
Malam pernikahan Arinka dan Renza berlalu begitu saja, tanpa malam pertama layaknya pasangan suami istri.
Hari ini, Renza dan Arinka pulang kerumah besar bertemu dengan Nek Murti, Arinka sudah selesai mandi dan berkemas, hari ini hari pertamanya menjadi kelurga Fariq dan sekaligus menyandang gelar Nyonya Alfariq.
Renza datang dengan pakaian yang sudah rapi, seseorang juga datang mengikuti dibelakangnya yaitu adalah Deni, Arinka sangat terkejut, karena Arinka semalam telah mengeluarkan unek-uneknya di depan Deni.
Gawat, dia melapor apa tidak ya sama Tuannya, ahh biarkan saja memang kenyataan juga semua ucapanku itu.
"Nyonya apa kau sudah siap, ayo aku bawakan semua barang anda."
Arinka tak menatap Deni karena malu, Arinka hanya melirik sedikit kearah Renza. Namun, Renza tak berbicara apapun kepada Arinka hanya mendengus saja.
Tidur dimana dia semalam? Ah kenapa aku peduli.
"Kau antar dia kerumah besar, Nenek sudah menunggunya? Aku ingin kekantor masih ada urusan."
"Aku bisa mengurusnya Pak Renza, ini hari pertama pernikahan anda bukankah berlebihan jika anda harus kekantor, nantinya karyawan akan berpikiran yang tidak-tidak," ucap Deni menyarankan.
Arinka hanya mendengarkan ucapan dua orang itu tanpa mengatakan apa-apa, Renza pun tak menjawab percakapannya dan memilih diam.
Nek murti sudah melebarkan senyumnya, melihat kedatangan cucu tersayangnya bersama wanita pendampingnya.
"Selamat siang pengantin baru, ahh..., Nenek harap Nenek akan hidup lebih lama dan menimang cicit kelak."
Cicit? Maafkan Arin, Nek. mungkin hal itu tak akan terjadi.
"Ah nenek baru hari pertama sudah berbicara tentang cicit, Nenek harus sehat selalu itu cukup bagi Renza."
Arinka hanya tersenyum tak bisa berkata apa-apa untuk menjawab perkataan Nenek.
"Ayo kita kemeja makan, Nenek sudah menyuruh staf dapur memasak yang banyak untuk Arinka."
"Wah..., benarkah, Nek? kebetulan Arin juga sangat lapar, pasti semua hidangan enak kan?" ucap Arinka terkekeh.
"Kamu memang sangat nenek pandai membuat nenek bahagia, Rin."
Benar-benar wanita yang bisa menjilat si Arinka ini, aku semakin muak melihatnya.
"Ayo Renza dan Deni sini makan bersama, Nenek menyuruh mereka masak banyak."
"Baik, Nek," ucap Deni tersenyum.
Renza hanya berjalan tanpa bicara panjang lebar sudah duduk dimeja makan, sedangkan Arinka dan Nenek Murti masih sibuk tertawa-tawa.
"Wah..., Nek, makanannya enak-enak semua, Arinka sangat berterima kasih."
"Kenapa harus terima kasih? kalau suka Nenek akan siapkan setiap hari, agar kita bisa makan seperti ini bersama-sama."
Benar-benar drama, aktingnya sungguh menggelikan..., gumam Renza pelan.
"Oh ya, Nenek ada hadiah untuk kalian berdua."
"Hadiah apa nek?" ucap Arinka dan Renza serentak.
__ADS_1
"Apa kalian sangat suka dengan hadiah, sehingga kompakan begitu." Nenek berucap sambil mengolok.
Arinka menjadi salah tingkah sedangkan Renza acuh.
"Nenek sudah menyiapkan rumah baru untuk kalian, Nenek sebenarnya ingin kalian tinggal disini, tapi Nenek lebih suka kalian bisa mandiri."
"Kalau begitu tak perlu memberi hadiah, Nek. Arinka bisa tinggal disini dengan nenek."
"Kau menolak hadiah nenek?" ucap Renza dengan nada tinggi.
Sok menolak padahal ingin sekali, batin Renza sinis.
"Tidak kok." jawab Arinka pelan.
"Deni, bawa mereka kerumah baru, dan jangan lupa urus semua keperluan Nyonya Arinka sebaik mungkin, ya?"
"Baik, Nyonya Besar."
Setelah lama mereka dirumah besar, mereka kemudian diantar oleh Deni kerumah baru mereka, rumah yang sangat besar dan megah, Arinka merasa terpukau akan keindahan rumah barunya itu, tak kalah besar dari rumah Nek Murti.
"Apa kau sungguh senang si Nyonya kampungan?" tanya Renza sinis.
Arinka tak menjawab hanya fokus melihat-lihat, mulai besok mereka sudah bisa tinggal dirumah baru itu.
"Perkenalkan, ini Nyonya kalian istrinya Pak Renza, dan itu Pak Renza, Tuan rumah kalian yang baru," ucap Deni kepada kedua orang dirumah itu sambil menunjuk kearah Renza sebagai perkenalan.
Dua orang dirumah itu adalah tukang masak dan tukang kebun.
"Iya, Nyonya. Terima kasih, Nyonya sangat baik, saya Bi Ami dan ini Pak Tino." sambil menunjuk seseorang disebelahnya.
Sementara Renza hanya sibuk melihat ponselnya, Arinka melirik dan kemudian ia berbincang kembali.
Sungguh semacam mimpi, aku bisa seperti ini. Bertemu orang-orang baru seperti sebuah anugrah baru dihidupku.
"Aku permisi dulu, aku akan kekantor mengurus file yang masih terbengkalai, Pak Renza santai saja hari ini."
"Aku juga ingin pergi, aku bosan disini, kau pergilah kekantor." jawab Renza.
"Baiklah, Pak," ucap Deni tanpa bertanya panjang lebar.
Deni lalu pergi, dan kemudian tak lama Renza juga pergi menggunakan mobil lain, entah kemana Renza pergi, ia tidak berpamitan.
"Saya buatkan minum, ya, Nyonya."
"Gapapa saya bisa sendiri Bi, saya juga sudah biasa melakukan pekerjaan seperti ini, karena saya juga orang kampung, Bi."
"Tapi sekarang Nyonya sudah menjadi majikan, jadi sudah kewajiban kami melayani Tuan dan Nyonya."
"Ya sudah, Bi. Tapi jangan terlalu sungkan kepada saya, ya?"
Arinka pergi berkeliling rumah, dia duduk di taman belakang rumah dan melamun memikirkan pernikahannya ini.
__ADS_1
Renza pergi kesebuah cafe untuk menemui Giska, Renza sangat bosan akan kehidupan barunya, apalagi dia pikir akan hidup bersama dengan wanita kampungan itu.
"Tak bisa aku bayangkan seperti apa hidupku ini, menikah dengan wanita yang tak ku cintai, demi nenek semuanya aku lakukan," gumam Renza pelan.
"Sudah lama, Yang." sapa Giska.
"Baru saja." Renza tersenyum melihat kekasihnya itu.
"Ayo pesan makan aku lapar, aku tak berselera makan tadi didepan wanita kampungan itu," ucap Renza sambil membolak-balikkan menu.
"Pesan aja, aku ingin ketoilet dulu, Yang."
Renza memesan makanan dan Renza sudah tahu betul makanan kesukaan Giska.
Dreet...
Suara getar ponsel Giska, menandakan ada sebuah pesan masuk. Renza tak menggubrisnya lalu muncul lagi pesan kedua, Renza penasaran dan membukanya, kebetulan pola nya ia tahu, Renza sedikit terkejut karena tak ada nama pengirim.
Apakah kau menyukainya, Gis? kalau suka tolong datang lagi ketempat pertemuan kita.
Renza menebak-nebak siapa yang mengirim sms itu, Renza sedikit kesal.
"Kenapa, Yang?" tanya Giska.
Belum sempat Renza menjawab, Giska bertanya lagi.
"Ada yang ingin aku bicarakan?"
"Tentang apa?" Renza seketika lupa bertanya siapa pengirim sms tadi.
"Aku hamil!"
"Whatt?!" Jawab renza dengan nada tinggi.
"Ini gara-gara kejadian malam itu."
"Kau bercanda! aku bahkan tidak mengingat kejadian itu karena mabuk, apakah aku benar melakukannya padamu?" ucap Renza dengan nada tak percaya.
"Iya, makanya aku hamil sekarang, gimana ini, Yang?"
Renza masih mencoba mengingat kejadian malam itu, Apakah ini benar? Bagaimana ini? ucapnya dalam hati.
"Aku juga sudah memberi tau si kampungan itu."
"Apaaaaa?!"
Bersambung...
Vote dan comment ya,
jika selesai membaca, jangan lupa tekan like nya 💋
Luv u 😘
__ADS_1