Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 89 : Mulai terbongkar


__ADS_3

"Kalian pasti panik dan saling mencurigai, hahaha." Menutup mulutnya dengan masker. "Selamat berprasangka."


***


Renza sudah bersiap ingin bertemu Dahlan. Ia memasang jas biru dongkernya dengan rapi. Ia ingin terlihat sangat rapi dihadapan lelaki yang membuat emosinya pasang-surut.


Setelah Renza masuk ke dalam mobil. Kemudian, Deni melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Renza menatap pemandangan di luar kaca mobil. Pikirannya berkecamuk di dalam kepalanya.


Sebaliknya, Deni juga berpikir keras. Ia memikirkan seseorang yang di lihatnya sekilas tadi pagi. Deni menggeleng-gelengkan kepalanya, ia hanya melihat sekilas dan sangat cepat. Berkali-kali ia mengernyitkan kening untuk mengingatnya.


"Kau kenapa?" tanya Renza yang sedari tadi memperhatikan Deni menggeleng kepalanya.


"Aku hanya memikirkan sesuatu."


"Sesuatu? Seperti apa?"


"Apa Pak Renza yakin itu ulah Dahlan?"


"Aku sebenarnya tidak yakin. Tapi, lelaki itu mengaku tadi kepadamu, 'kan?"


"Iya ...."


"Apa kau mencurigai orang lain?"


"Belum yakin, tapi aku memikirkannya."


"Orang itu sangat lihai bersembunyi."


"Sepandai-pandainya ia sembunyi pasti akan tertangkap juga. Lihat saja nanti."


"Iya, aku yakin."


Sesampainya Di sebuah restaurant, Renza turun dengan setelan jas lengkap cokelat dan senada dengan warna sepatu oxpord nya yang mengkilap. Deni berjalan di belakang Renza dan mengancingkan jasnya.


Mereka masuk ke dalam restaurant itu. Kebetulan resto itu mempunyai sekat di setiap ruangan, bukan ruangan terbuka yang plong. Deni memperhatikan setiap ruangan itu dan matanya tertuju pada 2 orang yang sedang mengobrol serius. Renza melangkah dengan penuh wibawa berjalan kehadapan Dahlan dan Aldi.


"Mereka sudah datang," ucap Dahlan.


"Hmm ...," jawab Aldi.


Deni menarik kursi untuk Renza. Kemudian, Renza duduk dan ia duduk disebelahnya. Renza menyilangkan kaki kirinya ke atas dan tersenyum sinis.


"Senang berjumpa denganmu," ucap Dahlan.


"Oh yah ... kalau begitu aku juga senang bertemu dengan anda, Paman Dahlan." Renza berucap penuh penekanan.


"Yah, memang sudah seharusnya."


"Bagaimana proyek terbaru kalian? Apakah berjalan dengan baik?"


"Bukankah sekretarismu ini selalu berada di sana." Tersenyum licik.


"Haha ... Aku kan bertanya kepada Paman sekarang." Renza mengucapkan penekanan pada kata paman.


"Sudah seharusnya berjalan dengan lancar."


"Wah ... begitukah?" jawab Renza dengan sinis.


"Kalau aku menunjukkan berkas ini, bagaimana ekspresi kalian? Apa masih tersenyum lebar seperti itu?" desis Deni sambil menyodorkan berkas di tangannya.


"Apa ini?" tanya Dahlan.


Dahlan segera mengambil berkas itu dan membacanya. Ia bersusah payah menelan saliva. Aldi mengambil berkas itu dari tangan Dahlan dan membacanya. Tangannya bergetar memegang kertas itu. Anggaran yang tidak sesuai, kemungkinan terjadi korupsi.


Renza menggerak-gerakkan kakinya dan menyunggingkan senyuman Devilnya. Deni mengetukkan jari jemarinya di atas meja.


"Apa Paman ingin mengambil alih cabang perusahan milik Fariq company? Sayangnya tidak akan bisa. Saham Ganier's saja 60 persennya milik orang lain. Bagaimana bisa Paman ingin mengambil alihnya?"


"Aku bisa mengambil alihnya. Dengan cara seperti ini." Menyodorkan ponselnya dan melihat ia mengirimkan pesan singkat kepada Arinka.


"Apa maksud anda?" tanya Deni.


"Haha ... tanyakan istri kesayangmu itu. Apakah Ia berada di rumah? Dia itu sangat mudah aku bodohi."


Renza semakin tak mengerti dengan apa yang Dahlan katakan. Ia bangkit dari kursi dan mencengkram kerah baju Dahlan dengan kuat. Tangan sebelahnya mengepal. Untung saja ada Deni yang berusaha menenangkannya.


"Jangan panik," bisik Deni. "Bersikaplah tenang dan jangan terpancing." katanya.


Renza melepaskan cengkraman baju Dahlan. Kemudian, ia menarik napas dan menghembuskannya kasar. Ia lalu duduk kembali di kursinya dan mengambil ponsel dari saku jasnya. Renza segera menelepon Arinka. Namun, tak ada jawaban dari Arinka. Wajahnya mulai panik dan matanya menatap tajam ke arah Dahlan.


"Santai dulu," ucap Dahlan tertawa. "Aku hanya menanyakan istrimu saja," katanya.


"Apa maksud anda mengatakan tentang istri Pak Renza?" Deni menggeram.


"Aku hanya menanyakannya saja, aku dengar Renza sangat mencintai istrinya."


"Jika terjadi apa-apa pada istriku. Kau akan ku bunuh, Dahlan!" Renza menjauh dan mulai menelepon.

__ADS_1


Renza mencoba menelpon pak Ahmad. Tak lama terdengar jawaban dari pak Ahmad.


"Ada apa, Pak? Aku sedang menyetir."


"Tepikan dulu mobil, jangan membahayakan istriku."


"Saya sudah menepi, Pak. Ada apa?"


"Mana istriku?"


"Ny. Arinka ada di belakang. Apa Pak Renza ingin berbicara?"


"Iya, berikan ponselnya."


"Ada apa, Pip?"


"Kamu mau ke mana? Kenapa tidak mengabariku?"


"Aku ingin ke kantor."


"Kenapa aku menelpon ponselmu tak ada jawaban?" teriak Renza.


"Kenapa meneriakiku?" jawab Arinka lirih.


"Maaf, bisakah kau tidak pergi kemana-mana? Kau mendapat pesan dari seseorang, ya?" ucapan Renza melemah.


"Maaf juga membuatmu panik. Tidak, bukannya Pipom yang mengirimi bunga untuk Mimom, 'kan?"


"Bunga?"


"Iya, di bunga itu ada tulisannya. Bukannya bunga mawar merah biasanya dari pipom."


"Tapi itu bukan dari pipom. Kau membuka kotak pesan di ponselmu, coba cek?"


"Iya, tapi aku mau ke kantor itu karena kiriman bunga, bukan dari pesan ini."


"Benarkah? Hmm ... Pulang saja ke rumah jangan kemana-mana!"


"Iya, Pip."


Arinka memberikan ponselnya kepada pak Ahmad. Pak Ahmad menjawab lagi telepon itu karena belum terputus.


"Bawa pulang istriku, jangan biarkan dia kemana-mana."


"Baik, Pak."


Sambungan itu Renza matikan. Dan segera ia kembali ke kursinya. Deni sedang mengintrogasi Dahlan.


Dahlan mengerutkan kening dan tertawa. Aldi tersenyum. Namun, kaku.


"Teror?" ucap Dahlan.


"Jangan pura-pura bodoh!" bentak Deni.


"Sopan sedikit kepada yang lebih tua." Aldi membela.


"Kau diam saja, jangan ikut campur. Apa kau ingin mendekam di penjara dan membusuk di sana?"


Aldi terdiam. Namun, Dahlan masih tertawa.


"Berarti banyak yang tidak menyukai keluargamu. Mereka juga tidak ingin melihatmu bahagia." Tertawa seakan telah menang.


"Tertawa saja! Semua berkas ini ada di tanganku. Aku akan menyerahkan ke polisi bahwa kau mencurangiku," ucap Renza dengan sorot tajam dan penuh penekanan.


Deni menelpon David, menyuruhnya datang ke restauran. Deni terus bertanya kepada Dahlan dengan emosi.


"Sepertinya anda akan di penjara kedua kalinya!" ujar Deni tertawa sinis.


"Aku tidak takut sama sekali," jawab Dahlan.


"Anda benar-benar percaya diri," ucap Renza menyerigai.


"Apa kau tidak ingin memberikan perusahaan itu kepadaku. Aku juga berhak mendapat warisan."


"Warisan? haha ... itu hasil kerja kerasku. Segampang itu anda memintanya kepadaku. Benar-benar tak tahu malu!"


"Bukannya lebih baik begitu, jika kau berikan aku tidak akan mengusikmu."


"Bermimpi saja!" Renza menyerigai.


Tak lama kemudian, datang seseorang dengan setelah serba hitam. Lelaki itu membawa dua orang di sampingnya. Dahlan dan Deni heran melihat penambahan jumlah orang di sana.


"Pak Deni, Pak Renza, saya sudah di sini," ucap David.


"Hemm ...," ucap Renza menaikkan alis sebelah.


"Apa kalian mengenal orang di depanku Ini?" tanya Deni.

__ADS_1


"Mengenalku?" ucap Dahlan menunjuk dadanya sendiri.


"Iya," jawab lelaki berhoodie hitam.


"Kau?" tanya Deni menunjuk ibu muda.


Lelaki berhoodie hitam itu mengedipkan matanya. Dan wanita itu mengatakan mengenalnya juga. Tanpa aba-aba, Renza bangkit dan memukul wajah Dahlan. Aldi ketakutan. Tapi Aldi belum melakukan perintah Dahlan sama sekali, jadi ada perasaan lega sedikit di hatinya.


"Apa benar ini ulah anda, Pak?" tanya Aldi.


"Haha ... bukannya aku yang menyuruhmu. Kenapa kau bertanya kepadaku?" jawab Dahlan seraya memegangi bibirnya yang berdarah.


"Jangan berpura-pura lagi. Bawa saja ke kantor polisi!" perintah Renza.


Dengan cepat, David dan anak buahnya membawa Dahlan dan Aldi. Aldi yang kebingungan hanya bisa pasrah. Dahlan memberontak, tapi apa daya, ia kalah kuat dengan anak buah David.


"Ayo, Pak ke kantor polisi!" ajak Deni.


Renza berjalan dengan langkah pelan menuju mobilnya. Deni masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil. Tak butuh lama, mereka sudah sampai di kantor polisi. Renza dan Deni memberikan keterangan tentang teror paket. Deni mengatakan ada buktinya. Polisi juga menanyakan tentang paket yang di kirimnya itu apa masih disimpan apa tidak. Untung saja Deni masih menyimpan semuanya dengan lengkap.


Dua orang yang dibawa oleh David termasuk Aldi menjadi saksi. Mereka akan diperiksa dan di tahan sementara waktu. David akan terus mengawasi mereka. Dahlan berteriak tidak terima.


"Awas saja kau Renza! Akan aku balas kau nanti."


"Silahkan saja."


Renza merasa lega setelah keluar dari kantor polisi. Setelah masuk ke dalam mobil kembali, ia berceritakan sesuatu yang dikatakan Arinka kepada Deni.


"Arinka mendapat kiriman bunga? Siapa yang mengirimnya?"


"Bunga?"


"Iya, bunga mawar merah seperti biasanya. Apa kau mengirimnya hari ini?"


"Aku memang membeli bunga hari ini, tapi aku tidak mengirim untuk Ny. Arinka."


Karena sedang fokus, Renza tidak menanyakan bunga yang di beli Deni untuk siapa.


"Jadi siapa, ya? Sepertinya bukan hanya Dahlan pelakunya."


"Iya, aku jadi tidak yakin. Mungkin Dahlan hanya ingin menakut-nakuti tadi. Tapi untuk paket teror bisa saja orang lain."


"Tapi siapa?"


"Aku mengingat seseorang yang kebetulan ada di sana tadi pagi, sekilas aku melihat seseorang yang familiar bagiku. Tapi hanya sekilas dan sangat cepat."


"Laki-laki apa perempuan?"


"Sepertinya perempuan."


Deni segera merogoh saku jasnya dan menelpon David.


"Cari tahu, kalau perlu awasi orang bernama Sinta." perintah Deni.


Setelah itu sambungan terputus.


"Kau mencurigai Sinta?" tanya Renza.


"Aku malah mencurigai Giska. Jangan-jangan dia kembali lagi."


"Giska? Benar, aku ingat itu Giska."


"Apa maksudmu?"


"Orang yang aku lihat tadi sekilas, aku yakin dia Giska."


Deni kembali menelepon David dan mengatakan harus mengawasi orang yang bernama Giska. Deni akan mengirim wajah orang-orang yang di perintahkan dan alamatnya.


"Giska sudah pindah. Di mana David akan menemukannya?" tanya Renza.


"Dia profesional, Pak. Kenapa Pak Renza meragukan David?"


"Iya, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih akhir-akhir ini."


"Aku juga begitu, Pak. Aku bahkan tidak mempunyai waktu pribadi." Deni terkekeh.


"Nanti jika sudah selesai, kita akan liburan sejenak."


"Haha ... baiklah, Pak."


Perasaan Renza sedikit lega karena sudah menyingkirkan Dahlan. Tinggal satu masalah lagi dan semoga cepat berakhir harapnya dalam hati.


Bersambung...


Hola readers... Yang belum gabung di grup chat, ayo gabung, tanya apa aja boleh ke Author. hehe


Jangan lupa like dan votenya ya 😁

__ADS_1


Terimakasih karena selalu setia membaca 💋


Luv u all 😘😘


__ADS_2