Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 76 : Ketahuan?


__ADS_3

Arinka dan Renza saling berpegangan tangan. Mereka berjalan menyusuri tepian pantai. Sesekali Renza mengelus puncak rambut Arinka dan tersenyum menatapnya.


Renza mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Renza ingin memotret Arinka. Senyum Arinka yang manis itu benar-benar kesukaan bagi Renza.


"Sayang, ayo berpose! biar Pipom foto."


"Aku malu," ucap Arinka terkekeh.


"Malu? malu sama siapa?"


"Itu," Arinka memonyongkan bibirnya, ternyata Dina sedang memperhatikan kemesraan mereka.


"Hanya Dina? kenapa harus malu?"


"Aku bukannya malu, hanya saja kasihan. Nanti dia baper sendiri melihat kita seperti ini."


"Haha, kau ini benar-benar lucu. Pipom makin mencintai Mimom."


Matahari sedang panasnya. Beberapa orang berteduh di bawah pohon demi menghindari panasnya matahari. Tapi, Arinka dan Renza masih sibuk bergandeng tangan seraya memainkan kakinya terkena air laut.


Deni dan Risa masih sibuk bertengkar dan adu mulut. Dina masih sibuk memainkan ponselnya melihat idol kpop nya menyanyi.


"Yuk kita makan ke restauran seafood disana?" ajak Renza.


"Boleh, aku mau makan udang. Waktu hamil aku ingin sekali makan udang."


"Ya sudah, nanti makan udang yang banyak di sana."


Arinka dan Renza berjalan menghampiri Dina. Mereka menyuruh Dina mengajak Risa dan Deni untuk makan bersama.


"Deni dan Risa di mana?" tanya Dina.


"Tadi sih di tepi pantai dekat batu besar sana."


"Mereka itu saling benci tapi selalu berdekatan, aku curiga."


"Apa kau setuju Din, jika sepupumu Deni berkencan dengan Risa?" ucap Arinka.


"Setuju saja. Risa juga baik orangnya."


"Ya sudah, sana ajak mereka ke restauran."


"Tidak perlu kesana, aku hanya perlu menelpon saja."


"Haha, benar juga. Kenapa harus jauh-jauh kesana 'kan?"


"Terserah lah, yang penting mereka ke restauran itu. Ini sudah sangat siang."


"Baik, Pak."


Renza dan Arinka sudah berjalan ke arah restauran itu. Renza memilih duduk di gazebo tepi pantai. Sambil makan bisa sekalian menikmati sepoi angin dan melihat air laut dari dekat.


Dina menelpon Deni. Beberapa saat terdengar jawaban dari Deni.


"Kalian dimana? Ayo ke restauran, di suruh makan siang dari Pak Renza?"


"Kalian? aku hanya sendiri."


"Loh, Risa di mana?"


"Mana aku tahu!"


"Dia kan pacar bohonganmu, cari dong!"


"Ihh, kenapa jadi urusanku. Kau saja yang mencarinya sana?"


"Kau ini benar-benar tega. Aku akan laporkan pada Bibi bahwa kau kejam kepada wanita?"


"Elehh, dikit-dikit laporan. Dasar tukang ngadu. Aku tidak takut."


"Kau kan sudah dekat dengan Risa. Apa salahnya bilang sekalian."


"Sudah aku bilang, aku tidak mau!"


"Aku tidak mau tahu, kau harus mengajaknya. Titik!"


Dina mematikan sambungan telepon itu mendadak. Deni berjalan kearah restauran sambil memegang kameranya. Di kejauhan Deni melihat Risa sedang duduk di bawah pohon dan ber selfie.


"Hei, Alien!"


"Isshh, sialan!"


"Ayo kesana, di suruh makan oleh Pak Renza."


"Panggil aku yang benar!"


"Bodo amat."


"Kau manusia tak beretika!"


"Kau manusia yang tak mengerti bahasa manusia."


"Ishhh, menyebalkan!"


"Sama, kau juga menyebalkan."


"Awas saja kau, Aku sumpahi kau akan tergila-gila padaku nantinya. Tunggu saja!"


"Haha, Dasar tidak waras!"


Deni meninggalkan Risa sendiri. Sedang Risa bergegas berlari mengejarnya dari belakang. Langkah Deni semakin cepat. Deni tak ingin berjalan bersamaan dengan Risa.


Arinka dan Renza berjalan menuju gazebo di pinggir pantai itu. Dan hal yang tak di sengaja dan sungguh sebuah kebetulan disana mereka bertemu dengan Jefran dan Sinta. Mata Renza menatap kesal karena bertemu Jefran. Apalagi Jefran bersama Sinta. Seperti kisah lama yang terulang kembali. Renza melihat Jefran berdua dengan Sinta benar-benar hal yang paling di bencinya.


"Renza, kau di sini juga?" ucap Jefran.


"Iya, astaga ... sungguh suatu kebetulan bisa bertemu kalian, berdua pula?"


"Iya," jawab Sinta masam.


"Hai, Arin." ucap Jefran.


"Hai, Pak Jefran." balas Arinka.


"Kalian berdua?" tanya Sinta.


"Tidak. kami kebetulan berlima," jawab Arinka.


"Ayo, kesana." ucap Renza seraya menggenggam tangan Arinka.


"Jangan buru-buru, kalian bisa bergabung bersama kami."


"Tidak, kami sudah memesan tempat disana."


"Maaf, kau harus melihat kami berdua." ucap Jefran.

__ADS_1


"Tak masalah. Lagi pula aku tidak ada urusan, mau kalian berdua dan menikah pun aku tidak ada urusan."


"Tapi, ini tentang kisah kita?" ungkap Sinta.


"Kisah kita? Kisahku hanya bersama dia," ucap Renza menatap Arinka dengan senyuman.


"Jangan tersinggung ya, aku tahu kau pasti tidak nyaman," ungkap Jefran.


"Tidak nyaman? Aku merasa sangat nyaman saat bersama dengan Istriku. Jadi aku tidak mempermasalkan kalian ingin bersama selamanya juga boleh."


"Iya, Masa lalu tidak penting ya, Pip. Ada aku disini yang akan selalu bersamanya, ya 'kan sayang?"


"Mmm ... benar sayang. Kau sekarang sudah sangat pintar."


"Apa kau benar-benar tidak apa-apa melihatku bersama Jefran?" tanya Sinta.


"Kau dengar ya Sinta? Kau mau bersama siapa saja tidak ada urusan denganku. Lagi pula bukankah sudah aku bilang, jika kau mendekati ku daj bertingkah, siap-siap angkat kaki dari gedungku!"


"Iya, Maafkan aku."


"Jangan terlalu kejam padanya hanya karena kau cemburu padaku."


"Huh! aku benar-benar muak melihatmu, Jefran! Cemburu? buat apa? sedikitpun rasa cemburu dihatiku tidak pernah ada setelah kalian menghianatiku. kau dan Sinta ini benar-benar sangat cocok. Wanita nya pembohong dan lelakinya penghianat. Benar-benar pasangan fenomenal."


"Haha, Kasihan sekali ya. Pak Jefran! aku pikir saat pertama kali melihatmu, kau itu orang yang sangat perhatian dan lemah lembut, ternyata kau itu seorang penghianat. Kalian berdua ini benar-benar terlihat rendahan. Lain kali, jika kalian bermaksud membuat suamiku cemburu pergi saja. Tidak mempan! Renza benar-benar tidak melihat wanita lain dimatanya, Hanya aku dan selamanya hanya aku!"


Jefran terdiam, sedangkan Sinta meremas tangannya kesal mendengar ucapan Arinka. Renza tersenyum bahagia mendengar ucapan Arinka yang benar-benar terlihat keren di matanya itu.


"Kau berani sekali berkata begitu kepadaku? kau tidak ada apa-apa jika Renza tidak mencintaimu? Apa kau bangga karena berhasil meremehkanku?"


"Kerena aku tahu Renza mencintaiku, makanya aku berani padamu. Sudahlah, kau itu kan hanya masa lalu. Kenapa harus repot-repot saling mengungkit masa lalu. Fokus kedepan dan tata masa depan. Jika kau melihat ke belakamg terus, kapan kau akan maju? bukannya kau sudah gagal berumah tangga sekali, harusnya itu jadi pelajaran."


"Jadi, Sinta itu sudah janda?" tanya Renza.


"Ya, menurut kebenarannya begitu." jawab Arinka.


"Apa benar, Sin?" tanya Jefran.


"Aku baru akan memberitahumu," ucap Sinta.


"Pasti Risa 'kan yang memberitahumu?"


Arinka hanya mengendikkan bahu acuh. Kemudian, Arinka menarik tangan Renza dan pergi meninggalkan Jefran dan Sinta. Mereka sudah duduk di gazebo tepi pantai sambil menghirup udara pantai yang panas, sepanas perasaan Arinka tadi.


"Mimom benar-benar sangat keren, Pipom sangat bangga."


"Benarkah?"


"Mimom seperti orang yang berbeda. Pipom sampai pangling."


"Yah karena itu menyangkut suamiku, makanya aku memberanikan diri menjadi berbeda."


"Uwuu, I love you mimom."


"Uh, langsung gombal."


Dina, Risa dan Deni berjalan menuju gazebo yang ditempati Arinka dan Renza. Tak lama, Risa di tarik oleh Sinta untuk berbicara dengannya. Terlihat Risa di maki oleh Sinta. Namun, Risa bersikap biasa saja. Walaupun Sinta itu sepupunya, Risa tidak menyukainya.


Deni duduk berhadapan dengan Renza dan Arinka. Tiba-tiba, Deni langsung bertanya mengenai Jefran dan Sinta.


"Apa Pak Renza tahu, disana ada Pak Jefran dan Sinta? kenapa bisa kebetulan sih? Are you ok?" tanya Deni.


"Of course, im ok."


"Aku tak masalah, mereka mau berdua di depanku pun, aku masa bodoh. Ada istriku disini yang selalu menjadi prioritasku."


"Memangnya mereka siapa?" tanya Dina.


"Itu mantan pacarnya Pak Renza dan lelaki itu temannya pak Renza."


"Kenapa mereka bisa berdua?"


"Ya mungkin mereka kembali bersama dan pacaran lagi, mungkin." ucap Arinka.


"Wah, berarti mereka berdua penghianat dong."


"Haha, terserah mereka. I dont care." jawab Renza.


"Iya, lagi pula pak Renza dan Kak Arin juga sudah sangat bahagia."


"Benar. Kau juga pintar Dina."


"Kau harus berterima kasih, Din. Jarang-jarang Pak Renza memuji orang lain." ucap Deni.


"Benarkah? terima kasih, Pak Renza."


Risa berjalan dengan langkah gontai. Wajahnya sangat murung setelah bicara dengan Sinta. Arinka menjadi khawatir melihat perubahan wajah Risa.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Arinka.


"Tidak, Kak. Aku benar-benar tidak menyukai sifat Kak Sinta. Dia tidak berubah, masih saja ingin mementingkan materi. Kak Sinta dan pak Jefran itu benar-benar cocok.


"Iya, mereka sangat cocok. Aku tidak menyukai mereka berdua." sambung Deni.


Risa melirik sinis kepada Deni dan berkata, "Jangan ikut campur!"


"Mulai lagi, mereka pasti akan bertengkar?" ucap Dina.


"Tidak kok!" Jawab Risa.


Seketika suasana tegang itu menjadi cair akibat tawa mereka semua. Daftar menu sudah ada, mereka sibuk menulis pesanan mereka masing-masing. Arinka menuliskan menu yang akan di pesannya.


Renza tak henti-hentinya menatap kagum ke arah Arinka. Renza benar-benar salut dengan ucapan Arinka tadi. Ternyata Arinka itu sangat bisa membela diri jika sedang terancam.


"Sayang, nanti kita pergi ke butik langganan, ya?"


"Kenapa? Pipom ingin membeli sesuatu?"


"Tidak. Pipom hanya ingin membelikan Mimom hadiah saja."


"Hadiah?"


"Ehm ... "


"Dalam rangka apa? aku belum ulang tahun?"


"Memangnya memberi hadiah untuk istri harus menunggu ulang tahun dulu."


"Tidak sih, hanya saja mendadak."


"Uwuu, aku juga nanti mau punya suami yang setiap hari ngasih hadiah," ucap Dina terkekeh.


"Iya, aku juga. Bikin iri 'kan?" sambung Risa.


"Kalian ini jika menyangkut perbucinan selalu nomor satu." ungkap Deni.

__ADS_1


"Yang jomblo memang gitu ucapannya." Tutur Renza.


"Ish, kena lagi!"


"Kak Arin, aku boleh bertanya?" ucap Risa.


"Tanya apa?"


"Kenapa kalian saling memanggil Pipom dan Mimom?"


"Itu panggilan sayang pemberian dari Pak Renza." jawab Arinka.


"Kenapa memangnya?" tanya Renza.


"Aku merasa lucu saja, tapi disisi lain itu benar-benar romantis. Aku suka mendengar kalian saling memanggil begitu."


"Dasar bucin sejati!" ucap Deni.


"Orang macam Deni mana tahu romantis?" Dina terkekeh.


"Benar, dia orangnya tegang. Dan juga kaku." sambung Risa.


"Kau diam saja, Alien!"


"Lah, Kenapa kau memanggilnya alien?" tanya Arinka. Renza dan Dina ikut menyimak.


"Karena dia tidak mengerti bahasa manusia!"


"Hah!" Dina tercengang.


"Aku yakin kalian ini akan saling jatuh cinta. Kalian saling menyakiti satu sama lain, saling bertengkar dan saling adu mulut. Jika suatu hari kalian saling jatuh cinta berlututlah dihadapanku."


"Apa-apaan kata-kata seperti itu?" Deni mendengkus kesal.


"Aku yakin seratus persen."


"Aku juga sudah menyumpahinya, dia selalu meremehkanku. Awas saja jika ia jatuh cinta padaku." ucap Risa.


"Tidak akan! karena aku sudah menyukai wanita lain, bermimpi saja kau sana."


"Wanita lain? siapa yang kau sukai? Milka?" tanya Arinka.


"Dalih saja." ucap Renza tertawa.


"Aku tidak berdalih, namanya Mawar." ucap Deni dengan suara setingkat lebih tinggi, kemudian ia langsung menutup mulutnya.


"Mawar?" tanya Renza.


"Mawar siapa?"


"RAHASIA!" ucap Deni penuh penekanan.


"Wah, selamat." Arinka menjulurkan tangannya.


"Untuk apa?" tanya Deni.


"Untuk pacar barumu."


"Aku belum pacaran. hanya saja aku menyukainya."


"Owh, begitu. Nama Risa juga Mawar kalau tidak salah 'kan?" ucap Arinka.


"Wah, benarkah?" tanya Dina.


"Iya, waktu kelas membuat kue, aku melihat nama di bukunya Mawar?"


"Iya Kak, namaku Mawar. Benar-benar kebetulan, ya?" Risa tertawa.


Jantung Deni berdetak lebih cepat mendengar ucapan Risa bahwa namanya Mawar. Raut wajah Deni mendadak pias. Deni menjadi terdiam dan membisu.


"Siapa nama aslimu?" tanya Dina.


"Mawarni clarisya."


Uhuk! uhuk!


Deni terbatuk dengan sangat keras. Deni permisi pergi meninggalkan mereka yang tengah asyik berbincang itu. Renza memperhatikan gerak-gerik aneh Deni. Deni berjalan kearah batu besar di bibir pantai. Deni sangat syok mendengar nama Risa.


Jadi benar selama ini bahwa Mawar itu adalah Risa. Aku menyukai Risa. Tidakkk!! aku benar-benar tidak percaya.


Bagaimana ini? aku benar-benar menaruh rasa suka padanya.


Deni melemparkan beberapa batu didekatnya. Kini Deni benar-benar merasakan dilema.


Risa berpikir dengan keras. Wanita yang disukai Deni itu adalah Mawar. Risa mengecek ponselnya dan permisi pergi dari Arinka, Dina dan Renza. Arinka benar-benar merasakan sebuah keanehan. Tapi ia tak tahu keanehan apa itu.


Risa berjalan kearah batu. Risa berjalan mendekati Deni. Kemudian, Risa menekan panggilan dari ponselnya. Yah, Risa menelpon nomor Dino. Seketika, Telepon itu berdering. Deni mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat nama pemanggilnya. Deni panik dan menoleh. Deni melihat Risa tengah berjalan menghampirinya. Deni melihatnya dengan mata melotot sempurna.


"Jadi, kau itu Dino-saurusku?" ucap Risa.


"Kau itu, Mawar? Mawar Clarisya?" tanya Deni.


"Huh! aku tak percaya bahwa dunia sesempit ini?"


Deni diam saja mematung setelah menyebut nama Mawarni clarisya. Deni benar-benar salah tingkah menghadapi situasi ini.


"Jadi selama ini kita saling bertelpon, saling menyukai di dunia maya dan ternyata di dunia nyata kita musuh bebuyutan? Aku benar-benar tak percaya."


"Aku juga tak percaya. Aku berharap Mawar itu adalah orang lain? Kenapa harus kau?"


"Kau menyesal? Tapi kenyataannya, Aku lah Mawar yang kau sukai itu. Apa kau sekecewa itu?"


"Sudah, lupakan saja. Anggap saja kita tidak saling mengenal di dunia maya. Lupakan semuanya yang pernah kita bicarakan."


"Baiklah. Aku juga tidak ingin mengingatmu sebagai Dino-saurusku. Aku benar-benar menyesal karena telah mengenalmu dalam bentuk seseorang yang baik dan pengertian. Padahal kenyataannya kau itu orang yang keras, tidak punya hati."


"Kalau begitu mari kita lupakan saja!"


"Kenapa kita harus saling melupakan?" jawab Risa seraya meneteskan air mata tanpa ia sadari dan buru-buru ia mengelapnya.


"Karena memang ini konyol!"


"Konyol? Bukannya kau menyukai Mawar? apa semudah itu melepaskan orang yang kau sayangi?"


"Iya, semudah itu."


"Baiklah. kali ini aku benar-benar bersumpah bahwa kau akan benar-benar menyukaiku. Lihat saja, Jika suatu saat hari itu datang, aku akan menertawakanmu."


Bersambung...


Jangan lupa like jika selesai membaca, dan vote sebanyak-banyaknya ya Readers kuh. Kritik dan saran aku tunggu ya sayang..


Salam sayang dariku untuk kalian semua...


Luv u all.. 💋💋

__ADS_1


__ADS_2