
"mana foto buktinya, aku tak sabar ingin menyudahi sandiwara wanita licik itu"
"semua foto ada didalam memory card itu"
"Kerja bagus"
Sementara dirumah Arinka masih sibuk berberes, hari ini nenek murti dan bi yati ingin berkunjung kerumah baru mereka, arinka menyuruh bi Ami memasak yang banyak dan ia juga membantu bi Ami walaupun hanya sebentar.
"nyonya biar aku saja yang memasak, nyonya menunggu saja sambil menonton tv, bibi tidak enak dibantu oleh majikan sendiri didapur"
"sudah ku bilang jangan sungkan bi, dulu aku juga sudah biasa bi mengerjakan hal seperti ini"
"dulu biar la dulu, sekarang nyonya majikan dirumah ini, bersikaplah tegas nyonya"
"hmm baik la bi, aku akan menonton Televisi saja"
"mau aku buatkan jus nyonya?"
"boleh jika bibi ingin" tersenyum
Ya ampun nyonya arinka ini sangat cantik, baik hanya saja dia berpenampilan biasa, jika dia menggunakan pakaian bagus dan memakai makeup pasti luar biasa cantiknya
Arinka duduk di sofa sambil menyalakan televisi, arinka merasa bosan dengan aktivitasnya itu, diambilnya ponsel yang memang jarang sekali dia gunakan itu, arinka membuka media sosial, dia menuliskan nama renza di pencarian, alhasil banyak sekali beritanya mulai dari pekerjaan dan urusan asmaranya.
Ternyata Tuan Renza memang seterkenal itu
Bi ami datang membawa segelas jus dan cemilan, diletakkannya diatas meja lalu kembali lagi kedapur.
Deni datang kerumah untuk mengambil berkas penting yang ketinggalan dan memberikan atm untuk arinka, deni menyapa tetapi tak digubris sama sekali oleh arinka, deni mendekat dan tak sengaja melihat Arinka memainkan ponsel pintarnya melihat berita tentang suaminya itu.
"hemm hemm" deni berdeham dua kali dengan keras
Arinka terperanjat dan tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya kelantai
"Maaf nyonya, saya hanya bermaksud menyapa, tetapi nyonya tak mendengarkan, nyonya sedang melihat berita pak renza ya?"
Arinka gelagapan karena ketauan melihat berita Renza "Hanya sedikit untuk mengusir bosan" tersenyum kecut
Deni lalu tertawa, "bagaimana jika nyonya pergi jalan-jalan, dan lagian ini ada kartu Atm dari Tuan Renza, nyonya bisa berbelanja apa saja yang dibutuhkan"
"Tidak perlu, lagian nanti sore nenek murti dan bibi yati akan berkunjung kerumah"
"masih ada waktu, jika anda ingin saya akan mengantar anda nyonya"
"tidak apa-apa lagian aku tidak memerlukan sesuatu, dirumah ini segalanya sudah cukup lengkap bagiku"
Dimana lagi aku bisa menemukan wanita seperti ini, kebanyakan wanita hanya bisa menghabiskan uang apalagi dengan kekayaan suami yang seperti ini harusnya dia senang berbelanja, sangat berbeda dengan wanita ular itu yang hanya ingin berfoya-foya saja dengan uang renza
" ya sudah, jika ada yang anda perlukan segera hubungi aku,aku naik keatas dulu mengambil file di ruang kerja pak renza"
__ADS_1
"Hemm" jawab arinka tersenyum
Aku sangat tak terbiasa bergantung dengan orang lain seperti ini
Bel rumah berbunyi,bi ami segera bergegas berlari menuju pintu
"Nyonya ada tamu? "
"Siapa? Bukannya bibi dan nenek datang sore? "
"seorang wanita tetapi bukannya nyonya besar"
"ya sudah persilahkan saja masuk"
Celetak celetok suara hak sepatunya memasuki rumah besar arinka, wanita itu berjalan dengan berlenggak lenggok.
"Hay wanita kampung"
Sontak arinka berdiri, tenyata dia adalah giska seorang tamu yang tak diundang
"Enak ya tinggal dirumah mewah, seharusnya kamu itu jadi babu bukan nyonya rumah,haha" tertawa tanpa tau malu
"Silahkan duduk" jawab Arinka, tetapi ia tak menggubris perkataannya,padahal arinka sangat kesal dengan kedatangannya itu.
"Ada keperluan apa kemari?"
"Memang kenapa? Ga boleh main kerumah pacar sendiri?"
"beraninya kau mengaturku, huh! Terserah aku donk mau kerumah apa kekantor, lagian tak lama lagi aku akan menjadi nyonya rumah ini"
"apa maksudmu?" bingung
"Haha, apa kau lupa aku kan hamil anaknya renza sebentar lagi dia akan menikahiku dan kau mungkin akan ditendang atau dibiarkan seperti babu saja"
Untung saja aku tak membuka hati ini, kalau tidak mungkin akan sangat menyakitkan mendengar ucapan ini
"lakukan apa maumu" arinka cuek
"Kauuu mengejekku, kau pikir aku tak bisa menedang atau membuatmu menjadi babu, sadar diri dong wanita lusuh dan kampungan kau ini hanya beruntung karena nenek tua itu menjodohkanmu, tetapi nyatanya kau tak menerima cinta renza kan"
"Sudah ku bilang, aku tak peduli dengan kalian, aku menikah hanya untuk membuat bibi dan pamanku bahagia, selebihnya aku tak mencintai renza sampai detik ini juga, jika kau ingin mengambilnya silahkan"
"haha, kau bicara begitu karena memang Renza tak pernah meresponmu, Renza tak pernah menganggapmu ada,kau tidak lebih dari bayangan yang bisa bernafas, bahkan menyentuhmu saja Renza enggan, sungguh miris, cih!"
"aku sangat berterima kasih jika Tuan Renza tak menyentuhku, lagian aku juga tak ingin disentuh oleh lelaki yang tak mencintaiku, karena aku bukan wanita sepertimu yang bisa disentuh oleh lelaki yang bukan suaminya, setidaknya aku punya harga diri"
"Kurang ajaarr kau gadis Kampung" mengayunkan tangan ingin menampar Arinka segera ditepis oleh arinka dengan cepat
"Cukup giska, kau sudah pernah menamparku sekali tak akan aku biarkan kau menamparku kedua kalinya"
__ADS_1
"Sudah berani melawan kau rupanya yah,apa dengan tinggal dirumah mewah akan merubah statusmu, dasar tak tau malu" sangat kesal
"maaf, tapi bukankah kata-kata itu pantas untukmu sendiri"
"Huh, kau pikir kau sudah menang melawanku, aku ini wanita yang dicintai renza sedangkan kau hanyalah wanita perjodohan yang tak jelas asal usulnya, jangan bersikap menggelikan didepanku,lagian sebentar lagi hidupmu akan tamat, aku akan menceritakan kehamilan ini kepada nenek tua bangka itu"
Deni berjalan turun membawa file ditangannya, dia terkejut ternyata kegaduhan yang dia dengar tadi adalah giska sang wanita ular.
"Ada apa? Kenapa kau ribut-ribut disini?"
"Kau lagi, kenapa kau selalu ikut campur sekretaris sialan?"
"huh, kau ini memang tak wanita tak mau malu? Tertawa sambil berjalan menuju kearah giska
"Aku tak tau malu? Kau ingat jika aku menjadi nyonya renza kau akan ku pecat, kau sangat tak berguna?"
"sebaiknya kau pergi giska? Aku tak ingin semuanya berlarut-larut"
"Enak saja kau menyuruhku pergi, aku tak akan pergi aku akan menunggu renza pulang"
Deni memegang tangan giska dan menyeretnya keluar dengan kuat membuat giska ketakutan.
"Lepaskan sialan"
"Hentikan deni, jangan berlaku kasar kepada wanita"
"dia bukan wanita tetapi ular yang menyerupai wanita, kelakuannya sangat keterlaluan bagai jalang liar"
Plakk
Tamparan keras mendarat dipipi deni, tangan giska gemetar setelah menamparnya
"Lakukan lagi jika kau ingin, tapi mungkin ini kali terakhir keberadaanmu didekat renza, berbaik hatilah kepada lelaki yag bernama agil"
Apaaaa kenapa dia menyebutkan agil, apa dia sudah tau sesuatu. Wajahnya mendadak pucat pasih bagai tak berdarah
"Kenapa? Apa kau takut? Aku sudah memperingatkanmu jangan keterlaluan? Kau tinggal ratapi saja nasibmu itu? "
"Siapa agil?" tanya arinka
Deni tak menjawab perkataan nyonya nya itu.
"Aku tak pernah takut, karena aku yakin renza akan selalu ada dibelakangku dan akan selalu mencintaiku"
"Yayaya berobsesilah setinggi langit, lihat apakah semua akan sesuai ucapanmu apa tidak,haha"
Arinka yang berdiri kebingungan menatap percakapan itu, apakah yang terjadi sebenarnya? Batin arinka
Bersambung..
__ADS_1
Vote dan comment ya 😘