Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 69 : Kebetulan


__ADS_3

Deni masuk kedalam mobil, pikirannya berkecamuk tak karuan. Ia memukul setir nya pelan berkali-kali.


Kenapa juga aku harus menerima permintaan konyolnya itu, seumur hidup aku hanya mengerjakan hal yang wajar. Tapi kenapa hari ini aku bersikap seperti orang bodoh. Gara-gara payung sialan ini. Jika aku batalkan, berarti aku tidak menepati janji. Laki-laki tidak boleh ingkar. Ingkar bukan sifatku.


Risa merutuki dirinya, karena telah berani meminta bantuan kepada lelaki yang menyebalkan itu.


Apa aku sudah tidak waras berkata begitu kepadanya. Wah, otakku pasti bermasalah. Bisa-bisanya ucapan itu keluar dengan gampang sekali. Risa kau benar-benar gila!


***


Renza sudah sampai di rumahnya. Ia melempar tasnya di sofa dan segera melihat istrinya. Ternyata Arinka sedang tidur. Renza mengusap puncak kepala Arinka dan mengecup keningnya.


Nek Murti dan Bi Yati sedang duduk menonton televisi sambil berbincang-bincang.


"Lihat saja Renza, baru pulang langsung menengok istrinya."


"Dia sangat perhatian kepada istrinya, Arin benar-benar beruntung."


"Hmm, aku sangat bersyukur Renza bisa sangat mencintai Arin seperti itu. Benar-benar anugrah."


Renza keluar dari kamar itu dan menutup pintunya, ia menghampiri Nenek dan Bi Yati di ruang keluarga. Renza duduk seraya menarik dasinya untuk di longgarkan lalu ia menyandarkan kepalanya di sofa.


"Kenapa?" tanya Nek Murti.


"Hanya cemas saja, Nek."


"Sebaiknya kamu mandi dulu sana, biar pikiran lebih fresh."


"Baiklah, Nek."


Renza menaiki tangga satu persatu dan kemudian menghilang dari pandangan orang dibawah yang melihatnya. Renza membuka pintu kamarnya dan membaringkan diri sejenak diatas ranjang king size nya.


Setelah beberapa saat menenangkan diri, Renza masuk ke kamar mandi dan berendam air panas di dalam bathup. Sepuluh menit kemudian Renza keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Renza menggunakan baju kaos dan celana pendek selutut. Kemudian ia turun kebawah menghampiri nenek dan bibi.


Arinka turun dari ranjangnya dan membuka pintu. Arinka tersenyum melihat beberapa orang sedang berkumpul. Renza bergegas menghampiri Arinka dan menuntunnya keluar dari kamar.


"Sayang, kau sudah pulang?"


"Mmm, sekitar tiga puluh menit yang lalu."


"Tidak apa-apa, aku bisa jalan sendiri. Aku bukan orang sakit kok."


"Tapi kan Pipom ingin bantu."


Arinka dan Renza sudah duduk di sofa, Arinka bahagia menatap semua berkumpul seperti itu.


"Waktunya minum susu hamil," ucap Bi Yati.


"Aku ingin suamiku yang membuatnya." ucap Arinka terkekeh.


"Apa aku bisa?"


"Petunjuknya kan ada di belakang kemasan."


"Apa sih yang tidak buat istriku tercinta," ucap Renza.


"Biar bibi bantu," ucap bi yati.


"Baby nya benar-benar manja kepada papa nya." ucap Nek murti tersenyum.


Renza bergegas pergi ke dapur, di ikuti bi Yati. Renza mengambil gelas kemudian membuka susu itu.


Uwek!


Renza mual mencium bau susu itu.


"Kenapa bau nya seperti itu, aku jadi mual, Bi."


"Wah, jangan-jangan Renza juga ikut mengidam seperti Arin."


"Mana mungkin, yang hamil kan istriku, kenapa aku yang mengidam, haha."


Renza membuat susu itu sesuai takaran yang disarankan, kemudian membawanya ke ruang keluarga. Renza juga menyuruh Bi Ami mengeruk buah alpukat untuk Arinka dan mengupas buah apel, peer dan mangga.


"Ini sayang, ayo di minum. Ini buatan ku sendiri loh."


Arinka segera meminumnya, sebenarnya ia sangat lapar tapi setiap makanan yang masuk selalu saja ia muntahkan kecuali minuman dan buah-buahan.


"Nanti harus makan, ya. Vitamin harus diminum sesudah makan."


"Iya, sayang."


"Apa kau ingin membeli makanan kesukaanmu itu, batagor?"


"Aku ingin membeli pecel."


"Pecel? dimana aku harus membelinya?"


Arinka mengendikkan bahu, kemudian bi Yati berkata ada warung pecel di jalan arah kerumahnya, tapi itu lumayan jauh. Renza memainkan ponselnya dan melakukan pencarian di internet. Tak lama kemudian, ia menemukan warung pecal yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


"Aku berangkat dulu." ucap Renza seraya mengecup kening Arinka.


"Maaf merepotkan."


"Tidak merepotkan sama sekali, lagi pula ini untuk istri dan anakku."


"Terima kasih, sayang."


Nek Murti dan bi Yati saling berpandangan dan tersenyum.


"Apa pipom dan mimom itu panggilan kesayangan kalian, ya?" tanya nek Murti.


"Mmm .... " Arinka tersenyum.


"Benar-benar unik." ucap bi Yati.


Renza berpikir, ia akan naik motor apa naik mobil. Jika naik mobil sudah pasti ia menyetir sendiri karena pak Ahmad sudah pulang. Jika naik motor akan ribet membawa makanannya nanti. Akhirnya, pilihannya tetap naik mobil.


Di perjalanan, Renza melirik ke kiri dan ke kanan. Renza terus melihat map dari ponselnya. Selang berapa menit, ia menemukan warung itu. Raut lega terpancar dari wajahnya. Kemudian ia turun dan berjalan menuju warung itu.


"Bu, aku pesan pecel satu ya, bungkus."

__ADS_1


Beberapa orang memperhatikan penampilan Renza dari atas sampai bawah. Ada yang berbisik-bisik seakan tidak senang atau apapun itu.


"Aku memesan lima bungkus, tolong cepat, ya?"


"Baik, Pak."


Renza duduk di kursi warung itu. Para remaja yang lewat melirik dan menoleh ke arahnya. Tapi, Renza acuh. Ia tetap memainkan ponselnya. Pesona Renza memang benar-benar luar biasa. Bisa di bilang Renza itu tetap tampan walau dalam keadaan apapun.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya lima bungkus pecel siap ia bawa pulang. Ia membayar dan tidak mengambil kembaliannya. Pemilik warung itu sangat berterima kasih.


Dirumah, Arinka sudah menunggu. Ia sudah tidak sabar ingin makan pecel. Orang ngidam memang selalu aneh-aneh. Beberapa menit kemudian, Renza sampai dan membawa semua bungkusan itu.


"Aku beli banyak, kasih untuk bi Ami dan Pak Tino juga."


Bi Yati membawakan piring dan sendok untuk Arinka. Kemudian Bi Yati mengisinya diatas piring. Renza memberikan satu bungkusannya kepada Bi Yati.


"Untung saja warung itu tidak jorok, kalau tidak mana mau aku memberikannya untuk istriku."


Arinka makan sesuap demi sesuap, setelah suapan ke empat, ia berhenti. Sekejap ia sudah kenyang. Renza segera mengambilkan air minum untuk istrinya.


"Tadi rasanya sangat ingin memakan pecel. Eh, pas sudah di makan tiba-tiba saja merasa kenyang."


"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting sudah dimakan."


***


Di rumah Deni, Deni sedang gusar memikirkan ucapannya yang menerima Risa sebagai pasangan palsu nya.


Deni masih terngiang oleh ucapan Risa di telinganya,


Waktu aku memutuskannya, aku bilang aku akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dari dirinya, yang tidak berselingkuh dan memainkan perasaan wanita.


"Jadi aku ini termasuk pria baik ya?"


Deni senyum-senyum sendiri mengingat ucapan Risa. Ia mengacak-acak seprei nya dengan kaki karena kegirangan.


Apa? Kenapa aku seperti ini? Apa aku sudah tidak waras? Apa mungkin terlalu lama menjomblo membuatku menjadi mudah baperan. Huh! Pergi jauh-jauh pikiran konyol.


Toktok!


Terdengar suara pintu, belum saja Deni bangkit, Ema - ibunya Deni sudah masuk. Kemudia Ema tercengang mekihat penampakan kamar Deni yang seperti kapal pecah.


"Apa-apaan ini? Kenapa seprei mu jadi berantakan seperti ini? Kau putus cinta?" tanya Ema.


"Putus cinta? Pacar juga tidak punya. Ibu sengaja ya mengejekku?"


"Siapa tahu dua hari kemarin kau sudah dapat pacar?" Ema terkekeh.


"Belum."


"Lantas, kenapa kamarmu menjadi seperti ini?"


"Tidak ada."


"Ayo makan dulu?" ajak Ema.


"Ayo!"


"Lain kali jangan sering berantakan seperti itu, tidak bagus dilihat."


Setelah makan malam, Deni bergegas berganti pakaian menggunakan celana pendek selutut dan menggunakan hoodie, sepatu yang ia kenakan model convers. Benar-benar berbeda dari tampilan Deni yang biasanya.


Sementara dirumah Risa...


Risa dan keluarganya masih makan malam, tapi tidak lengkap karena kakaknya sudah tugas di luar kota. Papa Risa, Hendarta sangat menyayangi dan memanjakan Risa. Terlepas dari raut wajah menakutkannya, Herdarta adalah ayah yang sangat perhatian.


Oleh karena itu, apa saja yang dilakukan Risa, kedua orangtuanya hanya men-support.


Makan malam saat itu berlangsung khidmat, tanpa suara, yang ada hanya dentingan piring dan sendok disana.


"Oh ya, Pa. Tadi ada seorang lelaki yang datang kerumah, itu pertama kalinya Risa mengajak seorang lelaki. Lelaki itu sangat tampan dan juga berwibawa."


"Apa benar, sayang?" tanya Hendarta.


"Bukan begitu, Pa. Mama suka mengada-ngada. Lagi pula lelaki itu hanya kebetulan lewat dan membantuku saja."


"Tapi kelihatannya mereka sudah sangat akrab."


"Ya sudah, biarkan saja."


Mendadak semuanya hening dan melanjutkan kembali makan malam mereka. Setelah selesai, Risa langsung pergi kekamarnya.


Risa berguling-guling di ranjangnya. Seketika ia teringat kembali perkataannya yang mengajak Deni menjadi kekasih satu malam.


What? Kekasih satu malam? Untung saja Deni tidak menganggap yang aneh-aneh. Kalau dia salah pengertian bagaimana?


"Aarrgghhhh!"


Risa teriak dengan kencang di kamarnya. Mira datang menghampiri pintu kamarnya dan berteriak juga.


"Risa, ada apa? kenapa kau berteriak seperti itu?"


"Tidak ada, hanya iseng."


"Dasar kau ini! jangan berteriak seperti itu lagi, ya!"


"Iya, Ma."


Risa keluar dari kamarnya. Pakaiannya sudah rapi lengkap dengan sepatu dan tas selempangnya. Hendarta dan Mira sedang duduk di sofa seraya menonto televisi.


"Kau mau kemana, Ris?" tanya Mira.


"Jalan-jalan, cari udara segar."


"Jangan malam-malam, Nanti papa mu marah."


"Baiklah," jawab Risa seraya mengedipkan mata kearah papanya.


Untuk pertama kalinya Risa menggunakan mobil merah kado ulang tahun dari Hendarta. Selama ini ia lebih suka naik ojek dan naik motor saja.


Risa melajukan mobilnya dengan pelan, kemudian ia menuju ke sebuah toko kaset. Risa berencana ingin membeli kaset romantis untuk tontonannya malam ini. Rencananya malam ini, Risa akan begadang.

__ADS_1


Risa memilih-milih beberapa kaset dan kemudian ia memutari tempat kaset itu. Tak sengaja Risa melihat seorang lelaki yang menggunakan hoodie tak jauh darinya.


Risa pergi untuk membayar kaset-kaset itu. Tak disangaka di meja kasir mereka datang bersamaan.


"Maaf, aku duluan." ucap Risa.


Risa menoleh dan lelaki itu ikut menoleh juga kearahnya.


"Kau!"


"Kau lagi!"


"Ya ampun, apa jangan-jangan kau ini membuntutiku, ya?"


"What! Membuntutimu? Maaf aku tidak kurang kerjaan."


"Kenapa juga kita sering bertemu seperti ini? Aku sedikit aneh."


"Sama, aku juga aneh."


Tiba-tiba petugas kasir itu menghentikan adu mulut mereka, "Maaf, anda bisa membayarnya sekarang?"


Risa merogoh tasnya dan mengambil dompet didalam tasnya. Seketika, raut wajah Risa terlihat masam. Ris menepuk bahu Deni pelan, menyuruh Deni menunduk sedikit. Beberapa kali Risa menepuk tapi Deni tak menghiraukannya. Akhirnya, Risa mengatakan bahwa, "Masuk tagihan orang ini saja."


Risa buru-buru keluar meninggalkan Deni, ia duduk di bangku depan toko itu. Selang berapa menit, Deni keluar membawa kaset miliknya dan milik Risa.


"Kau ini aneh, ya? Bisa-bisanya tak tahu malu seperti ini!"


"Bukan begitu, sebenarnya aku lupa membawa dompet. Maaf, nanti akan aku ganti. Tadi aku buru-buru soalnya."


"Astaga, kau ini, Jika tadi tidak ada aku, kau akan bagaimana?"


"Mungkin memang suatu kebetulan jika kau selalu datang saat aku sedang membutuhkan."


Apa-apaan, kenapa aku berbicara begitu, sih. Seperti gombalan saja.


"Mulut mu benar-benar manis, ya?"


"Tidak juga, kadang mulutku pedas. Tapi hari ini aku sangat malas bertengkar."


"Ya, terserah kau saja!"


"By the way, kau sangat berbeda ya? aku tidak pernah melihatmu memakai pakaian santai seperti ini."


"Ya, karena kau hanya bertemu aku saat aku memakai pakaian kantor. Ketemu seperti ini kan baru kali ini."


"Benar-benar berbeda, aku sampai tidak kenal tadi."


Haduhh, kenapa aku jadi deg-degan begini.


"Sudah-sudah, jangan berkata begitu. Aku tidak suka!"


"Kau mau kemana setelah ini? Bagaimana jika traktir aku minum?"


"Dasar wanita tak tahu malu!"


"Bodo amat."


Risa mengikuti mobil Deni menuju ke arah taman. Deni berhenti sejenak membeli dua buah minuman kaleng bersoda. Kemudian, ia melajukan mobilnya lagi.


Setelah memarkirkan mobilnya, Risa dan Deni berjalan ke arah bangku disana.


"Wah, suasana taman benar-benar indah saat malam hari," ucap Risa.


"Entah kenapa aku mau saja pergi bersamamu seperti ini? benar-benar menyebalkan."


"Tidak apa-apa, karena kita saling tidak menyukai akan lebih gampang memaki jika ada salah kata nantinya. Lebih nyaman seperti ini."


"Benar-benar wanita yang tidak waras."


"Ya, kalau baperan juga kan tidak nyaman," ucap Risa terkekeh.


"Ini minumanmu, kau berhutang banyak padaku?"


"Hanya segini saja kau hitung-hitungan. Dasar pelit!"


"Suka-suka aku dong, uang itu uangku."


"Yah, kau memang pelit dan menyebalkan, sangat menyebalkan."


Deni membuka minuman kaleng itu dan langsung meminumnya, sedangkan Risa mendengkus kesal karena tidak tahu kenapa minuman kaleng di genggamannya susah sekali dibuka. Jemari Risa bahkan sudah memerah karena berusaha terlalu keras, tetapi tetap tidak berhasil. Heran, padahal biasanya gampang saja baginya untuk membuka minuman kaleng.


"Sini ...."


Entah kapan tangan Deni mulai bergerak. Risa bahkan terkejut karena tiba-tiba saja minuman kaleng itu sudah berada di genggamannya. Risa berusaha bersikap biasa saja, saat Deni membuka minuman kaleng itu. Padahal Risa sangat malu karena untuk membuka minuman kaleng saja ia tidak bisa.


"Terima kasih," ucap Risa pelan.


"Kau kenapa keluar malam-malam begini?"


"Cari angin." jawab Risa singkat.


"Makan saja angin yang banyak, jika sudah kenyang kau boleh pulang."


Risa melongo mendengar ucapan Deni. Dikatakan lelucon tapi tidak lucu sama sekali, benar-benar garing.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Kau juga cepat pulang, jangan sampai kejadian malam itu terulang lagi. Aku sangat malas menolongmu."


"Cih! Aku juga tidak ingin meminta bantuanmu. Kau saja yang ingin menolongku." ucap Risa seraya berjalan kearah mobil.


"Dasar, tidak tahu terima kasih!"


Bersambung...


Hey Readers, jangan lupa Like nya yah! 😊


Yang belum Rate novel ini silahkan rate bintang 5.


Dan jangan lupa vote juga, semakin banyak vote semakin semangat author buat nulis.


Untuk saran-sarannya silahkan komentar ya 😊💋

__ADS_1


Salam sayang dariku buat pembaca semua 😘


Luv u all 💋


__ADS_2