
Arinka pov
Kenapa juga Tuan Renza harus pergi kerja terlambat hari ini, hampir saja hari pertama kerja terlambat, apa dia sedang mempermainkanku, dasar lelaki Arogan. untung saja dia tidak tau kalau aku bekerja dimana bisa-bisa dia akan mempermalukanku nantinya.
aku berangkat naik ojek saja, untung kemarin sudah pesan ojek didepan minta jemput kerumah, aku harus belajar cara pesan ojek online biar lebih gampang.
Uhh, untung aku belum terlambat, hampir saja pukul sembilan, apa kata Pak Jefran kalau hari pertama kerja sudah terlambat, bisa-bisa dia pikir aku tidak serius ingin kerja, semoga juga orang-orang tidak mengenali aku sebagai istrinya Renzaldi Alfariq, Ahh mana mungkin juga, siapa yang menyangka sih, dengan tampilanku yang kampungan begini, foto pernikahanku juga beda dengan diriku yang asli,haha.
Arinka pov end.
🏵🏵🏵
"Selamat Pagi." ucap seseorang wanita muda yang kemarin mempersilahkannya duduk.
"Selamat pagi juga." jawab arinka.
"Omong-omong kakak sudah resmi bekerja ya hari ini, perkenalkan aku Risa, nama kakak siapa? biar kita bisa lebih akrab gitu."
"Aku Arinka, senang bisa saling mengenal." tersenyum manis
"Semoga kita bisa akrab ya kak."
arinka hanya menganggukan kepala dan tersenyum, disana ada 6 orang pelayan yang bekerja, empat wanita dan dua orang pria, arinka memperkenalkan diri dengan semua orang, pelayan seniornya bernama Sari, dia yang mengajari arinka banyak hal, terutama harus selalu tersenyum kepada setiap pelanggan.
Arinka bekerja sangat baik dihari pertamanya, saat makan siang restauran itu penuh dengan banyak orang yang berdatangan, terutama pekerja kantoran, sampai-sampai arinka sangat kewalahan membawa pesanan kesana kemari.
"Semangat." Ucap Risa
"Iya." jawab arinka sambil menyeka keringat didahinya.
"Apa pak jefran belum datang?"
"Kebetulan hari ini beliau tidak datang kak, pak jefran hanya datang kesini tiga kali seminggu, soalnya beliau harus mengurus beberapa restauran yang lainnya."
"Hmm begitu."
"Bukankah Pak jefran itu sangat tampan? aku suka lesung pipi nya itu, beliau orang yang lembut dan sabar, ahh aku menyukainya."
arinka hanya tertawa mendengar ucapan risa itu, dasar remaja kalau lihat yang bening selalu mudah membuka hati pikirnya.
***
Dikantor, Renza datang dengan perasaan kesal, kenapa dia sampai senekad itu mengikuti ketempat kerja arinka, dia merutuki dirinya karena bersikap tidak konsisten seperti biasanya.
"Bapak sudah sampai." celetuk seseorang yang tidak lain adalah deni.
"Kau, bukannya kau kuperintahkan cuti hari ini"
"Mana mungkin pak, kita harus bertemu klien dari singapura hari ini, semua berkas ada di tasku, lain kali jika bapak menyuruhku cuti aku akan sangat senang."
"Huh, kau memang gila kerja." tertawa
"Gimana udah tau kan tempat kerjanya nyonya arinka?" ucap deni dengan nada mengejek.
"Hais, kau mulai lagi, jangan sebut nama dia bikin kesal saja, kau juga keluar, aku lagi malas melihat wajahmu itu."
__ADS_1
Deni keluar dari ruangan Renza dengan bersiul, sedangkan renza sudah sibuk dengan tumpukan berkas yang ada di mejanya.
dia pasti menertawakan kelakuanku tadi, haiss menyebalkan.
***
"Hari yang melelahkan." ucap arinka
arinka sudah sampai dirumah, segera ia naik kekamar untuk mandi, tetapi ia ingin istirahat dulu sejenak, ia berbaring di kursi santai sambil menyalakan telivisi, jam menunjukan pukul lima sore.
"Kaki ku penat sekali, ah baru pertama gini masa sih aku sudah mengeluh, sungguh bukan arinka."
apa aku sudah terbiasa hidup enak makanya aku mulai capek mengerjakan hal seperti itu, sepertinya hidupku sudah mulai tergantung dengan semua kemewahan dirumah ini, bagaimana jika suatu hari nanti aku diceraikan, ahh aku tidak boleh bermalas-malasan.
banyak hal yang dipikirkan arinka sambil berbaring, tanpa terasa matanya mulai berat kemudian terpejam dan terhanyut kedalam mimpi, ia tertidur tanpa mandi sedangkan Televisi berbicara sendiri tanpa ada yang menonton.
Renza sudah datang bekerja, sedangkan deni pamit pulang setelah mengantar renza, bi Ami dengan segera menyambut Tuannya itu, hanya untuk sekedar menyapa. renza celingak celinguk melihat seisi rumahnya seperti sedang mencari seseorang.
apa dia sudah pulang?
"Tuan, ada apa?"
"Tidak apa-apa, berikan aku air minum, aku ingin minum" dalihnya
"Baik tuan, jika tuan mencari nyonya, nyonya ada diatas."
Renza tak bergeming, pura-pura cuek padahal ia tersenyum lega, bi ami datang membawakan air untuk tuannya itu, dengan cepat ia meminumnya dan naik keatas.
Renza berjalan menaiki tangga, didepan pintu dia mendengar suara televisi.
kreekkk
suara pintu terbuka, Renza masuk, namun tidak ada tanggapan apa-apa dari arinka, renza melihat arinka berbaring dikursi panjang, renza menaruh tasnya di atas meja.
"uhuk uhuk." renza berpura-pura batuk untuk menarik perhatian arinka, namun tidak ada respon. dilihatnya arinka sekilas masih menggunakan pakaian yang sama dari pagi tadi, apa pakaian yang mirip pikirnya.
renza memberanikan diri mendekat, pura-pura ingin bersantai didepan televisi.
"Ahh lelahnya, aku ingin menonton tv sebentar" sambil membaringkan diri dikursi santai depan tv, memindahkan siaran menjadi siaran berita.
"kau pergi buatkan aku minuman, aku sangat lelah." ucapan renza itu tidak digubris sedikit pun oleh arinka.
"Hey, apa kau tuli?" namun arinka tidak merespon juga, mungkin dia sangat lelah sehingga tertidur begitu lelap.
"Apa dia tidur?" renza bangkit dari tempat duduknya dan beranjak kedepan kursi santai arinka.
"Astaga, aku bicara panjang lebar ternyata dia tidur, huh! menyebalkan sekali wanita ini, berapa kali aku sudah mendapatinya tertidur, sesuka itukah dia tidur dikamar ini."
Renza terus memperhatikan arinka yang tertidur, tanpa ia sadari,jari telunjuknya telah menyentuh pipi arinka dan menekannya.
"Dia sangat lucu saat tidur, haha."
renza terus menekan jarinya itu dipipi arinka berulang kali untung saja dia tidak terbangun, sesekali Arinka menggeliat.
apa yang aku lakukan, aku menyentuhnya, tidaakkkkk!! apa aku akan menjilat ludah sendiri, aku yang berkata tidak akan mencintainya tapi kenapa aku mulai suka memandangnya, menjahilinya dan tersenyum kepadanya, mungkin aku harus datang ke pskiater untuk bertanya tentang kejiwaanku.
__ADS_1
Renza segera berlalu ke kamar mandi, mengisi bathup dengan air dan menambahkan aroma mawar kedalamnya, dia butuh merileks kan pikirannya yang gila itu kepada Arinka batinnya.
Arinka terbangun dari tidur dan melihat jam sudah pukul tujuh, "astaga aku ketiduran, hanya karena hari pertama kerja, aku sungguh lemah sekarang, Tuan renza dimana apakah dia sudah pulang? ah sebaiknya aku mandi dulu."
arinka beranjak dari kursinya itu, menuju pintu untuk menguncinya, dia tidak ingin selagi dia mandi dan menggunakan handuk renza masuk, bisa malu pikirnya.
arinka ingin berendam hari ini, melepas penat seleruh tubuhnya, kakinya sangat lelah akibat mondar mandir, ingin rasanya dia dipijat, tetapi mungkin terlalu berlebihan untuk wanita sepertinya, alhasil jika renza tau dia akan kena makian lagi begitu pikirnya.
arinka masuk kekamar mandi, kancing bajunya telah ia buka, sebelumnya ia akan mengisi air dulu pikirnya, ia berjalan mendekati bathup dan terperanjat ketika ada seseorang disana, dan seseorang itupun melihat kearahnya.
"Aarghhhhhhhh" arinka bersorak begitupun juga renza, renza refleks bangkit dari bathup itu dengan keadaan bertelanjang,ia ingin mengambil jubah mandi, arinka semakin bersorak dan menutup matanya.
"Apaaa yang kau lakukan Tuan? kau mesum?"
"Apaa kau bilang? aaaku mesum,? gelagapan
"apa kau gila? kau yang masuk kekamar mandi tanpa izin, ambilkan jubah mandiku?"
"kenapa tidak ambil sendiri sih, bagaimana akan memberikannya sedang kau dalam keadaan" berkata pelan tidak dilanjutkan
"Jubah mandinya didepanmu, apa aku harus melewatimu dengan seperti ini, apa kau memang ingin melihat tubuhku? ahh sudah kuduga kau yang berpikiran mesum disini."
"Tidak, aku tidak berpikiran seperti itu,?" menggeleng-gelengkan kepala
kenapa jadi aku sih yang kena, huh?!
arinka berjalan mengambil jubah mandi itu, tangan satunya masih menutup mata sedang tangan satunya sudah meraih jubah mandi milik renza, ia berbalik untuk memberikan jubah mandi itu, renza ingin mengambilnya tetapi terlalu jauh, dan juga ia dalam keadaan telanjang mungkin akan menakuti arinka.
"Maju sedikit, aku tidak bisa meraihnya"
"Sialan!!"
"kau ternyata bisa mengumpat juga ya, hebat." sarkasme
mulut arinka terus ngedumel, entah apa yang dibicarakannya tetapi itu hanya sekedar gumaman, mungkin itu kata-kata yang tidak pantas untuk didengar.
"Maju sedikit lagi." ucap renza
entah kenapa mereka berdua terlihat bodoh, padahal arinka bisa berbalik sehingga renza bisa dengan leluasa mengambil jubah mandinya, atau arinka bisa keluar dari kamar mandi itu, mereka berdua tidak ada yang berpikir seperti itu.
Arinka maju selangkah masih dengan tangan sebelah menutup matanya, tiba-tiba renza menarik jubah mandinya dengan kasar, kakinya tergelincir.
brrukkk
Renza tercebur masuk kedalam bathup, arinka otomatis mengikuti tarikan renza dan ikut terjatuh tetapi hanya badannya saja yang masuk, kakinya masih diluar bathup.
"Aaarggghh kenapa ini?"
***bersambung..
vote dan comment ya jika suka, dan jangan lupa juga tekan ❤***
salam sayang dariku buat para pembaca semua,
luv u 😘
__ADS_1