
Deni membaringkan dirinya diatas kasur empuk di kamar nya. Matanya tak bisa terpejam. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk, ternyata dari Mawar.
Deni segera membalasnya dengan seulas senyum di bibirnya. Mawar mengatakan bahwa hari nya sedang buruk. Mawar ingin menelpon Deni. Deni terdiam sejenak, kemudian membalas chat itu dengan tulisan 'ya'.
Ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk, sebelum menjawab Deni menarik napas panjag, kemudian Deni menjawabnya.
"Halo."
"Halo juga."
"Kenapa? ada masalah apa?" tanya Deni.
"Tidak terlalu serius sih! Btw, apa aku mengganggu waktu mu."
"Tidak, aku juga sudah santai dan berbaring di ranjang."
"Apa kau pernah diputuskan atau memutuskan seseorang?" tanya Mawar.
"Sejauh ini aku belum pernah memutuskan dan diputuskan, tapi kalau merasa patah hati pernah."
"Berarti kau tidak pernah berada di suatu hubungan, ya?"
"Ya begitu lah." Deni tertawa.
"Wah, kau type orang yang suka memberi harapan tapi tidak jadian dong!"
"Bukan begitu, jangan salah paham dulu. Aku memang tidak berniat pacaran."
"Tidak berniat berarti hanya mempermainkan, gitu 'kan? "
"Bukan begitu juga"
Deni sangat malu mengungkapkan bahwa dia belum pernah pacaran sama sekali, tapi jika tidak mengatakannya pasti akan timbul persepsi yang bukan-bukan.
"Haha, kau playboy!" Mawar tertawa.
"Tidak, aku hanya belum pernah pacaran saja."
Deni salah tingkah mengatakan belum pernah pacaran, ia benar-benar malu sekarang.
"Bagaimana bisa? jaman sekarang semua orang berpacaran."
"Mmm ... memang benar sih, tapi aku tidak ingin menyakiti perasaan orang lain. Makanya aku memilih tidak berpacaran."
"*Aku jadi penasaran semua tentangmu?"
"Jangan penasaran! tidak ada yang istimewa di diriku."
"Ya sudah, jangan merendah begitu*."
"*Bay the way, kau bilang putus dan diputuskan? apa kau sedang berada diantara salah satu itu."
"Hmm, aku memutuskan pacarku."
"Wah, benarkah? kau kejam juga berarti, haha."
"Aku tidak kejam, dia yang kejam*."
"*Bukannya setelah memutuskan kita akan merasa baik-baik saja, terdengar dari suara napasmu sangat berat. kau tertekan atau bagaimana?"
"Ya, aku tertekan. tapi sudahlah... yang tidak pantas memang harus dibuang*."
Mereka mengobrol panjang lebar hingga larut malam, mereka saling tertawa dan bercanda.
***
Pagi hari seperti biasa, embun masih menetes membasahi tanah. Matahari tak malu-malu menampakkkan sinarnya.
Arinka sudah bangun lebih awal dari Renza. Renza masih terbungkus dalam selimut. Arinka memandangnya seraya mengusap pipinya kemudian turun.
Sebelum turun, Arinka sudah mandi terlebih dahulu. Setelah mandi ia melihat Renza sudah bangun dan duduk ditepi ranjang dengan rambut acak-acakan.
"Morning babe."
"Morning sayang."
"Ayo mandi, Mimom akan turun membantu bi Ami menyiapkan sarapan."
"Emm .... "
Arinka turun membantu bi Ami. ia menyiapkan sarapan untuk suaminya, tidak lupa ia membuatkan kopi. Renza sangat suka minum kopi di pagi hari.
Hari ini sarapannya nasi goreng, Arinka menyiapkannya di piring dan meletakkan nya diatas meja. Kemudian Arinka naik lagi ke atas. Renza sudah selesai mandi dan sudah memakai kemeja putih. Arinka memasangkan dasi untuk Renza karena itu sudah menjadi rutinitas nya.
"Hari pertama kerja lagi, setelah liburan kemarin aku sangat malas, haha." Renza tertawa.
"Jangan begitu, harus semangat!" ucap Arinka memasangkan dasi seraya mengelus pipinya.
"Baiklah bos." ucap Renza mengelus puncak kepala Arinka seraya mencium kening Arinka.
Arinka dan Renza turun kebawah saling melempar senyuman. Renza duduk di kursi makan berhadapan dengan Arinka. Mereka berdua menikmati sarapan.
Renza melirik jam tangannya. Sudah siang tapi Deni belum menunjukkan batang hidungnya.
"Deni belum datang?" tanya Renza kepada bi Ami.
"Belum, Tuan."
"Dia kenapa? tak biasanya dia kesiangan." Renza merogoh saku celananya mengambil ponsel, lalu ia menelpon Deni.
Lama Renza menelpon tapi belum ada jawaban. Renza sedikit marah. Namun, Arinka menenangkan.
"Sabar, mungkin dia lagi di jalan." ucap Arinka menenangkan.
"Tak biasanya ia tidak disiplin seperti ini?"
"Dia juga kan manusia," ucap Arinka terkekeh.
"Siapa yang bilang Deni siluman?" Renza tertawa.
"Pipom barusan."
"Paling bisa ya buat suasana menjadi happy."
"Oh y, Pip. Nanti aku akan mengikuti kelas membuat kue."
"Mmm, selamat bersenang-senang. Jika Pipom pulang awal nanti Pipom mampir."
"Oke."
Mereka melanjutkan lagi sarapannya. Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari luar. Terlihat Deni turun dari mobil. Deni bergegas berjalan menuju Renza yang sedang sarapan.
"Morning, Pak. Maaf terlambat."
"Kenapa terlambat?"
"Alarm ku tidak menyala, aku tak mendengar ibuku memanggil."
"Dasar! ayo berangkat." ucap Renza seraya bangkit dari kursi.
Arinka mengekori dari belakang. Sampai di pintu ia mencium tangan suaminya. Kemudian Renza berangkat ke kantor.
Di mobil, Renza menanyakan alasan spesifik kenapa Deni bisa terlambat, Deni hanya mengatakan alasan yang sama, alasan itu membuat Renza mendelik curiga.
"Apa kau punya pacar?"
"Tidak, Pak."
"Tapi kau terlihat seperti orang yang punya pacar saja."
"Tidak, Pak."
"Yayaya, terserah."
Renza berdecak sebal melihat Deni yang memasang wajah datar. Deni melihat Renza dari spion tersenyum tipis kemudian acuh.
Sesampainya dikantor, Renza mulai melakukan aktivitas seperti biasa, memeriksa berkas yang sudah numpuk untuk di tanda tangani.
"Deni, nanti kamu jemput Arinka, dia akan ikut kelasa membuat kue hari ini? pak Ahmad suruh kesini menjemputku."
__ADS_1
"Baik, Pak."
"Kamu tunggu saja di sana, jangan kemana-mana nanti."
"Iya, Pak."
Setelah jam makan siang, Deni pergi mengurus beberapa hal penting tentang pekerjaan. Tiba-tiba datang seorang wanita yang tidak lain adalah Sinta. Sinta bersikeras ingin bertemu dengan Renza.
Setelah Renza selesai makan siang, Renza kembali ke ruangan kerjanya. Sisil mengatakan bahwwbada seseorang yang menunggunya. Renza berjalan ingin masuk ke dalam ruang kerjanya, tangannya itu sudah memegang handle pintu.
"Renza!"
Seseorang memanggilnya, Renza melirik mencari asal suara itu, kemudian ia menghela napas kasar.
"Ada apa lagi?"
"Aku ingin berbicara penting padamu?"
"Apa? apa yang mau kau bicarakan?"
Renza mempersilahkan Sinta duduk, walau bagaimana pun dia adalah tamu. Renza harus bersikap realistis dan sopan.
"Ada apa? Aku sudah bilang, aku tidak mau menemuimu lagi?"
"Aku ingin membicarakan sewa gedung usaha orang tua ku, aku janji tidak akan mengganggu atau mengusik kehidupan kalian, aku hanya ingin kedua orang tua ku tidak menderita. Tentang kesalahanku dulu, aku minta maaf."
"Masa lalu itu sudah tak berarti apa-apa lagi. Aku akan mengurusnya dengan Deni dulu, Nanti jika deal akan Deni infokan."
"Terima kasih, Ren. Kau memang benar-..."
Ucapan Sinta terhenti karena Renza langsung memotongnya, "Jangan memujiku, pulang saja sana!"
"Iya, aku akan pulang. Terima kasih."
Sinta keluar dari ruangan kantor itu, Renza benar-benar kesal melihatnya. Tapi ia berusaha tegas sebaik mungkin.
Ku harap kau tidak akan mengganggu kehidupanku lagi. Aku sudah muak berurusan denganmu.
Selesai mengurus pekerjaan, Deni menjemput Arinka dirumahnya. Arinka sudah menunggu di rumahnya seraya memakan cemilan di ruang keluarga.
Deni terus memberi kabar kepada Mawar. Makin hari mereka makin dekat dan saling cocok satu sama lain, semua obrolan terasa nyambung bagi Deni.
Deni dan Mawar tidak akan bertemu dalam waktu dekat ini, mereka ingin hubungannya mengalir seperti air.
Deni sudah sampai di rumah besar Renza. ia masuk dan memberi salam kepada bi Ami. bola mata Renza memutar mencari sosok Arinka.
"Ny. Arika, apa anda sudah bersiap?"
"Sudah, jam berapa kelas di mulai?"
"Jam 3 katanya, jangan buru-buru santai saja Nyonya."
"Renza bagaimana nanti?"
"Aku sudah menyuruh pak Ahmad. Beliau yang akan menjemputnya."
"Baiklah, apa kau mau minum kopi dulu?"
"Boleh, dengan senang hati."
Arinka memanggil bi Ami dan menyuruhnya membuatkan kopi. Arinka masih memasukan cemilan buahnya satu persatu kedalam mulutnya.
Deni memainkan ponselnya, ia tersenyum memandang ponselnya itu. Arinka mengernyitkan dahinya melihat tingkah Deni.
"Apa kau sudah punya pacar, Den?"
"Tidak, kenapa?"
"Biasanya orang yang sedang kasmaran atau pacaran yang sering tersenyum memandang ponselnya."
"Tidak, ini hanya teman."
Seketika obrolan itu mendadak lenyap. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Bi Ami membawakan secangkir kopi kepada Deni. Deni dengan senang hati segera menyeruputnya.
Beberapa saat kemudian, Arinka sudah bersiap untuk berangkat. Deni sudah selesai minum kopi.
"Kau sudah mendaftar?"
Lagi pula Renza sudah berpesan kalau Deni tidak boleh meninggalkan Arinka.
Mereka berangkat naik mobil dengan kecepatan lumayan deras. 20 menit kemudian mereka sudah sampai di gedung kursus memasak. Arinka mengikuti Deni dari belakang. Deni menyuruh Arinka masuk kedalam ruangan.
Tiba-tiba seseorang yang familir muncul lagi di depan matanya. Sontak raut wajahnya mendadak pias.
Risa lagi, Risa lagi... selalu saja kebetulan.
Tak biasanya, Risa menghindar dan tidak menyapa. Risa menganggap seolah-olah Deni tak terlihat di depan matanya.
Setelah Arinka keluar, Arinka tersentak. ia tak menyangka bahwa Risa akan berada disana.
"Risa!"
"Kak Arin!"
Arinka menatap Deni. Deni terlihat acuh dan tidak menggubris keberadaan Risa.
"Kak Arin, kenapa disini?"
"Aku mendaftar kelas membuat kue, kamu?"
"Aku juga peserta kelas disini."
Deni celingukan seperti mencari keberadaan seseorang. Yah, Deni mencari keberadaan Mawar. Mawar mengatakan bahwa ia juga ikut kelas itu.
Mungkin beda hari, gumam Deni.
"Tumben kalian tidak bertengkar?" ucap Arinka.
"Buat apa? buang-buang tenaga saja. Lebih baik melakukan hal yang berguna," ucap Risa.
"Benar, buat apa aku membuang energi untuk berbicara hal yang tidak penting ini," ucap Deni.
Baru saja aku mengatakannya, mereka sudah bertengkar saja... gumam Arinka.
"Ya, karena kau tidak penting!"
"Kau pikir kau penting? Tidak tahu terima kasih!"
"Huh! Dasar lelaki pengungkit! aku sudah berterima kasih semalam."
"Terima kasih itu yang tulus!"
"Aku sudah tulus, kau saja yang tidak tulus. Dasar pengungkit!"
"Kalian ini bicara apa sih?"
"Tidak ada," ucap Deni dan Risa serentak.
"Astaga, ini bahkan sudah kedua kalinya kalian berkata serentak, jangan-jangan!"
"Apa?" tanya Deni.
"Tidak ada," ucap Arinka terkekeh.
"Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam."
Arinka dan Risa Masuk kedalam kelas itu, disana sudah banyak wanita yang hadir untuk belajar membuat kue seperti biasanya.
Deni berjalan keluar gedung itu. Deni duduk dibawah pohon. ia merasa kesal karena harus bertemu Risa terus-menerus.
Apa jangan-jangan kami jodoh? Ah, mana mungkin, ini pasti gila. Jika kami berjodoh bagaimana? gumam Deni seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bisa saja 'kan? Pak Renza juga begitu dulunya kepada Ny. Arinka? sering kasar dan membentak. Sekarang malah menjadi bucin sejati. Risa itu bukannya jelek, dia cantik dan mungil? hanya saja dia menyebalkan.
Apa..... aku menyebutnya cantik dan mungil, pasti ada yang salah dengan diriku.
Cukup lama Deni menunggu disana. Kelas itu akan rampung selama dua jam. Deni pergi membeli minuman, ia hampir bosan Menunggu Arinka disana. Tak jauh dari gedung itu, ada kedai yang menjual minuman.
Tanpa sengaja Deni bertemu Milka. Milka kebetulan sedang membeli minuman di sana. Minuman itu sangat hits dikalangan pecinta boba. Deni tak tahu sama sekali tentang makanan dan minuman yang sedang trend.
__ADS_1
"Denista! kenapa kamu disini?"
"Aku sedang bekerja," ucap Deni.
"Kebetulan sekali 'kan? bukannya kau bilang kerja di perusahaan Fariq company?"
"Mmm, benar."
"Terus? Kenapa kau disini?"
"Kau ini penasaran sekali sih! aku sedang menunggu istri atasanku mengikuti kelas membuat kue."
"Maaf," ucap Milka terkekeh.
"Tidak apa."
Setelah mendapat minuman itu, Deni kembali berjalan dan duduk di bawah pohon. Milka mengikuti Deni dan duduk disampingnya.
"Kau kenapa mengikutiku?" tanya Deni.
"Kau terlihat sendirian, biar aku temani seraya mengobrol. Lagi pula kita jarang sekali ketemu? Apa boleh?"
"Ya terserah kau saja."
Wanita ini pesonanya masih saja seperti dulu, ia masih bisa membuat jantungku berpacu deras.
"Sudah berapa lama kau bekerja disana?"
"Maksudmu? di perusahaan Fariq company?"
"Mmm..."
"Sudah sangat lama, selesai kuliah aku langsung bekerja disini."
"Dulu waktu di sma, aku pernah menyukai mu?" ungkap Milka.
Deg... Deg...
Jantung Deni berpacu, ia seperti mendapat doorprize mendengar ucapan Milka.
"Tapi... kau selalu menjadi idola disekolah, kau sangat pintar, jadi nihil bagiku untuk mendekatimu." ucap Milka terkekeh.
Tapi, aku yang menganggap dia sombong selama disekolah, karena dia sangat cantik. Banyak lelaki yang mengejarnya. Apalah daya ku yang bukan orang kaya.
"Benar'kah?" ucap Deni.
"Hmm... aku mengatakannya sekarang karena aku ingin kau tahu saja."
Apa maksudnya mengatakan ini? mengungkapkan perasaan tiba-tiba? jangan termakan.
"Terima kasih karena sudah memujiku yang tidak seberapa ini." ucap Deni sarkas.
"Tidak, aku tulus kok." ucap Milka.
Aku mulai luluh, kenapa wanita ini tiba-tiba berkata begini sih?
Disela-sela perbincangan mereka, datang sebuah mobil hitam mengkilap. Kemudian orang itu turun dari mobil dengan sepatu mengkilapnya.
"Pak Renza!" panggil Deni.
"Dia siapa? Wah, tampan sekali? seperti lelaki idamanku saja."
Hampir saja aku luluh, ternyata dia masih seperti ini. suka lelaki yang kaya.
"Apa kelas istriku sudah selesai?" tanya Renza.
"Belum, Pak."
Renza melirik wanita di dekat Deni, dia mengernyitkan keningnya, alis matanya memberi kode kepada Deni.
"Dia teman sekolahku," ucap Deni.
"Halo, aku Milka." seraya tersenyum manis.
Renza membalasnya dengan senyuman tipis. Namun, tidak memperkenalkan diri.
"Beliau ini Pak Renza, pemilik Fariq company."
"Wah, suatu kehormatan bisa bertemu dengan pemilik perusahaan besar."
Wanita ini benar-benar ganjen.
Renza berjalan menghampiri Deni, seraya duduk di bangku di sampingnya. Kemudian Renza duduk dengan menyilangkan kaki kanannya keatas.
Benar-benar sangat berkharisma... gumam Milka.
Tak lama kemudian, kelas itu telah usai. Terlihat di kejauhan Arinka berjalan bersama Risa. Renza masih duduk seraya tersenyum manis memandang kearah istrinya itu.
Arinka dan Risa menghampiri Deni. Arinka tersenyum manis melihat suaminya ada disana.
"Pipom disini? sudah pulang kerja?"
Wah, panggilannya pipom. istrinya cantik sih, tapi kok terlihat kampungan? dan siapa wanita di sampingnya yang modis ini? apa ini pacarnya Deni. gumam Milka dalam hati.
"Sudah, Pipom sengaja ingin melihat hari pertama Mimom masuk kelas ini? tanganmu tidak apa-apa?" ucap Renza seraya memegang tangan Arinka dan mengelusnya.
Sementara, Risa menatap heran wanita di sebelah Deni. Risa menerka-nerka apakah wanita itu pacar Deni. Mereka saling berprasangka.
Bucin sudah bereaksi... gumam Deni.
"Kamu, ikut kelas disini juga?" tanya Renza.
"Iya, Pak Renza." jawab Risa.
"Bagus, jadi istriku mempunyai teman."
Arinka melirik Renza seraya menaikan alisnya, ia memberi kode kepada Renza. Renza hanya tertawa tidak peka.
"Oh ya Ny. Arin, ini teman sekolah sma ku Milka!"
"Halo, saya Milka." Seraya menjulurkan tanganya.
"Aku Arinka, ini Risa." ucap Arinka mengenalkan Risa, Risa menjulurkan tangannya seraya bersalaman kepada Milka.
"Jadi, Ny. Arinka akan pulang bersama Pak Renza?"
"Jelas, aku datang menjemputnya. Kenapa harus pulang denganmu?"
Please, Pak. jangan mempermalukanku didepan wanita-wanita ini.
"Baiklah."
"Bagaimana kalau kita makan di restauran dulu? sambil berbincang-bincang?" ucap Renza.
"Boleh," ucap Milka langsung menyambar ucapan Renza.
"Aku tidak bisa ikut, aku harus pulang." ucap Risa.
"Ayo dong ikut," ucap Arinka memelas.
"Kau tidak boleh tidak ikut, istriku sudah memberikan wajah imut begitu, aku marah!"
"Ya sudah, aku ikut."
Wah, benar-benar lelaki idaman banget, sudah tampan, kaya pula, aku ingin lelaki seperti ini satu, kenapa juga istrinya harus wanita seperti ini, batin Milka.
Deni melirik Risa dengan wajah datar, sedang Milka bersikap lega berarti wanita itu bukan pacarnya. Renza membukakan pintu mobil untuk istrinya. sedangkan pak Ahmad membuka pintu mobil untuk Risa.
Deni masuk mobil sendiri, sedangkan Milka juga mengemudi sendiri. Untuk pertama kalinya Renza ingin makan dengan orang yang baru ia kenal, itu suatu prestasi batin Deni.
***Bersambung...
Hay pembaca tersayang, aku lihat like nya menurun akhir-akhir ini, aku sedih 😭😭
Jika selesai membaca harap tekan like ya 💋
Aku sangat mengharapkan like yang banyak dari kalian biar aku tambah semangat.
Dan jangan lupa vote juga, cara vote ada di cover depan. Jika kalian membaca menggunakan aplikasi noveltoon terlihat di bawah cover ada tulisan vote, kalau kalian membaca dari mangatoon kalian bisa tekan beri tip.
__ADS_1
Komentar kalian aku tunggu, dan maaf jika tidak bisa aku balas satu persatu. Aku membaca semuanya kok 😊😊
Salam sayang dariku untuk readers semua, luv u all 💋❤😘***