
Di perjalanan, Arinka tidak berbicara sama sekali kepada Renza. Ia hanya diam menatap sendu ke luar jendela. Bola matanya terus memutar melihat keramaian di jalanan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Renza.
"Hmm ...." Arinka menoleh dan tersenyum tipis.
Renza tahu, Arinka pasti memikirkan ucapan Giska tadi. Renza beringsut dan mendekat kepada Arinka. Tangannya mengelus rambut legam Arinka dengan lembut.
"Jangan dipikirkan ucapan Giska. Pipom tidak ingin nantinya menjadi beban di hati Mimom."
Arinka tak menjawab ucapan Renza. Ia terus memandang ke luar jendela. Dalam hatinya merasa sakit saat mengingat setiap kejadian pada masa itu. Masa-masa di mana ia harus berjuang sendirian tanpa seorangpun yang bisa mengerti.
Bergelut dalam pikirannya, tanpa sadar Arinka meneteskan air mata. Ia berusaha menyembunyikannya. Jangan sampai Renza melihatnya. Arinka pura-pura tersenyum tapi tetap tidak menoleh.
Renza sangat tahu dengan hati Arinka. Hampir setahun menjadi suaminya, Renza berusaha memahami Arinka dengan baik.
Renza melihat dari kaca, bahwa Arinka menghapus air matanya. Hatinya sangat terpukul melihat wanita yang di cintainya itu menangis lagi. Padahal, ia janji tidak akan ada air mata, yang ada hanya kebahagiaan.
"Mimom, lelah?" tanya Renza masih mengelus rambut belakang Arinka. Namun, Arinka hanya menggelengkan kepalanya. Renza benar-benar diacuhkan.
Tak butuh lama untuk sampai di kantor polisi. Suasananya sedikit menegangkan. Deni turun dari mobil dan David juga turun memegang Giska. Giska memberontak ingin melepaskan tangannya dari genggaman David. Namun, usahanya nihil.
Arinka dan Renza juga sudah sampai di sana. Mereka bergegas turun. Arinka memegang tangan Renza dengan manja. Renza tersenyum tapi dalam hatinya ia tahu bahwa ini semua karena Giska, karena sebenarnya hati Arinka tidak baik-baik saja.
David membawa Giska masuk ke kantor polisi. Mereka semua mengikuti dari belakang.
"Ada apa? Ada yang bisa di bantu?" ucap pak Polisi yang dengan gagahnya memakai setelan khas cokelatnya.
"Ini wanita yang selalu meneror keluarga Pak Renza. Tolong ditindak lanjuti," ucap Deni.
"Baik ... akan kami proses dulu."
"Mereka berbohong, Pak. Aku hanya korban di sini," pekik Giska.
"Terserah apa katamu, bukti sudah ada di tangan kami. Dua orang lelaki dan wanita yang di tahan tadi itu adalah suruhannya."
"Kami akan memprosesnya dengan cepat."
Wanita dan lelaki yang berada di dalam kantor polisi itu di bawa keluar. Mereka berdua akan di introgasi oleh polisi untuk membenarkan kesaksian.
"Jawab dengan jujur? Apa kalian berdua mengenal wanita ini?" tanya seorang polisi.
Giska berusaha mengedipkan matanya. Ia berusaha berkode-kodean kepada Lelaki itu. Sedangkan wanita satunya meremas jari-jarinya karena gugup. Terlihat jelas wanita itu menundukkan pandangan karena takut.
"Jangan kode-kodean, aku melihatmu!" Bentak Deni.
Lelaki itu seketika terdiam dan tak berani menatap Giska.
Giska menjadi ketakutan. Ia menggigit bibirnya kuat sambil memaikan kuku tangannya.
"Sekali lagi, apa kalian mengenal orang ini?" bentak polisi itu.
"Ii-iya," ucap ibu muda yang sudah sangat ketakutan.
"Apa dia yang menyuruhmu?"
"Ii-iya, Pak."
"Bohong! Aku tidak mengenalnya," ucap Giska menaikkan suaranya lebih tinggi.
"Kau, apa kau mengenal wanita ini?" tanya polisi kepada lelaki berhoodie hitam. "Jawab!" bentaknya.
Lelaki itu terdiam, matanya menatap Giska. Deni tersenyum tipis melihat mereka.
"Aku muak! Ayo mengaku saja. Aku tidak punya banyak waktu di sini," ucap Renza duduk di kursi panjang dengan Arinka sambil menyilangkan kaki kirinya.
Deni menatap lelaki itu sinis dan tajam. Tak lama kemudian, lelaki itu mengaku. "Iya, aku mengenalnya. Dia yang memberi kami uang untuk mengirim paket kepada keluarga Nyonya itu."
"Kurang ajar! Tidak tahu diuntung. Aku sudah memberimu uang yang banyak. Aku bilang kau harus merahasiakannya."
"Akhirnya mereka mengaku. Aku pergi dulu," ucap Renza seraya menarik tangan Arinka.
"Sialan kau kampungan! Beraninya kau pergi bersama calon suamiku. Lepaskan dia, kau tidak pantas!" pekik Giska berlari menghampiri Arinka dan menjabak rambutnya.
"Argghh," pekik Arinka kesakitan.
Dengan cepat Renza melepaskannya. Deni dan polisi itu segera mendekat. Renza yang geram akan perlakuan Giska, menamparnya dengan kuat sampai bibirnya mengeluarkan darah.
"Kau Jala*g murahan, beraninya kau menyakiti istriku! Tak akan aku ampuni kau. Penjarakan ia secepatnya, aku akan memberikan tuntutan yang layak agar dia tak bisa berkutik lagi. Aku akan membuatmu membusuk di penjara selamanya, Sialan. APA KALIAN DENGAR!" bentak Renza dengan tangan masih terkepal.
Mata Arinka terbelalak. Sesaat ia menahan napasnya melihat Renza bersuara keras. Selama menjadi istrinya, Renza tidak pernah berteriak seperti itu. Dulu saja ia hanya berbicara pelan tapi memang menyakitkan.
"Maafkan pipom, sayang. Apa kau kesakitan?"
"Tidak apa-apa, tidak terlalu sakit juga."
"Lihat rambut istriku di tangannya. Untung saja kau di kantor polisi, Giska. Kalau tidak mungkin rambutmu sudah aku buat botak."
"Kau tak akan berani! Apa kau setega itu padaku?" ucap Giska menatap Renza memelas
__ADS_1
"Tega? Haha ... kau benar-benar sudah tidak waras dan menjijikan"
"Sudah, jangan dilihat lagi, ayo pergi," ajak Arinka menggandeng tangan Renza.
Deni mengurus semuanya. Karena ia orang yang paling tahu dan paling bisa di andalkan. Sekali lagi masalah terror rumah tangga Renza sudah berakhir dengan di tangkapnya Dahlan dan Giska.
"Rambutmu jadi berantakan sekarang."
"Tidak apa-apa," jawab Arinka datar.
Renza tahu bahwa Arinka masih marah dan kecewa kepadanya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang di bukakan oleh pak Ahmad. Renza benar-benar melihat perubahan di wajah Arinka. Tidak ada kilas senyum dari bibirnya. Yang ada hanya wajah datar.
"Pipom tahu, Mimom marah, 'kan?"
"Marah?" jawab Arinka menaikkan suaranya setingkat lebih tinggi. Renza terdiam seakan tak percaya dengan ekspresi Arinka seperti itu.
"Maafkan, Pipom."
"Aku bukannya marah, aku hanya teringat dengan semua kisah memilukan itu. Aku tahu perkataannya itu tidak benar. Tapi mengapa saat mendengarnya hatiku sakit bagaikan teriris. Ini memang sudah berlalu, aku juga tidak ingin mendengar apapun lagi. Sudah cukup aku berjuang sendirian saat itu, tanpa ada yang mengerti dan bertanya perasaanku. Aku sangat kesakitan, setiap malam aku menangis meratapi kisah pilu hidupku. Aku selalu berdoa semoga akhirnya bahagia. Dan sekarang kita benar-benar bahagia."
"Maaf, sekali lagi."
Renza mendekati Arinka dan memeluk tubuhnya dengan erat. Tangannya mengelus puncak kepala Arinka dengan lembut. Seketika, Arinka melepaskan pelukan dari Renza. Sontak Renza terkejut dan melongo.
"Aku hanya ingin sendiri," ucap Arinka seraya menoleh keluar jendela.
"Jangan sendiri, pipom selalu disini menemani. Kenapa harus sendiri jika kita berdua."
"Tahu kenapa?" Arinka tiba-tiba menoleh. Namun, Renza meminta penjelasan.
"Aku tahu dengan perasaan Mimom, bukankah lebih baik bercerita."
"Aku sudah bercerita, tapi bagaimanapun orang yang aku ceritakan ini ada di depanku. Maafkan aku, sepertinya aku ingin menenangkan diri. Aku ingin menginap dirumah Bi Yati malam ini."
Renza menghembuskan napas berat dan kemudian mengiyakan ucapan Arinka. Renza tidak bisa berbuat apa-apa. Ini pertama kalinya ia melihat sisi lain Arinka.
Aku tahu, hatinya pasti sangat kesakitan. Maafkan aku yang pernah menyakitimu ini. Semoga dengan pergi menginap, besok pikirannya sudah tenang. Tapi kenapa aku sungguh tidak rela.
"Aku tahu bagaimana sakitnya hatimu, Maaf."
"Kau tahu, saat malam pernikahan itu aku seperti orang kedua yang merusak rumah tangga orang lain. Aku pertama kali di tampar, dipermalukan. Padahal aku tidak bersalah. Kadang aku membencimu ... hiks." Arinka mulai terisak. Ia mulai meneteskan air mata di depan Renza. "Maaf aku tidak bisa membendungnya. Maaf karena aku mengungkit kisah lama kembali. Setiap melihat Giska, kisah itu sepertinya baru kemarin terjadi dan benar-benar menyakiti hatiku."
Renza menjulurkan tangannya untuk menghapus air mata Ia mendekat lagi dan memeluk Arinka dengan lembut.
Arinka merasakan bahwa lelaki didepannya sedang beegetar menahan tangis. ia melepaskan pelukan dan melihat Renza meneteskan air mata.
"Kau juga menangis?" tanya Arinka.
"Tidak," ucap Renza.
"Maaf karena keegoisanku. Aku hanya sedang terluka saja. Jika kau menangis seperti ini, bagimana aku sanggup meninggalkanmu. Aku ingin meluapkan semua emosi ini di dalam dadaku. Aku benar-benar tidak bisa membencimu. Maafkan aku sayangku."
"Jangan meminta maaf. Ini semua salah pipom. Mimom tidak boleh meminta maaf. Jangan menangis seperti ini, hatiku sangat kesakitan melihatnya."
"Kalau begitu jangan ada kesedihan. Lupakan tentang menginap. Mimom tidak akan kemana-mana. Kita akan menghabiskan hari bersama."
"Hmm ... jangan meninggalkan Pipom. Jika benci, benci saja. Jangan pergi kemanapun. Cukup diam saja. Pipom akan mengerti."
"Iya, sudahlah. Mimom hanya sangat emosi saja tadi. Mimom juga minta maaf, ya."
Renza tersenyum menatap lekat wanita yang di cintainya itu, kemudian mengecup keningnya dengan lembut, tangannya mengelus pipi.
"Aku mencintaimu, mimom."
"Aku mencintaimu juga. Pipom."
Mereka berdua saling berpelukkan dengan erat.
"Semoga tidak ada lagi yang iri dengan kebahagiaan keluarga kecil kita ini."
"Amin ...."
"Apa kita akan berkencan?" ucap Renza tertawa melepaskan suasana canggung.
"Kemana?"
"Ke mall, bioskop, atau taman bermain?"
"Ehm ...."
"Ke mall, kita belanja, ya?" ajak Renza.
"Belanja apa?"
"Makanan, pakaian, kosmetik dan apa saja."
"Kenapa aku terdengar seperti wanita matre?" Arinka tertawa.
__ADS_1
"Matre? Aku bekerja untuk mu. Apa salahnya jika menghabiskannya sedikit untukmu."
"Benarkah? Kau jangan terlalu baik seperti ini. Nanti kau bisa di manfaatkan."
"Tidak lah, pipom hanya seperti kepada Mimom. Apa saja yang ingin di beli, mari kita beli, ya, Ny. Renzaldi."
"Ishh, paling bisa bikin mood langsung berubah." Arinka tersipu malu.
"Pipom paling khawatir, jika Mimom bersedih seperti ini. Jika hal seperti ini bisa membuat senyum terus terbit dibibir mimom, ayo lakukan setiap hari." Sambil mengelus rambut Arinka.
"Setiap hari belanja? Untuk apa? Jika belanja selain makanan akan sedikit boros keliatannya."
"Untuk menyenangkan Mimom," Renza nyengir kuda.
"Bahagia itu tidak harus belanja seperti ini. Tapi memang sebagian wanita suka berbelanja."
"Mimom termasuk yang suka belanja, apa tidak?" Renza mengedipkan mata genit.
"Mana ada wanita di dunia ini yang tidak suka belanja. Tapi sebaiknya kita berbagi ke panti asuhan, memberikan sebagian kebahagiaan kita kepada mereka. Setuju tidak? "
"Baiknya istriku ini." Renza mengecup pipi Arinka. "Setuju dong, nanti jika ada waktu kita pasti pergi ke panti asuhan. Sekarang waktunya membahagiakan istriku dulu," ucapnya.
"Haha ... shopping time with my husband."
"Uwuu ... pinternya istriku, sudah jago bahasa inggris." Mencubit manja hidung Arinka.
"Ini kan bahasa inggris biasa, bukan yang sulit. Di Sma di ajarkan, kok."
"Iya ... pipom tahu bahwa istrinya pipom ini sangat pintar. Pintar di saat terdesak juga."
"Jadi maksudnya? Hanya pintar saat terdesak saja, huh!"
"Bukan, bukan begitu. Ya ampun salah bicara lagi. Cup ... cup, sayang."
"Benar-benar menyebalkan!"
"Tidak, maafkan Pipom. Pipom salah bicara. Jangan ngambek. Please! "
"Aku marah." Memutar tubuhnya kearah berlawanan dari Renza dan mencebikkan bibirnya. Renza menggelitikinya dan membuat suasana di dalam mobil menjadi riuh oleh canda tawa mereka berdua. Sedangkan pak Ahmad tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang menggemaskan dari kaca spion depan.
***
Deni masih mengurus Giska dengan hati-hati. Ia ingin Giska benar-benar mendapatkan ganjaran. Sedari dulu dia tidak pernah menyukai wanita bernama Giska ini.
"Aku membencimu, Deni. Lihat saja jika aku keluar nanti, kau akan aku buat menderita."
"Silahkan saja. Aku tidak yakin kau akan keluar atau tidak dari penjara nantinya."
"Lihat saja! Aku akan menyuruh orang menyakiti wanitamu itu. Haha ...."
"Wanitaku? Jangan sok tahu kau Giska."
"Kau terlihat ketakutan. Aku bersumpah akan menghancurkan kalian lagi jika aku keluar."
"Silahkan saja. Aku tidak takut dengan ucapanmu. Lakukan apapun semaumu."
"Dasar kacung, dasar babu. Kau selamanya hanya akan menjadi pesuruh Renza."
"Apa aku terlihat peduli. Aku bekerja halal. Tidak sepertimu, menjijikan. Selamat mendekam di penjara." Deni melambaikan tangan seraya tersenyum manis.
"Sialan! Mamp*s aja kamu, Deni."
"Aku tidak akan mati semudah itu! Kenapa juga aku harus mati sia-sia seperti ucapan busukmu itu?"
"Aku pastikan kau akan menderita jika aku berhasil keluar dari sini."
Deni bangkit dari kursi dan beranjak pergi dari kantor polisi sambil tersenyum penuh kemenangan. Kemudian, ia berucap kepada polisi, "Jika ada yang perlu ditanyakan, silahkan hubungi saya." katanya.
Deni berbalik dan menatap dua orang yang menjadi kaki tangan Giska itu. Ia menunjukkan mereka berdua bergantian dan berucap, "Semoga kalian berdua merasakan akibatnya. Haha ...."
"Tolong bebaskan aku, Pak." ucap ibu muda.
"Kau harus mengikuti prosedur dulu. Jika sudah nanti kau akan di pulangkan. Jangan lupa berterima kasih kepada Pak Renza dan Ny. Arinka jika kau sudah bebas dari sini."
"Baik, Pak."
Lelaki berhoodie hitam itu juga memberanikan diri berbicara kepada Deni. Namun, Deni tak menggubrisnya karena kesal dengan ucapan sombongnya.
Setelah itu, Deni pergi. Sedangkan David masih berada di sana dan mengangkat tangan ketika Deni akan pergi. Setelah beberapa hari berkutat dengan hal selain urusan kantor, akhirnya Deni juga bisa bernapas lega.
Deni mengirim pesan kepada Risa. Sudah beberapa hari ia tidak berkomikasi dengan baik dengan Risa. "Sesudah selesai urusan ini, mari kita bertemu." tulis Deni di pesannya.
***Bersambung...
Jangan lupa like dan vote ya kesayanganku 💋
Yang mau tanya-tanya tentang Author, silahkan masuk di grup chat. Di sana kalian bebas bertanya apa saja dan pasti akan Author balas.
Salam sayang dariku untuk pembaca semua 😁 i love u 😘😘***
__ADS_1