Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 86 : Sebuah paket 2


__ADS_3

Pagi hari menyapa. Kegelapan yang menelan hari mulai pudar. Mentari tak ragu-ragu menampakkan sinarnya dari langit timur, menerangi bumi dan memberikan keberkahan. Sekali lagi, hari baru telah tiba, setiap makhluk hidup bersuka cita.


Arinka bangun dari tidurnya. Ia melirik lelaki yang sedang tertidur pulas di atas ranjang dengan keadaan telungkup. Arinka membuka gorden besar berwarna hitam itu dengan sekali simbakan. Cahaya mentari langsung menerobos masuk ke dalam ruangan kamar.


Mendengar suara tarikan gorden. Renza membuka matanya perlahan sambil meraba ponsel di atas nakas. ia melihat jam di ponsel itu. Padahal jam sangat besar di atas dinding ranjang kamarnya.


"Selamat pagi," ucap Renza dengan suara seraknya.


"Hmm ... selamat pagi, sayang. Sudah bangun?"


"Sudah." sambil menguap. "Hoaamm ...."


"Masih ngantuk, ya?"


"Tidak lagi, kan sudah bangun." Renza bangkit dari ranjang dan berjalan melangkah kepada Arinka. Dengan menyunggingkan bibir Renza mendekap Arinka.


"Jangan pikiran hal semalam. Tidak lama lagi pelakunya akan segera aku temukan."


"Hmm ... baiklah, sayang. Ayo mandi dulu dan sarapan ke bawah."


"Mimom juga belum mandi. Yuk mandi sama-sama."


"Ishh, masih pagi. Nanti saja."


"Mau atau tidak?" Renza langsung mengangkat dan menggendong Arinka ala bridal menuju kamar mandi.


***


Seperti biasa, kebiasaan pagi hari selalu berulang. Renza selalu meminum kopi sambil membaca koran. Tak lama, Deni datang dengan setelan jas abu bergaris hitam.


"Halo ... selamat pagi," ujar Deni segera menarik kursi duduk di samping Renza. Bi Ami dengan sigap segera membuatkan kopi.


"Pagi," ucap Arinka dengan senyuman manisnya.


"Pagi," jawab Renza tanpa menoleh dan tetap fokus membaca koran. "Bagaimana, apa kau sudah menemukan jejak pengirimnya?" katanya. Merubah posisi kaki dengan santai.


"Belum ... tunggu saja, David sedang menyelidikinya." Deni meletakkan sesuatu di atas meja dan menyodorkannya kepada Renza.


"Apa ini?" tanya Renza memgambil benda itu. "Album?"


"Album foto?" tanya Arinka sambil menyuap makanan kemulutnya.


"Iya, ini album foto."


Renza mengambil album itu dan mulai membuka lembaran, demi lembaran. Kemudian, bibirnya menyungging ke atas. ia tersenyum melihat hasil jepretan Deni yang benar-benar bagus ketika diabadikan seperti itu.


"Aku mau lihat?" ucap Arinka sambil menjulurkan tangan kanannya ke arah Renza.


Dengan senang hati Renza memberikannya sambil mengedipkan mata kirinya genit.


"Huh, Kang genit!" Arinka tertawa menatap wajah Renza.


"Anda tidak cocok genit seperti itu, Pak."


"Haha ... kau akan bersikap sepertiku, jika sudah benar-benar mencintai seseorang dengan sangat dalam.


"Benarkah?" Deni menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.


"Nanti jika kau sudah merasakan, aku yang akan menertawakanmu."


"Kenapa harus ditertawakan?" tanya Arinka.


"Yah, karena dia sombong. Jadi, jika dia sudah merasakan, dia akan tahu sendiri, bagaimana rasanya mencintai yang sangat dalam."


"Iya ... aku berdoa semoga tidak akan sebucin anda, Pak."


"Omongan itu doa, bodoh." Renza bangkit dari kursinya. "Ayo, berangkat."


"Berdoa dan berkata itu berbeda, Pak?" Deni terkekeh.


"Kadang kau terlihat bodoh, ya, Den. Kau berdoa pasti berbicara, 'kan?"


"Eh?"


"Sama saja kan berarti. Jika kau sudah berbicara seperti itu, secara tidak langsung kau berdoa."


"Tidak, aku tidak berdoa."


"Kau berani menyalahiku?" bentak Renza. Namun, ia menoleh melirik Arinka dan mengedipkan matanya lagi.


"Pipom sedang genit, ya, sekarang? Dari tadi main mata terus." Arinka mencebikkan bibirnya.


"Tidak, aku tidak seperti itu."


"Haha ...." Deni tertawa melihat dua orang dihadapannya saling adu mulut.


"Pipom tidak begitu, tapi Pak Renza memang tidak pernah memainkan matanya kepada sembarang wanita. Aku hanya berkedip begini kepada Mimom." Renza menoleh kepada Deni dan memelototkan matanya. "Kau kenapa tertawa?" ucapnya.


"Aku hanya tertawa saja. Tidak ada larangan, 'kan?" Deni nyengir kuda.


"Pipom hanya genit kepada Mimom."


"Siapa juga yang bisa genit dengan anda. Melihatnya saja membuat nyali orang-orang menjadi ciut." gumam Deni pelan.


"Haha, wajahnya kadang memang menyeramkan." Secepat kilat wajah Arinka berpaling dari hadapan Renza.


"Wah ... sudah berani, ya, sama suaminya? Awas saja nanti."


Renza masuk ke dalam mobil dan segera Deni melajukan mobilnya. Arinka melambaikan tangannya sampai mobil itu lenyap dari pandangan matanya.


Sesampainya di depan kantor, Renza turun dari mobilnya sedangkan Deni mengekori dari belakang. Karyawan tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepada atasannya.


Deni membuka pintu ke ruangan Renza dan segera masuk. Ruangan itu sudah rapi dan baunya semerbak setelah pengharum ruangan menyemprotkan cairan wanginya.


Renza membuka jas biru dongkernya dan menggantungkannya di belakang kursi. Ia juga melonggarkan dasinya supaya nyaman untuk bekerja.


Deni sudah duduk memilah-milah berkas di atas meja yang sudah di tanda tangani oleh Renza. Sesekali Deni mengeluarkan ponselnya mengecek pesan masuk. Ketika menatap ponselnya, Deni melengkungkan bibirnya keatas.


Renza mengernyit menatap tingkah Deni yang tidak seperti biasanya itu. Tapi Renza tersadar bahwa Deni pasti sedang kasmaran.

__ADS_1


"Hoy ... Kenapa kau senyam-senyum begitu?" ucap Renza setengah berteriak.


"Eh? Tidak apa-apa, Pak." Deni segera memasukkan ponsel ke sakunya.


"Kau sedang kasmaran, 'kan?" Renza terkekeh.


"Tidak ... aku hanya melihat gambar lucu saja."


"Huh! Kau membohongi ahlinya. Buaya di kadalin."


"Iya, Buaya." Deni tertawa lucu.


"Pasti Risa, 'kan?"


"Ke to the Po." Lagi-lagi Deni tertawa memalingkan wajahnya ke samping.


"Kau bilang aku kepo. Sini kau!" Bentak Renza.


"Aku cari aman, kabuurrr!" Deni berjalan cepat membuka pintu sambil membawa berkas di tangannya.


Setelah keluar dari ruangan, Deni mendapat telepon dari David. Deni segera menjawabnya dan berjalan menuju jendela kaca besar sambil melihat pemandangan kota dari atas.


"Ada apa? Apa sudah ketemu pelakunya?"


"Belum, Pak. Aku sudah bertemu kurir yang mengirim paket itu dan dia berkata bahwa yang memberikan paket adalah seorang wanita. Itupun kalau dia tidak salah ingat. Apa pak Deni mencurigai seseorang?"


"Wanita? Benar-benar aneh. Aku harus menebak siapa? Mungkin itu hanya suruhan. Kau harus menyelidiki Dahlan. Satu-satunya kecurigaanku hanya dia sekarang ini."


"Baik, Pak. Aku akan menyelidikinya lagi."


"Segera kabari aku secepatnya."


"Siap."


Sambungan telepon itu terputus. Deni berjalan ke ruangan Tio dan meminta laporan keuangan lagi. Tio mengambil salinan file dan memberikannya kepada Deni. Iabergegas berjalan meninggalkan ruangan Renza.


Renza masih mendengkus kesal dengan ulah Deni. Jika Deni masuk ke dalam ruangannya, ia berencana akan mengerjainya.


Lihat saja nanti, berani-beraninya dia mengejekku.


Deni masuk ke dalam ruangan. Seperti biasa Deni tidak mengetuk pintu karena memang kebiasaannya begitu. Pengecualian dari mengetuk pintu adalah Deni seorang.


"Pak, aku membawa salinan pengeluaran dua hari ini."


"KETUK PINTU DULU KALAU MASUK!" bentak Renza seraya memelototkan matanya.


"Uwaw ... aku sampai terkejut, hampir saja jantungku melompat keluar," ucap Deni tertawa lucu.


"Kau tertawa. Aku tidak sedang bermain-main sekarang."


"Apa aku terihat main-main sekarang?"


Airmuka Renza mendadak memerah karena ulah Deni. Ia menatap dengan tatapan tajam seperti akan memangsa buruannya. Deni yang di tatap bertindak biasa saja bahkan terkesan acuh.


"DENISTA!"


"Iya, Pak. Kenapa emosi seperti ini?"


"Ya sudah, kan buaya lebih besar dari kadal. Apalah dayaku yang hanya seekor kadal lemah ini," ucap Deni lirih.


"Ppfftttt." Renza menahan tawanya. Hingga akhirnya tak bisa terelakan lagi. Renza tertawa terbahak.


"Hobby yang paling menyebalkan anda, yah ini. Suka mengerjai orang dan membuat orang kesal."


"Kau yang membuatku kesal duluan."


"Ya sudah, ini aku membawa salinan laporan keuangan project bagunan baru."


Deni memberikannya kepada Renza dan segera Renza menyambutnya. Renza melihat dengan fokus. Setelah itu Renza tertawa.


"Kau lihat? Ada kejanggalan, 'kan? Jelas bukan. Permainan Dahlan yang bisa di tebak dengan mudah."


"Aku juga berpikir seperti itu. Dahlan ingin menyalahgunakan dananya untuk keperluan lain."


"Buat janji dengannya besok. Aku akan menemuinya."


"Baik, Pak. Oh ya, tadi David menelepon, katanya kurir itu bilang pengirimnya wanita, tapi kurir itu juga ragu."


"Selidiki saja dulu jangan gegabah. Lagi pula jika seorang wanita, siapa dan apa tujuannya?"


"Baik. Sekarang aku akan pergi ke tempat pembangunan. Apa Pak Renza ingin ikut?"


"Sepertinya aku tidak bisa. Kau pergi saja dan lihat perkembangannya."


"Siap, aku pamit dulu."


Seketika suasana hening. Dalam diam, Renza memikirkan perkataan Deni. Jika seorang wanita, siapa yang akan mengirimnya paket seperti itu? Pikirannya mulai berkecamuk mengisi otaknya.


Deni sudah melajukan mobilnya ke arah bangunan baru yang akan ia kunjungi. Deni menepikan mobilnya dan mengirim pesan kepada Risa untuk bertemu sebentar. Kali ini mereka benar-benar sudah membuka perasaan dan berani mengutarakannya tanpa malu jika ingin bertemu.


Karena tak ada balasan. Diteleponnya Risa. Deni menunggu panggilan di jawab sambil memukul setir pelan. Tak lama, telepon itu di jawab oleh Risa.


"Kau sibuk?" tanya Deni.


"Tidak, sih. Ada apa?"


"Apa kau mau makan siang bersama?"


Seperti mendapat jackpot, Risa menghentakkan kakinya kuat. Mulutnya ingin berteriak 'yes' dengan kuat. Tapi Risa menahannya dan bersikap kalem. Risa benar-benar sangat senang mendengar ajakan Deni.


"Boleh."


"Baiklah, aku tidak jauh dari rumahmu sekarang. Cafe di sekitar rumahmu, apa kau mau?"


"Mau saja." jawab Risa dengan cepat. "Upss," ucapnya malu.


"Aku tunggu, ya."


"Tunggu sepuluh menit, bisa? Aku harus mandi dulu."

__ADS_1


"Baiklah."


Setelah selesai menelepon. Risa segera melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Dengan lebih bergairah, Risa mandi, lalu memakai celana denim hw dan baju kaos crop top. Berbedak tipis, sekedar menyamarkan lingkaran di bawah mata dan memakai liptint.


Deni sudah menunggu, ia memesan secangkir caramel macchiato dan memainkan ponselnya. ia membuka instagram Risa. Bibirnya melebar dan mengkerut melihat postingan di sana.


Sampai di cafe, Risa celingukan melihatnya. Bola matanya memutar melihat seisi ruangan. Ternyata lelaki ya yang dicarinya itu duduk di sudut sedang terpaku memandang ponsel. Risa masih berdiri mematung. Lelaki yang sibuk memandang ponselnya itu mendongak dan tersenyum.


Jangan gugup. Bersikaplah biasa saja.


"Risa!"


Risa mendengar panggilan Deni. Bergegas menemuinya sambil melambaikan tangannya dengan senyuman manisnya. Setelah sampai didepan kursi, Deni berdiri dan menyodorkan tangannya. Risa mengeryit dan menyambut uluran tangan Deni.


Deni menyambut Risa dengan kaku. Ia memperlakukan Risa seperti kliennya. Risa nyengir kuda menatap Deni dan sedikit kebingungan di otaknya.


"Kenapa berjabat tangan? Aku seperti klien saja," ucap Risa terkekeh.


"Hee ... aku refleks seperti itu."


"Astaga, kau ini lucu."


"Kau lebih lucu dan sangat cantik." Ucapan itu lolos dari mulutnya tanpa terbata-bata. "Uppss." Deni menutup mulutnya.


Risa malu-malu mendengar ucapan Deni. Cangkir kopi diatas meja itu segera diambilnya dan di minumnya.


"Awww ... panas!" teriak Risa menjululkan lidahnya. Refleks Deni menyentuh bibir Risa karena panik. Risa memelototkan matanya terkejut dengan sentuhan tangan Deni. Risa langsung bangkit dari kursi dan bergegas ke toilet.


Sial! Kenapa aku sebodoh ini, sih? Kenapa juga aku meminum kopi orang lain. Benar-benar konyol. Ah ... aku sangat malu.


Di toilet, Risa menyentuh bibirnya dan membasahi dengan air. "Ah, lidahku sakit. Tadi Deni menyentuh bibirku." Risa menepuk pipinya. "Sadar, Risa. Ini benar-benar memalukan."


Setelah lima menit dari toilet, Risa duduk kembali di kursi. Pelayan sudah menunggu untuk mencatat pesanan. Risa menyebutkan makanannya dan kemudian pelayan itu pergi.


"Kau tidak apa-apa?"


"Hmm ...." Risa menundukkan pandangan.


"Kenapa kau meminum minumanku?" Deni terkekeh.


"Refleks, Maaf!"


"Kau salah tingkah, ya?" ejek Deni.


"Tidak ..., kenapa aku harus salah tingkah, sih." Desis Risa.


"Haha, becanda. Jangan marah."


Risa menelan ludah. Hampir saja ia ketahuan sedang salah tingkah. Padahal ia tidak menyadari lelaki di depannya itu lebih salah tingkah daripada dirinya.


Setelah makanan datang, mereka berdua makan dengan khidmat tanpa suara apapun.


***


Arinka sedang menonton film. Kebetulan hari ini, Dina datang membawakan laudry pakaian. Dina duduk di sofa menemani Arinka. Mereka berbincang-bincang sambil memakan cemilan.


Dina menceritakan tentang Deni. Arinka jadi penasaran dengan tingkah Deni di rumahnya seperti apa. Dina terus saja bercerita. Di sela-sela percakapan, terdengar teriakan kurir pengantaran barang.


"Kurir?" Arinka mulai paranoid.


"Iya, biar aku ambilkan." Dina beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu. Dina menerima paket itu dan kurir langsung pergi. Arinka berlari ke arah pintu. Ia ingin menanyakan siapa pengirimnya. Namun, sayangnya kurir itu telah pergi.


"Kenapa, Kak?" tanya Dina.


"Kurirnya sudah pergi, sayang aku terlambat."


"Ini paketannya." Dina memberikan kepada Arinka. Arinka mengguncangnya pelan. Kemudian, mereka berjalan lagi ke sofa dan duduk di sana.


Arinka terus memperhatikan kotak paket segi empat itu. Lalu, ia mengambil ponsel yang ia letakkan diatas meja untuk menelpon suaminya.


Arinka menekan kontak Renza dan mendengarkan sambungan itu terjawab. Beberapa saat telepon itu si jawab.


"Halo," kata Arinka.


"Ada apa, sayang? tanya Renza.


"Mimom hanya ingin bilang, ada paketan lagi yang dikirim ke rumah kita. Aku takut."


"Jangan di buka. Aku akan pulang ke rumah sebentar lagi."


"Tidak apa, jangan pulang. Aku hanya mengatakannya saja. Pipom harus bekerja."


"Bagaimana aku bisa bekerja, jika perasaanku tidak tenang. Sebentar lagi aku pulang."


Setelah terputus, Renza menelpon Deni yang sedang berada di dalam mobil.


"Kau di mana? Apa sudah selesai meninjau?"


"Aku sedang di jalan. Ada apa, Pak?"


"Aku harus pulang. Arinka mendapat paketan lagi dari seseorang. Dia mulai panik."


"Baiklah, sebentar lagi aku sampai."


Renza memutus sambungan teleponnya. ia mengemasi berkas di atas mejanya untuk dibawa pulang. Pikiranya jadi kacau. Renza berencana akan melaporkan kasus ini kepada polisi, jika saja David belum menemukan pelakunya."


***


Sepasang mata masih mengawasi di sekitar rumah Renza.


"Aku akan membuat kalian panik dan ketakutan setiap hari, haha ...."


***Bersambung...


Tap like dan jangan lupa vote 😊


Jangan lupa mampir ke karyaku di sebelah. "Fake Love"


like dan komen juga ya..

__ADS_1


Salam sayang dariku buat Readers semua. 💋💋


Luv u all 😘😘***


__ADS_2