Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 79 : Kirim bunga?


__ADS_3

Setelah weekend kemarin mereka jalan-jalan dan quality time bersama pasangan. Hari ini, rutinitas mereka berjalan normal kembali.


Deni telah sampai di rumah besar Renza dan menunggu di teras. Sambil menyeruput kopi, ia mengecek ponselnya. Milka mengirimkan pesan jika nanti siang, ia ingin makan bersama Deni. Deni mengiyakan jika tidak sibuk.


Deni mengusap layar ponselnya dan membuka media sosial. Ia melihat postingan Risa yang memotret buku dan memuliskan capture di bawahnya.


"Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Apa lagi hanya setengah hati. Belajarlah ikhlas dalam keadaan apapun."


Deni seperti terkena sindiran setelah membaca postingan Risa. Deni mengecek komentar, ternyata laki-laki bernama Gion itu selalu memasang emoticon hati di sana.


"Huh, sudah mantan masih saja mengejar-ngejar. Tak tahu malu," ucap Deni kesal.


"Kau bicara apa?" Tiba-tiba Renza mengejutkan Deni dan tak sengaja ia menjatuhkan ponselnya.


"Pak Renza mengagetkan saja."


"Kau melihat apa? Sampai terkejut dan menjatuhkan ponsel seperti itu? Jangan-jangan melihat hal yang tidak senonoh, ya?"


"Haiss! Aku bukan orang seperti itu!"


"Jika bukan seperti itu kenapa wajahmu terlihat panik. Sini ponselmu, aku ingin melihat isinya!"


Deni buru-buru mengambil ponselnya yang terjatuh dan memasukkannya di saku celana.


"Kau menyembunyikan rahasia, ya?" tanya Renza.


"Tidak!"


"Ya sudah, terserah kau saja! Aku malas bicara denganmu, nanti mood berantakan."


Arinka mencium tangan Renza kemudian Renza mencium keningnya. Deni terpaku melihat kemesraan dua menusia tersebut.


Renza masuk ke dalam mobil, kemudian Deni melajukan kendaraan itu dengan santai.


"Kau dengan Risa bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Sudah sejauh apa tahap kalian?"


"Tidak ada tahap. Kami tidak pernah bertemu."


"Kenapa? Bukannya kau menyukai Risa?"


"Apa? Kata siapa?"


"Haha, aku bisa melihat dari tatapanmu? Kau bisa saja berbohong kepada orang lain, tapi padaku tidak mungkin."


"Anda ini sok tahu, Pak. Aku tidak menyukainya."


"Mengelak saja terus. Ujung-ujungnya menyesal."


"Tidak akan!"


"Gengsi aja terus. Nantinya kau akan jomblo seumur hidup."


"Kata siapa aku jomblo ...," gumam Deni pelan.


"Kau bicara apa? Kau mengejekku?"


"Mana berani aku mengejekmu, Pak."


"Hahaha." Renza tertawa lucu mendengar ucapan Deni.


"Oh ya, Nanti siang atau sore kau ke toko bunga, ya? Aku sudah lama tidak mengirimkan bunga pada istriku."


"Baik, Pak."


Sesampainya di kantor, beberapa karyawan menundukkan pandangan dan menyapa saat bertemu Renza. Senyum manis Renza torehkan pagi ini kepada karyawan yang menyapanya.


Deni hanya tersenyum tipis, mood nya benar-benar berantakan. Renza tahu sekali bahwa Deni itu sedang dilema. Tapi Deni itu orangnya egois dan tidak bisa di beri saran.


Masuk ke ruang kerjanya, Renza menarik napas panjang melihat tumpukkan file di atas meja nya.


"Dua hari, sebanyak ini?"


"Iya, Pak. Semangat!" ujar Deni.


"Aku selalu semangat, memangnya kamu? Wajah seperti itu mirip benang kusut."


"Benang kusut? Ini wajah idaman," ucap Deni terkekeh.


"Sialan! Aku benar-benar sial mendengar kau memuji diri sendiri."


"Haha ...." Deni tertawa terbahak mendengar ucapan Renza.


Deni pergi ke ruang kerjanya. Di sana pekerjaannya sudah menunggu. File-file di atas meja sudah menunggu untuk di buka. Deni menghela napas kasar, ingin mengeluh tapi percuma.


Setelah membuka tumpukan berkas. Deni memberi tahu bahwa siang ini akan mengadakan pertemuan dengan klien dari jepang.


Renza membolak-balikan berkas di mejanya itu sangat serius. Wajahnya mendadak berubah menjadi tegas jika sudah menyangkut dengan pekerjaan.


Sementara itu, Deni mendapat telepon dari Milka. Milka menanyakan tentang makan siangnya nanti. Deni belum bisa memastikan karena kerjaannya sangat banyak. Terdengar nada bicara Milka menjadi berubah setelah Deni mengatakan belum pasti.


Siang harinya, Renza dan Deni sudah berada di sebuah hotel untuk menemui klien dari Jepang. Renza bercakap-cakap tentang bisnisnya dan kesepakatan mereka berhasil. Renza sangat berbahagia karena Fariq company akan membuka cabang di jepang.


Di kejauhan, di sebuah tempat duduk yang tak jauh dari tempat Renza dan Deni. Sepasang mata sedang mengawasi mereka. Mata itu menatap tajam kearah Renza.


"Sialan! Dia selalu saja berhasil dengan pekerjaannya. Aku akan menghancurkan keluarganya jika tak bisa menghancurkan pekerjaannya."


Setelah makan siang mereka pergi dari hotel itu. Deni berkata kepada Renza bahwa ia akan menemui seseorang. Jadi, Renza pulang di jemput mobil dari kantor yang sudah Deni siapkan.


Renza tersenyum tipis menatap Deni. Airmuka nya berubah saat Renza menatapnya.


"Mobilnya sudah datang, silahkan naik!" ucap Deni.


"Baiklah. Semoga beruntung!" jawab Renza.


"Beruntung?"


"Iya." Renza terkekeh.


Apaan sih maksudnya?


Deni melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Sambil mengemudi, Deni membalas whatssapp dari Milka. Deni mengatakan akan menemuinya di sebuah cafe.


Sesampainya disana, Deni menunggu sambil memainkan ponselnya. Deni lagi-lagi melihat postingan Mawarni Clarisya. Postingan itu selalu membuat Deni merasa tersindir.


"Yang tersisa di antara kamu dan aku, adalah kenangan pahit yang tak perlu diingat. Seperti kopi ini."


"Astaga, kenapa aku selalu merasa tersindir sih dengan semua postingannya?"


Baiklah, aku akan mencoba posting juga. Aku akan menyindirnya. Tapi aku nulis apa? Huh!


"Percayalah, jika takdir kita pasti akan bersama."


Setelah mengetik itu, Deni mempostingnya. Kemudian, Milka datang melambaikan tangannya dan menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Pacar, maaf sudah menunggu lama."


"Tidak kok, baru saja!"


"Hari ini kamu benar-benar tampan. Aku suka kau yang rapi seperti ini," ucap Milka.


"Benarkah? Terima kasih." Deni tersenyum tipis.


Pelayan datang membawakan menu. Milka melihat menu itu dan segera memesan makanan dan minuman. Deni hanya memesan minuman karena ia sudah makan.


"Kenapa hanya minum?" tanya Milka.


"Aku sudah makan tadi," jawab Deni.


"Jadi ke sini hanya menemaniku makan, ya?"


"Iya."


"Baik banget si pacarku ini."


"Terima kasih," ucap Deni tersenyum kaku.


"Kenapa canggung begitu, sih?" tanya Milka.


"Tidak apa-apa."


"Aku benar-benar bahagia," ujar Milka.


"Bahagia kenapa?"


"Bahagia karena kamu adalah pacarku," ucap Milka manja.


Deni terdiam, ia tersenyum seadanya menatap Milka yang menatapnya seperti tatapan akan menerkamnya. Deni menjadi salah tingkah dengan tatapan Milka itu.

__ADS_1


Di kejauhan, terlihat wanita yang sangat familiar memasuki cafe itu. Wanita itu bersama dengan seorang pria.


Risa!


Deni semakin menjadi. Ia benar-benar salah tingkah di buatnya. Risa masuk dan bergandengan tangan dengan pria itu. Deni membuang muka saat Risa duduk tak jauh dari mejanya dengan Milka.


Milka permisi ke toilet dan di iyakan oleh Deni dengan anggukan kepala. Deni memainkan ponselnya. Ia melihat postingannya di komentari oleh teman-teman sekolahnya tapi ia tak membalasnya. Deni hanya memeriksa like di postingannya, apakah ada nama Mawar di sana. Deni terkejut bahwa Mawar ikut berpartisipasi menyukai postingan itu.


Dia menyukai postinganku? Kenapa aku sesenang ini?


Deni memperhatikan Risa yang sedang tertawa bersama pria didepannya. Risa benar-benar tidak menoleh. Risa hanya fokus pada pembicaraannya.


Seceria itukah Risa? Senyumnya benar-benar manis.


Apa? Kenapa aku bebicara begitu. Arrghhhh!


Milka kembali dari toilet dan melihat Risa. Milka menghampiri meja Risa dan menyapa. Risa tersenyum manis. Saat tahu Milka bersama Deni, senyuman itu langsung berubah menjadi senyuman yang sinis.


"Hai, Risa!"


"Hai, Milka."


"Kak, ini temanku, Milka." ucap Risa memperkenalkan Milka pada Rasya.


"Halo, Kak," ucap Milka.


"Halo, aku Kakaknya Risa, Rasya."


"Owh, kalian sudah lama?"


"Baru saja," ucap Risa.


"Oh, Maaf, aku tidak bisa lama-lama. Aku permisi dulu, Nanti kita bertemu lagi, ya?" ucap Milka.


"Oke."


Risa menoleh sangat kesal setelah menatap Deni. Airmukanya mendadak berubah. Yang tadinya ia tersenyum sangat manis, tiba-tiba berubah menjadi tersenyum masam.


Aku benci bertemu Dino-saurus itu. Benar saja moodku langsung hancur melihat wajahnya.


Deni menjadi salah tingkah saat matanya beradu tatap dengan Risa. Risa menantap sinis sedangkan tatapan Deni sendu.


Apa-apaan? Kenapa tatapannya sendu begitu ..., gumam Risa.


"Ayo pulang, aku harus kembali ke kantor," ucap Deni kepada Milka yang sudah duduk kembali di kursinya.


"Ah, padahal aku masih mau melihat pacar." Milka tersenyum manis.


"Aku harus kerja."


"Baiklah, nanti bertemu lagi, ya?"


"Iya."


Deni dan Milka berjalan hendak melewati Risa dan Kakaknya. Deni tersenyum saat melewati Risa dan menundukkan kepala sopan dihadapan Rasya.


"Bukannya itu temannya dari suami temanmu?" tanya Rasya.


"Iya, Kak."


"Itu pacarnya, ya?"


"Mana aku tahu, kenapa juga bertanya seperti itu padaku? Bukan urusanku. Bikin kesal aja sih Kakak ini!"


"Eh ..., kenapa kesal? Kakak kan hanya bertanya?"


"Kenapa harus bertanya kepadaku? Menyebalkan!"


"Yah, kok kamu jadi ngambek?"


"Siapa yang ngambek? Huh!"


"Haha, jangan-jangan kamu suka, ya?"


"Sama siapa?"


"Tidak ada."


Risa bangkit dari kursinya dan bergegas keluar. Terlihat Milka sudah pergi dengan mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Deni.


"Mungkin mereka memang pacaran. Kenapa juga aku yang sewot? Huh! Kenapa hatiku sakit, sih!" gumam Risa pelan.


"Kita belum makan, kau mau ke mana?


"Astaga ..., Dasar bocah!" ucap Rasya tersenyum lucu.


"Biarin."


Risa dan Rasya keluar dari cafe itu. Sementara itu, Deni sedang berdiri mematung. Deni belum masuk ke dalam mobilnya.


"Hai ...."


Deni menoleh dan tergelak. Ternyata Rasya menyapanya dan tersenyum manis.


Kenapa juga kakak harus menyapanya? Kakak ini benar-benar menyebalkan!


"Ha-hai," jawab Deni gugup.


"Kalian tidak saling menyapa?" tanya Rasya kepada Risa yang pura-pura asyik memainkan ponselnya.


"Eh, kenapa, Kak?"


"Ini teman suaminya temanmu."


"Hai, Risa," ucap Deni kaku.


"Eh, Dinosaur ...,-" ucap Risa terhenti.


Rasya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Rasya berpikir pasti ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Risa meninggalkan Deni sesudah menyapa tadi. Tangannya terus memainkan ponselnya tanpa melihat jalan di depannya.


Bruuggh!


Risa terjatuh tersandung dan ponselnya terpental.


"Aww!"


"Risa!"


"Risa!"


Kedua lelaki itu langsung panik berlari kehadapan Risa. Deni dengan spontan berlari menghampiri Risa dan segera ingin membantunya bangkit. Namun, ia mengurungkan niatnya. Deni hanya mengambil ponselnya sedangkan Risa di bantu oleh Rasya.


Rasya tersenyum simpul menatap tingkah dua orang di depannya. Mereka berdua benar-benar canggung.


"Kamu kenapa bocah?" tanya Rasya.


"Lututmu berdarah," ucap Deni seraya memberikan ponsel Risa. Tapi Risa bukan berterima kasih malah memperlihatkan tatapan sinis.


Bukannya berterima kasih? Dia malah menatapku seperti ini, ada apa dengan manusia ini? Benar-benar sulit di tebak.


"Dasar ceroboh! Ini akibatnya 'kan? Sudah Kakak bilang kalau main hp di jalan itu tidak baik. Ayo pulang! Biar Kakak gendong."


"Tidak, memalukan sekali. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku masih bisa berjalan."


Deni mematung melihat dua orang kakak beradik ini saling menyayangi satu sama lain.


"Terima kasih sudah membantu Risa," ucap Rasya.


"Sama-sama."


"Kami harus pulang dulu."


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


Risa berjalan masuk ke dalam mobil tanpa menoleh kepada Deni. Risa sangat kesal kepada Deni walaupun sebenarnya hati kecilnya berkata lain.


Deni masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Otak berputar-putar memikirkan Risa.


Kenapa dia bisa seceroboh itu, sih!


Deni melewati toko bunga. Mendadak ia memberhentikan mobilnya.


Astaga, ini pesan pak Renza. Aku harus membelikan bunga untuk Nyonya Arinka.


Deni turun dari mobilnya. Dan benar saja, ia mendapat telepon dari Renza yang menyuruhnya membeli bunga.


"Den, kau sudah di luar, jangan lupa membeli bunga untuk istriku! Segera kembali ke kantor, jam makan siang hampir habis." titah Renza dari telepon itu dengan tegas.


"Iya, Pak. Sekarang aku sedang mampir."


"Bagus."

__ADS_1


Sambungan itu terputus. Deni memilih-milih bunga yang akan di belinya. Bunga langganan yang selalu di beli Renza adalah mawar merah.


"Selamat siang, Pak. Mau cari bunga apa?"


"Aku mau sebuket bunga mawar merah di kirim ke alamat ini," ucap Deni.


"Wah, bunga untuk pacarnya, ya?" ucap wanita yang memakai baju polkadot seraya tersenyum.


Sekalian aja aku beli bunga untuk Milka. Apa aku seperti Pak Renza yang jadi pengirim bunga rahasia saja. Ehm ... iya benar. Mulai sekarang aku akan mengirim bunga rahasia saja.


"Aku mau sebuket bunga yang melambangkan permintaan maaf, apakah ada?" tanya Deni.


"Tidak hanya karena bunga memiliki warna dan bentuk yang cantik, tapi juga setiap bunga memiliki maknanya masing-masing. Beda warna beda pula makna bunga tersebut." 


Wanita memakai baju polkadot itu mulai menjelaskan kepada Deni.


"Bunga anggrek memiliki arti yang sangat dalam. Rangkaian bunga anggrek dapat diberikan kepada orang-orang yang disegani, kasihi, sekaligus kalian hormati.Selain itu, bunga anggrek merupakan jenis bunga yang cenderung mahal dibandingkan bunga hias pada umumnya. 


Putih - keindahan, kemurnian, kepolosan, kelembutan, kebaikan


Merah - daya energi, kekuatan cinta, semangat


Merah muda - kasih sayang yang murni


Kuning - keanggunan


Hitam - kekuasaan, otoritas yang mutlak


Lavender - keanggunan, provokasi cinta


Ungu - misteri, ketidakpastian


Biru - kekuatan, stabilitas


Lily atau bakung


Bunga kedua yang sering dijadikan bagian dari rangkaian untuk orang terkasih adalah bunga lily atau yang lebih akrab di telinga kita sebagai bunga bakung. Dalam Al Kitab, bunga bakung sering disebut untuk melambangkan keindahan, tidak hanya itu saja bunga bakung ini juga dijadikan sebagai simbol kemuliaan, kesucian, dan keindahan.


Rangkaian bunga bakung berwarna jingga melambangkan hati yang hancur karena perasaan cinta yang tidak dianggap. Sedangkan rangkaian bakung jenis macan, itu artinya si dia yakin kalau cintanya tidak akan kamu tolak. Bunga bakung putih melambangkan keinginannya yang hanya ingin berteman dengan kamu saja. 


Putih - pengabdian, persahabatan, simpati, mulia, murni, suci


Merah mudah - kemakmuran, kekayaan


Jingga  - penghinaan, kesombongan, kebencian


Kuning -  kepalsuan, kebohongan, namun juga bisa keriangan


Mawar


Mawar merah memang menjadi jenis mawar yang paling sering digunakan untuk rangkaian karena dirinya yang melambangkan cinta. Walau begitu makna mawar merah ini sebenarnya sangat banyak.


Merah muda - sayangku, percayalah padaku, terima kasih, rasa kagum


Merah - cinta, cantik, aku cinta kamu, rasa hormat, keberanian


Merah hati - kecantikan


Putih - keluguan, amat menyenangkan, rahasia, cinta sejati


Kuning - kegembiraan, persahabatan, awal yang baru


Jingga - keinginan, antusiasme


Ungu  - cinta pada pandangan pertama, perlindungan cinta ibu dan ayah, keunikan


Peach - rasa terima kasih, apresiasi, kekaguman, simpati


Hitam - kematian


Tulip


Bunga keempat yang cukup sering ditemui dalam rangkaian bunga, adalah bunga tulip. Yup, bunga dengan lonceng yang populer di Eropa ini memang selalu berhasil menarik perhatian banyak orang karena warna-warna cantik yang dimilikinya. Nah, setiap warna bunga tulip juga memiliki maknanya masing-masing. 


Putih  - permohonan maaf


Merah  - percayalah padaku, deklarasi cinta


Kuning  - cinta yang tidak ada harapan, cinta bertepuk sebelah tangan


Jingga - energi, hasrat, gairah


Merah muda - kepedulian


Ungu  - bangsawan


Dua warna - mata yang indah."


"Wah, banyak juga ya artinya? Anda benar-benar luar biasa!" ucap Deni.


"Karena saya menyukai bunga, makanya saya harus tahu, Pak." ujar wanita berbaju polkadot terkekeh.


"Aku ingin bunga tulip putih dan merah di gabung. Dan kirim ke alamat ini, ya!"


"Baiklah, jadi Bapak mau mengirimkan 2 buket bunga 'kan?"


"Hem ...."


"Jangan berselingkuh ya, Pak." Wanita itu tertawa.


Deni menatap sinis. Wanita itu menundukkan pandangan.


"Maaf, Pak. Saya lancang."


"Haha ..., ini untuk istri atasanku."


"Dua-duanya, ya?"


"Tidak, satu untuk teman. Berarti aku harus membeli tiga buket."


Wanita berpakaian polkadot itu mengerutkan keningnya heran. Wanita itu tersenyum lucu menatap Deni. Deni mamasang wajah datar yang membuat pekerja wanita itu menebak-nebak.


"Yang mana lagi?"


"Bunga mawar peach."


"Boleh sebutkan sekali lagi semua bunganya."


"Mawar merah, Mawar peach dan Tulip putih, merah untuk seseorang."


"Boleh sebutkan namanya?"


"Aku tulis saja, ya?"


Deni menuliskan di kertas nama orang yang akan di kiriminya bunga. Tanpa menuliskan pengirimnya.


"Nama pengirim sengaja di rahasiakan, ya?"


"Iya.


Deni membayar total pembeliannya dengan kartu kredit perusahaan. 2 buket bunga lagi ia bayar menggunakan kartu pribadi.


"Bunga mawar peach harus aku bawa pulang. Yang dua buket silahkan di kirim ke alamat masing-masing yang sudah aku berikan tadi, ya?"


"Oke, Pak. Tunggu sebentar bunga mawar peachnya hampir jadi."


"Iya."


Deni duduk dan merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Sambil menunggu, ia memainkan ponselnya dan membuka sosial media. Deni melihat lagi postingan Mawar. Ia tersenyum karena Mawar pertama kalinya mengunggah foto pribadinya.


Risa selfie? Ternyata secantik ini, ya? What the hell? Arghh ..., aku memujinya lagi. Aku benar-benar sudah di kutuk oleh sumpah Risa. Kenapa aku jadi seperti ini, Milka itu pacarku sekarang. Huh! Ternyata, hati kecilku menginginkan wanita lain.


"Pak, sudah selesai," ucap wanita berpakaian polkadot itu membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya. Terima kasih."


Deni memasukkan ponselnya di saku celana dan pergi membawa sebuket bunga mawar peach meninggalkan toko bunga itu.


Deni melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Di perjalanan, ia tersenyum mengingat foto selfie Risa.


Apa yang aku lakukan? Aku mengirimkan bunga untuk Risa? Ya ampun, aku benar-benar sudah kehilangan akal. Akhirnya aku menjilat ludah sendiri. Aku menyukainya! Bagaimana ini? Apa aku bisa menyembunyikannya? Aku harus bisa.


Deni benar-benar seperti orang yang sangat berbeda. Pikirannya mulai terkontaminasi oleh nama Risa. Dan itu membuatnya mulai terlihat seperti orang bodoh.


Bersambung...


Hai, Readers tersayang 💋💋 ini update cerita Deni yang kalian tunggu 😁


Jangan lupa kasih like dan komen ya? Aku menunggu vote dari kalian juga.


Kritik dan saran boleh banget, tapi harus sopan, ya?

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya baru aku Fake Love 😁


Salam sayang dariku buat kalian semua 😘 Luv u all ❤💋


__ADS_2