
Arinka berjalan terhuyung-huyung yang dipapah oleh Renza, Akhirnya Renza memutuskan untuk menginap dihotel malam ini, Renza agak berkeringat menopang Arinka yang berjalan seenaknya dan berbicara mulai melantur.
"Kenapa kita tidak pulang? Apa kita akan memancing disini? " tanya Arinka dengan tingkat kesadaran yang sudah mulai sangat lemah.
"Kau ini, masih saja bersikap memggemaskan seperti ini, lain kali jangan bersikap seperti ini didepan lelaki lain, walaupun hanya didepan Deni, aku tidak suka."
"Kau ini," menirukan ucapan Renza sambil sempoyongan, "Dasar Tuan posesif!" ucap Arinka sambil tertawa.
Renza membuka pintu kamar hotel, dan masih memegangi Arinka, setelah pintunya terbuka Arinka dengan cepat berjalan masuk seraya menuju tempat tidur.
"Aku ingin tidur, aku lelah!" ucap Arinka sembari menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. Renza dengan cepat membantunya membuka sepatu hak tahu itu.
"Kau tau? Aku sangat kesulitan tadi memilih baju, tidak biasanya aku seperti ini, hampir seluruh isi pakaian dilemariku aku bongkar demi mendapatkan penampilan yang kau sukai, yang pas dengan style mu Pak Renza." Ucapannya meracau sambil berbaring, Renza hanya mendengarkan sambil tertawa.
"Kau tahu? kau itu sangat kejam, jika sampai hari ini kau tidak menyukaiku, aku akan kabur dan pergi meninggalkanmu jauh, sejauh mungkin hingga kau tidak akan bisa menemukanku dan meminta maaf atas dosa-dosamu itu padaku." lagi-lagi ucapan pengakuan yang keluar dari mulutnya.
"Untung aku sudah sadar, jika aku terlambat mungkin aku akan menyesalinya seumur hidupku," ucap Renza dengan nada lirih.
"Iyaa, kau tau, dulu di malam pernikahan aku menangis sejadi-jadinya, aku mendapat penghinaan dihari yang seharusnya menjadi hari bersejarah bagiku, aku dimaki dan ditampar, aku ingin berteriak dan berkata kepada keluarga ku, ingin aku pulang dan meminta cerai darimu. tapi aku urungkan, benar saja sabar itu akhirnya berbuah manis, hanya butuh waktu saja semuanya akhirnya berubah manis kepadaku."
Renza akhirnya menjadi pendengar yang baik duduk di tepi ranjang mendengarkan keluh kesah istrinya itu, ia memang ingin tau banyak seberapa sakitnya wanita itu dulu dia perlakukan.
"Kau juga bilang dihari sebelum pernikahan, tidak akan pernah mencintaiku, kau bilang aku wanita kampung yang hanya ingin harta saja, apa kau tau aku sangat sakit mendengarnya, sempat dihari pernikahan aku tidak ingin bangun pagi itu, aku tidur dengan sangat nyenyak." Arinka mulai menangis.
"Kau selalu menuduhku ingin harta, ingin uang, padahal aku juga menerima perjodohan ini terpaksa karena balas jasa kepada Paman dan Bibiku. Aku ingin mereka bahagia. Aku sempat membencimu sampai ketulang-tulangku, ingin aku tinggalkan saja kau yang sangat arogan dan sombong itu, tetapi nasib berkata lain, sekali lagi karena sabar maka cinta mulai tumbuh dengan sendirinya, bagai air hujan jatuhnya yang tidak bisa diperkirakan."
Renza pun meneteskan air mata, ia sangat menyesal telah menyakiti wanita ini yang sekarang sangat ia cintai, ia berjanji seumur hidupnya akan membuat Arinka bahagia disepanjang sisa hidupnya.
"Terima kasih telah bersabar terhadapku, terima kasih telah mencintaiku dalam kesederhanaan yang begitu membahagiakan, terima kasih atas semuanya, kau adalah alasanku untuk semuanya. maaf jika aku belum mencintaimu dengan sempurna."
"Kenapa harus berterima kasih? aku tidak melakukan apapun, aku hanya bersabar, selebihnya mungkin memang sudah takdir," sambung Arinka masih mendengar ucapan Renza.
Dua orang itu tengah asyik mendengarkan curhatan satu sama lainnya, tiba-tiba Arinka merasa tubuhnya sangat panas, ia ingin membuka baju didepan Renza tanpa sadarkan diri, segera Renza mencegahnya sambil tertawa manis.
Ya ampun, bagaimana pun dia aku selalu saja melihat sisi menggemaskannya.
__ADS_1
"Kau pasti tidak menyukaiku karena aku jelek, kan?" ucap Arinka melantur lagi.
"Bukan, pertama melihatmu aku tau kau sangat cantik, tapi hati ini dibutakan oleh kebencian, makanya aku tidak bisa bersikap jernih, Maaf," ucap Renza lirih.
"Ah... kau hebat dalam mencari alasan dan memuji," ucap Arinka tertawa tipis sambil memegangi wajahnya yang memerah dan dibawah sadar itu, "Aku ingin mandi," sambungnya lagi.
Arinka berjalan menuju kamar mandi, ia segera membasuh wajahnya, kepalanya benar-benar pusing. ia memutar kran dan berdiri di bawah shower, alhasil semua bajunya basah kuyup. lama ia dikamar mandi membuat Renza sedikit khawatir, Renza mencoba membuka pintu kamar mandi dan tidak dikunci, Bola mata Renza memutar mencari sosok Arinka. ternyata Arinka sudah duduk dan terpejam dengan pakaian basah kuyup.
Renza panik, ia segera menelpon Deni untuk dibawakan baju, padahal sudah larut malam, Deni dengan sigap mengantar kebutuhan Arinka. Renza kebingungan bagaimana cara mengganti pakaiannya, apalagi semuanya basah.
"Bagaimana ini? Gimana aku harus mengganti pakaiannya?" ucap Renza mengernyitkan keningnya.
"Pak Renza kan suaminya, ya tidak ada salahnya mnegganti pakaiannya, apa harus aku yang mengganti bajunya?" Deni terkekeh.
"Sialan kau Deni! enak saja kau ingin mengganti bajunya, sana pergi bikin emosi saja kau ini," ucap Renza mulai emosi, Sedang Deni cengar cengir tertawa.
Sudah tau malah bertanya, giliran dijawab malah marah. Dasar Pak Renza sensi,haha.
"Ya sudah, aku tidak pulang, aku nginap di hotel ini juga Pak, jika ada perlu bisa hubungi aku."
Renza berpikir dengan keras, dia harus mulai dari mana mengganti pakaiannya. ini pertama kali baginya, sedang Arinka sudah tertidur dengan keadaan mabuk segelas wine. Pertama Renza membuka dress nya dengan membuka sleting panjang di belakangnya, ia menelan ludah melihat kemolekan tubuh istrinya itu.
Ya ampun, tubuh mungil ini ingin rasanya aku peluk.
"Ini salahku, kenapa harus ada wine, sih, tadi? gumamnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali. Renza mulai membuka lengan bajunya pelan-pelan, dan dengan hati-hati ia mulai membuang dress itu, dengan cepat ia menutupi tubuh Arinka dengan handuk dan menggendongnya ke luar kamar mandi menuju sofa, pakaian dalamnya masih basah. jika tidak dibuka ia takut Arinka akan masuk angin.
"OH Lord, bagaimana ini? aku akan membuka pakaian dalam nya, aku seperti mengambil kesempatan melihat tubuhnya, apa jangan aku buka, biarkan saja terbalut oleh handuk, jika ia sadar ia bisa berganti sendiri." pikiran itu berkutat dikepalanya, ia hampir putus asa.
"Ah biar aku buka saja, toh dia istriku, jika ia sadar aku bilang saja ia sangat basah, aku takut ia sakit, bilang begitu saja, memang aku tidak mencari kesempatan." lagi-lagi ia berbicara sendiri.
"Aku memang ingin melihat, tapi bukan dengan cara begini," tangannya menepak-nepak kepalanya, "Sial! otakku berpikir mesum, Ah ini gila!" ucap Renza terus menerus berbicara seperti orang gila. ia kemudian memberanikan diri membuka handuk itu dan membuka pengait bra Arinka, kepalanya ia tolehkan kesisi lain, supaya tidak terlalu melihat pemandangan didepannya.
"Jika aku tidak menoleh kearah itu, bagaimana aku akan memasangnya." Renza dengan cepat memakaikan pakaian dalaman baru, "Maaf bukan mencari kesempatan, tapi karena sudah melihat, aku putuskan melihat dulu dengan jelas, tapi aku tak memegangnya." plak-plak ia menampar tangannya karena tangannya sedikit menyentuh payudara Arinka.
"Beres, tinggal satu lagi perjuanganku, Oh God, mungkin ini yang dinamakan kesempatan dalam kesempitan," ucap Renza sambil tertawa, "Gila! aku sungguh gila, sebaiknya aku memakai kacamata hitam saja, jadi tidak terlalu terlihat jelas." Renza bangkit dari sofa dan mengambil kacamata hitam dari dalam tas kantornya yang kebetulan tidak dibawa pulang, ia memeriksa alhasil kacamata itu ada didalam sana.
__ADS_1
"Terakhir, huuuhh...," Renza menarik nafas dalam dan menghembuskannya sembarang, "Maaf, bukan ingin melihat tapi terpaksa," ucap Renza sedikit gugup. ia mulai membuka sedikit celana dalaman Arinka dengan pelan, tapi ia urungkan, sungguh ia tidak berani bersikap seperti itu kepada Arinka. ia balut kembali tubuhnya dengan handuk dan ia gendong keatas ranjang dan ia selimuti dengan selimut yang lumayan tebal. tidak akan apa-apa pikirnya jika sudah memakai selimut tebal. ia membuka kacamata itu dan naik ke ranjang itu dan masuk kedalam selimut juga.
Sungguh aku tidak berani, aku takut melihat yang belum waktunya aku lihat.
Pagi hari, mereka sedang asyik tidur dengan nyenyak, untung hari sabtu ini Renza tidak ada rapat atau ketemu klien, jadi urusan perusahan bisa dihandle oleh Deni dan Sisil. Gorden tinggi super tebal itu tidak terlalu menembus cahaya matahari, kamar Vip itu sungguh masih dalam keadaan yang sunyi. hingga suasana berubah menjadi panas, Arinka terbangun. membuka matanya perlahan, kepalanya terasa berat. ia melihat ruangan sekitar sangat berbeda dari kamar biasanya, ia menoleh melihat Renza yang hanya menggunakan kemeja putih tapi sudah terbuka. pasalnya Renza tidak menghidupkan AC karena takut Arinka kedinginan semalam, jadi ia membuka hampir semua kancing bajunya.
Arinka masih duduk di kasur, ia masih mengumpulkan nyawa, ia membuka selimut dan sangat terkejut mendapati dirinya hanya menggunakan bra, ia mengintip lagi kedalam selimut, ia lebih terkejut melihat ia hanya menggunakan celana dalam dan bra sedangkan Renza sudah membuka semua kancing bajunya, pikirannya langsung melayang jauh.
"Arghh...." Arinka berteriak dan memelototkan matanya sempurna.
"Kenapa? ada apa?" tanya Renza yang terkejut sambil mengumpulkan nyawa dan mengusap matanya.
"Ada apa denganku? kenapa aku tidak memakai baju, hiks." Arinka mulai menangis, "Apa yang terjadi?"
"Kau tidak ingat?" coba kau ingat-ingat dulu."
Arinka mengumpulkan potongan ingatan dan menyatukannya, ia hanya mengingat sampai ia mandi membuka kran shower, setelah itu ia tidak mengingat apa-apa.
"Aku sangat malu, kenapa aku jadi hanya memakai dalaman saja, jangan-jangan aku berbuat tidak senonoh. aahhhh aku benar-benar gila!"
"Tidak, kau tidak berbuat apa-apa, aku yang membuka bajumu itu karena basah semua, maaf."
Arinka memalingkan wajahnya, ia sangat malu. ia tak berani menatap wajah Renza. ia menarik selimut dengan cepat, sambil bertanya bajunya tapi tidak menatap kearah Renza. Renza menunjukan paperbag itu, dengan cepat ia berlari membawa selimut yang membungkusnya kekamar mandi.
"Sial! apa yang aku lakukan semalam? kenapa kepalaku tiba-tiba pusing sih, jangan-jangan aku mabuk, tapi karena apa? " terdengar teriakan yang sangat kencang dari kamar mandi, lama ia berada dikamar mandi dan tidak keluar, ia sangat malu, lalu terdengar suara teriakan lagi yang sangat kuat dan nyaring.
"Tidakkkkkkkkk..., jadi yang mengganti bajuku semalam siapa???"
**Bersambung....
Jangan lupa vote dan comment ya Readers setiaku 😍
Setelah membaca jangan lupa like ❤
Salam sayang dariku, Luv u 😘😘**
__ADS_1