
Arinka dan Renza ternganga saat Deni memberikan bunga kepada Risa. Moment pernyataan cinta itu di tepat di saat Renza dan Arinka masuk memesan kopi.
Saat Renza dan Arinka masuk bergandengan tangan, Deni dan Risa tidak menyadari kehadiran sepasang suami istri yang sedang penasaran kepada mereka berdua. Pasangan suami istri benar-benar seperti orang asing disana.
Renza dan Arinka duduk tidak terlalu jauh dari mereka. Mereka berdua terlihat heran melihat Deni berlari tiba-tiba.
"Deni kenapa?" tanya Arinka menatap Renza lekat.
"Mungkin dia gugup dan sakit perut." Renza tertawa pelan, dan Arinka mencubit gemas tangannya. "Aww, sakit." Katanya Nyegir kuda.
"Dasar suka becanda saja."
"Bagus, 'kan? Daripada serius terus."
"Becanda tidak pada tempatnya." Arinka menjulurkan lidahnya. Tapi kelupaan bahwa ia memakai masker. Jadinya, ia tertawa geli.
"Kenapa?" tanya Renza pelan.
"Tidak ada." Arinka mengedipkan matanya.
"Hiss, genit."
"Lihat, itu Deni ... dia sudah masuk membawa bunga? Kira-kira mau apa, ya?" Arinka nenekan dagunya dengan jari.
"Jangan terlalu kentara, nanti mereka curiga."
"Aku kan tidak punya bakat jadi detektif. Kalo ketauan ya sudahlah." Arinka tertawa.
"Ketawa jangan keras-keras, nanti mereka menoleh."
"Iyaaa ...."
Arinka melirik dengan ekor matanya. Ia melihat Deni sudah memberikan bunga itu dan berkata tidak terlalu jelas, karena di dalam kedai itu backsound nya terlalu keras.
"Apa?! Deni menyatakan cinta?" Arinka ternganga tapi terhalang masker.
"What is this?"
Arinka memegang tangan Renza kuat. Renza bergidik ketika jemari tangan Arinka sedikit mencubit. Renza berbisik pelan di telinga Arinka. "Sakit-sakit gimana, tahu?" Katanya melepaskan tangan Arinka.
"Hehe ... aku gemas sama mereka."
"Si kaku Deni, astaga bikin jantungan saja."
"Kenapa bikin jantungan?" Arinka mengernyit.
"Ternyata dia berani juga akhirnya, haha ...."
"Dia juga laki-laki."
"Tapi dia itu konyol didepan wanita."
"Kan demi cinta," ucap Arinka tersenyum.
"Iya, tapi kan Deni itu kaku."
"Sekaku-kakunya Deni, tetap saja dia memperjuangkan wanita yang di cintainya."
"Iya, sih. Lah ... kenapa jadi kita yang berdebat. Lihat wajah Deni tersenyum seperti itu. Bahagia sekali, 'kan?"
"Pasti bahagia, dong. Coba tadi ditolak, pasti nangis." Arinka cekikikan.
"Hadeh ... istriku sudah seperti diriku. Benar-benar mirip."
"Maksudnya?" Arinka menopang dagu dengan kedua tangan. Matanya membentuk puppy eyes.
"Haiss, tatapan ini ... Ahh, ayo pulang, aku ingin pulang." Renza sudah bangkit dari kursinya.
"Kenapa? Jadi mereka berdua, bagaimana?"
"Dasar istri polos!"
"Dasar suami mesum!"
Mereka berdua cekikian. Tak sadar dengan dua orang yang mereka buntuti. Malah, mereka asyik berdua. Renza mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Diam-diam Renza memotret Deni duduk bersama dengan Risa.
"Yes, dapat."
"Untuk apa?"
"Ini untuk meledek si Deni itu, haha."
"Masih sempat terpikir begitu. Dasar jahil!"
"Iya dong, moment langkah Deni ini harus diabadikan."
Renza mengambil foto beberapa kali. Lalu, Arinka mendekatkan wajah ingin melihatnya juga. Padahal orang yang ingin dilihatnya itu ada di depan mata.
"Haha, yang mau dilihat masih di depan mata? Itu," tunjuk Renza dengan mulutnya.
"Mimom mau lihat hasil jepretannya. Hehe ...."
Renza memperlihatkan ponselnya kehadapan Arinka. Arinka tertawa lucu. Dua orang itu sibuk memotret gambar yang paling bagus.
Tak lama, Deni dan Risa bangkit dari tempat duduknya. Tak lupa Risa membawa buket bunga pemberian Deni itu. Wajahnya sumringah. Mereka keluar dari kedai kopi itu. Risa menuntun sepedanya dan memasukkan buket bunga di keranjangnya.
Sadar akan Deni dan Risa tidak ada lagi di sana, Arinka segera menepuk bahu Renza. Arinka segera berdiri dari kursi itu. Renza yang sedang memainkan ponselnya tidak menyadari bahwa dua orang yang membuat mereka penasaran itu sudah hilang dari pandangan mata.
"Pip, mereka sudah pergi." Arinka masih menepuk-nepuk bahu Renza.
"Astaga, kemana mereka pergi? Ayo Mimom kita keluar dari sini."
Renza segera menarik tangan Arinka dan keluar. Dua orang kepo itu benar-benar seperti sedang bermain detektif dan menyelidiki penjahat. Mereka sampai di pintu kedai dan celingak celinguk menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Mereka ke kiri, Pip." Arinka menunjuk.
"Loh, ini mobilnya. Kenapa mereka jalan kaki. Lagi pula Risa naik sepeda. Apa ini daerah rumah Risa?"
"Hmm ... bisa jadi. Astaga, ia rela mengantar Risa jalan kaki. Benar-benar langsung berubah drastis demi cinta." Arinka tertawa lucu.
"The power of love. Ayo kita ikutin mereka jalan kaki juga."
"Ini baru terniat. Mengikuti sampai sejauh ini, benar-benar kepo." Arinka tertawa menatap Renza. Yang ditatap malah fokus melihat kedepan.
"Karena sudah di ikutin, yah, jangan setengah-setengah 'kan?"
"Ciyee yang baru jadian, lagi sedang kasmaran pokoknya dua orang itu."
"Benar perkataanku tempo hari 'kan? Risa itu suka sama Deni dan sebaliknya. Mereka benci jadi cinta, seperti novel yang Mimom beli waktu itu."
"Iya, hehe ... Pak peramal!"
"Kenapa jadi Pak peramal? Ada-ada saja istriku ini. Apa mau aku gigit telinganya?" Bisik Renza tersenyum jahil.
"Iihh, aku sudah merinding duluan."
"Memangnya hantu? Pakai merinding-merinding segala."
"Sudah-sudah. Fokus ke depan, lihat saja mereka berdua, bahkan berpegangan tangan pun, mereka malu-malu." Arinka terkekeh.
"Deni mana berani pegang tangan wanita. Yang ada nantinya, ia tidak bisa berjalan karena kaku." Renza tertawa agak keras. Dengan cepat, Arinka menutup mulutnya. Renza hanya memakai topi, sedangkan Arinka memakai masker. Oleh karena itu, jika tertawa agak kencang mungkin akan kedengaran.
"Mereka benar-benar asyik berdua, tidak melihat dua orang dibelakangnya sedang penasaran mengikutinya."
"Mereka tidak akan menyangka ada kita di daerah sini. Makanya mereka cuek dengan suasana sekitar."
Sementara itu, Deni terus tersenyum menoleh ke arah Risa. Risa menoleh malu-malu sambil menuntun sepeda.
"Apa boleh aku saja yang membawa sepeda ini?" tanya Deni pelan.
"Kau masih menaiki atau hanya menuntunnya?"
"Kau mau aku bonceng?"
"Kau bisa?"
"Kau ini lucu, ya? Aku bertanya, kau malah bertanya. Bukannya malah menjawab saja."
__ADS_1
"Hehe, iya maaf." Risa terkekeh.
Deni segera mengambil alih sepeda dan menuntunnya.
"Tidak apa-apa. Jadi mulai hari ini kita resmi pacaran, 'kan?"
"Hmm ... Risa mengangguk malu.
"Jika aku benar-benar sudah mencintaimu seperti ini. Apa kau siap jika suatu hari nanti aku melamarmu?"
"What?" Risa membelalak dan menutup mulutnya.
"Yah, aku serius. Aku sudah bertekad bulat. Aku hanya akan menjadikanmu wanita pertama dan terakhirku."
"Astaga! Jantungku benar-benar tidak bisa dikontrol. Kenapa berdetak kencang seperti ini, sih."
"Aku juga mengatakannya sedikit gugup. Dan benar saja, jantungku hampir melompat saking kencangnya suara detakannya. Aku serius kepadamu Risa. Apa kau siap jika suatu hari nanti kita menikah?"
"Hmm ...." Risa mengangguk pelan. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Malam jadiannya sekaligus menjadi seperti malam lamaran.
"Aku sangat senang. Setidaknya, hatiku sudah yakin dengan dirimu. Tolong setia dan saling mempercayai."
"Pasti, aku janji." Risa tersenyum dan menjulurkan jari kelingking. Deni mengernyit tidak mengerti maksud Risa.
"Ini janjiku, ayo tautkan jari," kata Risa.
Deni tertawa karena melakukan hal konyol pikirnya. Tapi jika ia tidak mengikuti, ia takutya nanti Risa akan marah.
"Janji," kata Deni.
"Aku sangat bahagia, ternyata cintaku ini tidak bertepuk sebelah tangan," ucap Risa memandang Deni.
Deni menghentikan langkah sejenak. Lalu tersenyum manis menatap Risa.
"Aku sudah lama menyukaimu, hanya saja aku berusaha menyembunyikannya untuk meyakinkan hatiku dulu."
"Aku jadi malu mendengarnya."
"Jangan malu, disini hanya ada aku."
"Hehe, iya, sih."
"Tidak lama lagi sampai di depan rumahmu."
"Hemm ... iya, sudah kelihatan di sana."
"Aku malu mengatakannya, tapi kenapa aku tidak ingin berpisah darimu?"
Risa tersipu malu mendengar ucapan Deni. Deni ini benar-benar berkata spontan. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Wajar saja, ia belum pernah pacaran.
Jika Deni berkata seperti ini terus. Jantungku bisa copot gara-gara berdetak terlalu keras saking bahagianya.
"Apa kau berbeda dariku? Kau tidak merasakan hal sepertiku?" tanya Deni.
"Mana mungkin berbeda, kita ini kan pasangan baru. Gejolak cinta didalam dada kita begitu besar. Makanya, aku juga tidak ingin berpisah sebenarnya."
"Iya, benar. Kenapa aku terlihat bodoh, ya? Tidak seperti aku pada biasanya. Benar-benar aneh."
"Aku suka kau yang seperti ini. Jika di depanku sebaiknya kau bersikap begini. Tapi jika urusan kantor, kau harus selalu berwibawa dan tegas.
"Hmm ... iya, Alien." Deni tertawa.
"Kau memanggilku Alien?"
"Iya, semenjak kita pernah bertengkar itu, aku menamai kontakmu Alien." Deni nyengir kuda.
"Astaga! Tapi aku juga menamai kontakmu Dino-saurusku." Risa terkekeh.
"Dinosaurus? Lucu juga." Deni tertawa.
"Panggilan konyol, tapi kenapa terasa lucu."
"Hehe, iya yah. Kau ingin dipanggil apa?" tanya Deni.
Astaga, orang ini kebangetan polosnya. Dia benar-benar tidak pernah pacaran.
"Nanti saja kita pikirkan, aku malu membahasnya di sini."
"Kenapa malu? Di sini hanya ada aku dan kamu. Yang dikelilingi langit malam nan indah dan bulan besar tepat di atas kita."
"Ini seperti kata-kata puitis, tapi kenapa terdengar kaku? Jelas-jelas bulan sudah redup." Risa tersenyum menutup mulutnya.
"Iya yah, terdengar kaku sekali. Aku perlu banyak belajar lagi." Deni menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.
"Bisa pelan-pelan jalannya."
"Kenapa?"
"Tadi katanya bilang belum ingin berpisah, 'kan?"
"Eh, iya yah."
"Kamu ini lucu deh."
"Masa sih? Tadi kau bilang aku seram bukan lucu."
"Itu kan tadi, sekarang kau sudah terlihat lucu, kok."
"Benarkah, aku merasa malu."
"Bukannya kau bilang jangan malu, kan hanya ada kita berdua."
"Astaga, percakapan ini hanya memutar-mutar disini saja. Apa kita tidak bisa membahas yang seru?"
"Haha, iya. Ayo bahas yang seru. Tapi seperti apa?"
"Iya yah, aku tidak bisa berpikir."
"Hampir sampai," ucap Risa.
"Hemm, Aku antar sampai masuk ke dalam rumah, ya? Aku ingin bertemu ibumu."
"Kau ingin bertemu sekarang?"
"Iya, apa ayah dan ibumu ada di rumah?"
"Papa tidak ada, kalau Mama ada. Kak Rasya sudah kembali tugas."
"Jadi hanya Ibumu?"
"Hmm ... lain kali saja, sekarang sudah malam."
Risa membuka gerbang, kemudian Risa memasukkan sepedanya. Setelah itu, ia keluar lagi keluar gerbang. Mereka berdua berdiri dengan canggung. Risa menghentakkan kakinya pelan karena bingung ingin berkata apa.
Deni membuka pembicaraan dan berpamitan. Tangannya refleks menyentuh tangan Risa. Mereka berdua segera mungkin melepaskan tangannya.
"Maaf, tidak sengaja."
"Tidak apa-apa."
"Ya sudah, selamat malam Alien," ucap Deni.
"Selamat malam Dinosaurusku," jawab Risa.
"Jangan lupa mimpi indah, ya?" ucap Deni.
"Iyaa, aku aku mimpi indah," jawab seseorang dari belakang mereka, suara itu tidak asing di telinga Deni. Sontak Deni dan Risa menoleh.
"Haii ...," ucap Renza melambaikan tangannya.
"Siapa?"
Suaranya tidak asing. Siapa ya? Apa Pak Renza dan Ny. Arinka. Wah, jika mereka mengikutiku. Mereka benar-benar luar biasa.
Renza dan Arinka berjalan mendekati dua orang manusia yang sedang jatuh cinta itu. Deni memicingkan matanya untuk menerka langsung siapa dua orang yang mendekati mereka. Tebakkannya langsung benar. Yah, mereka Arinka dan Renza.
"Ciyee ... yang sudah jadian?" ejek Renza.
__ADS_1
"Apa-apaan kalian? Kenapa jadi mengikutiku seperti ini?"
"Kami tidak mengikuti, hanya saja tadi tidak saja bertemu kalian." Arinka menjelaskan.
"Wahh, aku tidak percaya. Terlebih aku tahu sifat Pak Renza. Mana mungkin tidak sengaja."
"Haha, terserah. Tapi kami memang jujur. Kami jalan-jalan tadi, tak sengaja melihat mobilmu. Ya sudah, ikutin saja."
"Demi apa coba? Aku benar-benar malu," ucap Risa.
"Kenapa malu, Ris? tanya Arinka.
"Kalian melihat kami jadian, astaga ... lucu sekali, 'kan?"
"Tidak lucu, hanya konyol saja. Orang yang tidak saling suka, kok, bisa saling jadian." Renza cekikikan. Renza sengaja memancing Deni untuk mengatakan bahwa ia sudah resmi pacaran pada Risa.
"Bisa lah, kan sekarang aku sudah menyukainya."
"Ciyeeee ...," ejek Arinka.
"Akhirnya mengaku, ciyee ...."
"Benar-benar, ya, dua orang ini adalah pasangan kepo sejati."
"Terserah! Yang penting kalian sudah kepergok kami jadian. Ayo minta PJ."
"PJ?" tanya Deni.
"Astaga, Pak Renza tahu juga PJ?" Risa tertawa.
"Apa artinya?" tanya Deni.
"Aku nyimak," ucap Arinka.
"PJ itu pajak jadian." Risa terkekeh.
"Astaga! Kalian mau makan-makan gitu?" tanya Deni.
"Pasti dong, lumayan bisa makan gratis," ucap Renza.
Ichh, Pak Renza ini sangat menyebalkan sekali. Sial sekali sampai kepergok mereka.
"Baiklah, lain kali kita pergi makan-makan."
"Iya, di tunggu new couple."
Renza dan Arinka cekikikan. Sedangkan dua manusia di depannya itu merona malu. Jika berurusan dengan Renza, Deni harus bersiap menganggung konsekuensinya.
Benar-benar menyebalkan dua orang ini. Lihat saja mereka tertawa seperti itu. Tidak di sangka mereka jadi pasangan konyol semacam ini ... gumam Deni pelan seraya memandang sinis dua orang di depannya.
Tiba-tiba, tanpa di duga. Malam itu hujan turun sangat lebat. Mereka semua panik. Mereka berlarian berhambur masuk ke teras rumah Risa. Risa mempersilakan mereka masuk ke dalam. Arinka bergegas berlari masuk. Sedang dua lelaki itu menyusul.
"Ayo masuk, hujannya lebat," ujar Risa.
"Kenapa hujannya tiba-tiba begini, sih. Mobil kita jauh. Bagaimana ini?" oceh Arinka.
"Tunggu hujan reda dulu. Ayo masuk ke dalam!" ajak Risa seraya membuka pintu rumahnya. Mira berjalan melangkah ke luar. Ia terkejut banyak tamu di rumahnya.
"Kalian kebasahan, aku ambilkan handuk dulu," ucap Mira.
Risa mempersilakan mereka bertiga duduk. Kemudian, ia masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Terlihat Deni dan Renza sangat kebasahan. Mira membawakan 3 handuk untuk mereka dan meletakkan diatas meja.
"Maaf, sudah merepotkan," ucap Arinka.
"Tidak apa-apa. Jangan sungkan. Ngomong-ngomong kalian dari mana?" tanya Mira.
"Kami habis jalan-jalan," sahut Arinka.
Deni berdiri dan mendekat kearah Mira. Renza dan Arinka melongo. Deni menjulurkan tangan untuk bersalaman dan mencium tangan. Renza menyikut Arinka karena tingkah Deni yang lain dari biasanya.
"Kamu kan yang menolong Risa waktu itu, benar'kan? tanya Mira.
"Iya, Bu. Aku lupa memperkenalkan diri. Aku Deni."
"Owh, Deni. Ayo silahkan duduk."
Renza sangat payah menahan tawanya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Deni itu pacarnya Risa, mereka baru saja jadian.
Risa datang dengan pakaian berbeda. Dia sudah berganti. Tak lama, Deni terlihat tersenyum menatap Risa yang sudah mengenakan piyama lucu. Mira sadar betul, bahwa Risa ada hubungan dengan pria bernama Deni ini.
Mira memanggil pelayan rumah tangganya untuk membuatkan minuman. Deni mulai bergerak-gerak tak karuan. Ia mulai menggaruk-garung tangannya pelan.
Renza sadar bahwa Deni mempunyai alergi terkena hujan. Ia menoleh kepada Deni dan berkata, "Are you ok, Den?"
Deni tersenyum tipis dengan perkataan Renza. Arinka mengira Renza mengolok Deni. Tapi setelah memperhatikan ada yang berbeda dari Deni. Ia sering menggaruk tangannya.
"Risa, apa kau punya antibiotik?" tanya Renza.
"Hmm ... punya di kotak obat. Kenapa?" ucap Risa.
"Haha, itu si pacarmu alergi kena air hujan." Renza tertawa.
Arinka yang mendengar Renza menyebut kata pacar segera menyikut Renza pelan. Renza tersenyum dan terdiam sejenak. "Ah, biarkan saja ... nanti juga mereka akan mengatakannya."
"Pacar?" tanya Mira menoleh ke arah Risa. Risa tersenyum dan bertingkah malu-malu.
"Hehe ... kami baru saja pacaran, Ma."
"Iya, Bu. Kami baru saja mulai pacaran," ucap Deni tersenyum malu. Mira pun akhirnya tertawa melihat anaknya dengan polos mengaku begitu.
"Pantas saja lelaki kemarin dibentak-bentak. Ternyata ada yang lain." Gumam Mira pelan seraya tertawa menutup mulutnya.
Renza dengan santainya menyilangkan kaki kanannya keatas. Sedangkan Deni masih menggaruk tangannya.
"Siapa yang butuh antibiotik tadi?" tanya Mira.
"Deni, lihat saja ia menggaruk tangannya." Arinka berucap sambil menoleh.
"Apakah benar begitu," tanya Mira
"Iya, aku alergi terkena air hujan. Tapi tidak serius kok, hanya gatal memerah," ucap Deni.
Risa bergegas mencari kedalam kotak obat di rumahnya dan membawakan segelas air untuk Deni meminum obat tersebut. Wanita itu bergegas berjalan dan memberikan obat dan air kepada Deni.
"Terima kasih," ucap Deni tersenyum menatap Risa.
"Bersandar saja dulu, pakaianmu basah lap dulu dengan handuk.
"Ahem ... di sini masih ada juga orang lainnya," ucap Renza berdeham sambil tertawa.
"Mereka jadi malu," Arinka menambahkan.
Benar-benar ya dua orang ini. Untung saja dia atasanku.
"Kalian ini pacaran juga?" tanya Mira menatap Arinka.
"Tidak, bukan. Kami pasangan suami-istri, Bu."
"Owh, aku pikir kalian juga pacaran."
"Tidak, Ma. Ini Pak Renza pemilik Fariq company," ungkap Dina.
"Wah, Fariq company yang mengadakan acara pelelangan mewah itu, 'kan?"
"Iya, Ma."
"Suatu kehormatan bertemu pemilik perusahan besar."
"Ah, jangan begitu. Aku juga sangat senang bertemu dengan keluarga Pak Hendarta."
Datanglah pelayan rumah tangga membawakan teh panas. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Hujan belum juga reda. Mereka asyik dan larut dalam obrolan satu sama lain.
***Bersambung ...
Jangan lupa vote dan like. Yang belum masuk ke grup chat, silahkan gabung. Bebas bertanya apa saja selama 24 jam. Author usahakan membalas.
Salam sayang dariku untuk pembaca semua 😘
__ADS_1
Tetap jaga kebersihan dan kesehatan ya kawan-kawan. I love u 💋💋***