Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 117 : Akhir cerita bahagia.


__ADS_3

Sepulang dari kantor, cuaca seketika mendung. Awan berarak hitam tebal menyelimuti langit. Arinka, Renza, Deni dan Risa, masih berada di kantor.


Baru saja mereka akan pulang, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Akhirnya niat pulang itu diurungkan. Mereka berempat kembali ke loby kantor dan duduk di sofa.


Arinka duduk berdampingan dengan Renza. Sedangkan Risa duduk saling menghadap dengan Deni. Raut wajah dua sejoli itu sangat kentara sedang dimabuk asmara.


Beberapa karyawan yang belum pulang curi-curi pandang kepada Deni dan Risa. Mereka sangat penasaran dengan kedekatan Deni dan Risa. Beberapa karyawan mungkin sudah menebak.


Seorang lelaki datang dengan senyuman dan langsung duduk tepat di hadapan Renza. Yah, lelaki itu adalah Tio.


"Den ... siapa? Calon pacar?" tanya Tio sambil menghilangkan kakinya.


"Apa aku harus menjawab pertanyaan ini," sahut Deni santai.


"Setidaknya di jawab dong, kan aku sedang bertanya."


"Nanti juga kau akan tahu."


"Jadi kamu siapa Nona?" tanya Tio kepada Risa. Karena tak mendapat jawaban yang diinginkan.


Renza dan Arinka tertawa menatap dua orang itu saling adu mulut. Kali ini Renza tidak ikut berceplas - ceplos. Renza hanya fokus menatap Arinka saja. Jiwa bucinnya masih saja menggebu-gebu kepada istrinya.


"Tanya saja pada Deni," sahut Risa.


"Wah ... benar-benar klop. Wanita spesial Deni pasti."


"Sudah tahu kan sekarang? Yah, wanita ini calon istriku," jawab Deni spontan tanpa malu-malu. Risa yang mendengarnya menutup mulut. Diakui didepan rekan kerja Deni itu sungguh sesuatu bagi Risa. Bukan hanya Risa, kebanyakan wanita memang sangat suka merasa di spesial kan?


"Ciee ... Deni," ledek Arinka.


*Sedang di mabuk cinta, biasa lah." Renza menambahkan.


"Ya ... memang sedang jatuh. Aku tak menyangkalnya."


"Uwu ... Deni. Sejak kapan si killer jadi romantis begini?" ledek Tio.


"Sudah ah, hujan sudah lumayan reda. Ayo pulang!"


"Kau pulang dengan Risa saja. Kami pulang duluan."


"Lah? kok aku yang diantar."


"Sudah gapapa. Aku antar. Sekalian nanti malam mau ketemu papa 'kan?"


"Ehem ... ketemu calon mertua," ledek Tio.


"Berisik!" sahut Deni.


Mereka berempat bangkit dari sofa dan menuju parkiran. Tio bergegas berlari mencari payung untuk Arinka, jangan sampai kebasahan. Hitung-hitung untuk nilai plus dimata Renza.


Arinka melambaikan tangan kepada Risa karena mereka berpisah dan sudah masuk ke dalam mobil masing-masing. Risa memberikan kunci mobilnya menyuruh Deni yang menyetir.


Di perjalanan ...


Arinka tertawa geli mengingat tingkah Deni. Renza yang penasaran menanyakan kenapa istrinya itu tertawa seperti itu.


"Ada apa, Mimom?"


"Si Deni kok bisa ya jadi bucin gitu?"


"Kan dia sedang jatuh cinta. Tapi memang lucu sih."


"Iya, seperti bukan Deni."


"Besok kita jalan-jalan ke pantai, mau? Besok kan minggu."


"Boleh. Sudah lama kita tidak ke pantai. Jadi kangen pulau tempat kita honeymoon."


"Iya, Pipom juga kangen tempat itu.


"Baiklah. Kapan-kapan kita kembali lagi ke sana, jika Mimom sudah melahirkan."


"Yah, sebentar lagi. 2 bulan lagi aku akan menjadi Ayah."


"Iya, Papa muda." Arinka nyengir kuda.


Renza mengangguk seraya tersenyum sambil mencolek pipi mulus Arinka. Mobil itu membelah jalanan dengan kecepatan rata-rata sore itu.


***


Di rumah Deni ...

__ADS_1


Risa duduk menunggu di sofa sambil memainkan ponselnya. Deni bersiap-siap diri untuk bertemu Ayah Risa - Hendarta. Hendarta sudah merencanakan bahwa pertemuan ini adalah penentuan tanggal pernikahan mereka. Hendarta sangat yakin kalau Deni benar-benar orang yang sangat cocok untuk menjadi pendamping hidup putrinya.


"Ayo pergi!" ucap Deni yang mengejutkan Risa. Mata Risa membelalak melihat penampilan keren Deni dengan kemeja merah marun dan celana chino hitam.


"Wah! Tampan sekali, sih," puji Risa refleks. Deni tersipu malu. Ema tersenyum lucu melihat Deni dan Risa saling berpandangan.


"Ayo, Bu," ajak Deni.


Risa dan Deni mengendarai mobil terpisah. Perasaan bahagia jelas terpancar di wajah Risa.


Sesampainya di rumah Risa ...


Risa segera memasukkan mobilnya ke pekarangan rumahnya. Baik Deni, maupun Ema sudah turun dari mobil. Di luar dugaan, keluarga Risa sudah berkumpul. Sinta pun ada di sana juga.


"Wah, sudah pada kumpul," tanya Risa pada Mira.


"Kamu bukannya pulang, malah mampir ke rumahnya dulu. Memang benar-benar mau nikah kamu, yah?"


Risa melebarkan senyumnya.


"Ah, sepertinya aku akan segera menjadi istri orang. Aku sangat bahagia."


"Sebahagia itu, kah?" tanya Rasya yang tiba-tiba menyambar ucapan Mira dan Risa.


"Hmm ... sangat bahagia. Maaf, Kak. Sepertinya aku akan melangkahimu." Risa tertawa menutup mulutnya.


"Tak apa," ucap Rasya mendekat sambil mengelus rambut Risa. "Semoga kau bahagia selalu, Adikku."


"Terima kasih, Kak." Risa memeluk Rasya dan Mira pun mendekat, kemudian memeluk kedua anaknya.


"Kenapa ini? Kalian sudah sedih-sedih seperti ini?" tanya Hendarta.


"Tidak apa-apa, Pa." Mira tersenyum.


"Ayo keluar, kasihan mereka sudah menunggu.


"Aku mandi sebentar dan berganti pakaian, ya?"


"Iya, sana cepat."


Mereka bertiga berjalan menuju ruang tamu. Di sana ada adiknya Mira dan keluarga lainnya termasuk juga Deni dan Ema. Ema tersenyum hangat dan berdiri saat Hendarta dan keluarga duduk di sofa.


"Silakan duduk," ucap Hendarta.


Beberapa menit basa-basi sambil menunggu Risa selesai berganti pakaian, akhirnya Hendarta langsung berbicara ke intinya. Risa duduk di samping Ema dan bersebelahan juga dengan Sinta.


"Karena kalian terlihat tak bisa terpisahkan, aku tak ingin kalian berlama-lama lagi. Aku ingin kalian segera menikah bulan depan. Untuk persiapan akan aku persiapkan semuanya. Apa kau yakin ingin menjadi pendamping hidup putriku?" tanya Hendarta menatap Deni tajam.


"Aku yakin," sahut Deni tegas.


"Ini yang aku suka dari mu. Kau tak bertele-tele."


"Terima kasih atas pujiannya."


"Haha ... Risa sesenang itu kah kamu? Sampai-sampai bibirmu tak hentinya tersenyum," ucap Sinta.


"Sudah pasti. Kami saling mencintai. Ini adalah moment yang kami tunggu-tunggu."


Deni melirik Sinta dan tersenyum tipis.


"Semoga bahagia, deh."


"Kau juga selalu bahagia, ya, Kak. Jangan selalu iri dan mengusik kehidupan Pak Renza dan Kak Arinka. Mereka sudah bahagia. Kau pun harus bahagia dengan Kak Jefran. Jika kalian saling terbuka, kalian akan saling menerima dan saling mencintai."


"Woah ... Adikku sudah jago sekarang menasehati orang, ya?" ledek Rasya. Sementara yang ada di dalam ruangan itu tertawa setelah mendengar ucapan Rasya.


Acara itu berlanjut dengan makan-makan dan bincang-bincang mengenai keperluan pernikahan. Deni dan Risa saling melempar senyum.


***


Satu bulan berlalu ...


Tibalah acara resepsi pernikahan Deni dan Risa. Semua keluarga berkumpul. Termasuk keluarga Deni. Tak ketinggalan Renza dan Arinka hadir di sana. Perut Arinka yang sudah semakin membesar membuatnya kesulitan memakai pakaian.


Arinka dan Renza memberikan kado dan ucapan selamat. Risa memeluk Arinka erat. Lalu, matanya mulai berkaca-kaca.


"Jangan menangis. Ini hari bahagiamu."


"Aku sangat terharu, Kak. Jika bukan karena bertemu Kak Arin mungkin aku juga tidak akan bertemu dengan Dinosaurusku. Terima kasih karena sudah menjadi pendengar yang baik dari setiap keluh-kesahku."


"Sama-sama. Ini memang takdir."

__ADS_1


Sementara itu, Renza juga memeluk Deni. Bibirnya melengkung ke atas terus-menerus.


"Semoga bahagia. Dan jangan lupa selalu manjakan istrimu. Sebagia hadiahnya, kau mendapatkan tiket honeymoon gratis dari perusahaan. Pergunakan baik-baik untuk membuat keturunan."


"Ah ... sialan!"


"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku," ucap Renza dengan nada setengah teriak. Risa dan Arinka menoleh heran.


"Ah, maaf, Pak." Deni tertawa jenaka.


"Karena ini hari bahagiamu, aku akan memaafkanmu."


Kemudian, semuanya tertawa gembira.


Pesta itu berlangsung sangat meriah. Tamu undangan terus berdatangan. Arinka berjalan mengitari meja makanan. Matanya liar melirik setiap hidangan makanan didepannya. Sinta mendekat dan menyapa Arinka.


"Kita akan melahirkan. Sebentar lagi akan menjadi Ibu."


"Hmm ... iya." Arinka tersenyum.


"Mungkin ini terdengar konyol. Tetapi aku ingin meminta maaf padamu. Aku pernah melakukan kesalahan. Aku selama ini cemburu kepadamu. Tetapi, setelah banyak mendengar nasihat dari keluarga, aku banyak berpikir. Yamg lalu biarlah berlalu dan jadikan pembelajaran. Aku sudah ikhlas kau bersama Renza. Maafkan aku sekali lagi."


Arinka menatap Sinta dengan ramah. Kemudian tangannya mendarat di lengan Sinta. Arinka mengelus tangan Sinta pelan.


"Tak apa-apa. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Cemburu juga wajar, tapi sekarang cobalah fokus mencintai suamimu. Percayalah, jika kalian saling terbuka dan memahami, hubungan kalian akan harmonis seperti kami. Intinya jauhkan dari rasa iri."


"Terima kasih. Kau benar-benar memiliki hati seperti malaikat. Pantas saja Risa selalu menyukaimu."


"Jangan begitu. Aku hanya manusia biasa juga."


Renza datang menghampiri Arinka bersamaan dengan Jefran. Mereka berdua sedikit canggung. Lalu, Arinka dan Sinta duduk bersamaan. Renza dan Jefran mengikuti.


"Kalian dulunya teman akrab. Aku ingin kalian berteman akrab seperti saat itu," ucap Sinta. Renza dan Jefran saling berpandangan.


"Iya. Lupakan masa lalu. Jadikan semua itu pembelajaran berharga. Alangkah baiknya jika kita saling bersilaturahmi. Kenapa harus saling bermusuhan? Lagipula sebentar lagi, kita akan segera mendapatkan seorang bayi. Apa kalian ingin seperti ini seterusnya?" ucap Arinka.


Renza merangkul bahu Arinka dan mengelusnya.


"Aku sudah memaafkannya sejak lama. Lagipula buat apa berlarut-larut sampai bermusuhan. Aku sadar karena kita memang tak berjodoh dulunya. Hanya saja, manusiawi aku menaruh rasa benci sedikit saja. Tetapi sekarang aku benar-benar tak mempermasalahkan lagi. Asalkan kalian tidak mengusik rumah tanggaku."


Mendengar ucapan Renza, Jefran tersenyum lega.


"Maaf dulu aku pernah menyakitimu. Bagaimana kalau kita lupakan semuanya dan berteman lagi?"


"Baiklah. Asal kau tidak menggoda istriku. Aku maafkan." Renza tertawa. Arinka mencubit manja lengan Renza sambil menatap Sinta.


"Tak apa-apa, kok. Lagipula aku juga tahu bahwa Jefran memang pernah menyukai Arinka. Tapi sekarang tidak lagi 'kan?" tanya Sinta menantap Jefran.


"Hmm ... tidak lagi. Sekarang ada kamu dan calon anak kita."


"Aku menyayangimu," ucap Sinta.


"Aku juga," sahut Jefran. " Tetaplah berbahagia, ya, sayang."


Kemudian Sinta dan Jefran saling merangkul.


Arinka dan Renza saling berbalas tatap. Renza mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Arinka.


"Kau ... Istriku. Aku benar-benar beruntung memiliki jodoh sepertimu. Kau adalah kado dari Tuhan yang paling istimewa. Karena kau aku banyak berubah. Maaf, dulu aku pernah menyakitimu. Maaf atas semua kesalahanku. Aku sangat mencintaimu, Arinka."


Arinka melepaskan piring dari tangannya. Tangan itu langsung sigap menempel di kedua belah wajah Renza.


"Kau juga kado terindah dari Tuhan untukku. Aku bahagia memilikimu seumur hidupku."


Renza memegang kedua tangan Arinka dan tersenyum manis.


"Tetaplah bersamaku sampai ajal nanti memisahkan kita. Apa kau bersedia?"


"Iya, aku bersedia."


Lalu mereka berdua saling berpelukan. Renza memeluk Arinka erat.


"Ehem ...," deham Arinka.


"Kenapa?" tanya Renza.


"Jangan lupa, didalam perut ini ada penerus Pipom. Jangan memeluk terlalu erat. Dedek bayinya iri." Arinka tertawa jenaka.


"Ah, dasar Mimom. Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu."

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2