Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 74 : Keguguran


__ADS_3

Setelah acara pameran itu, Renza pulang ke rumah walaupun sudah sangat larut. Acara pameran itu berjalan sukses walaupun ada beberapa kendala kecil.


Bi Ami membukakan pintu rumahnya. Terlihat wajah Renza sangat lelah. Renza berjalan ke arah kamar bawah yang di tiduri Arinka. Arinka tidur dengan nyenyak memeluk bantal gulingnya. Renza duduk di tepi ranjang dan mengelus puncak kepala Arinka. Renza memperhatikan kekasih hatinya itu dalam suasana remang. Renza terus tersenyum menatap ke arah Arinka dan pelan-pelan ia mengecup lembut keningnya.


"Aku merindukanmu hari ini?" ucap Renza tersenyum sambil menyelimuti Arinka.


Renza sangat lelah. Ia naik ke kamar atas untuk mengganti pakaiannya. Kemudian turun kembali ke bawah menonton televisi. Bi Ami membuatkan Renza jus buah dan meletakkannya di atas meja di ruang keluarga.


Renza benar-benar terjaga semalaman. Ia duduk di sofa sampai pukul 2 pagi. Tadinya Renza merasa mengantuk, tapi seketika kantuk itu hilang saat dirinya asyik menonton televisi.


Lama-kelamaaan, kantuk mulai melanda dan akhirnya Renza tertidur di sofa dengan posisi menyandar. Televisi terus menyala hanya saja tidak terlalu bersuara. Kakinya yang ia naikan ke atas meja menyenggol jus buah di gelas dan tumpah.


Besok, Renza akan masuk kerja agak siang. Karena semalam pulang larut. Renza ingin mengajak Arinka jalan-jalan. Tapi keinginannya belum pasti karena Arinka masih belum bisa mencium bau tubuhnya.


Entah bagaimana Arinka bisa merasakan hal seperti itu. Seakan jika melihat Renza, ia benar-benar tidak ingin. seperti mirip Renzaphobia saja.


Arinka bangun dari ranjangnya dan berjalan ke luar kamar. Lagi-lagi ia mendapati suaminya tidur di sofa ruang keluarga. Arinka ingin mendekati Renza. Tapi pasti ia akan merasa mual. Kali ini walaupun mual, Arinka ingin memeluk suaminya.


Arinka berjalan mendekati Renza. Renza sedang dalam posisi tidur yang nyenyak padahal hari sudah pagi. Arinka ingin duduk di sampingnya di sofa. Tiba-tiba, sendal yang dipakai oleh Arinka menginjak tumpahan jus dan tanpa aba-aba Arinka terjatuh terduduk.


Brukk ...


"Awww!" pekik Arinka kesakitan.


Renza segera membuka mata mendengar suara teriakan. Alangkah terkejutnya Renza melihat Arinka yang sudah terduduk dengan posisi kaki terlipat. Renza bergegas bangkit dari sofa dan berteriak.


"Sayang! kau kenapa?" Renza bergegas mengangkat Arinka dan mendudukannya di sofa. Arinka merasakan sakit di perutnya. Tak lama kemudian, keluar darah segar dan mengalir di kakinya. Renza sangat panik dan berteriak. Bi Ami bergegas berlari menghampiri. Alangkah terkejutnya bi Ami melihat darah di kaki Arinka. Renza dengan cepat menggendong Arinka dan membawanya ke rumah sakit.


Renza menyetir sendiri mobilnya. Karena masih pagi, Pak Ahmad belum sampai ke rumah. Di perjalanan, Renza sangat panik hingga tanpa sadar mengeluarkan air mata. Bi Ami yang ikut masuk ke dalam mobil pun sangat ketakutan.


"Bagaimana ini, Bi? tidak akan terjadi sesuatu 'kan pada bayiku?"


"Maafkan saya Nyonya. Ini semua salah Bibi yang lupa membawa gelas minuman Tuan di meja semalam."


"Tidak, Bi. Jangan berkata begitu. Biarkan Arinka tenang dulu. Ayo sayang tarik napas dan hembuskan!" ucap Renza mengintruksi. Padahal jauh dalam hatinya Renza sangat panik melebihi apapun.


"Sayang, tidak akan terjadi apa-apa 'kan? Perutku sakit."


"Tidak akan terjadi apa-apa, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai."


"Aku takut terjadi sesuatu pada bayiku."


"Berdoa saja, semoga dia baik-baik saja."


"Tapi perutku sakit dan darah ini, aku benar-benar takut."


"Semuanya akan baik-baik saja, jangan panik, ya."


Wajah Renza benar-benar ketakutan. Tapi, sebisa mungkin ia sembunyikan di depan Arinka. Renza mencoba tersenyum dan bersikap rasional.


Beberapa saat, Mobil mereka telah sampai di ruang UGD. Pikirannya sudah kacau. Renza turun dan mengangkat Arinka seraya berteriak. Perawat disana bergegas menyuruhnya masuk.


"Cepat periksa istri saya?" pekik Renza.


"Ceritakan? istri anda kenapa?"


"Istri saya terjatuh di lantai, cepat periksa perutnya!"


Dokter di ruangan itu segera memberi tahu dokter kandungan. Tak lama, dokter kandungan sampai di ruangan itu segera memeriksa. Renza terus menekuk wajahnya. Berkali-kali ia menarik napas dalam dan menghembuskan sembarang.


Setelah di periksa, dokter itu berkata, "Maaf, janin dalam kandungan istri anda tidak bisa di selamatkan."


Seketika Arinka meneteskan air matanya. Renza menggenggam tangan Arinka kuat dan berusaha tegar. Bayi yang sudah mereka nantikan itu akhirnya harus pergi sebelum lahir ke dunia ini.


Arinka mendadak diam, tapi air matanya terus mengalir. Renza mencium kening Arinka dan menguatkannya.


"Tidak apa-apa sayang, mungkin memang belum waktunya."


"Ini semua salahku, maafkan aku!" Arinka mulai terisak.

__ADS_1


"Tidak, ini bukan salahmu sayang. Mungkin belum saatnya kita memiliki dirinya."


Dokter kemudian mengatakan beberapa hal. "Ibu Arinka tidak di kuretase karena setelah di USG tidak ada janin yang tersisa di rahim karena kandungan ibu benar-benar masih awal."


Keguguran tanpa kuret hanya diperbolehkan jika seluruh isi kandungan sudah keluar dan tidak ada jaringan janin atau plasenta yang tertinggal di dalam rahim. Keguguran yang seperti ini dikenal dengan istilah medis abortus komplit.


Pada sebagian besar kasus keguguran, di mana usia kehamilan masih kurang dari 10 minggu, jaringan janin atau plasenta yang tertinggal di dalam rahim akan keluar secara alami dalam waktu satu atau dua minggu. Proses ini dapat juga dibantu dengan pemberian obat-obatan oleh dokter, bila dirasa perlu.


Arinka benar-benar sedih. Renza berusaha menguatkan istrinya itu dengan mengatakan hal-hal yang membuatnya bahagia. Namun, Arinka tetap meneteskan air mata.


"Hasil pemeriksaan dokter menemukan keguguran lengkap dan rahim sudah bersih dari bakal janin, maka tidak diperlukan tindakan apapun. Dokter hanya perlu melakukan pemantauan untuk beberapa saat. Keguguran lengkap yang terjadi secara alami, umumnya diikuti dengan perdarahan sekitar 7-10 hari. Namun, baru akan benar-benar berhenti setelah 2-3 minggu."


Renza mendengarkan dengan seksama pernyataaan dokter kandungan itu. Renza benar-benar harus kuat demi istrinya. Berkali-kali Renza mengelus kening Arinka dan mengecupnya. Tapi, Arinka tetap bersedih.


Setelah di berikan obat-obatan, Arinka di perbolehkan pulang tapi harus istirahat yang cukup.


Renza menemui dokter di ruangannya berdua. Dokter berkata jika kandungan Arinka itu sangat lemah. Mungkin ia akan sulit hamil. Jika ia berhasil hamil lagi akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Renza sangat sedih mendengar ucapan dokter, tapi ia berusaha tetap kuat.


Setelah kejadian itu, Arinka menjadi murung. Di perjalanan, Arinka hanya diam dan air matanya terus menetes. Bi Ami terus menangis dan merasa bersalah. Tapi Arinka mengatakan tidak apa-apa. Walau sebenarnya ia sangat sakit berkata tidak apa-apa.


Sesampainya di rumah, Arinka berjalan pelan dan masuk ke dalam kamar. Renza membantunya dan kemudian membaringkan Arinka di ranjang. Arinka berbalik arah membelakangi Renza dan meneteskan air mata. Renza mengelus bahu Arinka menguatkan.


"Aku benar-benar telah kehilangannya." ucap Arinka terisak.


"Tidak apa-apa, ikhlaskan saja. Pasti kita akan segera mendapatkan gantinya."


"Bagaimana aku mengikhlaskannya? aku benar-benar tidak bisa!" ucap Arinka seraya berbalik menatap Renza.


"Harus bisa," jawab Renza tersenyum di paksakan.


"Aku benar-benar ingin memaki diriku karena tidak becus."


"Jangan bicara begitu, sayang. Aku tahu kau kuat, ini bukan masalah becus atau tidak," ucap Renza mencoba tersenyum.


"Pip, aku tidak bisa baik-baik saja setelah kehilangan calon bayi kita, aku sakit. Aku sangat sakit. Aku terpukul. Aku ingin menangis sejadi-jadinya." Tangis Arinka lirih.


"Mengapa kau menahannya? Padahal kau sangat terpukul. Jika sedih menangis lah sekencang-kencangnya, supaya hatimu lega. kenapa harus di tahan?" ucap Renza seraya memeluk Arinka dan menepuk bahunya.


"Aku sedih. Aku juga kehilangan. Aku juga terpukul Aku juga sangat menginginkannya. Demi dirimu, aku bersikap tenang. Kau harus kuat, sayang. Mungkin memang belum saatnya kita memilikinya. kita harus lebih bersabar." Renza menitikkan air matanya.


"Kau juga sangat kehilangan? Maafkan Aku! Hiks ... hiks ...."


"Dia calon anak kita, bagaimana mungkin aku baik-baik saja. Tapi tidak apa-apa, aku yakin kita akan segera mendapat gantinya." Renza terus memeluk Arinka seraya mengusap air mata di pipinya.


"Apakah kau akan terus mencintaiku?"


"Kenapa bertanya hal begitu. Selamanya aku akan selalu mencintaimu, sayang."


"Aku beruntung mempunyai kamu disisiku. Cintai aku, walaupun nantinya aku belum memberikan keturunan, tetap cintai aku!" ucap Arinka penuh penekanan.


"Pasti, aku akan selalu mencintaimu sampai maut memisahkan kita."


Renza terus menemani Arinka seharian. Hari ini, Renza tidak datang ke kantor. Urusan kantor semua di handle oleh Deni. Mendengar kabar kegugurannya Arinka. Deni sangat terkejut. Ia berusaha tidak menelpon Renza untuk urusan kantor demi mencegah Renza memikirkan hal lain.


Bi Ami membuatkan makanan kesukaan Arinka. Namun, Arinka tidak berselera untuk makan. Renza berusaha membujuk Arinka untuk makan. Renza menyuapinya sedikit demi sedikit ke mulutnya. Arinka makan hanya sedikit saja. Mata Arinka sudah bengkak akibat menangis terus menerus.


Sesekali teringat, Arinka meneteskan air mata kembali. Renza tak beranjak dan selalu setia menemani Arinka tanpa kemana pun. Bi Ami membawakan makanan juga untuk Renza supaya Renza bisa makan bersama-sama.


Arinka berbaring meringkuk di atas ranjang itu. Renza memakan makanannya sedikit. Renza berusaha mengisi tenaganya. Ia takut jika ia tidak makan dan sakit, siapa yang akan mengurus Arinka.


"Aku sangat penasaran dengan jenis kelaminnya?" ucap Arinka seraya mengusap air matanya.


"Jangan di ungkit lagi. Nanti kita bikin yang banyak jika Mimom sudah sehat."


Arinka tersenyum tipis mendengar ucapan Renza. Kemudian air mukanya berubah murung kembali.


"Jika saja aku tidak terjatuh, pasti dia masih di dalam perutku."


"Ini salahku juga, karena minuman di meja yang tumpah kita jadi kehilangan bayi kita."

__ADS_1


Arinka menjadi iba mendengar ucapan Renza menyalahkan diri sendiri.


"Tidak, ini bukan salahmu. Sudah, kita harus melupakannya. Aku berjanji akan segera mungkin mengakhiri masa berkabung ini."


Renza hanya diam. Seketika Renza menjadi murung. Ia benar-benar telah menyalahkan diri sendiri atas keguguran Arinka.


Aku yang bersalah. Jika saja minuman itu tidak tumpah? pasti Arinka baik-baik saja. Mungkin sesudah ini, Arinka akan sulit mempunyai anak seperti kata dokter tadi karena kandungannya lemah. Ya Tuhan semua ini salahku. Maafkan aku!


"Sayang, aku ingin makan?"


"Benar, kau harus makan biar cepat sehat dan kuat ya, sayang."


Renza sangat bahagia mendengar Arinka ingin makan. Arinka sudah berpikir bahwa ia akan mengakhiri masa sedihnya ini dengan segera. Ia akan membuat bayi baru untuk Renza secepat mungkin.


Arinka tidak tahu menahu. Padahal dokter sudah berkata jika dirinya mungkin akan sulit mengandung setelah keguguran ini. Karena kandungannya benar-benar sangat lemah.


Renza memanggil bi Ami untuk membawakan makanan. Bi Ami bergegas membawakannya. Bi Ami sangat bahagia mendengar Arinka sudah ingin makan.


"Nyonya makan yang banyak ya biar cepat pulih."


"Hmm ... baiklah, Bi."


Sementara ada bi Ami di kamar, Renza naik keatas untuk mandi dan berganti pakaian. Renza sangat senang melihat Arinka sudah tersenyum. Arinka makan sendiri, setelah makan ia meminum obat resep dokter.


Aku harus kuat, aku yakin jika ada Renza, aku akan cepat melewati masa-masa ini. Semangat!


Renza mandi di bawah guyuran shower. Pikirannya jauh menerawang saat dokter mengatakan bahwa istrinya akan sulit untuk hamil, jika hamil mungkin akan sangat lama.


Ya Tuhan, walaupun lama. semoga istriku bisa hamil nantinya. Aku akan mendampinginya walau dalam keadaan apapun. Aku berjanji.


Setelah selesai mandi, Renza turun ke bawah. Ia masuk ke dalam kamar bawah. Tapi Arinka tidak ada di kamar. Renza berjalan ke arah dapur dan melihat Arinka sedang duduk di kursi melamun.


"Sayang!" panggil Renza.


"Iya, kenapa?"


"Tidak ada, hanya saja aku kebingungan mencari mimom."


"Ehm, aku bosan. Aku ingin mencari udara segar."


"Apa di sini se-menyegarkan itu?"


"Iya."


"Kau benar-benar istriku yang kuat. Pipom sangat menyayangi mimom."


"Mimom juga sangat menyayangi, pipom. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku."


"Iya, terima kasih juga sudah menjadi istri yang baik untukku."


"Iya, walaupun aku belum memberikan anak?"


"Tidak apa-apa, pasti kelak kita akan punya anak."


"Jangan kelak, sebentar lagi," ucap Arinka tersenyum.


"Iya, sebentar lagi," jawab Renza ragu-ragu tapi tetap membalas tersenyum.


"Jangan bersedih lagi, ya? ucap Renza mengelus pipi Arinka.


"Iya, aku janji tidak akan bersedih lagi."


**Bersambung...


Like dan comment ya readers semua 😂


Yang belum rate, silahkan rate novel ini bintang 5.


Aku sangat mengharapkan vote dari kalian juga. Vote, like dan komen kalian penyemangat bagiku.

__ADS_1


Salam sayang dari ku untuk semau Readers tercinta.


Luv u all 💋😘**


__ADS_2