
Setelah melalui pergulatan batin yang panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba berkencan. Seperti kebanyakan pasangan, mereka akan mencoba memulai kencan di bioskop, mereka akan menonton film.
Arinka masih berusaha menahan tawa melihat sweater pink muda yang dikenakan oleh Renza, ia berusaha kuat agar tidak terlihat tertawa dihadapan Renza, wajahnya sampai memerah. mereka naik ke dalam mobil mewah milik Renza dan melajukannya dengan kencang, sambil menyetir Renza melirik dengan ekor matanya, pakaian yang digunakan Arinka sangat lah cocok, ia terlihat berbeda dari biasanya karena memakai pakaian mahal.
Ia sangat cantik dari biasanya, aku mulai tergila-gila pada dirinya.
Menit demi menit berlalu, setelah sempat terjebak macet, akhirnya mobil Renza berhasil mencapai bioskop. Renza menghentikan mobilnya ditempat parkiran, Arinka terlihat gugup karena ini adalah moment kencan pertama bagi nya.
Tarik napas dalam, dan hembuskan. tidak apa-apa.
Sambil melepas sabuk pengaman, Arinka menatap keramaian didepan bioskop itu, Arinka sudah berniat langsung turun tanpa menghiraukan Renza, tapi Renza segera turun dan berlari membukakan pintu mobil untuk Arinka. Arinka turun dengan pelan namun Renza malah menatapnya dengan wajah yang sangat mengesalkan, Renza menuntut ucapan terima kasih dari Arinka, namun Arinka masih kurang peka.
"Terima kasih, Tuan." Arinka mengucapkan sambil menghembuskan napas panjang dari hidung, terlihat Renza sangat bahagia dan menyunggingkan senyuman.
Akan tetapi, tangan Renza tiba-tiba menyentuh tangannya, membuat Arinka diam membeku. Arinka terlalu terkejut dan bingung.
Ah aku terkejut, kenapa dia memegang tanganku? mungkin orang berkencan memang seperti ini ya? Setidaknya pertanyaan itu lah yang menyerang otak Arinka bertubi-tubi.
"Ayo turun," ucap Renza malu-malu.
Arinka menjadi salah tingkah dan bersikap canggung, wajahnya bersemu merah seperti tomat.
Mereka berjalan masuk kedalam area pembelian tiket, Arinka merilik setiap sudut dan bergidik heran, betapa ramainya muda-mudi disana, mereka berpasang-pasangan seperti Renza dan Arinka. Mereka berdiri melihat muda-mudi membeli tiket, ada beberapa remaja yang memperhatikan Renza sambil tersenyum dan memandangi ketampanannya, Yah pakaian apapun yang ia kenakan pasti sangat cocok baginya. hanya Arinka saja yang merasa aneh dengan sweater pink itu, padahal sangat Cute.
Arinka mulai sadar bahwa Renza memperhatikannya dari tadi, ia melihat dengan ekor matanya.
"Kenapa sih dari tadi melirikku, Tuan?" tanya Arinka sangat polosnya membuat Renza salah tingkah.
"Hmm... apaan, sih!" Renza berusaha menormalkan sikap dan berjalan meninggalkan Arinka untuk membeli tiket. Arinka memperhatikan sekitar dan celingak-celinguk melihat keramaian, ia masih saja tertawa melihat Renza menggunakan sweater pink itu, tiba-tiba ada seorang pria yang menyenggolnya, dengan sekejap Arinka berteriak panik, "Aarggh, tas ku!" pekiknya keras. Renza yang mendengar suara itu segera menoleh dan melemparkan kertas tiket itu dan berlari mengejar pencopet dengan kencang.
"Sial, copet! cepat bantu kejar," ucap Renza teriak memerintah, membuat beberapa orang dengan sigap membantu mengejar.
Tangan dan kakinya bergetar, Arinka sangat ketakutan karena pria itu menarik tasnya dengan kuat. kakinya bergetar hebat, beberapa orang terlihat berteriak dan iba, tapi tak lama kemudian keadaan normal kembali.
Arinka masih berdiri mematung, sambil menggigiti kuku jarinya cemas, ia mengkhawatirkan Renza karena mengejar pencopet itu,
Kenapa juga ia harus rela mengejar pencopet itu, padahal tas itu sudah lusuh juga, tas yang ia belikan tidak ada arti apa-apa dibanding tas itu.
Arinka berjalan keluar bioskop, masih sambil menggigiti kukunya, langkah kakinya gontai seperti tak bertenaga, ia sangat cemas takut Renza terluka, "Tas itu memang berharga bagiku, tapi nyawamu lebih berharga. Ya Tuhan, semoga ia baik-baik saja," ucap Arinka sambil duduk dibawah pohon dan mulai terisak.
"Hiks... hikss...," Isakannya semakin keras karena seperti dipikirannya biasanya pencopet membawa senjata tajam, ia masih celingak-celinguk menatap kesana kemari melihat keberadaan Renza, "Jika hal seperti ini akan terjadi, sebaiknya kita tidak ke bioskop tadi," ucapnya lirih.
mungkin kencan pertama ini bukan hal yang baik baginya, dan tidak berjalan sebagaimana yang mereka harapkan.
Arinka masih menatap kesana-kemari, ia duduk kemudian berdiri lagi, tangan dan kakinya masih bergetar, ia terus meneteskan air mata. ia menunduk dan terisak kembali, ia sangat cemas. tiba-tiba terdengar suara lelaki yang berteriak dan mendekat, "Hey". Arinka dengan sigap berdiri, namun lelaki itu tersenyum sumringah sambil memegang tas, napasnya masih terdengar ngos-ngosan.
"Isshhh, kau ini bodoh atau apa sih, Tuan!" ucap Arinka menangis lirih sambil memukul punggung Renza. Renza merasa bingung, dan juga ia masih belum bisa menenangkan Arinka, ia masih canggung.
"Hey, jangan menangis! kau tambah jelek jika menangis, lagian aku baik-baik saja, kok," ucap Renza terkekeh.
"Kenapa harus dikejar, tas itu tidak ada apa-apa di banding tas yang kau beli kemarin, Tuan. kenapa harus repot-repot mengejarnya?" ucap Arinka masih lirih.
Aku juga sebenarnya malas mengejarnya, bukan seperti diriku saja. harusnya ia berterima kasih, huh! dasar wanita tidak peka!
"Bukannya didalam tas itu ada foto ibumu? aku pernah melihat waktu kau mengeluarkannya, makanya aku mengejarnya dengan susah payah."
Dia tau darimana didalam tas itu ada foto ibu, apa dia pernah membongkar tas ku, ah tidak, ia tidak akan seperti itu, dia ternyata sangat baik.
"Terima kasih, Tuan," ucap Arinka menatap dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Santai saja, ayo kita menonton film," ucapnya sok cool.
Bulir kristal itu menetes tanpa disadari oleh Arinka, ia kembali menatap wajah Renza dengan tatapan sendu. Arinka melirik Renza dan berputar menghadap menatapnya, Sweater pink muda yang ia gunakan menjadi sedikit kotor dan lusuh, entah terkena apa. tubuhnya nampak berkeringat dan rambutnya sudah berantakan. dikeningnya ada goresan kecil yang tertutupi rambut.
"Keningmu berdarah, Tuan?" Ucap Arinka ingin menyentuh kening Renza dengan ujung jarinya.
"Ap-apaa, Da-darah," ucapnya putus-putus, sambil menyentuh keningnya dengan tangan.
"Ayo cepat ke rumah sakit," ucapnya panik, Dengan cepat ia menarik tangan Arinka dan bergegas menuju mobil. Arinka merasa kebingungan dengan tingkah Renza, kemudian Renza segera melajukan mobilnya dengan kencang kesebuah rumah sakit.
Bukannya tadi ia bilang tidak apa-apa, Cih! lebaynya mulai kambuh! haha.
Renza berjalan menuju UGD dengan cepat, Arinka mengikutinya dengan pelan dari belakang, ia masih kagum dengan sosok Renza yang menjadi penyelamat tasnya tadi. Arinka sudah masuk mengikuti Renza ke ruangan UDG terdengar perawat menanyakan dengan sopan.
"Tolong rawat lukaku, cepat!" nada bicaranya menjadi setingkat lebih tinggi. perawat menanyakan lukanya didaerah mana dan apakah parah, Renza menunjukan luka goresnya persis dibalik rambutnya, terlihat perawat itu mengernyitkan keningnya heran.
"Aku takut ini terinfeksi, dan sampai berbekas, cepat panggil dokter!" ucapnya lagi memberi perintah. Arinka mulai kesal melihat tingkahnya yang kekanakan, terbesit diotaknya untuk mengerjai Renza.
"Perawat, tolong panggilkan dokter, sepertinya luka itu cukup serius, ia banyak mengeluarkan darah, mungkin keningnya harus di jahit, atau operasi jika bisa," ucap Arinka terkekeh.
"Kenapa harus di jahit? ini tidak separah itu, kok?" jawab Renza pelan.
"Ini sangat serius, Tuan. kau harus segera disuntik." Arinka mengedipkan matanya kearah perawat. perawat itu terlihat bingung lalu tersenyum melihat dua orang dewasa ini seperti dua orang anak sedang main dokter-dokteran.
"Aku rasa, aku sudah membaik, tidak sakit lagi." sambil memegang keningnya dengan tangan.
"Benarkah? sepertinya luka itu serius, ini harus disuntik 3 jarum." ucap Arinka masih mengerjai.
"Ah tidak, aku sudah baik. ayo pulang."
Beraninya gadis ini mengerjaiku, lihat saja nanti.
Dasar lebay....., gumamnya.
Mereka telah masuk mobil, Arinka masih mengerucutkan bibirnya menahan tawa,
"Kita kembali ke bioskop lagi?" tanya Renza masih sedikit kesal, ia bertanya tanpa menoleh.
"Sebaiknya kita pulang saja, dirumah juga bisa menonton seperti di bioskop, lagian kaset dvd juga banyak," ucap Arinka masih senyam-senyum.
"Baiklah, kita nonton dirumah saja, maaf ya. kencan pertama tidak berjalan lancar," ucap Renza lirih.
"Tidak apa-apa, kok, Tuan. lagian dirumah kita bisa membuatnya persis seperti di bioskop, tinggal matikan lampu saja," Arinka tertawa.
"Kenapa kau tidak berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, aku mulai tidak nyaman dengan sebutan itu."
"Lalu Aku harus panggil apa? panggil nama tidak mungkin, kau jelas lebih tua dari ku." Arika terkekeh
"Kau bisa memanggilku, sayang, suami, honey, darling, bebeb, atau sweety." Renza cekikikan.
Ya ampun, tingkah lelaki ini kadang over juga.
"Semua panggilan itu tidak cocok, terlalu canggung dan terdengar menggelikan bagiku," ucap Arinka tertawa sambil menutup mulutnya.
Kemudian, keadaan mendadak hening. mereka tak saling berbicara lagi, tiba-tiba Renza berbicara memecah suasana,
"Bagaimana jika kau panggil Paksu saja."
"Paksu?" tanya Arinka heran.
__ADS_1
"iya, artinya Pak suami." Renza terkekeh, Arinka merasa malu.
"Hmm..., Baiklah akan aku coba nanti."
"Nanti suruh Bi Ami membuat popcorn, biar terasa seperti nonton bioskop sungguhan ya."
"iya, jadi Tuan akan terus memanggilku sebutan Hey,?"
"Tidak, aku sudah punya nama panggilan untukmu, sudah aku rubah di kontak ponsel ku juga."
"Apa panggilannya?" tanya Arinka penasaran.
"Mamis." tersenyum lebar.
"Mamis apa lagi sih?"
"Mama istri." Arinka merasa malu, namun Renza tertawa lepas.
"Mulai besok kau harus memanggilku Paksu, dan aku akan memanggilmu Mamis." tertawa bahagia.
Ide gila dari mana sih ini, ada-ada saja.
Arinka tidak menjawab, hanya terlihat bibirnya yang ia kerucutkan.
Sesampainya dirumah, mereka mandi dan ganti baju. Mereka akan menonton bioskop dirumah malam ini, Bi Ami sudah menyiapkan keperluannya, membeli soda dan membuat popcorn, kemudian Renza dan Arinka sudah duduk didepan tv, lampunya sudah dimatikan. Arinka duduk disofa disamping Renza dengan memeluk bantal sofa.
"Sudah persis di bioskop kan? ucap Renza, Arinka hanya mengangguk. film sudah dimulai.
"Film apa ini?" tanya Arinka pelan.
"Film horror! wakaka...," Renza tertawa keras
Satu sama kita, haha.
"Haiss, cepat ganti." Arinka mendengus kesal. ia bangkit dari tempat duduknya dan beranjak kekamar.
"Kemana?" tanya Renza.
"Ke kamar, malas aku disini." sambil berjalan akan menaiki anak tangga.
"Kau tidak takut di kamar sendirian, disana ada..." belum selesai Renza berbicara Arinka sudah menjerit ketakutan dan segera berlari menghampiri Renza. terdengar suara tawa cekikikan dari film itu sontak Arinka lekas memeluk Renza erat.
"Jika kau takut, tetaplah disisiku. aku akan berada disisimu menghadapi rasa takut bersama selamanya."
Eeaaaaaaaaa....
**Bersambung...
Maaf updatenya lama, kemarin editornya lelet jadi mesti nunggu naskah di review.
dan lagi hari ini aku sedang kesal, aku sudah nulis 2 chapter eh malah tulisanku hilang semua, bayangkan betapa capeknya aku mengetik, hampir saja jariku keriting semua 😭😭 aku berusaha menulis kembali mengingat semua dua ceritanya 😢 tapi sangat sulit.
btw, jika selesai membaca jangan lupa like ya.
jika berkenan bisa vote sebanyak-banyaknya..
salam sayang dariku buat pembaca semua 😘😘
Luv u ❤❤**
__ADS_1