
Dua hari berturut-turut, Arinka mendiamkan Renza. Arinka sengaja mencari cara supaya tidak bertemu dengan Renza dirumah, saat Renza pulang kerja Arinka sudah pura-pura tidur, saat sarapan pagi ia memutuskan untuk berolahraga, ia bangun jauh sebelum Renza bangun. ia masih malu jika mengingat kejadian di hotel, Renza yang peka juga tidak banyak bertanya, ia bahkan sengaja juga menghindari karena ia tau Arinka masih malu.
Tapi menghindar tidak bisa selamanya dilakukan dengan mudah, paling bisa bertahan sampai 3 hari. saat pulang kerja awal masih sore, Renza akhirnya memberanikan diri berbicara kepada Arinka, ia minta maaf karena sudah mengganti pakaiannya. Arinka bukan marah atau apa? ia hanya merasa malu karena Renza sudah melihat tubuhnya saat ia tidak sadarkan diri.
"Aku tidak marah, aku menghindar karena malu saja."
"Aku mengerti, memang salahku karena berani mengganti pakaianmu tanpa permisi."
"Tidak apa, aku harusnya berterima kasih. tapi aku masih sangat malu untuk menatap wajah kamu saja aku belum berani."
"Jangan seperti ini, lagian aku tidak banyak melihat dan mengambil kesempatan kok."
Lagi-lagi wajah Arinka bersemu merah karena ucapan Renza, mana mungkin orang yang mengganti pakaian tidak melihat pikirnya.
"Lagian, tubuh itu juga kan milikku," ucap Renza keceplosan yang membuat Arinka lebih malu dan salah tingkah.
"Maaf," ucap Renza, "Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya salah bicara saja tadi." menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ya sudah jangan dibahas lagi," ucap Arinka pelan, "Hari ini aku ingin berkunjung kerumah Bibi Yati, boleh kan?"
"Boleh, Aku ikut ya, tapi aku mandi dulu," Renza berbalik dan berbicara lagi, "Jangan menghindar lagi dariku, aku tak sanggup." berjalan naik keatas sambil tertawa-tawa.
"Hemm, baiklah, aku tunggu." Raut wajah Arinka berubah, ia sangat bahagia mendengar ucapan Renza.
Renza bergegas naik keatas, sedang Arinka berjalan keluar rumah, ia berjalan melihat bunga-bunga di taman rumahnya, bunga yang bermekaran sempurna seperti perasaannya.
Beberapa menit kemudian, Renza sudah keluar dengan baju kaos lengan pendek dan celana jeans panjang, tidak lupa jam tangan mahal nya dan sepatu, Yah, ia memakai sepatu couple yang dibelikan Arinka, sambil memegang kunci mobil. ia sangat tampan tanpa cela. Arinka yang menatap menjadi sangat canggung saking pesonanya Renza sangat memikat.
"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Renza.
"Hmm..., tidak ada," jawab Arinka agak gugup.
"Aku memakai sepatu couple kadoku." Renza menyengir menampakkan jejer gigi putih dan rapinya.
"Aku juga ingin memakainya," ucap Arinka sambil berjalan masuk dan naik keatas mengganti sepatunya. Setelah itu ia pamit kepada Bi Ami dan bergegas keluar sambil membawa slingbag nya.
Renza sudah menunggu di teras, tak lama Arinka berjalan keluar dengan senyum merekah diwajahnya.
"Aku suka senyum ini, terus lah tersenyum," ucap Renza sambil mencolek dagu Arinka tanda menggoda, Arinka tersenyum salah tingkah dan menutup mulutnya.
Renza membukakan pintu mobil, Arinka bergegas naik. Renza belari memutar dan masuk kedalam mobil, ia segera duduk dan memasangkan sabuk pengaman Arinka, mereka sangat dekat sampai Arinka menahan napas.
Ah, lelaki ini pasti sengaja menggodaku.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, sore itu mereka berencana akan mengunjungi Bi Ami setelah sekian lama.
"Bagaimana jika kita mampir ke taman sebentar, jika mau?" tanya Renza dengan ragu-ragu, Arinka menganggukan kepalanya pelan tanda setuju, dan terlihat senyuman tipis dibibirnya.
Mereka sampai ditaman, Arinka refleks tertawa teringat saat Renza menggunakan sweater pink sambil membawakan batagor. Renza dengan cepat membuka pintu mobil dan Arinka turun, Mereka berdua tersenyum-senyum masih canggung, mereka menundukkan kepalanya melihat sepatu couple itu dan tersenyum lagi saling menatap, mereka berjalan di jalan setapak, Renza memberanikan memegang tangan Arinka dan menggenggamnya yang membuat Arinka tersentak lalu mereka tertawa bersama.
Dibawah pohon rindang, mereka saling bertatapan dan memegang tangan, terpancar sinar bahagia diwajah mereka berdua, mereka berjalan berpegangan tangan sambil memainkannya keatas kebawah, disela-sela itu Renza mencium tangan Arinka yang dipegangnya dengan kuat.
"Aku sangat mencintaimu." Ucapan itu lolos dari mulut Renza tanpa perasaan canggung lagi, tapi Arinka belum pernah sekalipun mengucapkan kata cinta pada Renza, tapi Renza tak pernah menuntut. Arinka lagi-lagi tersenyum bahagia mendengarnya.
"Ahh, suasana sore yang menenangkan." ucap Arinka.
"Heumm, dengan udara yang segar dan ditambah kamu yang ada disisiku, membuatku tambah tenang." tutur Renza menambahkan, lagi-lagi dua sejoli itu saling pandang, Renza menatap mata Arinka dengan tatapan cinta yang menggebu. Kemudian, ia mengecup kening Arinka pelan dan lembut, "Tetaplah seperti ini sampai menua."
Ya Tuhan, aku sangat bahagia. biarkan kami bahagia sampai akhir hayat kami, jangan pisahkan kami. aku ingin egois dan meminta agar kami tetap seperti ini..., Gumam Renza dalam hatinya.
"Heumm... Amiin," ucap Arinka pelan.
Mereka masih berjalan menyusuri jalan setapak, di area rerumputan itu terlihat banyak anak kecil yang sedang bermain dan berlarian, terlihat beberapa keluarga menghabiskan waktu sore mereka dengan orang kesayangan mereka. mereka berjalan menuju kursi taman yang kosong, mereka duduk dan mengamati sekitar yang menenangkan itu.
"Anak-anak kecil yang lucu, baru belajar berjalan, sangat menggemaskan," ucap Renza sambil melihat balita berlarian dengan orang tua mereka.
"Iya, sangat lucu. mereka terlihat bahagia bermain direrumputan itu," jawab Arinka.
"Aku ingin kita mempunyai balita, setidaknya kebahagian kita akan lengkap," ucap Renza yang tanpa sadar berucap sambil memperhatikan balita yang berlarian, Arinka yang mendengar tersenyum sekaligus malu.
"Apa kau ingin bayi kecil yang menggemaskan? aku ingin 3 bayi yang mengemaskan, pasti sangat cantik jika mirip denganmu," ucap Renza membuat wajah Arinka memerah.
"Haha," Arinka tertawa spontan mendengar ucapan Renza, ia ingin mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ayo kita berbulan madu?" ucap Renza.
Glek!
Arinka menelan saliva dengan payah, mendengar ucapan Renza ia tidak mengiyakan. Renza hanya tersenyum. ia tau istrinya itu sangat malu. ia sengaja memancing-mancing pertanyaan itu.
"Ayo kita pergi, hari sudah sore, lagian sepertinya akan hujan lebat," ucap Arinka mengalihkan pembicaraan, Ia telah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan. Renza dengan cepat menyusul, ia tau istrinya pasti masih malu jika ia membicarakan bulan madu dan anak.
Renza sudah melajukan mobilnya, tak butuh waktu lama mereka sudah sampai dikediaman Paman Ali. Arinka segera turun tanpa menunggu suaminya. ia sudah sangat merindukan Bibi nya itu.
"Arinka, Wah... sudah lama sekali tidak berkunjung," ucap Bi Yati sembari menyambut Arinka, "Kebetulan sekali Andre juga ada dirumah bersama istri dan anaknya."
"Benarkah? Ah kita bisa berkumpul," ucap Arinka sambil mencium tangan Bi Yati, tak lama Renza juga masuk dan mencium tangan Bi Yati, Bi Yati mempersilahkan mereka masuk kedalam.
Arinka dan Renza masuk kedalam rumah dan mendapati suasana sangat ramai,
"Arin," ucap Paman Ali, Arinka segera mencium tangan Pamannya dan Renza mengikuti.
"Ayo duduk." ucap Paman Ali.
"Kak Andre, sudah lama?" tanya Arinka.
"Sudah lumayan, lama sekali kita tidak bertemu sesudah hari pernikahan, baru sekarang sudah hampir 9 bulan."
"iya kak, uhh mana si Eca?" ucap Arinka sambil melihat-lihat keberadaannya, bukan tidak tau tapi sengaja ingin menggodanya.
"Ini dia, tante," ucap Mela istrinya Andre.
"Ahh, sini main sama tante, itu ada om." ucap Arinka.
Renza yang sedang duduk sambil menonton telivisi menoleh dengan cepat ketika mendengar ucapan Arinka.
"Uhh, gemesnya." ucap Renza.
Andre dan istri masih takjub dengan Renza, padahal pakaiannya biasa tapi pesonanya luar biasa, jelas saja walau hanya menggunakan kaos biasa tapi itu kaos bermerk. mereka semua sederhana kecuali Renza yang sangat berbeda dan mencolok dari mereka semua, wajar saja karena Renza orang kaya dan seorang CEO.
Setelah bermanja-manja dengan Eca, Arinka pergi kedapur dan membantu Bi Yati menyiapkan makan malam, dibantu juga sama Mela istrinya Andre. sedangkan Eca di jaga oleh Andre.
"Malam ini nginap saja ya disini bersama suamimu?" ucap Bi Yati.
Mana mungkin ia bisa tidur dikamar kecil, ia pasti tidak akan nyaman.
Setelah selesai memasak dan menyajikannya, mereka semua makan malam bersama dalam kesederhanaan, Arinka sangat bahagia, karena ini moment pertamanya berkumpul setelah ia punya suami. Arinka mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauk pauk, Renza tersenyum melihat istrinya yang sangat perhatian itu.
"Terima kasih Bibi dan Paman karena sudah menjodohkan aku dengan Arinka," ucap Renza disela-sela makannya.
Andre dan istrinya tersenyum saling pandang, "Uhh, romantis sekali sih suamimu itu," ucap Mela menggoda Arinka. Arinka menjadi salah tingkah, dan Renza tersenyum bahagia, ia baru pertama kali merasakan kehangatan keluarga.
"Jadi kalian akan menginap?" tanya Paman Ali.
Renza baru akan menjawab tapi dipotong langsung oleh Arinka, "Sepertinya tidak."
Setelah selesai makan, mereka kembali duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi, Eca anaknya Andre sangat dekat Renza, ia bermanja-manja kepada Renza dan tertawa ria. Para istri masih membantu membereskan pekerjaan mereka.
"Kalian kapan punya anak?" tanya Andre kepada Renza, sedang Paman Ali telah sibuk bermain dengan cucunya.
"Secepatnya," ucap Renza tertawa.
"Aku pikir kau itu orang yang sombong, tapi ternyata kay sangat ramah, maaf jika aku berbicara begitu."
"Ah, tidak apa-apa, memang aku terlihat begitu, kata pepatah tak kenal maka tak sayang."
Mereka berdua tertawa, mereka berbicara banyak hal sampai terdengar hujan turun sangat lebat.
"Duh, hujan lebat lagi, gimana ini?" ucap Arinka yang berjalan duduk di sebelah Renza.
"Jika lebat gini, kita nginap donk," ucap Renza sambil menyilang kaki kirinya keatas.
"iya, ide bagus. kalian bisa pulang besok? Bibi ganti sprei dan beres-beres dulu di kamar Arinka."
"Tidak usah Bi, biar Arin saja nanti."
"Bibi saja, kau disitu saja."
__ADS_1
"Bibi mu sangat bahagia, Rin. Bibi mu senang kalian bisa berkunjung kesini," ucap Paman Ali sambil menggendong Eca, matanya sudah sendu ingin tidur, Mela dengan sigap mengambil Eca dari pelukan Mertuanya dan berjalan menidurkannya kedalam kamar.
"Jika kalian lelah, kalian bisa istirahat sana dikamar?" ucap Andre.
"Nanti saja," ucap Renza, "Kita berbincang-bincang saja dulu."
Arinka dengan sigap membuat kopi untuk 3 lelaki yang sibuk berbincang banyak hal itu, kemudian ia kekamarnya menyusul Bi Yati.
Kamar ini sangat sempit, ranjangnya juga kecil, apa dia mau tidur dikamar seperti ini, sedangkan ia sudah terbiasa tidur diranjang super besar.
"Bagaimana hubungan kalian Rin? Bibi lihat kalian sangat menyayangi satu sama lain, terlihat jelas di mata kalian jika sedang bersitatap. Arinka yang mendengar hanya tertawa.
"Ayo ajak suamimu tidur, besok kalian harus pulang pagi-pagi, jangan biarkan ia begadang."
"Nanti jika sudah selesai, mereka pasti tidur Bi, biarkan saja ia masih mau mengobrol dengan Paman dan kak Andre."
"Ya sudah, kau tidur saja duluan," ucap Bi Yati.
Jam menunjukkan pukul 10:35, Arinka sudah hampir tertidur, ia keluar dan mendapati Renza hanya mengobrol dengan kak Andre sedangkan Paman Ali sudah tidak ada.
Andre pamit kepada Renza, ia sudah mengantuk. Renza sempat kebingungan karena tidak tau kamar Arinka, ini pertama kalinya ia menginap, lagi pula ia memang tidak pernah dekat dengan Arinka dulunya, makanya ia jarang berkunjung, hanya dua atau tiga kali saat mengantar Arinka pulang saja.
"Aku hampir saja akan tidur disini?" ucap Renza tertawa.
"Kenapa?" tanya Arinka.
"Aku mana tau kamarmu, haha." Renza tertawa sambil menutup mulutnya.
"Huh, kau ini, ayo tidur, besok kau harus kerja."
"Iya, Mimom."
Mereka berjalan masuk kekamar, dan menutup pintunya.
"Apa kau bisa tidur dikamar sekecil ini?"
"Tak masalah, yang penting ada kamu sayang."
"ffttt," Arinka menahan tawanya, ia merasa geli mendengar ucapan Renza.
"Ranjangnya sangat kecil, bagaimana ini? apa aku tidur dibawah saja."
"Jangan, kita tidur bersama saja di sini."
Mereka berdua berbaring di ranjang kecil itu, karena ranjang itu hanya untuk satu orang, jadi mereka sempit-sempitan. mereka tak banyak bergerak dan mencoba menutup mata masing-masing, Arinka mematikan lampunya, tiba-tiba Renza merubah posisinya, menghadapkan wajah kearah Arinka.
Glek! Renza menelan saliva.
"Bukankah ini romantis," ucap Renza menggoda Arinka sambil mengusap pipi Arinka.
"Jangan begini, jika banyak bergerak tidak akan nyaman di ranjang yang kecil ini." Arinka mengalihkan ucapannya.
"Bagaimana jika aku ingin sesuatu yang lain, apa kau akan memberikannya?" Renza tersenyum tipis.
"Ses-sesuatu apa?" Arinka gugup.
"Heumm..., apa ya?" ucap Renza sambil melingkarkan tangannya keperut Arinka. Arinka memejamkan matanya erat-erat.
"Aku ingin..., kau menyanyikan aku sebuah lagu." ucap Renza tertawa sambil mencolek dagu Arinka.
"Huh, ada-ada saja, tidur saja ini sudah semakin larut." Arinka menggerutu kesal.
"Ya sudah, aku hanya bercanda. aku ingin tidur memelukmu, nanti bangun tidur jangan teriak, makanya aku kabari dulu." lagi-lagi Renza tersenyum jahil.
"Hemm, iyaa aku tidak akan teriak. peluk saja! asalkan kau bisa tidur."
Terdengar suara hujan makin lebat malam itu, entah mereka bisa tidur atau tidak, yang jelas malam semakin larut dan semakin dingin.
**Bersambung...
Jangan lupa vote dan comment ya beb 😍
jika sudah selesai membaca, jangan lupa tekan Like atau jempol ya 😁
__ADS_1
Salam sayang dariku buat Readers semua, Luv u 😘**