
Sesampainya di rumah, Renza dan Arinka masih tersenyum mengingat tentang Risa dan Deni. Renza duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya. Sedangkan Arinka ke dapur membawakan air minum untuk suaminya itu.
Arinka membawa gelas berisi air putih itu menuju sofa. Kemudian, Arinka memberikan gelas itu kepada Renza.
"Terima kasih, sayang," ucap Renza manja.
"Sama-sama, sayang."
"Pipom benar-benar tak habis pikir dengan dua manusia tadi, terutama Deni."
"Kenapa? Bukankah mereka sangat lucu."
"Bukan itu saja. Deni mendadak terlihat bodoh setelah menyukai Risa." Renza tertawa terbahak.
"Bagiku mereka berdua menggemaskan."
"Tidak ada yang lebih menggemaskan dari istriku ini. Sini peluk, Pipom."
Arinka beringsut dan merapatkan tubuhnya kepada Renza. Renza tersenyum dan dengan senang hati melebarkan tangannya memeluk Arinka.
"Apa kita akan berencana membuat sesuatu malam ini?" bisik Renza pelan.
"Issh ... Nakal, ya." jawab Arinka seraya mencubit hidung mancung Renza.
"Aww, sakit."
"Apa benaran sakit?"
"Becanda" ucap Renza tertawa.
"Ah, ingin aku gigit rasanya."
"Siapa?"
"Pipom."
"Silahkan, dengan senang hati." Renza menjulurkan tangannya kedepan wajah Arinka.
"Memangnya aku vampire, main gigit sembarang."
"Iya. Vampire cantikku."
"Huuuu ... gombal," ucap Arinka seraya bangkit dari sofa.
"Mau kemana?"
"Mau mandi, sudah gerah."
"Ikuuut!" ucap Renza bangkit dan mengejar Arinka.
***
Deni mengantar Risa pulang. Di perjalanan, Risa diam dan tak bersuara. Risa masih memikirkan dan berusaha mencerna semua ucapan Renza. Risa termenung dan larut dalam pikirannya.
Deni mengernyit melihat Risa masih diam sambil memegangi sabuk pengaman yang melilit tubuhnya saat mesin mobil sudah dimatikan. Tiba-tiba suara bariton Deni membuyarkan lamunannya.
"Kamu tidak ingin turun, kita sudah sampai?"
Wajah Risa tampak bodoh saat menoleh dan berkata, "Aku masih tidak percaya kamu benar-benar mengantarku pulang."
Taw Deni tak dapat di tahan. Namun, ia mengeluarkannya dalam batas normal. "Ayo turun!" Tak ingin berlama-lama, Deni keluar dari mobil lebih dulu.
Setelah mengusap-usap wajahnya, Risa akhirnya berhenti bersikap bodoh dan buru-buru turun dan berdiri di depan gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, benar-benar aneh rasanya," ucap Risa. ia tidak tahu kenapa merasa agak canggung sekarang.
Diam lagi. Deni dan Risa sama-sama tidak tahu hsrus berbincang apa. Keduanya hanya sibuk melihat-lihat sekitar rumah yang lumayan ramai. Dengan ekor mata, Deni melirik Risa. Wanita itu hanya memutarbalikkan ponsel ditangannya. Ekspresinya kelihatan konyol.
Risa menoleh dan mengangkat satu alis saat tiba-tiba Deni menyodorkan ponsel miliknya. "Buat apa?" tanya Risa bingung.
"Karena saat marah aku menghapus nomormu, bolehkah aku meminta kembali?"
Mata Risa berbinar terang. Ia segera mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomornya dan ragu-ragu menyodorkannya kembali kepada Deni.
Deni sama sekali tak menyangka Risa akan bereaksi seperti itu. Sempat terkekeh samar, ia lalu menarik bahu Risa dan langsung mengambil ponselnya ditangan Risa.
"Karena kita berteman, aku akan menghubungimu nanti."
Sekarang Risa tahu dugaannya keliru. Wanita itu nyengir lebar saking senangnya. Sepertinya, Risa sangat bahagia mendengar kata-kata Deni barusan.
Deni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat meninggalkan rumah Risa. Risa terus memperhatikan mobil Deni sampai lenyap dari pandangannya. Risa tertawa-tawa saat masuk ke dalam rumah.
Di balik pintu, Rasya mengernyit melihat Risa tersenyum seraya mengepalkan tangannya dan melompat kecil.
"Kau ini kenapa?" tanya Rasya.
Risa terperanjat dan berteriak kecil. "Sialan! Kakak ini mengejutkan saja."
"Lagi pula kau kenapa tersenyum dan melompat seperti itu? Tadi itu yang mengantarmu lelaki? Kakak seperti pernah melihatnya?"
"Kakak mengintip, ya? Dia familiar mungkin," ucap Risa terlihat gugup.
"Jika punya pacar, bawa ke rumah. Kalau tidak bakalan Kakak cari sendiri."
"Lah? Kenapa jadi Kakak yang kepo, sih? Dia bukan pacarku, kok."
"Jika dia pacarmu bawa ke rumah! Jangan dirahasiakan." ucap Rasya tegas. Bayangkan saja takutnya seperti apa di bentak tentara. Untung saja Rasya itu kakaknya Risa. Kalau tidak, mungkin ia sudah menangis.
Risa berlalu dan meninggalkan Rasya yang sedang menunggu penjelasannya. Namun, Risa acuh dan masuk ke kamarnya melompat-lompat kecil.
Risa segera membaringkan tubuhnya dan terlentang diatas ranjang kesayangannya. Risa cekikian dan berguling diatas ranjang itu. Beberapa saat, seprei di ranjang itu sudah tersingkap dan berantakan. Boneka berjatuhan karena saking asyiknya berguling-guling.
Aku sebegitu sukanya kepada Deni. Astaga! Ini benar-benar memalukan.
Sementara itu di rumah Deni ...
Deni masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat ibunya sedang kedatangan tamu yaitu Dina. Dina sedang berbincang dengan Ema dan tertawa. Entah apa yang mereka ceritakan, Deni hanya melengos masuk ke dalam kamarnya.
"Deni!" panggil Risa. Namun, Deni buru-buru menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
"Mungkin dia sangat lelah," ucap Ema.
"Iya, mungkin Deni capek mengurusi urusan kantor seharian."
"Oh ya, ngomong-ngomong yang kau bilang tadi. Jadi, Deni pergi dengan wanita bernama Risa?"
"Hmm ... walaupun pura-pura mereka pergi ke acara ulang tahun mantannya Risa."
"Wah, Bibi yakin Deni suka sama Risa? Deni tidak biasanya bersikap begitu kepada wanita."
"Ehm, aku jg berpikir begitu, Bi," ucap Dina seraya memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Bibi semakin penasaran, mudah-mudahan saja Denu akan memperkenalkan kepada Bibi suatu hari nanti."
"Mana bisa, Bi. Kan sudah aku bilang, dia hanya pacar pura-pura. Mereka itu selalu saja bertengkar saat bertemu. Tidak pernah akur sama sekali seperti film 'Tom and Jerry'.
"Kau tahu, Din? Bibi dulunya juga begitu saat bertemu pamanmu. Bibi selalu bertengkar, tapi siapa sangka berjodoh."
__ADS_1
"Wah ... benarkah, Bi? Aku juga suka jika Deni berjodoh dengan Risa. Risa itu baik dan lucu."
"Kapan-kapan ajak Bibi ketemu dia, ya?"
"Nanti Deni bisa marah, Bi."
"Jangan sampai dia tahu. Kita bertemu diam-diam."
"Baiklah jika Bibi maunya begitu."
Deni membaringkan diri di atas ranjangnya. Matanya terpaku menatap kontak di ponselnya itu. Semula nama yang Deni berikan adalah Mawar. Tapi saat ia kesal, ia menghapusnya. Kemudian, nama itu berubah menjadi nama Alien Clarisya.
"Apa aku harus mengirim chat, ya? Aku benar-benar canggung. Tapi, Alien juga menyukaiku. Ah, aku kirim pesan saja. Aku ingin mengenalnya lebih jauh untuk memastikan perasaan ini."
Deni mengetikkan pesan di aplikasi whatsapp nya dan kemudian mengirimnya. "Hei, aku Deni." Pesan yang sudah terkirim itu, ia baca sekali lagi. Setelah ia baca ternyata kalimatnya ambigu. Segera Deni menghapusnya. Sayangnya pesan yang dihapus itu sudah terbaca oleh Risa.
Risa membalasnya tak kalah ambigu dari Deni. "Hei ... aku Risa." Mereka seperti dua orang bodoh yang baru berkenalan di whatsapp.
"*Kau sedang apa?"
"Berbaring."
"Lelah?"
"Tidak."
"Sudah mandi?"
"Belum. kamu?"
"Belum juga, hehe*."
Mendadak pesan itu hanya di read oleh Risa. Deni gelisah dan terus memandangi tulisan dibawah nama Risa. Berharap ada tulisan mengetik. Namun, nihil.
Deni frustasi dan meletakkan ponselnya di atas ranjang. Ia melirik dengan ekor matanya. Tapi ponsel itu tidak menyala.
Alien kemana? Berpikir positif, mungkin ia mandi.
Tak lama ponsel itu menyala dan notif pesan berbunyi. Deni tersenyum dan segera mengambil ponselnya dan mengusap layarnya. Ternyata pesan itu dari Milka yang mengajaknya untuk makan malam.
Anehnya, Deni tidak terlalu senang mendapat pesan itu. Ia benar-benar berharap itu adalah pesan dari Risa. Deni membalasnya dan mengiyakan. Deni juga akan mengatakan kejujuran kepada Milka tentang perasaannya.
Setelah membalas pesannya. Deni meletakkan ponselnya di atas nakas. Deni membuka kancing kemejanya satu persatu dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama saat ia masuk ke kamar mandi. Ponselnya mendapat dua notif. Yah, pesan dari Risa dan Milka.
Beberapa menit kemudian, setelah memakai pakaian santai di rumah, yaitu baju kaus oblong dan celana pendek, Deni memeriksa ponselnya kembali. Alangkah terkejutnya Deni membaca pesan dari Risa itu. Deni melebarkan senyumnya saat membalas pesan Risa.
"Jika kau tidak sibuk. Kapan-kapan boleh ya kita nongkrong bersama?"
Risa membalas, "Dengan senang hati."
Deni mengepalkan tangannya dan berkata, "Yes!"
Aku benar-benar sudah yakin dengan hatiku. Saat aku menerima pesan Risa aku sangat antusias dan bahagia, sedangkan saat *membalas pesan Milka perasaanku biasa saja. Fix, aku harus memperjuangkan Risa. Sebelumnya aku akan menemui Milka dulu. Tolong tunggu aku Alienku!
**Bersambung....
Jangan lupa like dan komentar nya yah..
Bantu vote juga dong, biar author semakin semangat menulis cerita mereka.
Salam sayang dariku untuk Readers semua 💋
Jangan lupa jaga kesehatan, ya? Author doakan semoga kalian selalu sehat biar bisa baca novel author terus, hihii 😁😁😁
__ADS_1
Luv u all ❤😘***