Deni bersikap acuh dan memasang wajah datar.
"Kau sekarang bekerja dimana?" tanya Milka.
"Perusahaan Fariq company."
"Wah, itu perusahaan besar."
Deni merogoh sakunya ketika ponselnya berbunyi, ternyata balasan whatsapp dari Mawar. Deni membalas pesan itu seraya tersenyum.
Deni tersenyum melihat ponselnya. Apa dia sudah mempunyai pacar? batin Milka.
Milka penasaran ingin bertanya, tapi Milka tersadar jika tadi waktu ia memuji, Deni tidak suka.
Milka mencari kontak Deni di grup reuni, ia melihat dengan seksama dan akhirnya menemukan kontak Deni, secepat kilat Milka menyimpan nomornya.
Asyik bernostalgia, makan dan minum-minum. Akhirnya, mereka pulang. Teman-teman yang sudah menikah menjodoh-jodohkan Deni dan Milka.
Milka tersipu malu, sedang Deni bersikap datar. Semua berpamitan dan pulang kerumah masing-masing.
***
Renza dan Arinka masih tertidur, Mereka sangat lelah akibat percintaan panas mereka semalam. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, tapi dua manusia itu masih terbungkus rapi didalam selimutnya.
Dreet! Drett!
Getaran telpon gengam Renza diatas nakas bergetar berulang kali. Renza menjangkaunya dalam keadaan mata yang masih tertutup. Pelan-pelan ia membuka mata dan melihat siapa yang menggangu waktu tidurnya, "Deni!"
"Ada apa? " tanya Renza.
"Pak Renza pulang pukul 11 kan, sekarang anda harus bersiap naik kapal."
"Memangnya sekarang pukul berapa?"
__ADS_1
"Pukul 8 lewat."
"Ya ampun!"
"Kenapa? apa Pak Renza baru bangun?"
"Iya, ya sudah aku akan mandi dulu."
Sambungan itu terputus. Renza bangkit dari tidurnya seraya membangunkan istrinya.
"Mimom, sayang. Ayo bangun kita harus pulang."
Arinka membuka matanya dan segera duduk di tempat tidurnya itu. Dadanya terumbar jelas karena ia lupa menarik selimutnya. Sehabis pergulatan panas semalam Mereka tak menggunakan apapun.
Mata Renza terbelalak melihat tubuh putih Arinka dipenuhi dengan tanda kepemilikannya.
"Sebanyak inikah Kissmark ditubuhmu? aku bahkan tidak sadar telah membuat sebanyak ini."
Arinka menurunkan lagi selimutnya sampai ke perut, tangannya menutup daerah dadanya.
"Nah, sampai sebanyak ini." ucap Arinka.
"Aku pasti menjadi juara jika ada perlombaan seperti ini, haha."
"Tidak waras!" ucap Arinka terkekeh.
Arinka akan turun dari ranjang itu, dengan tubuh polos Renza mengangkat Arinka ke kamar mandi. Mereka mandi bersama. Kali ini benar-benar mandi.
"Aww," ucap Arinka ketika Renza memegang area selangkangannya. Arinka kesakitan diarea itu karena perbuatan Renza selama empat malam berturut-turut menidurinya.
"Maaf!" ucap Renza tersenyum.
"Pura-pura minta maaf! hiss ... Apakah kau tidak melihat, leher ini banyak sekali dengan tanda kepemilikanmu, bagaimana menutupinya? aku sangat malu. Pakai syal, tapi tidak ada syal. Baju turtle neck tidak ada juga."
"Pakai jaket saja, nanti jika sampai rumah aku akan menyuruh Deni membeli satu lusin baju turtle neck."
"Kenapa harus sebanyak itu sih, beli dua saja sudah cukup."
"Tapi tanda ini pudarnya lama, jadi kau harus memakai baju itu lama sekali."
"Ya sudah, terserah sultan yang punya kuasa." Arinka terkekeh.
"Kau mengejekku," ucap Renza seraya menggelitiki Arinka.
"Tidak, hentikan! aku sangat geli." pekik Arinka seraya tertawa.
Selesai mandi mereka berkemas-kemas, mereka akan pulang. Renza menarik koper keluar pintu. Tak lama datang buggy car yang akan mengantar mereka ke dermaga pulau itu. Sebenarnya tidak jauh, tapi karena ada ole-ole beberapa baju jadi sedikit berat.
Sesampai di kamar, Renza dan Arinka berdiri didepan seraya memandangi laut lepas dengan air kebiruan. Arinka memandangi pulau yang indah itu dan berharap bisa kembali lagi suatu saat kesini.
Renza memeluk Arinka dan berkata, " Nanti kita akan kesini lagi jika ada waktu untuk libur."
Renza asyik memotret Arinka yang sedang melihat laut dengan rambut terurai diterpa angin yang cukup kuat. Rambut itu sedikit berantakan tapi di mata Renza malah terkesan seksi.
Arinka memakai sweater milik Renza untuk menutupi belang-belang di lehernya. Setelah sadar Renza terus menatapnya. Arinka menutup kepalanya dengan topi sweater lalu tertawa.
Setengah jam mereka melintasi laut dengan kapal itu. Renza dan Arinka duduk saling menyandarkan belakang masing-masing. Arinka sempat tertidur di bahu Renza. Namun, tak lama kapal itu merapat.
Arinka dan Renza turun, kemudian mereka naik kedalam mobil. Mobil itu membawa mereka ke bandara. Renza memandangi Arinka seraya tersenyum dan berkata, "Aku tertidur tadi, apa kau sangat lelah?"
"Ehm ... Aku sangat lelah."
"Nanti dipesawat Mimom bisa tidur."
Seketika mereka sudah berada di Bandara. Renza dan Arinka sudah check in dan tak lama mereka berjalan menuju pesawat. Koper yang mereka bawa ditaruh di bagasi.
Di dalam pesawat, Arinka dan Renza tertidur. Mereka benar-benar lelah. Arinka merasa dia akan tidur seharian dikamarnya hari ini.
Pesawat telah landing, Renza dan Arinka sudah bangun. Mereka turun bersamaan. Setelah masuk diruang kedatangan terlihat Deni sudah menunggunya disana.
Deni menunggu barang dari bagasi lumayan agak lama. Sedangkan Renza dan Arinka berjalan menuju mobil. Tak lama terlihat Deni membawa koper dan beberapa barang, kemudian ia memasukkannya di bagasi.
Setelah Renza dan Arinka masuk, Deni segera melajukan kendaraannya.
"Back to realita," ucap Renza.
Hari santaiku sudah selesai ... gumam Deni.
Arinka tertidur didalam mobil seraya bersandar dibahu Renza.
"Bagaimana perusahaan? apa kau handle dengan baik?" tanya Renza.
"Lancar, Pak. tidak ada kendala apapun."
"Bagus."
"Bagaimana liburan anda? apakah menyenangkan, Pak?"
"Sangat menyenangkan, sampai aku tidak ingin pulang."
"Haha, benarkah, Pak?"
"Mmm, pulau nya sangat indah dan nyaman. Jika kau bulan madu, kau harus kesana? Disana sangat tenang dan suasananya sangat mengesankan. Kau bisa membuat banyak bayi."
"Ya ampun, Pak. pasangan saja aku sedang mencarinya!"
"Cari yang benar biar cepat ketemu."
Dia pikir seperti mencari barang yang akan dibeli, apa? masih mending nyari jarum dijerami daripada nyari istri yang dadakan.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Renza mengangkat Arinka yang tertidur pulas di dalam mobil. Deni mengekori seraya membawa barang-barang dan koper.
"Selamat datang, Tuan." ucap Pak Ahmad, Bi Ami dan Pak Tino serentak.
Renza menundukkan pandangannya seraya tersenyum hormat.
"Ny. Arinka kenapa?"
"Dia tertidur, aku tidak tega membangunkannya."
Renza naik ke atas tangga yang lumayan tinggi itu menggendong Arinka. Deni menatapnya seakan tak percaya melihat Renza menggendong Arinka dengan tegapnya.
Benar-benar the power of love, bucin sejati.
"Pak Renza benar-benar menyayangi Ny. Arinka, lihat saja perlakuannya sangat istimewa," ucap Bi Ami.
"Benar, Mereka seling terlihat romantis." ucap Pak Tino.
"Tuan Deni, anda harus mempunyai istri juga!" ucap Bi Ami.
"Apakah jatuh cinta bisa membuat orang tidak waras seperti itu."
"Hmm, benar. Apa Tuan Deni belum pernah pacaran? mempunyai istri lebih menyenangkan daripada sekedar pacaran, sudah halal dan milik kita sendiri." Ucap bi Ami.
"Haha, Bi Ami bisa saja."
"Ini fakta, setiap orang yang jatuh cinta memang seperti itu, cintanya akan menggebu diawal. tapi pak Renza dan Ny. Arinka itu cintanya seakan tidak pernah padam.
"Yah, karena mereka saling membalas cinta, mungkin seperti itu?" ucap Deni tertawa.
Renza membaringkan Arinka diatas ranjang. Ia melepas sepatu nya dan kemudian mengecup keningnya lembut. Renza mencari remote air conditioning. ia ingin membuat ruangan kamarnya ini sejuk, karena Arinka menggunakan sweater. Renza tak ingin membukanya pasti akan membuat Arinka terbangun.
Renza memandangi wajah mulus Arinka sedang tidur itu, benar-benar polos. Arinka sangat canti bahkan tidur sekalipun.
Renza turun ke bawah dan duduk di sofa. Deni berada di sofa itu juga seraya memainkan ponselnya berbalas pesan.
Renza heran melihat Deni tersenyum di hadapan ponselnya. Renza sangat tahu pasti Deni sedang mempunyai gebetan.
"Kau kenapa tersenyum begitu? pasti gara-gara seorang wanita ya?"
"Ah, tidak hanya melihat sesuatu yang lucu saja."
"Aku tidak bisa kau bohongi, apa jangan-jangan itu gebetan baru."
"Tidak kok."
Aku curiga, Deni pasti sudah mempunyai gebetan.
"Aku akan mencari tahu sendiri." ucap Renza tertawa.
Renza meminta Deni untuk memperlihatkan berkas-berkas penting yang sudah dibawa Deni didalam tas kantornya. setelah panjang lebar menceritakan tentang perusahaan, Deni bertanya lebih rinci tentang pulau yang dikunjungi Renza.
"Disana ada penangkaran penyu, kebun bunga matahari yang sangat luas, benar-benar sangat indah. Aku ingin kita membeli sahamnya nanti."
"Baiklah, Aku jadi penasaran ingin berkunjung kesana."
"Kau mana bisa kesana, pulau itu banyak pasangan yang sedang bulan madu. Nanti kau baper sendiri."
"Aku akan membawa pasangan kesana nanti."
"Sudah aku tebak, tadi kau pasti mendapat pesan dari gebetanmu, makanya kau sangat yakin akan pergi kesana berpasangan."
"Tidak."
Tak lama ketika sedang berbincang, Deni mendapat pesan dari whatsapp nya. Nomor baru yang tidak ada fotonya.
"Nah, sekarang kau sibuk melihat ponselmu 'kan?"
"Tidak, maaf Pak."
"Oh ya, Istriku bilang ia ingin mengikuti kelas memasak. Carikan yang terbaik untuknya."
"Baiklah, Pak. kebetulan aku mempunyai teman yang ikut kelas memasak disana."
"Baguslah."
"Kau pergi lah ke kantor, aku akan tidur hari ini. Besok aku akan bekerja."
"Iya, Pak."
Renza beranjak dari sofa dan naik keatas ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang bersebelahan dengan Arinka. Renza berbalik memandangi wajah istrinya yang tengah tidur dengan napas teratur. Di usapnya puncak kepala Arinka seraya mengecup keningnya.
Renza tersenyum mengingat semua kejadiannya beberapa hari disana. Renza mengambil ponselnya didalam kantong celananya. ia membuka galery album fotonya. Renza memandangi foto Arinka seraya berkata,
"Aku tidak menyangka akan mencintai wanita ini, wanita yang awal pertemuannya bahkan sudah ditentukan oleh Tuhan. Jauh sebelum adanya kata perjodohan, sungguh benar - benar rahasia Tuhan sangat indah. Aku menyesal tidak memperlakukannya dengan baik saat itu."
**Bersambung...
Hay Readers, Terima kasih atas like kalian yah 😊
Deni akan menghadapi dilema antara cinta pertama dan seorang yang dikenalnya di sosial media. Aku baca komentar ada yang ingin karakter baru dan orang lama, jadi aku putuskan dua orang itu akan bersaing 😂😁
Tenang - tenang, kalian beri masukan saja ya dikolom komentar, haha. Jodoh Deni ada ditangan Author 😂
Bay the way, jangan lupa vote novel ini donk, biar makin banyak vote dan like author semakin bersemangat.
Salam sayang dariku untuk pembaca tercinta...
Luv u all ❤😘**
__ADS_1