Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 45 : First night


__ADS_3

Aku ingin tidur, tapi kenapa mata ini sangat sulit untuk terpejam.


Renza memeluk Arinka semakin erat, Arinka tak menolaknya. tiba-tiba saja Renza bangun dan duduk ditepi ranjang. ia tidak bisa tidur sama sekali. Renza duduk memainkan ponselnya sekejap, kemudian ia meletakkannya lagi diatas nakas.


Malam yang panjang, Suara hujan yang semakin deras membuat udara semakin dingin, Renza masih terjaga, matanya sudah ia pejamkan namun nihil, ia masih tetap tidak bisa tidur. Suara hujan yang deras sangat berisik, pasalnya rumah Bi Yati tidak seperti rumahnya yang kedap akan suara, bahkan hujan lebat pun nyaris tak terdengar, sedangkan di rumah Bi Yati suara hujan terdengar sangat jelas di telinganya.


“Mom, kau sudah sudah tidur?” sambil mencolek tangan Arinka.


Mungkin ia tidur, bahkan dalam keadaan sangat dekat seperti ini ia bisa tidur, dasar tukang tidur!


Arinka tak bergeming, padahal Arinka juga tidak bisa tidur, karena ranjang yang begitu sempit, bahkan bergerak pun sangat payah.


Renza bangkit dari ranjang itu dan duduk di tepi ranjang, ia melihat ponselnya lagi yang diletakkan diatas nakas, waktu menunjukkan pukul 23:45.


Apa yang akan aku lakukan? Aku tidak bisa tidur, apa karena aku tidak terbiasa ya?


Renza memperhatikan Arinka dalam gelap, ia tersenyum dengan manis, tangannya menyentuh rambutnya dan mengusapnya dengan lembut. Arinka salah tingkah, tapi dengan kuat Ia memejamkan matanya.


“Aku tahu kau tidak tidur,” ucap Renza pelan.


Arinka tetap memejamkan matanya, ia berbalik membelakangi Renza. Renza kemudian menepuk punggung Arinka sontak Arinka menjawab, “Heum.”


“Haha, aku tau kau tidak bisa tidur juga kan? Suara hujan yang deras ini sangat berisik dan sangat dingin.”


“Kau ingin selimut tambahan?” tanya Arinka sambil beranjak bangkit dari ranjang dan membuka lemari mengambil selimut.


“Tidak perlu.”


Arinka sudah mengambil selimut dan meletakkannya di dekat Renza, Arinka duduk di tepi ranjang sejajar dengan Renza, hanya Arinka disisi kanan dan Renza disisi kiri. Renza memegang tangan Arinka dengan lembut, sontak Arinka terkejut dan menarik tangannya.


“Apa kau masih takut dekat denganku seperti ini?”


“Ti - tidak,”ucap Arinka sambil menggelengkan kepalanya, Renza beralih melintasi ranjang dan duduk dekat dengan Arinka lalu Renza memegang tangan Arinka lagi. Suasana itu agak canggung, lampu kamar itu remang-remang menjadi sangat romantis.


“Jika aku sedekat ini apa kau takut?” ucap Renza hanya berjarak sekitar 30cm dari wajah Arinka. Arinka hanya menggelengkan kepalanya.


“Jika aku sedekat ini, apa kau takut? Ini sangat dekat.” Renza mendekat hanya berjarak 5cm dari wajah Arinka, namun Arinka menahan napasnya dan menggelengkan kepala pelan. Renza memajukan kepalanya dan kemudian mencium bibir ranum Arinka, “Cup”


Renza melepaskan ciuman itu dan melihat wajah Arinka sangat dekat, kemudian ia kembali melumat bibir Arinka dengan lembut, tangan kirinya memegang Wajah Arinka sambil mengusap wajah dan telinganya, sedang tangan kanannya memeluk tubuh Arinka.


Renza melepaskan ciuman itu dan tersenyum tipis, “Astaga kau bahkan tidak bernapas, kau bisa mati nantinya jika tidak bernapas,” ucap Renza tertawa kecil.


“Huuuhhh...” Arinka menarik napas dan membuangnya, wajahnya memerah karena malu. Sedangkan Renza masih tetap memandangi wajah istrinya itu, hujan masih sangat lebat malam itu dan udara semakin dingin.


Renza memeluk Arinka lagi dengan erat, dan tanpa aba-aba ia mulai melumat bibir Arinka kembali, kali ini Renza sudah membaringkan Arinka diranjang. Tangannya sudah mulai menelusuri tubuh Arinka, Arinka hanya terdiam. Kemudian Renza berbisik dengan pelan ditelinga Arinka,


“Apa kau sudah siap jika aku ingin mengambil hak ku malam ini, Aku mencintaimu, biarkan aku melakukannya malam ini,” ucap Renza seraya melumat bibir Arinka lagi untuk kesekian kalinya sambil satu persatu membuka Kancing baju istrinya itu, tangannya dengan lembut menyusuri lekuk tubuh Arinka.


Aku sangat gugup, tapi sudah kewajibanku melayaninya, hari ini atau besok pasti hal ini akan terjadi.


Renza akan memulai penyatuan tubuh mereka, bibirnya mulai menelusuri telinga, leher dan bahu Arinka, sentuhan-sentuhan lembut mengalirkan perasaan cinta yang tulus, tak lupa Renza membuat tanda kepemilikan di area dada Arinka dan Arinka memejamkan matanya, sambil menggigit bibir bawahnya, debaran jantung yang tak bisa ia tahan lagi, bagaikan bertabuh layaknya genderang perang. Perasaan cinta dan nafsu yang menggebu dengan sebuah aura rasa yang kuat.


Renza terus menelusuri seluruh tubuh kekasih hatinya itu dengan kecupan mesra, kedua insan yang sedang jatuh cinta ini kini akan memulai perjalanan baru rumah tangga mereka, dimana sang istri dengan ikhlas memberikan semua miliknya kepada sang suami.


Suara napas menderu senada dengan degupan jantung mereka, disela-sela sentuhan itu Renza berbisik, “Ini akan sedikit sakit sayang,” ucap Renza pelan.


Dengan lembut Renza mulai melakukan tugas pertamanya, dan itu juga untuk pertama kalinya Arinka merasakan sebuah kesakitan, kesakitan yang bercampur dengan rasa bahagia. Ini yang pertama bagi Arinka, air matanya mulai menetes disela-sela penyatuan mereka, namun Arinka ikhlas memberikannya tanpa perlawanan sedikitpun.


Kecupan demi kecupan Renza berikan, tangannya tanpa sengaja menyentuh wajah Arinka yang basah karena air matanya, Renza tau Arinka pasti menangis karena ini yang pertama baginya, ia terus melakukannya dengan lembut sambil sesekali mencium bibir ranum sang istri dengan mesra.

__ADS_1


Mereka bersatu tanpa penghalang, perlahan Arinka mulai menikmati pergerakan Renza dan mulai memberikan sentuhan lembut di tubuh Renza dengan tangannya.


Mereka berdua telah terhanyut dan terbuai indahnya kenikmatan dunia sampai terasa terbang ke awan, terdengar suara rintihan dan desahan kecil disela-sela suara hujan yang deras itu.


Butuh waktu beberapa jam, hingga akhirnya seprei dikamar itu sangat berantakan, Mereka berdua terkulai Lemas tak berdaya, Renza menitipkan benih cintanya didalam rahim Arinka. Mereka berdua terbaring diatas ranjang, Renza berbalik menatap sang istri seraya berkata, “Terima kasih, karena telah menjaga milikmu hingga sampai semuanya aku ambil malam ini.”


Ucapan itu membuat bulir air mengalir di pipi Arinka, dengan lembut Renza menghapus air matanya dan mengecup kening Arinka, tangannya mengusap lembut rambut lurus kekasihnya itu.


“Aku sangat bahagia malam ini, apa kau juga bahagia?” ucap Renza seraya menatap kemolekan tubuh sang istri, ia lalu memeluk tubuh istrinya itu, tidak ada kata malu dan canggung saat itu, karena mereka berdua sangat bahagia.


“Heumm...,” ucap Arinka seraya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Renza kembali mengecup kening Arinka dengan pelan dan lembut, tak ada yang lebih bahagia dari malam ini. setelah pekerjaan melelahkan itu, mereka tertidur dengan nyenyak karena kelelahan. suara hujan masih mengiringi malam mereka, Renza tak lagi menghiraukan suara keras hujan di atap rumah itu, ia tertidur sangat nyenyak. mereka berdua tidur dengan selimut yang membalut tubuh mereka.


Pagi harinya, hujan sudah berhenti tapi cuaca sangat mendung, tanah basah dan tetesan air jatuh dari pohon-pohon. matahari seperti enggan menampakkan sinarnya. seperti kedua insan dikamar itu yang masih terbuai mimpi, padahal Arinka tidak pernah bangun siang, ia selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, mungkin ia sangat kelelahan, karena mereka baru bisa tidur jam 3 subuh.


Bi Yati ingin membangunkan mereka, tapi beliasu urungkan karena mungkin Renza selalu bangun siang, beda rumah pasti beda kebiasaan pikirnya.


Dreett... Dreett...


Suara getar ponsel Renza diatas nakas, ponsel itu sudah bergetar 4 kali, namun tidak ada jawaban.


Deni sudah sampai di rumahnya, Bi Ami berkata bahwa mereka menginap di rumah Bibi Arinka. lagi-lagi Deni menelpon karena sudah waktunya berangkat kerja, tapi mereka belum juga pulang.


"Ada apa? tidak biasanya Pak Renza tak menjawab panggilan," ucap Deni berbicara sendiri.


Deni duduk di teras depan rumah, tangannya masih mengotak-atik ponselnya, Bi Ami membawakan secangkir kopi untuk Deni, seraya menunggu ia menyeruput kopi panas itu.


Arinka terbangun dari tidurnya, ia melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul setengah 9, ia sangat panik karena suaminya harus bekerja. ia segera bangun dari ranjang itu, alangkah terkejutnya karena ia belum mengenakan pakaian apapun, karena Arinka bergerak dan bergumam, Renza membuka matanya. ia melihat Arinka sedang memakai pakaiannya membelakangi Renza. Renza tersenyum dan berkata, "Selamat pagi, Mimom."


Arinka terkejut mendengar suara itu, ia dengan cepat mengancingkan bajunya kemudian tersenyum kepada Renza.


"Selamat Pagi juga, tapi kita kesiangan, ayo bangun," ucap Arinka seraya duduk ditepi ranjang.


"Dasar Deni bawel!" ucap Renza sambil meletakkan ponsel di telingannya, ia melakukan panggilan kepada Deni, tak lama kemudian terdengar jawaban dari Deni, bukannya Renza yang marah, malah Deni yang memarahinya.


"Pak Renza jangan lupa, hari ini ada jadwal pertemuan dengan klien dari Singapura jam 2, aku akan menjemput Pak Renza nanti jam 2, tidak apa jika Pak Renza tak masuk pagi ini," ucap Deni menyebutkan jadwal Atasannya itu.


"Aku memang tidak akan masuk pagi ini, haha. kau urus saja kantor, dan jangan mengajari ku, aku atasan disini, Bisa-bisanya kau mengaturku, Dasar Bawel!!!"


"Jika aku tidak mengurusmu, siapa lagi yang akan mengurusmu, Pak?"


"Istriku ada," ucap Renza tertawa.


"Huh! urusan kantor mana bisa istrimu menghandle nya, itu pasti jadi urusanku."


"Jika kau sudah tahu, kenapa bertanya. sudah, pergi kekantor sana!" seraya mematikan ponselnya.


Renza bangkit dari ranjang itu, ia akan kekamar mandi untuk membersihkan diri. ia bangkit dengan cepat, tanpa menarik selimut.


"Aahhhhh," teriak Arinka spontan seraya menutup mulut nya cepat.


"Uppss, aku lupa menarik selimutnya, hehe. ternyata masih dalam keadaan telanjang," Renza terkekeh.


"Issh, Dasar!" ucap Arinka salah tingkah.


"Lagian semalam kita sudah saling melihat," ucap Renza seraya berjalan menarik selimut, matanya tertuju ke seprei, ia melihat ada bercak darah disana. Arinka tak menyadarinya.


Renza mendekatkan diri kepada istrinya itu, lalu mengecup keningnya lembut.

__ADS_1


"Terima kasih atas pelayanan semalam," ucap Renza sembari tersenyum dan mengelus pipi Arinka, lagi-lagi Arinka salah tingkah, wajahnya memerah seperti tomat, ia tersipu malu dengan perlakuan Renza.


"Hemm," ucap Arinka tersenyum kaku.


"Cepat mandi, aku juga akan mandi, kita harus pulang."


"Kenapa kita tidak mandi bersama saja," ucap Renza tersenyum jahil.


"Tidak usah," jawab Arinka.


Tanpa aba-aba Renza mengangkat Arinka kekamar mandi, selimut yang melekat ditubuhnya tertinggal tak ia hiraukan. Arinka menutup matanya tak berani melihat. Mereka melakukan kegiatan mandi bersama lumayan lama, entah mereka hanya mandi atau melanjutkan pekerjaan lain, hanya mereka berdua yang tahu.


Tok... Tok...


Suara ketokan pintu terdengar dari luar, Arinka bergegas keluar dari kamar mandi memakai handuk, sedang Renza masih senyum-senyum menatap istrinya itu.


"Rin, Ren," panggil Bi Yati.


"Ya, Bi. Arinka baru selesai mandi, Renza masih mandi," ucap Arinka dari dalam kamar, ia sangat gugup.


"Oh, baiklah. maaf Bibi mengganggu ya."


"Tidak apa-apa Bi."


Arinka mencari pakaian dilemari nya, pakaiannya masih banyak di rumah itu, karena waktu pindah ia tak membawa banyak. ia memakai kemeja dan rok panjang. Ia mengambil pakaian Renza yang berserakan dilantai, ia segera mengemasinya. ia menyisir rambutnya tapi tak memakai riasan, hanya ada lisptik di kamar itu, peralatan bedak dan lainnya tidak ia bawa.


Setelah selesai berpakaian dan bersisir, ia duduk dikursi. ia masih tersipu malu mengingat kejadian semalam, ia telah sempurna menjadi seorang istri, ia melirik ranjang yang mereka gunakan semalam, sontak ia terkejut karena ada bekas noda darah, ia segera menarik seprei itu.


Krek...


Renza keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang terlilit didaerah bawah saja, terlihat dada bidangnya dengan roti sobek yang menggoda, Arinka segera menundukkan pandangannya, tangannya masih memegang seprei itu. kemudian ia berbalik membuka laci untuk mengambil plastik.


"Untuk apa seprei itu?" ucap Renza tersenyum lebar.


"Akan aku bawa pulang, aku ingin mencucinya dirumah." ucap Arinka gugup, ia berbicara tanpa menatap Renza.


"Kenapa kau menunduk? apa kau masih takut melihatku seperti ini?"


"Ti-tidak," ucap Arinka masih gugup sambil meremas jarinya.


"Haha, kau ini masih saja canggung. tubuh ini milik mu, dan tubuhmu milikku," ucap Renza menegaskan seraya berjalan mendekat kearah Arinka. kemudian tanpa aba-aba Renza memeluk Arinka dan tangannya memegang dagu Arinka, Arinka tidak berani menatapnya, karena ini sangat dekat.


"Tatap aku, apakah aku masih terlihat menakutkan?" tangan Renza masih memegang dagu Arinka, pelan-pelan Arinka mulai menatap mata Renza.


"Tidak, hanya saja ini aneh bagiku. aku belum terbiasa."


"Aneh? terbiasa? aku akan membuatnya biasa kalau begitu."


Cup!


Renza mengecup bibir Arinka dengan lembut, Arinka memejamkan matanya. Renza mesih menatap wajah Arinka, Matanya masih terpejam. Renza tersenyum dan mencium kembali bibir itu.


"Kau sangat manis? apa sebaiknya kita lakukan lagi pekerjaan semalam?" ucap Renza menyerigai licik.


**Bersambung....


Hay... Hay Readers setiaku, Apakah ini part yang kalian tunggu? siapa yang nunggu part ini? ayo angkat jempol😅💋


maaf baru update sekarang ya, jangan marah! kemarin Author lagi proses revisi. author akan usahakan update setiap hari, jadi tolong berikan vote dan comment yang banyak ya! 😂

__ADS_1


Jangan lupa jika selesai membaca tekan like, aku sangat berterima kasih kepada kalian, semakin banyak like, semakin aku semangat buat update.


Salam sayang buat kalian semua, Luv u 😘😘😘**


__ADS_2