Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 103 : Makan siang bersama


__ADS_3

Waktu makan siang sebentar lagi. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Renza mengambil ponselnya dan menggeser-geser layarnya. Tak lama kemudian, Renza meletakkan ponselnya di telinga. Yah, ia menelpon istri tercintanya. Mereka sudah berjanji akan mengunjungi dokter kandungan siang ini sambil makan siang bersama.


Telepon itu berdering. Namun, belum ada jawaban dari Arinka. Arinka sedang sibuk berganti pakaian dan kebetulan ponsel itu tidak berdering dengan nyaring karena tertutup pakaian yang Arinka letakkan diatas ranjang.


Renza mengulangi panggilan itu sekali lagi. Tapi masih sama tak ada jawaban. Setelah mengemas berkas diatas meja, Renza beranjak dan mengambil jas kemudian memakainya. Lelaki dengan setelan jas marun itu benar-benar tampan dengan bentuk wajah tegas sama tegasnya dengan warna pakaiannya.


"Deni!" panggil Renza. Namun, Deni masih fokus menatap layar ponselnya.


"Deniiiii!" panggil Renza sekali lagi setengah berteriak.


"Hmm, ya, Pak," sahut Deni segera memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


"Wah, kasmaran boleh, tapi aku jangan di acuhkan. Untung mood ku sedang bagus."


"Hehe ... maaf, Pak. Ada apa?"


"Aku ingin pergi ke dokter kandung dengan istriku. Kau bisa makan siang bebas, mau bersama Risa juga boleh. Tapi ingat jangan terlambat kembali ke kantor."


"Kalau Pak Renza sendiri?"


"Aku bebas. Aku atasannya disini. Beraninya kau!"


"Maksudku, Pak Renza bawa mobil sendiri?"


"Apa kau mau menumpang padaku? Tak masuk akal!" ucap Renza sambil berlalu meninggalkan ruangan kantornya. Deni bergegas mengejarnya. Sisil menundukkan kepalanya saat melihat Renza keluar dari ruangannya.


Deni menghampiri Sisil dan memberitahukan bahwa Renza akan berada diluar kantor.


"Jika ada yang mencari Pak Renza, beliau akan makan di luar," ucap Deni.


"Baiklah, Pak Deni sendiri? Apakah akan ikut dengan Pak Renza?" tanya Sisil.


"Tidak, aku akan makan siang diluar juga, tapi tak bersama Pak Renza."


"Baiklah, Pak. Hati-hati di jalan."


"Hemm." Renza menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Sisil. Sementara, Renza sudah menaiki mobil dan menlajukannya dengan kecepatan sedang.


Renza menelpon Arinka kembali. Namun, panggilan itu tidak kunjung mendapat jawaban.


"Kemana istriku? sudah 3 kali aku meneleponnya tapi masih saja tidak di jawab. Apa ia ketiduran?" Renza bermonolog sendiri.


Sementara itu di rumah ...


Arinka sedang sibuk mengganti pakaiannya. Tidak seperti biasanya ia memakai pakaian berlebihan dan menggunakan makeup yang lumayan bold.


"Astaga, aku ini kenapa seperti ini? Memakai pakaian berwarna terang yang nyentrik mengikuti Renza." Arinka bermonolog sendiri dan tertawa didepan cermin.


Arinka menoleh ke ranjangnya, ia syok melihat pakaian yang berserakan di atas ranjang itu.


"Jam berapa ini? Kenapa seperti kapal pecah, sih? Ahhh ... aku harus mulai dari mana dulu," ucap Arinka sedikit histeris.


Terdengar suara klakson mobil dari bawah. Arinka buru-buru berjalan kearah jendela. Benar saja yang datang adalah suaminya. Arinka tersenyum saat Renza keluar dari mobil dengan setelan merah marun ditengah panasnya matahari.


"Pppttff, benar-benar sesuatu. Ada angin apa sampai dia memilih setelan itu hari ini." Arinka tertawa sambil berjalan menggantung pakaiannya kembali di lemari.


Renza masuk ke dalam rumah,


Tak lama terdengar derap langkah kaki menuju pintu kamar. Arinka sudah memasang senyum lebar karena ia tahu itu pasti Renza. Gagang pintu telah bergerak, Arinka benar-benar sudah memasang wajah sumringah.


Cekrek ...


Renza membuka pintu itu dan memasang wajah panik. Arinka yang tersenyum berubah mengernyitkan dahinya.


"Ada apa? Kenapa tidak menjawab telepon?" tanya Renza.


"Telepon?"


"Yah, mana ponsel Mimom?"


"Eh iya, ponselku mana?"


"Astaga, yang ditanya malah balik nanya. Bikin pipom panik saja."


"Kenapa memangnya, Pipom menelepon?" tanya Arinka dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Iya, Pipom pikir terjadi sesuatu. Lain kali ponsel harus nyaring dan bergetar."


"Baiklah, maaf sudah membuat Pipom cemas."


"Ah sudahlah. Apa sudah siap?"


"Sebentar lagi, lihat saja pakaian ini? Mimom menggantungnya sebentar di lemari."


"Iya," sahut Renza berjalan dan kemudian duduk di sofa.


"Ternyata ini ponselku di bawah pakaian," ucap Arinka nyengir kuda menatap Renza setelah melihat 3 panggilan tak terjawab. Renza melirik dan menarik napas panjang.


Setelah beberapa menit mengemasi pakaiannya, Arinka memoles wajahnya lagi tipis-tipis dengan bedak.


"Sudah siap, ayo!"


"Cantik sekali, sih. Wah! Benar-benar istri yang perfect."


"Pipom juga sangat tampan, walau mengenakan pakaian apapun."


"Walau mengenakan pakaian berwarna terang seperti ini, haha." Renza tertawa.


"Sebenarnya Pipom selalu tampan memakai apapun, hanya saja hari ini begitu mengagetkan, biasanya kan pipom selalu memakai pakaian gelap."


"Iya, sesekali lah memakai pakaian warna cerah. Aku jelas selalu tampan," ucap Renza dengan percaya diri.


"Hmm, iya Mimom tahu. Tapi narsis ada tempatnya juga, dong."


"Narsis? Ini bukan narsis tapi fakta!"


"Iyain deh. Biar ga panjang." Arinka terkekeh.


"Ishh ... dasar, ya! Sudah berani sekarang, sini-sini mau minta cium kayaknya."


"Tidak ... ampun!" Arinka berlari keluar kamar.


"Awas ya kalau tertangkap nanti, akan Pipom gelitikin."


"Yahhh ..." Teriak Arinka yang sudah menjauh.


"Bi, mana Nyonya?" tanya Renza.


"Nyonya sudah keluar, mungkin sudah menunggu di mobil."


"Hmm, kami akan makan siang diluar."


"Baik, Tuan."


Renza berjalan pelan dan tersenyum. Arinka sudah berdiri menyandar dengan dress floral hitam dan menggunakan flatshoes.


"Nah, tertangkap juga 'kan?" ucap Renza.


"Tidak lah, itu kan tadi waktu di kamar. Sekarang aku sudah diluar. Makanya tidak berlaku lagi," jawab Arinka tersenyum menutup mulutnya.


"Isshh, curang," sahut Renza sambil membuka pintu mobil menyuruh Arinka masuk.


"Terima kasih," ucap Arinka mengedipkan mata.


"Wah! Benar-benar menggemaskan. Untung saja mau pergi, kalau tidak sudah aku terkam."


"Terkam? Memangnya macan."


"Yah, macan yang sedang kelaparan," jawab Renza seraya menutup pintu mobil dan menjulurkan lidah memutari bibirnya.


"Iihhh ... genit."


"Mimom juga genit 'kan, tadi?"


Arinka tertawa menatap Renza dan kemudian mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.


"Kita makan siang dulu, ya?"


"Hmm, mimom juga sudah lapar, hihi ... mau makan dimana?"


"Mimom mau makan apa?"

__ADS_1


"Apa aja terserah pipom, mimom ikut saja."


"Baiklah."


Tak butuh waktu lama, mobil yang di lajukan oleh Renza itu berhenti di sebuah restauran mewah. Renza membuka pintu mobil dan turun. Arinka masih menunggu Renza membukakan pintu mobil. Arinka benar-benar di manjakan oleh suaminya itu.


Setelah turun dari mobil, Renza segera menggenggam tangan Arinka dan berjalan masuk kedalam restauran mewah itu.


Para pelayan segera sigap setelah Renza dan Arinka duduk. Mereka segera menyuguhkan daftar menu. Arinka dibuat takjub dengan kemegahan restauran itu. Seperti dekor klasik tapi tetap terlihat mewah.


Renza memesan Wagyu kobe steak 2 porsi. Arinka ternganga melihat harganya untuk makanan sekecil ini. Tapi, lagipula mereka jarang makan siang mahal seperti ini.


"Pip, restauran ini pasti hanya dikunjungi oleh pejabat dan orang kaya saja?" tanya Arinka.


"Sepertinya begitu, tapi ada kok makanan yang terjangkau dan ramah di kantong," jawab Renza.


"Terus, kenapa Pipom memesan makanan semahal itu? Harganya lumayan fantastis tadi."


"Ini jarang-jarang juga 'kan? Lagipula memanjakan istri itu perlu."


"Uwuuw ... Suami idaman," ucap Arinka sambil meletakkan kedua tangan dipipi dan bertingkah imut dengan puppy eyes yang membuat Renza gemas.


"Astaga, menggemaskan sekali, sih. Sini cubit pipinya."


"Gak ah, sakit."


"Cubit dengan cinta, dong."


"Mana ada? Cubit ya jelas pakai tangan," ucap Arinka.


"Ishh, lagi ga bisa diajak bercanda, ya? Makin gemes tau ga, sih."


Tak lama kemudian, steak itu datang dengan tampilan mewah dan menggoda selera. Tak ketinggalan ada 2 gelas wine juga yang disajikan diatas meja.


"Ini wine?" tanya Arinka menatap Renza lekat.


"Hmm, biasanya makan steak selalu ada wine 'kan? Mimom jangan minum."


"Yah, aku sudah pernah minum dan bikin sakit kepala."


"Iya, pipom masih ingat. Ayo makan," ucap Renza sambil memotong steak, lalu memberikannya pada Arinka."


"Terima kasih, sayang."


Renza mengeluarkan ponselnya sambil sesekali memasukkan steak kedalam mulutnya. Ia memotret Arinka yang sedang fokus makan dengan lahap sambil menggerakkan kepalanya dan tersenyum.


"Uwuuww ... gemesnya istriku ini."


"Kenapa mengambil foto?" tanya Arinka.


"Mimom menggemaskan, pipom ingin mengabadikan senyum manis ini."


"Foto yang bagus, ya? Haha ..." Arinka tertawa.


"Iya, pasti."


Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan. Renza dan Arinka bersantai sejenak sambil bercerita dan saling bercanda. Tak lama kemudian, mereka pergi meninggalkan restauran mewah itu setelah membayar tagihan yang lumayan rada membengkak.


"Pipom sudah mengatur janji temu dengan Dokter Nadila. Jadi jam 1 kita bisa langsung bertemu beliau."


"Oke, semoga ada kabar baik, ya, sayang."


"Hmm, amiin."


Mereka berdua berjalan keluar restauran itu dan menuju mobil. Lalu, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang kearah klinik dokter kandungan.


Sesampai didepan laman parkir, mereka bertemu dengan orang yang tak terduga.


"Kalian disini juga?" tanya Renza menatap lekat.


Bersambung...


Jangan lupa like dan vote ya Readers...


Terima kasih yang sudah selalu setia support Author, Author benar-benar terharu 😭💗

__ADS_1


Author sayang kalian semua. Sehat selalu ya 😘


__ADS_2