Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 75 : Jalan-jalan


__ADS_3

Beberapa hari di masa keterpurukan itu. Arinka banyak merenung. Renza selalu menghiburnya dan menemaninya. Berkat Renza, Arinka benar-benar kuat dan secepatnya bisa melupakan kesedihannya. Kabar keguguran Arinka itu di ketahui oleh Risa. Dina memberi tahunya agar Risa bisa menghibur Arinka dari masa kesedihannya. 2 hari berturut, Risa selalu datang hanya sekedar untuk menghibur Arinka.


"Kak Arin, yang sabar, ya? Aku yakin berkat do'a dari kami pasti kak Arin akan segera mendapatkan bayi lagi."


"Iya. Terima kasih karena sudah mencemaskan kakak."


"Jangan bersedih lagi, ya?"


"Iya, Risa." ucap Arinka tersenyum.


Mereka banyak berbincang, tertawa bersama walaupun Arinka masih merasakan kesedihan. Sedikit demi sedikit terobati karena mereka saling bercerita.


Renza juga memberi tahu Nenek dan Bi Yati. Mereka ikut sedih. Tapi Nenek dan keluarga Arinka mendoakan agar Arinka secepatnya bisa mempunyai bayi lagi.


Setelah beberapa hari dalam masa kesedihan. Akhirnya, Arinka benar-benar bisa beraktivitas seperti semula. Weekend ini mereka akan pergi jalan-jalan. Renza berencana akan mengajak Arinka jalan-jalan ke pantai. Arinka sangat senang jika melihat laut.


Arinka sudah berkemas-kemas. ia menggunakan dress bunga yang panjangnya selutut. Sedangkan Renza memakai celana pendek dan kaos oblong. Mereka membawa bekal makanan dari rumah seadanya. Rencananya mereka akan piknik di tepi pantai. Tikar dan barang-barang lain sudah di masukkan kedalam bagasi mobil.


Deni sudah datang dengan setelan celana pendek dan baju kaos biasa. Arinka terlihat tersenyum menatap penampilan Deni. Setiap hari, Arinka hanya melihat Deni menggunakan setelan jas saja. Oleh karena itu, saat Deni menggunakan pakaian lain terlihat sangat aneh bagi Arinka.


"Nyonya, kenapa melihatku begitu?"


"Tidak, hanya saja terlihat sedikih aneh." Arinka terkekeh.


"Risa mana? belum datang?" tanya Renza.


"Belum, mungkin sebentar lagi," jawab Arinka.


"Risa ikut juga?"


"Iya, aku mengajaknya."


"Astaga, padahal aku ingin menghindarinya," gumam Deni pelan.


Tak lama kemudian, Risa datang membawa tas selempang dan menggunakan dress pantai. Risa juga memakai topi dan membawa kacamata.


"Kak Arin!"


"Iya. Wah, Risa sudah sampai?"


"Iya, maaf terlambat."


"Tidak. belum terlambat kok."


"Dina mana?"


"Dina masih mengemasi barang-barang lainnya."


Risa masuk ke dalam rumah mencari Dina. Tetapi Dina mengatakan bahwa ia tidak akan pergi. Risa dengan susah payah membujuknya agar Dina bisa ikut bersama mereka ke pantai.


Setelah semuanya beres. Mereka masuk ke dalam mobil. Deni yang mengemudi. Renza di samping Deni dan para wanita duduk di belakang. Deni menyetel lagu yang membuat suasana menjadi lebih seru.


Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi. Renza selalu menoleh melihat keadaan Arinka. Tapi, Arinka sangat berbahagia disana karena Risa dan Dina. Entah Arinka tertawa bahagia atau tidak. Yang jelas sudut bibirnya mengembang melihat Risa dan Din selalu bercanda.


Risa dan Dina bercerita tentang artis idola mereka. Arinka tertawa mendengar Dina yang bercita-cita menikahi artis idolanya.


"Kau masih saja belum berubah ya, Din? masih saja suka kpop dan tergila-gila," ucap Deni tertawa.


"Tidak apa-apa. Cukup melihat mereka saja aku sudah sangat bahagia, iya 'kan, Ris?"


"Iya, benar, Din. Kau serius tak ingin menikah jika tidak bersama idola mu?" tanya Risa.


"Ya enggak la, jika aku bertemu pangeran tampan aku akan segera menikah," jawab Dina.


"Pangeranmu yang seperti apa? Biar aku carikan? apa kau suka anak konglomerat?" tanya Renza tersenyum.


"Ishh, Pak Renza. bukan begitu juga? tapi jika Pak Renza ingin mencarikan orang kaya aku tidak menolak." Dina terkekeh.


"Huh! Mana ada orang kaya yang mau sama dia," ucap Deni.


"Hiss, Deni! jangan begitu. Siapa yang tahu kedepannya, seperti aku yang menikah dengan pemilik perusahaan kaya dan pewaris, tidak ada yang tahu 'kan?" kata Arinka tertawa.


"Orang itu memang hobby nya meremehkan orang lain," ungkap Risa mencebikkan bibirnya.


"Iya, Deni memang begitu. Benar kata istriku. Siapa yang akan tahu dengan takdir? contohnya aku yang tidak pernah mencintai Arinka, tiba-tiba di jodohkan dan tidak saling mencintai, tapi tanpa kami tahu ternyata aku cinta pertamanya. Jodoh itu rahasia Tuhan. Dan sekarang kami benar-benar sangat mencintai."


"Maaf, Pak. Aku hanya mengatakan kepada Dina saja. Mana mungkin sih jodohnya seorang idol 'kan?"


"Bisa saja," jawab Arinka tertawa.


"Dan kau juga sering bertengkar dengan Risa, bisa saja kalian berjodoh." Renza tersenyum dan mengedipkan matanya kepada Deni.


"Ishh, mana mungkin." jawab Deni kesal.


"Jika aku berhak memilih, aku juga tidak ingin berjodoh dengan Deni. Tapi jika sudah takdir mau bagaimana lagi? Apa kau bisa mengelakkan jodoh?" ucap Risa.


"Eh, ciyee ... " ucap Dina mengejek.


"Lihat saja 'kan? belum apa-apa sudah saling menatap sinis. Lihat saja wajah Deni itu benar-benar menyebalkan." Arinka tertawa.


"Nyonya, anda ini sudah seperti Pak Renza saja, sudah jago mengolok orang lain."


"Jelas lah, dia istriku. wajar jika sifat kami mirip." Renza menenggakkan kepalanya, menyombongkan diri.


"Aww, so sweet," ucap Risa.


"Cari suami yang sweet juga, kalo Deni orangnya benar-benar jauh dari kata sweet, lihat saja wajahnya itu, tampan tapi menyeramkan." Renza tak hentinya tertawa, sedangkan Deni mendengkus kesal.


"Sepupuku ini memang tidak ada romantis-romantisnya. Dia benar-benar kaku dan dingin." Dina terkekeh.

__ADS_1


"Kenapa jadi topiknya aku sih, kalian sangat bahagia ya mengejekku. Lihat saja jika aku punya pacar nanti, dan jika aku menjadi romantis, kalian jangan melongo ya, Huh!"


"Cup ... cup ... Jangan ngambek sekretarisku!" ucap Renza seraya menepuk-nepuk bahu Deni. Namun, Deni menepisnya dengan wajah kesal.


Sesampainya di pantai, Risa dan Dina langsung berlari berhambur ke pantai. Deni menyandang kameranya, Rencananya ia akan memotret. Sedangkan Arinka dan Renza saling berpegangan tangan dan berjalan ke arah pantai.


"Ah, aku rindu suasana pantai seperti ini. Bau air laut, angin sepoi dan pasir putih. Aku rindu," ucap Arinka.


"Hmm ... Suasana ini mengingatkan suasana resort saat bulan madu kita," jawab Renza.


"Iya, aku benar-benar rindu."


"Nanti jika ada waktu kita ke sana lagi ya sayang." Renza menatap Arinka dan memeluknya erat.


"Iya sayangku."


Dina dan Risa sudah memasang tikar di bantu oleh Deni. Mereka menyiapkan makanan, minuman dan kemudian mereka duduk diatas tikar itu.


"Lihat saja Risa dan Dina, mereka benar-benar sangat bahagia, ya?" ucap Arinka.


"Iya, mereka masih sibuk memikirkan diri sendiri. Bukan seperti kita. Jika ada hal yang membuat mereka sangat bahagia sudah pasti tentang lelaki yang di idamkannya."


"Mmm ... benar, mereka hanya memikirkan kesukaan mereka. Sedangkan kita, sudah banyak hal yang kita pikirkan, seperti masa depan, anak dan lainnya."


"Perihal anak, kita akan sering-sering datang ke dokter kandungan, ya? Jangan bersedih lagi. Pipom bersedia membuatnya tiap malam." Renza terkekeh seraya mencolek dagu Arinka.


"Isshh, dasar mesum!" Arinka tertawa seraya berlari ke bibir pantai. Renza mengejarnya dengan sangat bahagia.


Deni yang sedang memotret pemandangan. Deni memperhatikan Renza dan Arinka yang sedang berlarian di tepi pantai. "Pemandangan yang sangat bagus," ucap Deni seraya memotretnya.


Risa dan Dina yang duduk tersenyum melihat Arinka dan Renza berkejar-kejaran.


"Aku sangat ingin mempunyai suami yang romantis seperti Pak Renza, yang sangat mencintai istrinya," ucap Risa.


"Mmm ... Pak Renza itu suami idaman." jawab Dina.


"Semoga nantinya kita mendapatkan suami sesuai idaman kita, ya Din?"


"Iya, aku juga setuju jika kau bersama Deni. Deni sebenarnya sosok lelaki idaman, Dia sangat menyayangi Bibiku. Dia juga sangat romantis."


"Ihh, Dina apaan sih?"


"Aku lihat, kau dan Deni sering mencuri-curi pandang satu sama lain. Aku yakin kalian ini saling menyukai."


"Dinaaa!!" teriak Risa. Dengan cepat Dina berlari meninggalkan Risa sambil tertawa keras. Mereka berkejar-kejaran menyusul Arinka dan Renza ke tepi pantai.


Deni mengerutkan keningnya melihat Risa dan Dina ikut berlarian ditengah suasana panas. Deni terus fokus memotret apa saja yang menurutnya bagus. Kameranya terarah ke wajah Risa dan tanpa sengaja Deni tersenyum memotret banyak gambar Risa yang sedang tertawa bahagia.


Renza dan Arinka duduk di tepi pantai di bawah pohon. Arinka berkeringat karena saling berkejar-kejaran tadi. Renza menyeka keringat Arinka yang mengalir di pipinya. Renza memperhatikan Arinka dengan tatapan penuh cinta. Kemudian, Renza mengecup kening Arinka lembut.


"Sudah lama sekali aku tidak mengecup kening ini, mengecup bibir ranum ini juga." Ucap Renza seraya menyentuh bibir Arinka.


"Seberapa lama?" Arinka terkekeh.


"Hmm, tapi sekarang semuanya sia-sia. Akhirnya dia tak ada lagi disini."


"Maaf, pipom membahasnya lagi."


"Tidak apa-apa, Mimom tidak akan bersedih lagi. Kita harus optimis, nantinya ia akan hadir disini lagi suatu hari nanti," ucap Arinka seraya memegang perutnya.


"Iya, dia akan segera tumbuh kembali disini. Di perut mama nya yang sangat cantik ini."


"Sudah siap 'kan?" tanya Renza.


"Siap apa?"


"Jika Mimom sudah siap, setiap malam akan pipom isi."


"Isshh, mulai lagi kan? Dasarrr!!" Arinka mencubit hidung Renza manja.


Risa memanggil Arinka dan Renza untuk duduk di tikar. Risa dan Dina sudah menyiapkan makanan. Risa juga di suruh memanggil Deni. Risa sangat malas dan memutuskan menyuruh Dina memanggilnya.


Mereka semua sudah berkumpul dan duduk di atas tikar bersama-sama. Arinka dan Renza duduk bersebelahan sedangkan Risa duduk bersebelahan dengan Deni.


Arinka dan Renza saling tersenyum melihat Deni dan Risa saling melirik sinis. Mereka makan makanan yang mereka bawa tadi dari rumah.


"Bisa tidak kalian ini saling tersenyum?" ucap Renza.


"Mereka terlihat seperti tikus dan kucing, tidak pernah akur." Dina terkekeh.


"Aku hanya illfeel saja jika berada di dekatnya." tutur Deni.


"Kau pikir aku suka berada di dekatmu? huh!"


"Jangan bertengkar, kalian kan sudah saling membantu, kenapa harus bertengkar lagi, akur dong?"


"Membantu apa?" tanya Deni.


"Bukannya kemarin kamu pernah membantu Risa datang ke ulang tahun mantan, kalian pura-pura jadi pasangan 'kan?"


"Apa? benarkah?" tanya Renza.


"Dasar mulut ember!" ucap Deni melirik Risa sinis.


"Ishh, bukan maksud ember. Aku keceplosan. Maaf!"


"Aku yang minta maaf," ucap Dina lirih.


"Kenapa jadi saling minta maaf, sih?" ucap Arinka.

__ADS_1


"Kapan kalian pergi bersama?" tanya Renza.


"Aku jawab satu-satu dong," jawab Deni.


Risa menjadi sangat malu. Ia permisi pergi ke toilet. Dina menjadi tak nyaman karena salah bicara. Dina ingin mengikuti Risa tapi Risa mencegahnya.


"Sebenarnya kami memang pernah pergi bersama menghadiri pesta ulang tahun mantan pacarnya Risa. Maksud Risa ingin memperkenalkan pacar baru nya. ia sangat sangat sakit hati dengan perlakuan mantannya. Oleh karena itu, aku membantunya dan itu pun terpaksa."


"Deni, jika menyangkut hati wanita jangan sampai kau membuatnya terluka. Cukup aku sudah mengalami sendiri. Jika kau membuat kesalahan walaupun sudah minta maaf nantinya jika terungkit kembali kau akan merasa tidak nyaman. Jika suka bilang suka, sebaliknya jika tidak suka biarkan dan jauhi."


"Aku juga hanya menemani dan disini kami tidak membawa perasaan masing-masing. Kami murni hanya saling membantu. Risa juga sama sepertiku."


"Tapi aku lihat dari tatapan kalian berbeda, walaupun saling bertengkar dan juga kau tidak biasanya seperti ini. Ada angin apa kau ingin membantunya jika tidak ada perasaan pribadi yang terlibat? "


"Haha, Pak Renza sok tahu, memang tidak ada perasaan pribadi."


"Aku bukan sok tahu, tapi aku bisa merasakan."


"Eh ciyee, suamiku sudah bisa merasakan perasaan orang lain, aku jadi cemburu." ucap Arinka tertawa yang membuat suasana disana menjadi mencair seketika.


"Jangan cemburu, hati dan cintaku hanya untukmu seorang, Mimom."


"Uwuu ... manisnya," ucap Risa.


Risa berjalan sendirian ke toilet. Risa benar-benar merasa tidak enak karena rahasia mereka jadi terbongkar. Risa merasa malu sendiri. ia berpikir pasti Deni akan menganggapnya tukang gosip yang sering menceritakan masalahnya kepada orang lain.


Risa duduk di bawah pohon dan merutuki dirinya karena telah menceritakannya dulu kepada Arinka dan Dina.


Perasaanku kepada Deni itu biasa saja, kenapa aku harus malu. Bilang saja karena sering di ejek makanya aku bercerita. Bukan karena aku kepedean mendapatkan kesempatan seperti itu dengannya. lagi pula kami murni hanya saling tolong menolong tanpa ada perasaan yang terlibat di dalamnya.


Risa melihat Deni berjalan memotret pasir, pohon dan banyak hal. Risa memanggil Deni dan menghampirinya. Renza dan Arinka memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Deni!"


"Mmm ... kenapa?"


"Maaf karena aku menceritakannya kepada Dina dan Kak Arin soal pesta ulang tahun itu."


"Mau bagaimana lagi, sudah di ceritakan juga." ucap Deni acuh.


"Iya sih. Tapi aku benar-benar tidak nyaman."


"Makanya jadi orang jangan ember."


"Bukan ember, aku hanya keceplosan bercerita. Lagi pula itu hanya pura-pura dan aku sudah berterima kasih waktu itu."


"Bukan soal terima kasih, aku juga malu kepada pak Renza. Kenapa juga aku mau mengikuti ide gila mu?"


"Apa kau di rugikan? kau tidak rugi kan?"


"Sekarang belum rugi? nanti suatu saat kebetulan aku bertemu mereka bagaimana? mereka pasti bilang aku pacarmu dan itu rugi bagiku."


"Kau bilang saja sudah putus, gampang 'kan?"


"Tidak segampang itu, aku tidak mau jadi mantanmu."


"Kau ini ribet. Huh! benar-benar menyebalkan."


"Kau yang menyebalkan! Lain kali jangan mengutarakan ide gila lagi didepanku."


"Lagi pula kenapa kau menyetujuinya? berarti kau yang bodoh 'kan?"


"Itu karena kau tidak meminjamkan aku payung."


"Jadi laki manja amat, hanya kena hujan apa salahnya?"


"Manja kau bilang?"


"Ya, kau sangat manja!"


"Aku bukan manja, aku hanya tidak bisa terkena air hujan. kulitku menjadi gatal-gatal. Kau ingat waktu aku menolongmu saat kau akan di copet. Malam itu aku kehujanan dan alhasil tubuhku gatal-gatal."


"Hahaa, alasan kuno yang tidak masuk akal."


"Terserah, aku malas bicara dengan wanita yang tidak mengerti bahasa manusia."


"Apa? kau pikir aku alien?"


"Aku tidak mengatakannya. Kau yang mengatakannya sendiri." Deni pergi meninggalkan Risa.


"Ishh, sini kau! jangan lari kau. Mati kau jika aku tangkap. Sialan beraninya kau mengatakanku begitu."


Risa mengejar Deni setengah berlari. Renza dan Arinka saling bertatapan dan tertawa melihat Deni dan Risa. Sedangkan Dina sibuk memainkan ponselnya seraya duduk diatas tikar.


"Menurut Pipom, apa Deni itu menyukai Risa?"


"Hmm," jawab Renza tersenyum.


"Haha, apa benar begitu?"


"Lihat saja nanti, mereka hanya belum menyadarinya saja sekarang." Renza menggenggam tangan Arinka tersenyum dan berjalan-jalan lagi di tepi pantai.


Bersambung...


Jangan lupa like dan comment ya Readers...


Rate bintang 5 juga dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya 💋😘


Banyak yang komen author jahat gara-gara Arinka keguguran 😭 Author tak sejahat itu kok😁

__ADS_1


Baca aja terus dan nantikan kelanjutannya. Arinka pasti selalu bahagia kok.😘


Salam sayang dariku buat kalian semua, Luv u all 💋💋💜


__ADS_2