Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 105 : Salah paham


__ADS_3

Deni dan Risa sudah sampai disebuah cafe. Deni membukakan pintu mobil. Raut sumringah terpancar dari wajah Risa. Senyumnya mengembang saat Deni mengulurkan tangannya ingin menggandeng lengannya.


"Ayo masuk," ucap Deni sambil menggandeng tangan Risa.


"Hmm, Dinoku benar-benar sweet. Sudah tidak canggung lagi, kah?"


"Eh, iya, tidak," ucap Deni membingungkan dan tersenyum malu.


"Uwuuu, malu nih ceritanya," goda Risa menatap Deni. Deni menoleh dan mata mereka berdua saling beradu.


"Dilihat dari manapun Alien benar-benar cantik," ucap Deni.


"Wah, benarkah? Terima kasih sudah dipuji. Ahh ... aku benar-benar sangat suka dipuji oleh Dino."


"Sama-sama," sahut Deni dengan senyum paling manisnya.


Deni dan Risa masuk kedalam cafe dengan bergandengan tangan. Mereka mencari tempat duduk yang pas dan nyaman untuk mengobrol.


Tak lama setelah mereka duduk, datang pelayan membawakan daftar menu. Deni dan Risa memesan menu yang berbeda dan minuman yang berbeda. Soal makanan baik Risa maupun Deni tidak pilih-pilih.


"Masih ada lagi yang mau kamu pesan, Alienku?" tanya Deni.


"Tidak, sudah cukup, Dinosaurusku," sahut Risa tersenyum manja. Mata pelayan itu sontak melirik kearah Risa. Terlihat keningnya berkerut karena heran dengan panggilan mereka berdua. Deni menatap mata pelayan dengan tatapan killernya itu. Sekejap pelayan itu menundukkan pandangan dan pergi membawa daftar pesanan mereka.


"Kamu bisa makan siang sendiri? Dimana pak Renza?"


"Pak Renza mengajak Ny. Arinka makan siang diluar juga."


"Hmm, kenapa kita tidak makan siang bersama?" tanya Risa.


"Aku mau makan berdua sama kamu, lagipula mereka bilang akan pergi kesuatu tempat, sih."


"Hmm, kapan-kapan ayo makan bersama mereka?"


"Baiklah, nanti di usahakan."


"Bay the way, tadi Mama bilang bahwa Papa mau bertemu kamu?"


"Benarkah? kapan?"


"Belum tahu, sih. Kamu benar-benar serius kah? Aku tahu, Papa pasti mau menanyakan tentang hubungan kita."


"Yah, aku serius. Dari awal aku sudah serius kepadamu. Perasaan ini tidak ingin sekedar pacaran." Deni nyengir memperlihatkan barisan gigi putih dan rapinya.


"Entah kenapa aku sangat bahagia mendengar ucapan ini. Aku juga tiba-tiba saja ingin serius. Tak ingin lagi gonta-ganti pacar."


"Kamu punya berapa mantan pacar?" tanya Deni menatap lekat.


"Hmm, berapa, ya?" ucap Risa tertawa.


"Ish, yang punya banyak mantan, aku cemburu." Deni mengerucutkan bibirnya.


"Ya ampun, kamu bisa bersikap menggemaskan seperti ini. Padahal melihat senyummu saja biasanya sangat sulit. Janga perlihatkan tingkah menggemaskan ini kepada siapapun, ya, Dinoku."


"Pastinya, esspecially for you."


"Uwuuww ... terima kasih. Aku tak menyangka. Lelaki yang dingin dan menyebalkan ini bisa tersenyum manis didepanku dan meluluhkan hatiku."


"Kenapa aku merasa kena gombalin, ya?" sahut Deni tertawa.


"Eh, iya, yah.. Kenapa aku jadi agresif gini, ya?"


"Aku malah sangat senang. Aku kaku, sih. Belum terlalu bisa bikin kata-kata gombal."


"Tidak apa-apa, kok. Oh ya, Dino sudah pernah pacaran, kah?"


"Aku tidak pernah pacaran seperti ini. Hidupku selama ini monoton hanya pergi berkerja. Yah, sebelum kita jadian, Milka pernah memintaku menjadi pacarnya, tapi tidak ada kecocokan, makanya aku berhenti."


"Hmm, apa jangan-jangan Milka menyukai Dino?"


"Sepertinya begitu. Aku mau jujur, mau dengar kah?"


"Mau. Bilang saja."


"Sebenarnya Milka itu cinta pertamaku. Aku pernah menyukainya saat masalah sekolah. Dia sangat cantik, tapi saat itu dia sangat populer. Makanya aku tidak berani mengatakannya. Aku memilih menyimpannya rapat-rapat. Tapi belum lama ini, dia bilang dia menyukaiku. Rasanya perasaan yang aku pendam ini terbalaskan. Aku sempat dilema, tapi saat di mengatakan perasaannya itu aku sudah menyukai orang lain. Milka mengajak mulai pacaran, jika tidak cocok kita bisa berhenti tanpa dipaksakan.

__ADS_1


"Ooh," sahut Risa singkat. Mendadak wajahnya berubah. terlihat bahwa ia benar-benar tidak senang dengan kejujuran Deni.


"Ya, aku terlanjur suka sama seseorang."


"Begitukah? Kau terlalu banyak menyukai seseorang," ucap Risa ketus.


"Tidak, aku hanya menyukai seseorang waktu itu. Aku juga penasaran kenapa seseorang itu tiba-tiba mulai mengisi hatiku yang kosong."


"Haha, iyakah?" jawab Risa kaku.


"Hmm, begitulah," jelas Deni tersenyum. Sedangkan Risa tiba-tiba menatap layar ponselnya dan diam tak bersuara.


Beberapa saat menunggu, makanan yang mereka pesan sudah tersedia diatas meja.


"Selamat makan," ucap Deni. Namun, Risa memasang wajah datar tanpa tersenyum sedikitpun. Deni mengerutkan keningnya. Ia sadar ada sesuatu yang tidak beres dengan pacarnya itu.


"Ada apa?" tanya Deni menatap Risa lekat. Risa hanya menaikkan bibirnya sebelah. "Ada yang salah?" kata Deni. Risa hanya menggelengkan kepalanya dan terus memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Deni berpikir keras apa yang telah ia lakukan sehingga membuat wanita didepannya mendadak berubah suasana. Deni benar-benar berpikir keras dan menemukan jawabannya.


"Kamu marah sama Dino?" tanya Deni pelan. Risa terus mengunyah makanan dan memandang keluar jendela. Terlihat rintik hujan diluar kaca membasahi tanah.


Deni bangkit dari kursinya dan keluar meninggalkan Risa tanpa berpamitan. Risa ternganga melihat Deni keluar dari cafe itu berjalan di rintik hujan dan memasuki mobil.


Risa bangkit dari kursi hendak mengejar Deni. Risa terkejut bukan kepalang. Kakinya mendadak gemetar dan tak bisa bergerak, ia lalu terduduk kembali di kursi.


"Salahku? Ini salahku? Kenapa aku harus mendiamkannya? Bukannya dia hanya bercerita? Kenapa aku harus cemburu?" ucap Risa bermonolog sendiri. Matanya berkaca-kaca menatap Deni yang pergi meninggalkannya dengan mobil.


Risa terdiam. Matanya menatap searah kursi yang sudah kosong didepannya, lalu air matanya menetes. "Deni setega itu padaku," ucapnya. Dengan cepat tangannya mengipas daerah wajahnya biar terlihat kepedasan.


"Aku begini karena aku cemburu kepadamu, kenapa kau tidak peka malah meninggalkanku. Apa kau tidak serius kepaku. Aku mencintaimu. Ish ... kenapa sesakit ini, sih? Aku ingin menangis sekencang-kencangnya."


Risa merogoh ponselnya yang sudah ia masukan kedalam tas. Kemudian, ia mengusap kayar ponsel itu dann menelpon Deni. Dua kali ia menelpon tapi tak ada jawaban. Air matanya semakin mengalir membasahi kedua pipinya. Dengan sigap ia mengusapnya jangan sampai jadi bahan gunjingan orang. Untung saja cafe itu tidak terlalu ramai pengunjung. Jadi Risa bisa membuang airmata kesalnya sedikit.


"Ya sudah, jika kau ingin begini. Teruskan saja! Bilangnya mau serius, begini saja sudah membuatku ilfeel setengah mati. Kenapa ia seperti ini, berpikir baik dulu. Mungkin saja urusan kantor. Aku tidak mendengarkan karena sibuk ngambek. Ah benar positif dulu. Ya sudah aku harus bayar makanan dulu."


Risa berdiri dari kursinya dan berjalan menuju meja kasir. Ia berdiri tegak didepan meja kasir dengan percaya diri. Beberapa orang karyawan yang melihatnya memuji gaya pakaiannya. Tak hanya cantik, Risa juga jago memadu padankan outfitnya.


Matanya sendu, wajahnya murung tapi ia berusaha untuk tersenyum dihadapan orang lain. Setelah membayar, Risa duduk lagi dan termenung menatap kursi kosong yang ditempati Deni.


Sementara itu, Deni memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seketika mobil itu berhenti didepan toko bunga. Entah ada angin apa, otaknya terpikir membeli bunga untuk membujuk pacarnya itu yang cemburuan. Tapi, ia tidak memikirkan konsekwensinya, bisa saja Risa benar-benar marah karena ditinggal seperti itu.


Setelah membeli bunga, ia mampir lagi di toko coklat. Deni membeli coklat bentuk hati dan bunga mawar warna merah. Senyumnya merekah saat melihat dua benda yang diinginkannya sudah ia beli. Dengan cepat ia kembali memacu mobilnya kearah cafe tersebut.


Deni turun dan mengambil ponsel yang ia letakkan didalam mobil. Segera ia bergegas berlari sambil membawa bunga dan coklat. Ia masuk kedalam cafe itu dan terkejut, Risa sudah tidak ada disana. Kursi yang mereka tempati sudah kosong. Tangannya langsung merogoh ponselnya dan terlihat tiga panggilan tak terjawab dari Risa.


Deni berjalan menuju kasir dan bertanya tentang pembayaran makanan. Deni tersentak karena makanan itu sudah dibayar oleh Risa. Segera ia menggeser layarnya menelepon Risa. Namun, tak ada jawaban dari Risa.


"Astaga, niatku untuk membujuknya malah membuatnya semakin marah. Kenapa aku tidak terpikirkan tentang ini. Aku pergi tanpa pamit. Ia pasti syok. Pasti sekarang ia sedang sedih. Betapa bodohnya aku," ucap Deni bermonolog sendiri sambil menghentakkan kakinya.


Deni bergegas masuk kedalam mobil untuk mencari Risa. Matanya liar melihat tepi jalan. Kalau-kalau Risa sedang berjalan. "Tapi mana mungkin, hari sedang hujan rintik. Ia pasti sudah naik mobil. Deni kau memang bodoh urusan cinta seperti ini," ucapnya dengan raut wajah cemas.


Risa turun dari taksi dan berjalan menuju toko buku. Ia benar-benar galau. Pikirannya berkecamuk. Jika pulang, Mira akan bertanya mengapa tidak pulang bersama. Hanya satu yang ada dipikirannya yaitu pergi ke toko buku. Biar bisa menjadi alasan juga, jika ia pulang sendiri nanti pikirnya.


Setelah melihat banyak buku romantis, Risa mencoba membaca blurbnya. Saat masih fokus membaca blurb sambil berdiri, tiba-tiba ada seorang lelaki yang berdeham disampingnya. Risa menoleh dan acuh. Namun, lelaki itu mencoba mengajaknya berbicara.


"Hai, suka baca novel juga?" tanya lelaki tinggi dengan hidung mancung itu.


"Hmm, seperti yang kau lihat," sahut Risa acuh.


"Apa kau tertarik membeli novel yang kau pegang itu?"


"Aku masih baca-baca, sih."


"Itu recommended, ceritanya akan mengaduk emosi pembaca."


"Benarkah? Kau sudah membacanya?" tanya Risa. Lelaki itu hanya tersenyum. "Bukankah ini baru terbit?" Risa mengernyitkan keningnya.


"Hmm, itu baru rilis."


"Terus, kenapa kau tahu ini bagus?" tanya Risa lagi.


"Jika kau penasaran, kau bisa membeli dan membacanya."


"Yah, baiklah," ucap Risa berjalan menjauhi lelaki itu.

__ADS_1


Risa masih terus memilih-milih novel. Tak lama, ada suara berisik, Risa melirik dan melihat ada tiga orang wanita mengerumuni lelaki itu. Risa terus memperhatikan sambil memegang sebuah novel.


"Apa lelaki itu artis? Tampan, sih. Hmm ... masih tampan Dinoku," ucap Risa sedih.


Tiga buku sudah cukup. Risa berjalan membawa buku itu kekasir untuk membayarnya. Tiba-tiba lelaki itu mendekatinya lagi.


"Novel ini aku kasih gratis untukmu. Kau bayar dua novel ini saja." Lelaki itu langsung membayar novel yang di sarankannya tadi.


"Kamu siapa?" tanya Risa.


"Dia Adrian, penulis novel yang ia gratiskan kepadamu itu. Kau sering membaca novel, harusnya tahu?" ucap kasir itu.


"Saya membaca novel hanya karyanya saja. Tidak terlalu tertarik dengan siapa yang menulisnya," sahut Risa ketus.


"Wah, kau benar-benar berbeda, biasanya para wanita mulai penasaran jika novel yang mereka baca itu ngena dihatinya. Mereka akan kepo."


"Maaf, aku tidak," ucap Risa memotong pembicaraan.


"Kalau boleh tahu siapa namamu?"


"Karena sudah dikasih gratis, aku akan berterima kasih dan memperkenalkan diri. Aku Risa. Sudah 'kan? Aku permisi duluan."


Lelaki itu tersenyum, sedang Risa acuh dan menenteng paperbag berisi tiga novel itu keluar. Karena masih hujan rintik, ia berhenti melangkahkan kaki. Risa melihat ponselnya mendapat enam panggilan tak terjawab dari Deni.


"Dinoku menelepon? Apa dia menyesal meninggalkanku sendiri disana?" Risa mulai berkaca-kaca. Ia terus menatap ponselnya dan melihat ada 8 pesan dari whatsapp yang belum terbaca. Yah, Deni spam chat kepada Risa. Risa sedikit tersenyum tapi hatinya masih sedih.


Risa masih berdiri menunggu taksi, tiba-tiba lelaki penulis itu memberinya payung kecil ditangannya. Risa menoleh dan terbelalak.


"Kamu jangan hujan-hujanan nanti sakit. Mungkin ini yang Namanya cinta pada pandangan pertama. Ingat namaku Adrian," ucap lelaki itu seraya masuk kedalam mobilnya.


"Ada apa dengan lelaki itu, benar-benar aneh," ucap Risa. Ia menatap payung polos berwarna hijau ditangannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Risa merogohnya dan itu panggilan dari Deni.


"Jawab apa tidak? Tapi aku sedang marah. Ah jawab saja."


"Halo," ucap Deni.


"Hmm," sahut Risa.


"Kamu dimana?"


"Kau peduli padaku?"


"Jelas saja, maafkan aku."


"Maaf, segampang itukah?"


"Iya, aku benar-benar minta maaf, aku salah. Kau dimana? Aku kau sudah pulang?"


"Kenapa kau harus peduli aku dimana? Kau meninggalkanku?"


"Aku akan menjelaskannya, aku tidak bermaksud meninggalkanmu? Ini salahku, aku memang bodoh."


"Aku tersakiti seperti ini, kau benar-benar tega meninggalkanku seperti itu. Aku bertanya-bertanya apa salahku sangat besar."


"Maafkan aku, ayo kita bertemu Alienku."


"Tidak, sementara aku tidak ingin bertemu. Aku masih harus berpikir dulu."


"Aku benar-benar minta maaf, aku menyesal."


"Nanti saja, aku benar-benar masih belum bisa berpikir jernih. Sudah dulu, aku mau pulang."


Telepon itu berakhir secara sepihak. Deni melongo menatap layar ponsel yanh sudah gelap. Tanpa sadar ia berteriak dan memukul setir mobilnya. "Aku bersalah, aku telah menyakitinya. Maafkan aku alienku."


Dan begitulah, Deni dan Risa mengalami konflik percintaan pasang surutnya.


***Bersambung...


Jangan lupa tekan likenya ya, komentarnya juga 😁


Jaga kesehatan ya Readersku..


Bantu vote jika berkenan 😁


Aku sayang kalian semua 😘😘***

__ADS_1


__ADS_2