
Mereka telah sampai sebuah restauran yang tidak jauh dari gedung tempat Arinka mengikuti kursus membuat kue.
Pak Ahmad membukakan pintu untuk Renza, Arinka dan Risa. Mereka bertiga berjalan masuk kedalam restaurant itu. Sedangkan Deni dan Milka baru saja sampai.
Milka memanggil Deni agar bisa masuk bersamaan, Milka bertanya tentang Renza dan membuat Deni heran.
"Aku suka lelaki seperti Pak Renza, tampan, berwibawa juga?"
"Hmm... Pak Renza memang begitu, Beliau juga penyayang. Kau ingin mendekatinya, mustahil. Beliau tidak akan tergoda. Karena hatinya itu sampai mati hanya untuk istrinya."
"Wah, aku jadi tambah salut."
"Terdengar dari ucapanmu, kau seperti menyukai atasanku ya?"
"Siapa yang tidak suka, lelaki idaman seperti itu. Wanita itu butuh lelaki yang perngertian dan penyayang."
"Tapi dia suami orang!"
"Ya, apa kau pikir aku murahan seperti itu ingin merebut suami orang, lagian orang yang idamkan juga belum tentu melirik ke arah ku. Aku hanya salut." Milka terkekeh.
"Bagus kalau begitu."
Mereka berlima sudah duduk di meja berhadap-hadapan. Risa merasa sangat tidak nyaman diantara mereka berempat. Milka melayangkan beberapa pertanyaan untuk Renza dan Arinka. Wanita itu sangat penasaran dengan kisah cinta Arinka dan Renza. Pasalnya, Arinka itu biasa saja penampilannya, sedangkan Renza sangat amazing.
"Bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Milka.
"Kamu tidak akan menyangka, kami bertemu karena perjodohan." jawab Arinka.
"Benarkah?" celetuk Risa.
"Wah, luar biasa ya. Tapi kalian bisa sangat mencintai seperti ini, aku sangat takjub." ucap Milka.
"Hmm... panjang lebarnya jangan di ceritakan." Arinka terkekeh.
"Yang jelas, aku mencintai istriku. Tidak ada ruang kosong lagi dihatiku yang tersisa, semuanya hanya miliknya." tutur Renza.
"Uh, so sweet." Milka takjub.
"Kau sudah selesai mengintrogasinya?" tanya Deni melirik Milka.
"Kenapa? aku hanya penasaran."
"Pak Renza itu bukan orang sembarang yang bisa seenaknya kau tanyai." tutur Deni dengan ekspresi wajah datar.
Makanan sudah tersedia diatas meja, Renza memotongkan steak untuk Arinka. Risa yang menatapnya tersenyum manis seraya berkata, "Kak Arin, kakak sangat beruntung."
"Beruntung kenapa?"
"Ya karena ada seseorang yang selalu menyayangi."
"Kau pasti akan mendapatkannya kelak." ucap Arinka.
Deni melirik kearah Risa, seketika Risa memasang wajah masam, sedangkan Deni terlihat sinis. Milka yang sadar dengan lirikan tajam Risa dan Deni memperhatikan heran.
"By the way, kalian tumben tidak bertengkar hari ini?" ucap Renza menatap Risa dan Deni.
"Aku bosan bertengkar dengannya." ucap Deni.
"Ya, benar. tidak berfaedah." ucap Risa.
Arinka hanya tersenyum seraya memasukkan daging kedalam mulutnya satu-persatu.
"Ini gebetanmu itu ya? yang membuatmu selalu tersenyum menatap layar ponsel itu?" ucap Renza mengejek.
"Bukan, dia memang hanya teman Sma." jawab Deni.
"Hmm.. saat Sma aku pernah menyukainya, tapi tidak aku ungkapkan, barusan tadi aku ungkapkan kepada Deni."
Wanita seperti apa yang tidak jual mahal, aku akui dia sangat cantik, tapi bicaranya terlalu blak-blakan. Si arogan bertemu cewek blak-blakan, sangat cocok, haha. guman Risa.
"Itu hanya masa lalu." ucap Deni.
"Apa dia cinta monyet mu sem -- ... " ucap Renza terputus gara-gara Deni langsung memotongnya.
"Lanjutkan saja makannya, Pak. jangan kebanyakan bicara nanti tidak kenyang."
Apa-apan, kalau di bongkar mati lah aku..
Mendadak suasana pembicaraan mereka hening. Yang ada hanya suara musik dari dalam restauran itu. Setelah mereka selesai makan, mereka akan pulang.
"Terima kasih atas makanannya." ucap Risa.
"Hmm, jangan sungkan. Kita kan sudah seperti keluarga."
"Aku pulang duluan ya."
Risa berjalan kedepan pintu untuk menunggu sebuah taksi, Arinka berjalan mendekatinya. Arinka ingin mengajaknya pulang. Tapi Risa tidak ingin merepotkan.
Setelah taksi itu datang, Risa segera naik. Deni terlihat lega karen kejadian hari itu, ia sedikit takut melihat wanita berjalan sedirian.
"Kau kenapa memandanginya begitu?" tanya Milka.
"Memandangi siapa?"
"Wanita itu? apa jangan-jangan kau menyukainya?"
"Tidak. Kau ini sok tahu."
"Ya sudah, bagus juga kau tidak menyukai nya biar aku mendapat kesempatan."
"Kesempatan apa?"
"Terlalu polos!"
Renza dan Arinka sudah naik di dalam mobil nya. Deni segera pulang ke rumahnya, begitu pula Milka.
Di perjalanan pulang, Arinka tidak banyak bicara. Renza terus menggenggam tangannya seraya mengecup pipinya.
"Apa kau sudah kenyang, sayang?" tanya Renza.
"Mmm, kenapa?"
"Kau sudah lama tidak membeli batagor kesukaanmu itu?"
__ADS_1
"Iya, sudah lama. Tapi sekarang aku benar-benar kenyang."
"Bagus lah, nanti kapan-kapan kita pergi membelinya, ya? naik motor?"
"Oke."
Mereka sudah sampai di rumahnya. Pak Ahmad dengan segera membukakan pintu. Terlihat di kejauhan Dina datang. Sekarang tugasnya membawa dan mengantar. pakaian ke Loundry.
"Nyonya, sudah datang? aku dengar nyonya menguikuti kelas membuat kue? apakah menyenangkan?"
"Menyenangkan sekali."
"Kalau begitu selamat beristirahat."
"Baiklah."
Renza duduk di ruang keluarga seraya menyalakan televisi, sedangkan Arinka sudah naik keatas, ia ingin mandi sesudah melakukan aktivitas nya.
Beberapa saat setelah mandi, Arinka turun dan duduk di sofa bersama Renza.
"Wangi sekali sih istriku ini?"
"Kan sudah mandi, makanya sudah wangi. Pipom tidak mandi?"
"Nanti saja. Pipom mau istirahat sebentar. "
"Apakah pekerjaan sangat banyak di kantor?"
"Hmm, banyak sekali."
"Sini mendekat, pipom butuh transferan energi dari mimom."
Arinka merapatkan diri dengan tubuh Renza, seketika Renza langsung memeluknya, cukup erat. Renza membelai rambut panjang Arinka dan mengecup puncak kepala Arinka dengan lembut berkali-kali.
Arinka mencium aroma maskulin dari tubuh Renza. Entah kenapa walaupun belum mandi lelaki itu selalu saja wangi. Mungkin karena parfum mahal yang ia gunakan, jadi bau tubuhnya selalu saja wangi.
Mereka saling memberikan kasih sayang satu sama lain. Renza benar-benar sangat mencintai wanita itu. Setiap hari karena rasa bersalah nya dulu, ia ingin membahagiakannya walaupun dengan cara yang tidak biasa.
"Mimom, apa kau tahu? pipom sangat mencintai Mimom?"
"Mmm..."
"Yang di katskan Deni tentang bucin itu benar adanya, Apa mimom terganggu."
"Tidak, Mimom tak pernah terganggu. Malahan Mimom sangat suka, di cintai seseorang dengan penuh kasih sayang. lagi pula Pipom kan suaminya mimom."
"Terima kasih, sayang."
"Mmm... sama-sama."
Setelah bermanja-manja begitu, Renza pergi keatas ke kamarnya, ia akan mandi. Arinka masih duduk dan menonton televisi. Bi Ami datang membawakan cemilan untuk Arinka.
"Terima kasih, Bi."
"Apa Tuan dan Nyonya sudah makan?"
"Sudah bi, kebetulan kami makan di luar. Jadi kalian makan saja, ya!"
"Baiklah, Nyonya. Bibi permisi dulu."
Setelah mengambil novel itu, Arinka masuk ke kamar nya. ia duduk di menyandar di atas ranjangnya, kakinya selunjuran di atas tempat tidur itu.
Arinka mulai membaca novel itu, ia meneteskan air mata saat membaca part awal. Renza keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. ia memakai handuk diatas kepalanya, kemudian ia duduk menggunakan hair dryer.
Renza berjalan mendekati ranjang itu, Arinka fokus membaca, terlihat air mata nya membasahi pipi mungilnya.
"Mimom, kenapa menangis?" ucap Renza seraya naik diatas ranjang.
"Wah, novel ini benar-benar mengharukan."
"Benarkah? sampai menangis begitu? pipom jadi penasaran."
Renza berbaring di atas paha Arinka yang selunjuran tadi. Ia sedikit jahil. Renza mengelus pipi Arinka dan menyeka bekas air matanya.
"Pipom, aku merasa novel ini seperti jalan hidupku."
Renza terdiam, kemudian mengambil novel yang di baca Arinka itu. Renza melihat sinopsis novel itu di bagian belakang.
"Aku tidak pernah menyangka akan sebahagia ini, padahal dulu nya aku pernah berpikir untuk mengakhiri hubungan kita. Setiap hari aku bagaikan berjalan di atas duri. Selalu salah di matamu."
Renza bangkit dan memeluk Arinka dengan erat. "Maafkan aku yang bodoh ini, aku juga sangat menyesal jika mengingat semua kejadian di masa lalu itu. Kau tahu mimom? sewaktu mimom memberi nasihat kepada Risa tentang lelaki yang berselingkuh, pipom sangat terpukul."
"Tapi waktu itu mimom tidak bermaksud menyinggung pipom."
"Memang benar, tapi jika orang yang pernah melakukan kesalahan, apapun yang di ucapkan orang lain menyangkut hal yang pernah ia perbuat, walaupun tidak bermaksud menyinggung tetap akan merasa."
"Maafkan, Mimom."
"Jangan pernah minta maaf, karena karena semua itu bukan salah mimom. Untung saja pipom mempunyai wanita yang pengertian dan lapang dada. Pipom benar-benar sangat beruntung."
"Tidak pernah terbayangkan bahwa Mimom akan hidup bergelimang harta, mempunyai suami seorang CEO dan hidup di rumah mewah seperti ini."
"Kekayaan ini tidak berarti apa-apa tanpa kau disisi ku."
"Mimom akan berusaha tidak mengingat kejadian masa lalu itu, mimom akan membuang nya jauh-jauh. mari pikirkan masa depan yang bahagia saja."
"Hmm, pikirkan masa depan untuk anak-anak kita nanti, dan sekarang aku akan membuat satu lagi malam ini."
"Issshh, modus!"
Renza mulai menciumi bibir Arinka. Tangannya mulai merayap kesana kemari. Sekejap suasana telah hening, Renza mengambil remote, ia mematikan lampu. yang tertinggal hanya lampu remang saja. Novel yang di bacanya entah sudah berada dimana akibat pergulatan mereka malam itu.
***
Matahari pagi telah bersinar dengan terangnya. Dua sejoli itu kompak membuka matanya bersamaan. Renza tersenyum seraya memeluk tubuh polos Arinka.
"Selamat pagi, sayangku."
"Selamat pagi, sayangku."
Arinka mengusap kedua matanya, kemudian tanpa disadari ia perutnya terasa mual, "Uwek... uwek!"
"Mimom kenapa?"
__ADS_1
Tanpa menjawab, Arinka bergegas berlari masuk ke kamar mandi dengan tubuh polos. Renza memakai pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi melihat istrinya itu sedang muntah-muntah Renza sangat panik, ia membantu memijit leher Arinka dan memakaikan kimono ke tubuhnya. Terlihat wajah Arinka memerah karena terus-terus muntah.
"Ayo kita ke rumah sakit."
"Tidak apa-apa sudah baikan."
"Tidak, kita harus ke rumah sakit hari ini."
Arinka dan Renza bergegas mandi. Setelah memakai pakaian Mereka berdua turun ke bawah menuju meja makan.
Arinka sontak mual kembali setelah mencium aroma makanan di atas meja. Renza menghentikan makannya dan segera memanggil pak Ahmad menyiapkan mobil.
"Nyonya kenapa? apa jangan-jangan Nyonya sedang hamil?"
"Benarkah?" ucap Renza.
"Iya, biasanya orang hamil sering muntah di pagi hari."
"Semoga saja benar, tapi lihat saja istriku begitu lemas. Kasian sekali."
Pak Ahmad sudah menunggu di depan. Renza langsung menggendong Arinka dan membawanya ke dalam mobil. Setelah masuk kedalam mobil, Arinka terus-terusan merasa mual.
"Kasian sekali kamu sayang!"
Arinka tak bersuara, mendadak tubuhnya sangat lemas. Renza menyandarkan kepala Arinka ke dadanya. Di dalam perjalanan Renza terus menerus mengusap pipi Arinka.
Sampai di rumah sakit, Renza masih menggendong Arinka dan masuk ke ruang igd. Arinka benar-benar sangat lemas dan tak bertenaga.
"Cepat priksa istriku?" ucap Renza setengah berteriak kepada perawat disana.
Perawat itu memeriksa detak jantung Arinka, dan menyuruh Arinka memeriksa urine nya. setelah pemeriksaan keluar, perawat itu memanggil dokter kandungan dan kemudian tersenyum kearah Renza.
"Kenapa kau tersenyum, kau pikir ini lelucon!"
"Tenang, Pak."
"Bagaimana saya bisa tenang?"
Tak lama datang dokter kandungan menjelaskan beberapa hal.
"Dari hasil pemeriksaan, istri anda positif hamil."
"Benarkah?"
"Iya, Pak."
Renza dengan cepat memeluk Arinka dan mengecup keningnya berkali-kali.
"Terima kasih sayang," ucap Renza seraya meneteskan air mata.
"Kenapa dia muntah-muntah terus?"
"Ya tanda-tanda kehamilan setiap orang berbeda. Contohnya : Tanda-tanda hamil yang paling sering muncul
Telat haid...
Perubahan payudara dan ******....
Keluar bercak darah dari ******....
Kram perut....
Cepat lemas dan lelah....
Mual dan muntah....
Sensitif pada bau.
"Jadi istri saya mual dan muntah itu wajar ya?"
"Mual saat hamil biasanya dialami saat usia kandungan memasuki masa hamil trimester pertama. Umumnya wanita mengalami rasa mual karena peningkatan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) yang menandakan bahwa plasenta berkembang di dalam tubuh. Ini suatu hal yang umum dialami dan biasaya baru mereda pada usia kehamilan 16-20 minggu.
"Tapi tidak seterusnya kan dok?"
"Tidak."
"Ini adalah tips menjaga kehamilan sehat :
Jaga asupan nutrisi, jalani pola makan yang sehat dan seimbang. Jangan sampai kekurangan maupun berlebihan, supaya kehamilanmu berjalan sehat, dan Si Kecil dalam kandungan juga bisa berkembang dengan baik.
Jaga kebersihan asupan makanan dan minuman. Pastikan makanan dalam keadaan yang bersih, dan diolah dengan baik hingga benar-benar matang.
Berolahraga secara teratur. Kamu bisa melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki, renang, maupun senam hamil.
Lakukan latihan dasar panggul, dengan mengencangkan otot-otot panggul, atau senam Kegel.
Hindari asap rokok, dan minuman beralkohol.
Batasi konsumsi kafein, baik dari kopi, teh, maupun Terlalu banyak kafein dapat mengganggu kehamilanmu. Konsumsi kafein, dibatasi tidak lebih dari 200 mg per hari, atau setara dengan 2 cangkir kopi.
Konsumsi suplemen sesuai anjuran dokter.
Cukupi istirahat, jangan sampai dirimu kelelahan.
Periksakan kehamilanmu secara berkala ke dokter kandungan atau bidan."
"Baiklah dokter, saya mengerti."
"Perbanyak juga minum air putih, buah-buahan dan minum susu hamil dan vitamin."
"Terima kasih dok."
Setelah berbincang-bincang, Dokter itu memberikan susu hamil dan vitamin. Kemudian mereka pulang. Arinka benar-benar di manjakan saat itu. Naik ke mobil ia di gendong oleh Renza.
Di perjalanan, Renza terus mengusap perut Arinka.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia," ucap Renza seraya mencium kening Arinka.
Bersambung...
Hay Reader, Jangan lupa tekan like ya. dan jika belum RATE novel ini, silahkan rate bintang 5.
Jangan lupa juga vote dan kasih komentar kalian.
__ADS_1
Salam sayang dari ku buat pembaca semua 💋
luv u all 😘😘