
Setelah bergelud dengan pikiran tentang wanita yang di lihat oleh Deni, Renza mulai tersenyum.
"Cari Giska di sekitaran hotel, katalan itu kepada David," perintah Renza.
"Iya, Pak."
"Aku yakin dia berada di hotel. Dari dulu dia sering tinggal di hotel."
"Baik, Pak." Mengambil ponsel di saku jas nya dan menelepon. "Cari wanita bernama Giska di setiap hotel!" perintahnya.
"Kenapa dia kembali lagi? Apakah dia menyimpan dendam padaku?"
"Sudah pasti, Pak. Wanita seperti Giska itu tidak tahu malu. Dulu saja dia seperti itu. Aku hanya heran, kenapa Pak Renza bisa menyukainya? Aku berpikir selera anda sangat aneh."
Matilah aku berbicara seperti ini. Pasti akan kena marah habis-habisan.
"Sebenarnya aku tidak menyukainya dulu. Aku mengencaninya karena Giska itu temannya Sinta sekaligus mantannya Jefran. Karena aku sangat sakit hati melihat Sinta dan Jefran mengkhianatiku, aku memutuskan mendekati Giska. Dan kebetulan juga Giska itu sering mendekatiku. Aku iba kepada Giska karena ia juga korban dari Jefran dan Sinta seperti aku. Oleh karena itu, aku mulai mengencaninya walaupun aku sudah tahu dia itu matre."
"Aku pikir anda benar-benar menyukainya. Saat di jodohkan itu anda pergi menemuainya di sebuah pesta, 'kan? Saat Giska berkata ia hamil, aku sempat syok. Benarkah itu anak anda? Seperti itu lah isi kepalaku saat itu."
"Aku juga sempat takut, tapi aku yakin, aku tidak akan melakukan hal seperti itu kepada wanita lain. Aku tahu Giska menjebakku saat itu. Karena malam itu aku sangat pusing. Yang benar saja di jodohkan dengan orang yang tidak di kenal? Jika kau jadi aku, bagaimana perasaanmu?"
"Soal itu, aku tidak bisa berkomentar, Pak."
"Karena itu aku sangat marah, aku memutuskan untuk mabuk dan tidak pulang ke rumah."
"Jika diingat-ingat, gara-gara Giska, Pak Renza sangat menyakiti Ny. Arinka. Aku pernah mendengar curhatan Ny. Arinka di malam pernikahan kalian. Dari situ aku tahu, bahwa Ny. Arinka itu tulus dan tidak menginginkan apapun dari Pak Renza. Nyonya juga sangat depresi waktu itu, tapi bersamaan ia juga bertingkah lucu.
"Hmm ... jika mengingat hari itu, aku benar-benar seperti bajing*n. Entah knp aku tega kepada wanita lugu sepertinya. Penyesalan memang datang terlambat."
"Iya, Pak. Kalau datangnya di awal namanya pembemberitahuan." Deni terkekeh.
"Haiss ... kau ini! Ngomong-ngomong apa yang di ceritakan istriku padamu waktu itu."
"Benar-benar lucu dan kasian di waktu bersamaan."
"Bisakah kau bercerita, Deni. Jangan buat aku penasaran."
"Waktu itu, aku melihatnya dengan tatapan iba, karena Ny. Arinka menangis. Ia memaki dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa ia wanita kampungan, miskin, menjijikan, dan juga ******. Aku hanya diam, tak menjawab perkataan Ny. Arinka. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa melihat Ny. Arinka yang merutuki dirinya sendiri. Ny. Arinka bilang jika terlahir miskin apa salah? Dia menikahi anda juga terpaksa dan juga tidak mencintai anda, Pak. Ny. Arinka juga menjerit mengatakan anda itu munafik. Tapi di saat bersamaan aku tertawa karena ia tiba-tiba saja meminta tisu, benar-benar lucu."
Wajah Renza mendadak pias mendengar cerita Deni. Ia hanya mendengar cerita itu sepihak dari Arinka. Namun, kenyataan yang sebenarnya Deni ada di situ dan tahu betul dengan semua perkataannya.
"Aku sangat menyesal. Oleh karena itu, seluruh hidupku ini akan aku habiskan untuk menebusnya dan mencintainya sampai mati." Renza berucap lirih.
"Ya sudah, Pak. Lagi pula ini sudah masa lalu. Sekarang anda bahagia. Yang harus kita pikirkan adalah mencari siapa dibalik teror ini."
"Yah, jika itu Giska, tidak akan aku ampuni."
Mobil itu melaju dengan cepat kembali ke kantor. Suasana hari itu sedikit mendung. Awan-awan hitam bergerombolan dan berarak di atas langit.
Sesampainya di parkiran kantor, Deni mendapat telepon dari David. Deni bergegas menjawab panggilan itu.
"Halo, apa ada kabar?"
"Begini, Pak. Wanita bernama Sinta itu adalah mantan pacar Pak Renza juga, ya? Hmm ... sepertinya tidak ada kejanggalan tentang dirinya. Dan menurut info yangaku dapat. Ia akan segera menikah dengan lelaki bernama Jefran."
"Benarkah? Ya sudah, selidiki dengan cepat. Pak Renza hanya memberi kalian batas waktu tiga hari."
"Siap, Pak."
Sambungan terputus. Deni menaikan alis sebelah dan menyerigai.
"David?" tanya Renza.
"Iya, Pak."
"Kenapa kau seperti itu?" tanya Renza lagi.
"David bilang Sinta dan Jefran akan segera menikah."
"Haha ... mereka sangat cocok. Mungkin memang mereka sudah di takdirkan berjodoh. Aku hanya sebagai pelantaranya dulu."
"Seperti menjaga jodoh orang lain, 'kan?" Deni tertawa.
"Memang benar, haha ...."
"Apa anda tidak merasa tersakiti, Pak?" olok Deni.
"Tidak. Kenapa harus tersakiti? Aku tidak ada rasa sama sekali kepada Sinta. Dia hanya masa lalu. Kenapa aku harus tersakiti, kau bercanda? Kau mengejekku? Hiss ... sialan!"
"Maaf, Pak." Deni tertawa dan membukakan pintu.
Karyawan di kantor itu tersenyum ketika menatap Renza Tapi, seketika mereka menundukkan pandangan ketika menatap Deni. Deni memasang wajah datar dan matanya melirik tajam kepada setiap karyawan yang menyapa dan tersenyum.
"Lihat, si cool killer Deni. Jangan menatapnya, dia benar-benar si ganteng yang menakutkan." bisik karyawati di sana.
Renza melangkahkan kakinya dengan berwibawa. Para karyawati menatapnya dengan terpesona. Deni membukakan pintu dan Renza segera masuk ke dalam ruangannya. Di dalam, Renza segera duduk di sofa dan menyadarkan kepalanya rileks.
Deni duduk menyilangkan kakinya dan mengeluarkan ponselnya. Di sela-sela waktu luang itu. Deni berusaha bertanya kabar Risa. Ia tersenyum menatap ponselnya. Kemudian, Renza tersenyum meliriknya.
"Hoy ... kau itu sedang kasmaran, 'kan? Pasti mengirim pesan kepada Risa."
"Sok tahu!"
"Wah! Kau menjawabku dengan santai. Hebat sekali," sarkas Renza.
"Hehe ... maaf, Pak. Aku becanda."
"Kau dengan wanita yang satunya itu, siapa namanya aku lupa? Bagaimana hubunganmu?"
"Aku tidak ada hubungan dengannya," jawab Deni santai sambil menatap ponselnya.
"Jangan sampai kau menyakiti hati wanita lain. Jangan sampai kisahku terulang kepadamu. Aku berkata begini sebagai sahabat, bukan sebagai atasan."
Deni meletakkan ponselnya dan menatap Renza setelah mendengar ucapannya. Deni memperlihatkan puppy eyes dihadapan Renza. Sontak Renza mencebikkan bibirnya dan mendengkus.
"Apa-apaan kau ini? Jangan menatapku dengan mata seperti itu."
"Haha ... aku hanya tercengang dan terharu. Ini pertama kalinya aku mendengar dari mulut anda bahwa aku ini sebagai sahabat."
__ADS_1
"Ya kalau sedang di luar kantor aku itu sahabatku. Terima kasih karena selalu berada di sisiku dan tidak mengeluh."
"Anda ini kenapa, Pak? Apa anda sakit? Kenapa tiba-tiba mengatakan hal seperti ini?" Deni memajukan tubuhnya dan menjulurkan tangannya ingin menyentuh kening Renza. Belum sempat menyentuh sudah ditepis sangat cepat oleh Renza.
"Aku tidak sakit! Badanku juga tidak panas."
"Aku hanya ingin memastikan saja." Deni terkekeh.
"Jangan menyentuhku seperti itu, memangnya aku lelaki apaan."
"Hadeh, aku juga bukan lelaki seperti itu."
Seketika ruangan sepi itu mendadak riuh oleh suara tertawa mereka berdua. Mereka benar-benar bisa di bilang sahabat sejati di luar pekerjaannya.
***
Arinka kebingungan di rumahnya, ia mendapat bunga tapi bukan dari Renza. Arinka melihat lagi kertas itu. Ia membalikkan kertas itu dan terdapat tulisan di belakangnya. Sebuah nomor telepon tanpa nama.
Arinka sangat penasaran dengan nomor telepon itu. Ia mengambil ponselnya dan melihat ada whatsapp baru dari Renza yang mengatakan jangan kemana-mana tetap di rumah. Arinka membalasnya dengan emoticon nyengir.
Arinka memperhatikan nomor telepon itu dan dengan penasaran ia mengetikkan nomor itu satu persatu. Setelah benar, ia menatapnya. Masih ragu tapi penasaran. Akhirnya, ia menekan tanda hijau untuk menelepon dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Beberapa saat, panggilan itu tersambung.
"Halo," ucap Arinka. Namun, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara krasak-krusuk. "Apa ini nomor kurir bunga?" katanya.
"Iya saya kurir." jawab suara dari telepon itu.
"Aku mau tanya? Siapa yang mengirim bunga ke alamat rumah jalan melati atas nama Arinka."
"Saya sendiri."
"Maaf, kamu laki-laki apa wanita?"
"Menurut anda?"
"Aku tidak tahu, suara kamu tidak terlalu jelas."
"Begitukah?"
"Iya. Apa kamu bisa memberi tahu siapa yang mengirimnya?"
"Aku sedang sibuk. Jika anda ingin bertemu. Ayo bertemu di taman."
"Di taman? Kenapa bertemu di taman?"
"Jika anda tidak ingin juga tidak apa-apa."
"Hmm ... baiklah."
Setelah sambungan terputus. Arinka berpikir. Ia merasakan ada keanehan. Harusnya jika ingin tahu siapa pengirimnya, maka Arinka wajib ke toko bunga itu. Bergegas ia menyandang tasnya dan meminta pak Ahmad mengantar. Pak Ahmad ragu-ragu tapi akhirnya karena desakan, beliau mengiyakan.
Apa ini peneror itu? Aku harus pergi ke toko bunga ini dulu dan menelepon suamiku.
Sementar itu, Renza sedang mempelajari berkas-berkas di atas mejanya itu sangat fokus. Deni juga begitu. Ia sangat sibuk mengurus jadwal dan apapun yang bersangkutan dengan Renza.
"Ada apa, Vid?" tanya Deni.
"Aku mendapatkan tempat tinggal Giska. Ia tinggal di apartmen tak jauh dari kontrakan wanita muda itu. Dan aku juga telah mendapatkan nomor ponselnya Giska. Aku juga sudah melacaknya. Dia sepertinya berada di sekitaran rumah Pak Renza. Aku akan menuju ke sana."
"Baiklah, Share lokasi nya ke ponselku."
"Ada apa?" tanya Renza.
"Giska sudah di temukan. Sekarang kita harus pergi, Pak."
Renza segera bangkit dari kursinya dan memakai jasnya. Mereka melangkahkan kaki keluar kantor.
"Apa benar Giska pelakunya? Lihat saja nanti, jika benar kau pelakunya, kau akan merasakan tinggal di penjara!"
"Kita akan melihatnya nanti."
Ketika sedang bertanya, ponsel Renza berbunyi. Renza segera menjawabnya dan tersenyum.
"Ada apa istri pipom tersayang?"
"Mimom sedang berada di toko bunga sekarang. Maaf, baru menelpon setelah sampai."
"Kenapa keluar rumah. Sudah pipom bilang jangan keluar rumah."
"Tapi, mimom mencurigai seseorang. Baru saja mimom menelpon nomor di balik kertas pengiriman bunga. Mimom ke toko bunga ingin menanyakan siapa orangnya."
"Mimom bertindak sendirian. Jangan begitu, pipom akan ke sana. Toko bunga mana?"
"Toko bunga tak jauh dari rumah kita dekat mini market."
***
Arinka masuk ke toko bunga itu. Terlihat wajah wanita yang bersikap ramah dan segera bertanya kepada Arinka.
"Ada yang bisa saya bantu, " ucap wanita yang memakai kemeja garis kuning itu.
"Aku ingin bertanya? Apa boleh?" tanya Arinka.
"Boleh, silahkan!"
"Apa ada mencatat nama-nama orang yang mengirim bunga?"
"Iya, ada apa?"
"Apa boleh aku melihatnya?"
"Tapi ini bersifat pribadi. Maaf tidak bisa."
"Tolong bantu aku, aku hanya ingin melihat siapa orang yang mengirim bunga kepadaku?"
"Mungkin dia adalah orang yang menyukai anda, tapi belum berani mengungkapkan."
"Ini bukan tentang menyukai, lagi pula aku sudah punya suami."
__ADS_1
"Jadi?"
"Beberapa hari ini kami di terror. Bisakah anda memberitahuku?"
"Siapa nama anda? Saya cek dulu."
"Saya Arinka Al fariq."
"Wah, Nyonya ini istrinya Renza Al fariq? Wah ... beliau itu sangat tampan, 'kan? Bagaimana rasanya menjadi istri orang tampan? Aku juga ingin."
"Kamu pernah melihat suamiku?"
"Pernah. Dulu sering di majalah bisnis 'kan?"
"Eh, iya yah."
"Anda beruntung, Ny. Bisa dapat suami setampan itu."
"Terima kasih."
"Ini nama samaran, disini tertulis kiki."
"Kiki? ia sangat pintar," ucap Arinka celingukan menatap ruangan bunga itu yang penuh dengan bunga warna warni.
Tak lama terihat dua lelaki yang turun dengan setelan jas lengkap. Dua lelaki itu masuk.
"Mim, kenapa tidak bilang sih mau ke sini? Jangan bikin khawatir," ucap Renza merangkul pundak Arinka.
"Wahh! Ini Pak Renzaldi itu. Ya ampun, anda benar-benar tampan dilihat langsung seperti ini." Wanita itu menutup mulutnya.
Renza tersenyum tipis membuat wanita itu histeris. Arinka yang memperhatikan wanita itu lalu menatap suaminya lagi sedikit melongo. Kemudian ia mengulum bibirnya menahan tawa.
"Apa saya bisa memotret anda?" ucap wanita itu sudah memegang ponselnya.
"Hemm ... hemm ...." Deni berdeham. Sorot matanya tajam dan tersenyum sinis.
"Eh, anda yang tadi pagi itu 'kan? yang kirim bunga?"
Mampus, aku lupa tadi aku kesini.
Renza dan Arinka serentak menoleh. Mereka terlihat kebingungan. Deni yang memasang wajah seram itu tiba-tiba nyengir kuda.
"Kau mengirim bunga?" tanya Renza.
"Haha, iya." Tertawa ambigu.
"Siapa yang kau kirim bunga?"
"Ehm ... aku menebak-nebak, bau-bau mencurigakan ini?" ucap Arinka sambil memegang dagunya.
Deni dengan segera mengalihkan percakapan itu dan segera bertanya tentang hal lain.
"Di sini ada cctv. Apa boleh kami melihatnya?"
"Bisa."
Untung saja bisa teralihkan. lega ....
Deni dan Renza melihat dengan seksama. Deni menunjuk seorang yang memakai jaket hitam kebesaran.
"Kau ingat, orang ini laki-laki apa wanita?"
"Dia wanita, dari postur tubuhnya. Dia sangat tertutup. Tadi kan pas anda masuk, orang ini keluar."
"Benar dugaanku. Dia wanita dan familiar sekali wajahnya."
"Aku di ajak bertemu oleh seseorang di taman?" kata Arinka.
"Di taman?" tanya Renza.
"Hm ... dia mengaku kurir."
"Maaf ya, Ny. Arinka. Kurir kami hanya satu dan itu hanya lelaki." Wanita itu menjelaskan.
"Apa ini nomor teleponnya?" tanya Arinka memberikan kertas kecil.
"Bukan, ini orang lain."
"Sudah jelas, ini pasti Giska."
"Ayo kita ke taman."
"Kita sebaiknya jangan pergi bersamaan. Aku akan menemuinya, aku ingin melihat pelaku sebenarnya."
"Jangan, itu berbahaya sayang. Walaupun Giska itu bukan lelaki tapi ia sangat nekad."
"Tidak apa-apa. Kan kalian ada di belakangku."
"Iya baiklah. Jika Ny. Arinka maunya begitu. Aku akan menyuruh David mengintai dulu, jangan menemuinya."
"Hmm ... aku ingin menemuinya sendiri."
"Baiklah, hati-hati sayang."
"Iya, sayang."
Mereka bertiga meninggalkan toko bunga itu. Wanita memakai pakaian garis kuning itu tersenyum melihat Renza. Ia juga sedikit iri karena Arinka bisa menjadi istrinya. Padahal Arinka tidak modis seperti istri pengusaha kebanyakan.
"Sampai bertemu di taman," ucap Arinka seraya masuk mobil yang di bukakan oleh Renza sendiri. "Dadah."
Mobil itu melaju ke arah taman. Dengan cepat Renza masuk ke dalam mobil. Kemudian, Deni melajukan mobilnya.
***Bersambung...
Jangan lupa like dan votenya ya sayang 😊😊
Yang mau kenal Author lebih dekat dan bertanya, silahkan gabung di grup chat Author ya 😁
Salam sayang buat readers semua. I love u 💋💋***
__ADS_1