Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 31 : Makan malam


__ADS_3

Arinka sangat lelah seharian kemarin hari yang panjang baginya, mengurus Renza yang sangat kekanakan. seperti orang bodoh Renza mengerjainya, menyuruhnya membuat makanan lalu tidak di cicipi sama sekali, mengajak jalan-jalan berkeliling dibelakang rumah seperti anak kecil yang baru pandai berjalan. menonton televisi tanpa suara dan banyak lagi yang dilakukan mereka. Hari ini Arinka bebas, ia seperti tahanan yang baru merasakan kebebasan, melihat didunia luar pun seperti anugrah baginya.


Hari ini ia bekerja seperti biasa, Renza juga mulai bekerja dan sialnya mulai dari kemarin mereka harus pergi bekerja bersama setiap hari, kalau tidak Renza mengancam akan memberitahukan kepada Nenek bahwa dia tidak kursus memasak melainkan bekerja sebagai pelayan direstauran. Arinka hanya menurut, daripada dirumah setiap hari sangat membosankan apalagi harus melihat tingkah gilanya Renza, lebih baik ia bekerja dan melepas setres. menghirup udara yang sama saja setiap hari seperti kemarin seharian dari pagi sampai malam dengan Renza sudah membuat ia histeris tak karuan, bahkan hanya membayangkannya saja ia merinding.


Yah, dulu pertama kali dijodohkan Arinka sangat membuka hati kepada Renza, ia akan menyukainya. pertama bertemu Arinka sudah menyukai Renza, karena penampilan dan pembawaannya yang dewasa dan terlihat kalem, tapi siapa sangka setelah ia mengobrol, ternyata wajahnya sangat berbeda dengan sifatnya. ia sangat kasar dari ucapannya, tapi dari fisik ia tidak pernah berbuat tidak sopan kepada Arinka. dan sekarang sifatnya berangsur-angsur berubah, walaupun bicaranya masih kasar dan terkesan Arogan tetapi ada makna lain didalam hatinya, yaitu cinta. hanya saja mereka berdua masih belum yakin akan perasaan masing-masing, Arinka malah memilih menutup hatinya karena takut akan tersakiti, sedangkan Renza sudah mulai membuka hati walaupun pelan tapi ia sudah yakin bahwa ia menyukai istrinya itu, hanya saja perilakunya itu berbanding terbalik dengan ucapannya, ia masih belum bisa mengontrol ucapannya, kadang maksud ingin menyanjung tapi bicaranya kasar dan terkesan memaksa membuat Arinka kesal.


***


Arinka hari ini bekerja dengan semangat karena karena kemarin ia telah mengambil libur, hari ini ia akan bekerja dua kali lipat begitu tekadnya. pelanggan semakin ramai di jam makan siang. seperti biasa datang seorang kurir bunga, setiap hari membawakan bunga. tetapi hari libur kemarin bunga itu tidak ada. hari ini Arinka sendiri yang menerima buket bunga mawar itu dan yang ada hanya inisial 'L'. setelah mencium wanginya, hati nya kegirangan dengan segera ia menaruh bunga itu dilokernya dan kembali bekerja.


Jam istirahat makan siang bergantian, kini giliran Risa yang sedang istirahat makan, Arinka dengan sibuknya membawa baki kesana kemari sesuai permintaan pelanggan. ia berusaha tidak membuat kesalahan hari ini.


cukup lama ia mondar-mandir dan sekarang gilirannya istirahat. ia makan dilantai atas sambil melihat pemandangan siang hari yang panas, dari atas terlihat orang-orang lalu lalang melintas dengan kesibukan mereka masing-masing.


"Arinka, kau sedang apa? sudah makan?" tanya Jefran lembut, Jefran berbeda sekali dari Renza seperti berbanding terbalik.


"Ini sedang makan, Pak." menjawab dengan mulut penuh makanan.


"Makan yang banyak, ya!" sambil berjalan mendekati Arinka dan duduk dikursi dekat dengannya.


Dari pertama Arinka bertemu, Jefran ini orang yang lembut dan Arinka sangat menyukainya, senyumnya yang ramah dan selalu sopan kepada pegawainya membuat pesona sendiri untuknya.


"Nanti malam kau ada janji apa tidak?" tanya Jefran to the poin.


"Mmm.. tidak ada Pak, memang ada apa?"


"Ibuku ingin mengajak Arinka makan malam, Apa bisa? jika bisa akan aku jemput nanti dirumahmu, aku harap sih kau bersedia." pertanyaan yang mencekik, seperti bukan pertanyaan tapi menyarankan.


"Iya, akan aku usahakan. aku juga ingin sekali berbincang dengan bu Maria, lagian beberapa waktu yang lalu aku sudah berjanji."


Ah tidak sia-sia Aku menanyakannya, akhirnya Arinka mau.


"Aku jemput pukul 7 ya nanti malam." sambil berjalan meninggalkan Arinka yang masih asyik mengunyah makanan. Arinka dengan cepat menyudahi makannya, dan pergi ke loker mengambil ponselnya untuk menelpon Deni. sedikit menunggu tak lama kemudian Deni menjawab.


"Ada apa Nyonya menelpon?"


"Nanti malam aku ada acara? apa aku bisa pergi ya? Tuan Renza malam ini lembur apa tidak?"


"Sepertinya malam ini Pak Renza ada janji makan malam bersama klien, dan perkiraan Pak Renza akan pulang telat."


"Ah begitukah, baiklah aku juga ingin makan malam dengn seseorang."


"Siapa? kenapa Nyonya tidak menelpon Pak Renza saja, kenapa harus lewat aku?"


"hehe, Aku takut Tuan akan meneriaki ku. Dia kan orang yang sibuk."


"Ya sudah, nanti aku akan sampaikan kepadanya."

__ADS_1


"Hmm, padahal aku tidak izin juga tidak apa-apa kan, apa pedulinya Dia, urusan pribadi kan tidak boleh ikut campur."


"Sebaiknya Nyonya harus memberi tau Pak Renza, bagaimanapun Nyonya kan Istrinya beliau."


"Iya makanya aku menelpon karena aku tidak bodoh,huh!" berdecak kesal.


"Hmm baiklah,Aku tutup dulu ya Nyonya. aku masih sibuk semoga hari Nyonya menyenangkan." sambungan terputus dan Arinka menaruh kembali ponselnya didalam tas, ia melihat lagi bunga mawar merah itu, diciumnya sebentar lalu kembali bekerja.


***


Arinka sudah sampai dirumah, seperti biasa ia pulang dengan ojek online, ia menyapa bi Ami kemudian ia bergegas masuk kekamar. meletakan bunga mawarnya didalam vas, lalu ia melihat baju pemberian dari Nenek Ami didalam lemari pakaian, pakaian yang dibeli sebelum hari pengangkatan Ceo, ia belum pernah sama sekali memakainya, apalagi memakai baju pemberian Renza, ia merasa tidak pantas.


Arinka melihat-lihat baju itu, matanya tertuju kepada Dress berwarna kuning motif kotak-kotak, dress itu sangat cantik dengan aksen kerah dilehernya. Arinka memutuskan akan memakai pakaian itu dan flatshoes berwarna hitam.


"Apa aku cocok memakai pakaian ini? Aku terlihat berbeda." berputar balik didepan cermin seperti orang bodoh berbicara sendiri.


Arinka mandi beberapa menit dan keluar dari ruangan sambil bernyanyi, sepertinya sesuka itu ia diajak Dinner, maklum saja selama menjadi suami-istri Renza belum pernah mengajaknya. wajah sumringahnya berbinar-binar di pantulan cermin, ia memakai dress kuning kotak-kotak itu sambil tersenyum tanpa henti didepan cermin, jika cermin bisa bicara mungkin ia akan berteriak karena Arinka berbicara dan bertanya terus menerus. Rambut nya ia sisir dan ia biarkan lurus tergerai, ia juga memakai makeup tipis sangat tidak kentara, hanya bibirnya saja yang terlihat merah.


Arinka turun kebawah, ia melihat bi Ami sudah menyiapkan makanan di meja, ia mengatakan agar bi Ami makan malam saja bersama pak Tino, karena ia akan makan malam diluar bersama teman-temannya. ia juga berpamitan dan bilang akan pulang sedikit larut.


Ponsel Arinka berbunyi, segera ia mengangkat telpon itu ternyata dari Jefran, Jefran bertanya rumah Arinka, ia bergegas memesan ojek online agar diantarkan di tempat ia diturunkan oleh Jefran beberapa waktu lalu.


Arinka sudah menunggu didepan jalan masuk komplek elite itu, agak jauh karena ia takut Jefran akan curiga ia tinggal di perumahan mewah itu.


Tin... tin..


Suara klakson mobil itu berhenti dan tak lama seseorang keluar membukakan pintu, yah itu Jefran. mereka naik ke mobil dan melajukan kendaraannya itu.


Aku harus jawab apa? iyakan saja dulu, nanti saja berpikirnya.


"Mmm... iya Pak."


Sesampainya di Restauran, Arinka berdiri takjub melihat kemewahan itu, ia segera sadar dan mengendalikan diri.


Jangan terlihat seperti kampungan Arinka, semangat! ia menyemangati diri sendiri. Jefran sudah keluar dari mobil dan menuju Arinka, Restauran itu masih milik keluarga Jefran.


"Ayo" ajak Jefran, Arinka hanya mengangguk dan mengikuti, mereka masuk kedalam ruangan yang begitu besar dengan dekor yang sangat mewah. Arinka berdecak kagum dalam hatinya. terlihat dikejuhan ibu Maria yang sudah duduk di meja. mereka langsung menghampirinya, Arinka tidak lupa menyapa dan menciup tangan Beliau.


"Sudah lama menunggu, Bu?" tanya Arinka sambil menarik duduk disofa begitu pula Jefran duduk disebelahnya.


"Belum lama, kok. kau cantik sekali Rin," Ibu Maria tersenyum.


"Terima kasih, Ibu yang lebih cantik kok." jawab Arinka dengan senyuman manisnya. tak lama kemudian pelayan datang membawakan daftar menu, Arinka kebingungan dan memutuskan mengikuti pesanan Jefran, Jefran dengan senyum bahagianya menambahkan beberapa macam makanan, mereka berbicara panjang lebar.


"Apa ini restauran milik Pak Jefran juga?" tanya Arinka.


"Ini Restauran keluarga, pemiliknya Paman Jefran yang kerjasama dengan Fariq company, kebetulan Paman Azka masih membicarakan bisnis, tadi sempat menyapa Ibu."

__ADS_1


Apa.. kerjasama dengan Fariq company. berarti ini milik Tuan Renza juga. astaga ternyata mereka juga sangat kaya!


Makanan mereka sudah datang, mereka mulai memakan dengan lahap sambil berbicara dan berbincang kembali.


"Kalau boleh Ibu tau, Arinka sudah punya pacar atau suami? "


Glek... Arinka menelan ludahnya, dia harus menjawab apa? tapi ia sudah berjanji kepada Renza jika Jefran menanyakan statusnya ia akan menjawab dengan jujur.


"Aku sudah punya suami." jawab Arinka pelan.


Uhuk... uhuk


Jefran tersedak mendengar ucapan Arinka, segera ia minum air putih, wajahnya mendadak berubah. Ibu Maria hanya tersenyum, ia tau bahwa anak lelakinya itu menyukai Arinka, kini pupus sudah semua harapan itu. Arinka permisi pergi ke toilet, ia sedikit gugup setelah berbicara jujur tadi.


Sementara itu, Paman Azka telah keluar dari ruangan yang membicarakan bisnis barunya tadi. ia berpamitan kepada dua lelaki rekan bisnisnya itu, dua lelaki itu adalah Renza dan Deni, mereka berjalan melewati ruangan demi ruangan dan Paman Azka berbicara kalau ada Jefran disana, Renza dan Jefran dulu teman baik, makanya Paman Azka berbicara begitu. Renza tidak tertarik, tetapi Paman Azka berkata bahwa Jefran bersama ibunya dan seorang wanita. Deni langsung panik, ia langsung berpikir itu Arinka. Deni hanya memberi tau Renza, bahwa Arinka makan malam dengan teman-temannya, jika Renza tau pasti ia tidak akan memberikan izin dan pasti akan membatalkan pertemuan malam ini. Deni tau Renza sudah menyukai istrinya itu dan pencemburu yang luar biasa.


Gawat!


Deni panik setengah mati, ia segera menarik Renza untuk berjalan dengan cepat, Renza sedikit menaruh curiga.


tiba-tiba Jefran muncul didepan mereka. Airmuka Renza seketika mendadak berubah, mereka saling bertatap. Arinka yang keluar dari Wc itu memanggil Jefran, kebetulan Renza membelakanginya. Renza segera memutarbalikan badan mendengar suara yang tidak asing itu.


"Tu-tuan." Arinka gugup setengah mati melihat Renza didepannya, seperti seseorang yang ketauan berselingkuh saja.


"Kalian makan malam disini juga? tanya Deni masih panik. namun Renza tak berbicara sedikitpun.


"hemm." jawab Arinka masam.


"Kita bertemu lagi, kebetulan aku makan malam disini bersama ibuku dan Arinka." kata Jefran santai.


"Apaaaaa??? kau makan malam dengan Arinka juga?"


"Hmm, memang ada apa?" jawab Jefran sambil mengerutkan kening.


Napas Renza berderu kencang, matanya sedikit melotot. tangannya mengepal dengan kuat.


"DIA ITU ADALAH..."


**bersambung...


mohon maaf ya jika episodenya telat, aku up setiap hari kok, tapi editornya sedikit lambat..


Btw, jangan lupa like ya dan jangan lupa juga vote terus agar Arinka bisa dapet Rangking. yang comment semuanya saya baca kok, tapi maaf tidak bisa membalas satu-satu.


Salam sayang dariku buat Readers semua 😘


Luv u 💜💜**

__ADS_1



Arinka Larasati


__ADS_2