
Arinka pulang dengan bahagia dan senyum merekah diwajahnya, dia berharap besok segera datang, dia tak sabar ingin bekerja dan bertemu orang-orang baru.
Suara ponselnya seketika berbunyi, segera ia mengambil ponsel dari dalam tasnya, tertuliskan nenek murti calling, segera arinka menjawab dengan perasaan gembira.
"Halo nek, ada apa menelpon?"
"halo juga arin, lagi apa?"
"Arin baru pulang nek barusan keluar."
"oh gitu, nenek hanya ingin bilang arin segera kerumah nenek ya sekarang."
"Hemm ada apa nek, kangen ya? Kan kemarin baru ketemu, hehe."
"iya, pokoknya kesini ya."
Nenek murti sudah mengakhiri panggilannya, arinka segera menuju kerumah besar.
"Ada apa nenek menelpon? Sepertinya sesuatu yang mendesak, tidak biasanya nenek menelpon di jam kantor begini? Ucap renza.
"Aku belum tau, Nyonya besar hanya mengatakan segera kerumahnya." jawab deni.
Deni segera membereskan file yang sudah ditanda tangani oleh renza, memasukannya kedalam tas dan bergegas berjalan menyusul renza yang sudah beranjak duluan menuju parkir mobil.
"ada apa ya kira-kira? Apa jangan-jangan nenek sakit? Ya ampun, coba hubungi dokter kelurga fariq, aku takut terjadi apa-apa?
"Baik pak." sambil mengusap ponselnya untuk menelpon dokter Dimas.
"Dokter Dimas bilang nenek baik-baik saja, tidak ada keluhan apa-apa, dua hari yang lalu baru check up."
"Lantas kenapa ya?" menerka-nerka
"Kita lihat saja nanti pak, semoga tidak terjadi apa-apa."
Semoga saja nenek baik-baik saja.
Raut wajah getir terpampang nyata di wajah Renza, dia dengan gusar memikirkan apa yang akan terjadi, karena ini hal tak biasa, nenek sangat jarang mengganggu jam kerjanya.
Renza sudah sampai dirumah besar dan masuk di ikuti Deni dari belakang, langkahnya sangat deras seakan setengah berlari saking paniknya dia akan neneknya itu.
Didalam rumah betapa terkejutnya Renza mendapati Giska yang tengah duduk disofa, renza mengamati diatas meja ada sebuah test pack dengan dua garis merah.
"Kau sudah datang sayang?"
Cih, berani nya berkata sayang didepan nenek.
"Jelaskan apa yang terjadi disini" nek murti setengah berteriak membuat renza tetap berdiri
Wajah getir dan ketakutan terpancar di jelas di wajah renza, dia amat panik dengan neneknya kalau-kalau darah tinggi menyerang.
"Nenek tenang dulu biar aku jelaskan." ucap deni
"ini bukan tentang kamu den, ini urusan renza."
Wajah bahagia dan tak tahu malu terlihat jelas diwajah giska.
"Dia pacarku nek."
Hah, sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Renza. Tersenyum manis
"Dia bilang dia hamil, apakah benar?"
"iya, tapi aku tak tau itu anakku atau bukan."
__ADS_1
"Sayang, kau tidak mengakui anakmu, huh ini anakmu, kita yang membuatnya"
Dasar jalang murahan,Cih. Ucap deni
Deni segera menelpon seseorang, memberi perintah, tiba-tiba arinka datang dengan gurat senyum manis diwajahnya.
"Den, kau disini juga?"
"Iya nyonya."
Nenek menelpon nyonya arinka juga, ini masalah serius.
Arinka masuk kedalam rumah, arinka melihat nenek murti sedang duduk di sofa, ada renza dan seorang wanita, siapa ya batin arinka.
"Nek, arin sudah datang."
"duduk" nenek mempersilahkan dengan wajah datar.
Ada apa ini? Ternyata ada giska disini dan ada Tuan renza.
Arinka memandang kearah giska yang tersenyum penuh kemenangan, dilihatnya lagi wajah renza sedikit gusar.
"Aku ingin Renza menikahiku, aku tak ingin anakku lahir tanpa ayah." celetuk giska
"Kau lihat Renza atas perbuatan mu ini, dasar tak tau diuntung, jika Dahlan tau kau akan dilengserkan, jika kau tak menerima pernikahanmu dengan arinka kenapa harus menghamili wanita lain,nenek sangat kecewa padamu."
Mata arinka mulai berkaca-kaca.
"Jika si kampungan tak mau di ceraikan juga tidak apa-apa, aku bisa menjadi istri kedua, lagian Renza juga tak pernah mencintainya,ya kan sayang?" ucap giska dengan percaya diri
"Apa buktinya jika dia anakku? Jika kau membawa bukti aku akan menikahimu?"
"kau menanyakan bukti? malam itu adalah buktinya, kau yang membuat anak ini dengan perasaan cinta."
Apa dia akan menangis? kasian kau istriku yang malang, Batin renza.
"Sudah aku bilang, kau hanyalah gadis kampungan yang tak pantas untuk renza ku, menggelikan."
"Segera ceraikan Arinka, dan nikahi Wanita hamil ini, kau telah menyakiti hatinya, dia wanita yang tak bersalah, teganya kau Renza" tangis nek murti selang beberapa detik tertawa kembali
"Kau ingin aku berbicara seperti itu kepada arinka,haha, itu tidak akan mungkin karena sampai kapanpun aku akan selalu mendukung pernikahan mereka, dasar jalang."
"Apaa!! Beraninya tua bangka seperti anda berkata jalang kepadaku, kau akan menyesalinya jika sampai media tau kelakuan cucu kesayanganmu." mengancam dengan tawa jahat
"Kau pikir kami semua bisa kau bodohi, haha, ternyata pemikiranmu sangat dangkal."
Deni masuk kerumah melihat arinka telah meneteskan air mata, deni merasa kasihan. Segera deni membawa bukti foto adanya lelaki lain, sayang deni tak bisa membawa serta lelaki itu.
Dia pasti mengelak karena lelaki itu tidak ada, sial!.
"Hanya foto saja tidak menjelaskan apa-apa, huh! jika renza tak ingin bertanggung jawab aku akan membeberkan ke media sekarang juga? Giska tertawa
Tiba-tiba ada seseorang masuk,nenek murti lalu mempersilahkan duduk.
Sisil, kenapa dia disini? gumam deni.
Siapa lagi wanita ini,arinka.
"Sil, bawa lelaki itu"
"Baik."
Sisil berjalan keluar lalu masuk kembali dengan seorang lelaki yang sontak membuat giska terkejut.
__ADS_1
"Giska, hentikan semua omong kosongmu itu?" ucap agil
"kau mengenal pria ini?" tanya renza
"Tidak, aku tidak mengenalnya, ini pasti tipu daya si tua bangka itu,cih." jawab giska
Bagaimana bisa sisil membawa agil, apakah nyonya besar sudah tau terlebih dahulu tentang ini, ternyata sisil orangnya nyonya. Deni.
"Berbicaralah sopan kepada orang tua, sialll!" teriak renza.
Sontak semua terperanjat, apalagi arinka yang kebingungan itu terkejut bukan main dengan teriakan renza.
"Aku sudah muak kepadamu, berhenti membuat alasan dan memperdayaku, aku sudah tau kelakuanmu dibelakangku, kau bersama pria itu berselingkuh dibelakangku, padahal aku sudah sangat percaya kepadamu bahkan hatiku tulus mencintaimu, tapi kau malah mempermainkanku, aku sudah mencoba sabar tapi lihat kelakuanmu itu,ingin aku menghancurkanmu sampai berkeping-keping, kau sama saja dengan wanita lainnya hanya menginginkan harta tanpa ada ketulusan, pergi dari sini sebelum kau ku panggil polisi atas pencemaran nama baik?" sambil melempar semua foto-foto giska bersama agil tepat didepan giska.
Bagus pak kau sudah benar, jalang ini harus dimusnakan. Guman deni
"Tapi aku tidak mengenalnya, dan juga aku tidak berselingkuh, ini fitnah?" ucap giska
"Haha,itu foto kau atau siluman, jangan mengelak lagi membuatkan tambah muak dan jijik, kau tidak mengenalnya tapi kau tidur bersamanya, apa itu masuk akal? Fitnah kau bilang? Dasar sinting."
"hentikan giska, jangan berbuat nekad lagi" ucap agil.
"Diam kau, agil."
"Bahkan namanya saja kau tau,sungguh miris, cih."
Jadi dia yang bernama agil, dia pacarnya giska juga, seperti drama saja. Gumam arinka
"Aku hanya berteman dengannya, tidak lebih dari itu, aku mohon sayang,percaya kepadaku."
Giska beranjak dari sofa mendekati renza, giska memeluk renza dengan kuat, tapi dengan cepat renza menepis pelukannya itu.
"Jangan berani-beraninya menyentuhku, dasar murahan dan licik!" pekik renza sambil menepis tangan Giska.
"cepat usir wanita ini dari rumahku" ucap nek murti
Giska dengan keukehnya menangis dikaki renza, agil dengan segera menariknya.
"jangan pegang aku, aku tidak mengenalmu?" melepaskan tangan agil.
"malam itu kau tidak tidur dengannya, kau bersamaku, kita hanya mengantar renza kehotel saja, setelah itu kita pergi dan kau kembali saat pagi kesana."
"Diamm, sialan?! Kau sudah ku kirim uang dua puluh lima juta apa tidak cukup untuk menjauh dariku? Sampah!!"
"Lihat dia mengatakan kebenarannya sendiri tanpa diminta,haha." sambik bertepuk tangan.
"Maafkan aku, aku tidak mengenalnya,sungguh" masih terus memohon.
"Ini semua pasti gara-gara si kampungan itu kan, dia yang telah mengubahmu seperti ini, tidak mencintaiku dan tidak percaya padaku, awas kau kampungan sialan." berjalan kearah arinka ingin memukulnya segera dihadang oleh deni.
"Jangan berani menyentuhnya, cukup sudah kau menamparnya sekali, jika kau berani menyentuh seujung rambut saja kau kan aku jebloskan kepenjara, kau dengar? Cepat keluar bawa wanita sialanmu itu dari sini" marah dengan raut wajah merah padam.
Kasihan sekali kau tuan di khianati, apakah itu alasanmu tidak menyukaiku karena aku mirip dengan wanita lainnya yang gila harta, kau salah tuan,tapi dari mana dia tau aku pernah ditampar giska, ah sudahlah tak penting juga.
"Bawa pergi wanita ini jauh-jauh, aku harap Pak renza tak akan pernah melihatnya lagi, jika perlu pindah dari kota ini. " ucap deni membentak.
Agil segera membawa pergi giska, dan semua drama orang ketiga selesai batin deni.
Semoga ini awal yang bagus untuk pernikahan mereka kedepan batin nek murti.
***Bersambung..
Vote dan comment ya
__ADS_1
Luv u 😘***