Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 91 : Pelaku sebenarnya


__ADS_3

Arinka sudah sampai di depan taman. Ketika ia turun dari mobil, jemarinya ia remas kuat. Arinka sedikit gugup karena akan bertemu kembali dengan seseorang yang dulunya benar-benar sangat menyakitinya.


Arinka melangkahkan kaki dengan pelan. Bola matanya memutar melihat sekeliling taman. Jantungnya mulai berpacu kencang. Ia seperti akan melalui sebuah rintangan berat.


"Huu ...." Arinka menghembuskan napas kuat. Setelah beberapa langkah, ia melihat seseorang memakai jaket hitam dengan tudung kepala serba hitam. Arinka sedikit merinding. Namun, ia menoleh lagi ke belakang melihat orang yang mengawasinya. Yah, Renza sudah siaga dengan segala kemungkinan.


Setelah Arinka mendekat, wanita itu memutar tubuhnya. Wajahnya sangat tertutup karena menggunakan masker dan memakai kacamata hitam.


"Permisi ... apakah kau kurir itu?" tanya Arinka dengan sopan. Namun, orang itu hanya diam tanpa membalas sapaannya. Arinka memberanikan diri lagi untuk berbicara, "Apakah benar kau orang yang aku hubungi tadi?" katanya.


"Hmm ...." Orang di depannya ini hanya berdeham. Kemudian memberikan kotak barang di tangannya.


"Apa ini?" tanya Arinka.


"Buka saja!" ucap orang itu, tapi tidak terlalu jelas karena tertahan masker.


Arinka membuka kotak itu perlahan. Sebenarnya, ia sangat takut. Tapi ia memberanikan diri untuk terlihat kuat. Di robeknya dengan kasar kotak itu. Dan kemudian ia menjerit ketakutan. "Argghhh!" teriaknya.


Isi kotak itu adalah tikus mati yang di penuhi darah. Sontak Arinka melempar kotak itu tepat di tubuh orang dihadapannya. Tangannya bergetar. Namun, ia sebisa mungkin tidak memperlihatkan.


"Haha ... kau setakut itu?" Tawa orang itu terdengar menyeramkan.


"Siapa kau?" bentak Arinka.


"Kau tidak akan pernah bahagia bersamanya."


"Aku tahu siapa kamu?" Arinka memasang tatapan tajam kearahnya. "Walaupun kau bersembunyi seperti itu, aku masih mengingatmu!"


"Tebak siapa aku?"


"Kau, Giska!"


"Kau mengenaliku? Luar biasa." Orang itu membuka masker dan kacamatanya. "Apa kabar kampungan?" katanya.


"Jadi selama ini kau yang menerorku?"


"Siapa lagi memangnya."


"Benar-benar memalukan dan kurang kerjaan," ucap Arinka sinis.


"Kau sudah berani sekarang, apa karena Renza sudah mencintaimu? Kau itu hanya beruntung saja. Asal kau tahu, Renza itu tidak pernah sudi berdekatan denganmu."


"Benarkah? Tapi sayang kami sangat dekat. Apalagi kamu suami istri, kami tidur satu kamar." Arinka menyerigai Kali ini ia tidak ingin di injak-injak lagi oleh Giska. Cukup sudah ia dipermalukan dulunya.


"Kau memanas-manasiku? Kau tidak sadar bahwa Renza itu hanya mencintaiku? Bahkan di malam pengantin yang seharusnya kalian tidur bersama, ia malah tidur denganku." Giska mulai licik.


Deg ....


Jantung Arinka seketika berpacu kembali dengan cepat mendengar ucapan Giska. Ia mulai merasakan kesakitan di hatinya. Apakah Renza bicara jujur atau Giska yang berbicara jujur? batinnya.


"Kau benar-benar sakit Giska, mentalmu terganggu. Jangan mengada-ngada."


"Haha, kau ketakutan. Kau tidak percaya? Kau tidak seberuntung itu. Dia sudah pernah bersamaku." Giska tertawa jahat.


"Apa aku terlihat peduli dengan ucapmu?"


"Kau pura-pura tak perduli, padahal kau tersakiti kan kampungan. Kenapa kau tidak pernah berkaca sih?"


"Kau benar-benar terlihat menyedihkan. Kasihan."


"Berani sekali kau!" Giska mengangkat tangannya ingin menampar. Dengan langkah cepat. David berlari dari belakang dan menyergap wanita itu. Renza dan Deni berjalan bersamaan menghampirinya.


Prokk ... Prokk ...

__ADS_1


Suara tepukan dari Renza. Giska menatapnya dengan tatapan tajam.


"Lepaskan! Brengsek!" pekik Giska sambil memberontak. "Kau di sini juga? Kalian sudah merencanakan ini? Dasar gadis kampung, sialan! Kau menjebakku."


"Siapa yang menjebakmu? Berhenti mengatakan istriku kampungan dan sialan!" pekik Renza.


"Haha ... bukannya dulu kau begitu. Kau mengatakan dia kampungan, menjijikan." Giska terkekeh.


"Tutup mulutmu, Giska. Menyebut namamu saja aku tidak sudi," pekik Deni.


"Kau lagi, dulu kau juga selalu menghalangiku. Sampai kapan kau akan terus bersamanya. Dasar sekretaris bodoh!"


"Kau itu yang bodoh dan tidak beretika! Kenapa kau seperti ini? Seperti pshyco saja. Apa kau merasa bahagia, jika seseorang yang kau terror menderita?"


"Sudah pasti. Lagi pula kau itu kenapa harus selalu ikut campur? Kau tidak mempunyai kehidupan pribadi, ya? Setiap hari kerjaannya menempel seperti perangko. Aku curiga kau ini sebenarnya suka kepada wanita atau tidak."


"Tutup mulutmu. Dasar wanita pesakitan!"


"Hentikan!" Teriak Arinka.


Mereka semua menatap lekat ke arah Arinka. Renza segera memeluknya dengan lembut..


"Beraninya kau memeluk kampungan ini didepanku? Cepat lepaskan! Kau itu hanya milikku seorang."


"Milikmu? Hahaha ...." Renza tertawa dan memperlihatkan senyum devil diwajahnya.


"Iya, kau bahkan sudah tidur denganku. Kau bilang kau membenci wanita kampungan ini sampai ke kepalamu. Kau juga bilang kau tidak akan menyetuh dan hubungan intim kepadanya. Jangan munafik kau Renza!"


Arinka yang mendengar ucapan Giska terdiam. Matanya mulai berkaca. Renza dengan cepat memeluknya lagi. Namun, Arinka segera melepaskannya. Yah, jika teringat hari itu, malam pernikahannya, ia sangat kecewa dan terluka."


"Sayang, jangan dengarkan ucapannya. Dia hanya ingin memperkeruh suasana," ucap Renza kepada Arinka.


"Memperkeruh? Haha ... malam pertama saja kau berhubungan denganku."


Benar-benar wanita ******. Beraninya dia berkata seperti ini. Ingin rasanya aku merobek mulutnya ... gumam Deni.


"Kau menikmatinya, 'kan, sayang?" ucap Giska.


Plakk!


Sebuah tamparan mendarat di wajah Giska. Arinka menutup mulutny dengan kedua telapak tangannya. Arinka benar-benar terkejut karena begitu tiba-tiba.


"Kau menamparku, Renza. Lepaskan aku!" berontak Giska.


"Ini balasannya karena mulutmu itu kurang ajar. Dan ini juga sebagai ganti tamparan dari Arinka. Dulu kau berani menamparnya dengan kurang ajar. Kau dengarkan aku baik-baik, Giska. Kau itu tidak berharga dimataku. Aku sangat bersyukur karena aku tidak terlambat. Jika saja waktu itu aku tidak menyadarinya, mungkin aku sudah bersama orang yang salah. Aku benar-benar menyesal."


"Sudah, Pak. Ayo bawa saja dia ke kantor polisi," ucap David


"Biarkan dia membusuk di penjara! Dia pikir enak di penjara, haha." Deni tertawa sinis.


"Tunggu dulu. Aku mau bertanya? Anakmu kemana?"


"Kau menanyaiku. Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu?Huh!"


"Setidaknya, jika kau punya mulut jawab saja."


"Huh! Aku tidak akan menjawab pertanyaan wanita kampung sepertimu!"


"Bisa kau hentikan kata-kata kampungan itu. Atau kau benar-benar akan menyesalinya," ucap Renza.


"Aku tidak akan menyesali apa-apa. Jika aku menyesal, aku tidak akan melakukan ini."


"Kau terlalu sombong. Kau pikir penjara itu seperti hotel?" ucap Deni sinis.

__ADS_1


"Hahaa ... kenapa kau tiba-tiba mengkhawatirkanku?"


"Aku tidak mengkhawatirkanmu sama sekali. Kau mau membusuk di penjara sampai mati pun aku tidak perduli."


Arinka menoleh dan menatap Deni lekat. ia tercengang dengan sikap Deni yang sangat berbeda dari biasanya. Deni memang terlihat dingin, tapi ia sangat humoris jika berada di hadapan mereka. Sekarang Deni seperti dua orang yang berbeda.


"Aku akan mebawa dia masuk ke dalam mobil, biar dia cepat mendapat ganjaran perbuatannya," ungkap David.


"Jadi dua orang di kantor polisi itu berbohong. Berani sekali mereka! Kau bayar mereka berapa?"


"Kenapa kau penasaran Renzaku sayang." ucap Giska tertawa.


"Kau benar-benar sakit, Giska. Kau harus di bawa ke Rumah sakit jiwa." Renza berucap sinis lalu merangkul bahu Arinka.


"Beraninya kau menyentuh gadis kampungan itu! Sekali lagi, jika kau menyentuhnya, aku akan mencabik-cabikmu kampungan."


Renza makin mengeratkan tangannya merangkul Arinka. Arinka menoleh kepada Giska dan mengedipkan matanya sebelah. Sontak Giska menjadi mengamuk. Tapi tangannya sudah dipegang dengan kuat oleh David.


"Sialan kau gadis murahan!" Pekik Giska.


"Kau yang murahan. Dia istriku, aku mencintainya. Jika sekali lagi kau meneriakinya, lakban saja mulutnya biar tidak bisa berbicara. Wanita tak tahu diri! Jika kau mencintai dengan tulus dulunya, mungkin aku akan berbaik hati. Tapi aku sangat bersyukur bahwa sekali lagi jodohku itu adalah Arinka."


"Aku mencintaimu dengan tulus. Kenapa kau meragukanku?"


"Kau mencoba membuatku tersentuh? Tidak mempan."


"Sudah biarkan saja dia, jangan di ajak bicara lagi. Dia terlihat sangat tidak sehat menurutku," ucap Arinka sambil mengelus tangan Renza.


"Huh! Kau ... untung saja aku sedang di pegang, jika tidak kau sudah aku jambak."


"Jambak saja jika kau berani. Kalau bukan aku duluan yang akan menjambak rambutmu sampai botak." Deni berucap dengan wajah datar.


Arinka dan Renza masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh pak Ahmad. Sedangkan Deni dan David pergi naik mobil bersamaan membawa Giska.


"Kalian berdua ini seperti pesuruh yang pandai menjilat kaki majikan. Benar-benar menggelikan."


"Haha ... kau pikir, kau tidak menggelikan. Kau itu munafik. Aku muak melihat wanita seperti ini di bumi. Untung saja kau harus diserahkan ke polisi, jika tidak sudah aku tembak kepalamu itu." Tertawa dengan nyaring.


"Wanita sepertimu ini, yang bisanya mengganggu rumah tangga orang lain, harusnya di beri racun. Biar populasi wanita sepertimu ini punah tanpa sisa." David menambahkan.


Giska terdiam. Yang tadinya ia banyak bicara mendadak berubah. Seketika ia memikirkan nasibnya yang akan di penjara. Matanya terlihat berkaca-kaca.


"Kau kenapa? Menyesal?" tanya Deni.


Giska hanya diam tak menggubris pertanyaan Deni.


"Kau ini punya anak, tapi kelakuan seperti ini. Benar-benar tak pantas jadi seorang ibu."


"Aku memang tidak ingin menjadi seorang ibu. Kalau bukan karena anak itu, mungkin aku sudah mendapatkan Renza. Aku membencinya!"


"Otaknya benar-benar sudah rusak," ungkap David.


"Biar saja. Tak lama lagi dia akan mendapatkan pencerahan di penjara."


Awas saja kalian semua. Jika turun aku akan melarikan diri. Awas saja Arinka. Aku tidak akan membuatmu bahagia.


**Bersambung..


Readers jangan lupa like dan votenya yah 😁💋


Yang mau tanya tentang Author, bisa masuk Grup chat ya. Author akan menjawab dengan senang hati.


Salam sayang dariku buat pembaca setiaku 💋

__ADS_1


I love u 😘**


__ADS_2