
**Hola!
Sesuai permintaan kalian, aku up lagi hari ini walaupun badan belum fit, tapi aku sempatin buat kalian pecinta Arinka dan Renza.. yeiyy
Apa kalian senang?
Bay the way selamat tahun baru ya buat kalian Readers tersayang 😊
Semoga apa yang diinginkan Tahun ini bisa terwujud. Amiin 🙏🙏**
Arinka kebingungan melihat tingkah Renza yang meneriaki Jefran, kemudian tanpa aba-aba bergegas pulang, Deni dengan sigap membayar makanan mereka dan segera kembali, entah apa yang merasukinya hingga bersikap kasar dan seperti orang yang tidak berpendidikan itu.
"Nyonya jangan khawatir, nanti Pak Renza akan menyesalinya dan minta maaf." bisik Deni.
"Menyesali apa sih? Aku masih bingung dengan mereka berdua, kenapa juga Tuan Renza harus berteriak?" masih berbisik pelan diluar pintu.
"Aku pulang, nanti akan aku ceritakan." sambil berlalu menuju mobil, sepasang mata dari kejauhan melihat dengan sangat tajam.
Kenapa harus bekerja ditempat Jefran sih? Arrgghhhhh. teriak didalam mobil.
"Pak ada apa? jangan ngamuk disini?" terkekeh
"Sialan kau! kau bicara apa kepada Udik itu,jangan terlalu dekat ya, mencari kesempatan!"
Kemarin kampungan, sekarang udik. kenapa tidak memanggil dengan sebutan nama yang benar sih, suka bilang suka pak? jangan dipersulit.
"Maaf, Pak. Aku bilang dia harus sabar menghadapi Tuan seperti itu?"
"Benar, dia harus sabar dengan lelaki mata keranjang seperti Jefran itu. ingin aku bilang saja bahwa si udik itu istriku, tapi tidak mungkin la yaa? nanti dia malah tertawa"
Siapa yang bilang harus sabar kepada Pak Jefran, Tuan itu kan anda, kalo pak Jefran kan atasannya. haha pak oh pak kau lucu sekali. jika sedang cemburu bilang saja.
"Kenapa tertawa, Pak. Nyonya itu sangat cantik hanya saja dia jarang berpenampilan seperti wanita modern, nanti jika barang-barang yang dibeli sudah sampai, banyak pakaian modern terbaru, mungkin penampilannya akan berubah pak."
"Haha, benar. Aku tidak sabar menantikannya terpukau dengan dekor kamar baru kami, apakah bisa selesai hari ini?" Tanya Renza sambil menyilangkan tangannya kedada dan menoleh kearah jendela.
***
"Kau tidak apa-apa tadi?" tanya Jefran
"Tidak, pak." ucap Arinka tersenyum.
"Dia banyak berubah, dulu tidak seperti itu."
"Bapak mengenalnya? Apa Tuan tadi teman Bapak?" berharap mendapat jawaban.
"Aku merasa aneh jika kau memanggilku dengan panggilan Bapak, Aku belum Bapak-bapak kok. bisa panggil aku dengan sebutan yang lebih akrab misalnya panggil nama saja. " tertawa.
__ADS_1
"Maaf, Pak. tapi saya tidak bisa. Bapak kan Atasan saya" Arinka menundukan kepalanya.
"Iya tidak apa-apa, jika diluar tempat kerja apa tidak bisa memanggil dengan sebutan nama."
"Maaf pak, Bapak kan lebih Tua mungkin dari saya, tidak sopan jika saya memanggil bapak dengan sebutan nama."
"Haha, kau ini? aku sungguh tertarik kepadamu? lagipula kau ini tidak bisa bercanda ya?"
Kenapa santai sekali bilang tertarik, jangan-jangan Beliau ini Playboy.
"Haha, bapak ini bisa aja." tertawa masam.
"Aku serius, apa kau sudah punya pacar rin?"
"Aa-apa?"
Beliau ini kenapa sih? Apa aku bilang saja aku sudah punya suami, walaupun suami tidak mencintaiku, tetap saja aku tidak akan berselingkuh.
"Haha santai saja. jangan gugup begitu. jika tidak ingin mengatakan ya tidak apa. Aku memanggilmu ingin memberikan sapu tangan ini, semua pegawai punya kok. Ya sudah, silahkan kembali bekerja."
Kenapa Aku berkata begitu, tapi aku suka dirinya sejak pertama bertemu. walaupun dia berbeda dari wanita jaman sekarang, Aku tetap suka.
"Baik, Pak." sambil mengambil sapu tangan itu dan mengantonginya.
Arinka berjalan dengan perasaan aneh di hatinya, hari ini hari yang luar biasa baginya. setidaknya ia mempunyai hari yang baik hari ini. walaupun besok apakah akan sebaik hari ini. pekerjaan berjalan lancar seperti biasa. Arinka pulang dengan menggunakan ojek online, ia kemudian mampir sebentar untuk membeli kue di bakery yang searah dengan rumahnya.
"Ahh, Aku suka suasana seperti ini, seperti dikampung. Aku jadi rindu kampung. Kapan ya aku bisa pulang kampung lagi." gumamnya.
Arinka sudah tiba dirumah dengan perasan yang bahagia, seperti biasa setelah menyapa bi Ami, ia langsung naik keatas masuk kekamar. ia sangat terkejut setelah melihat pakaian,tas, dan sepatu telah tersusun rapi dilemari seperti akan dijual.
"Apaa? kenapa ada barang-barang ini dikamar? jadi tadi ia membelikanku barang mahal seperti ini untuk dipajang." Arinka terlalu polos sampai keakarnya. haha (author ketawa)
Aku sangat penasaran, apakah aku boleh melihat lemari Tuan renza, aku kan biasanya hanya menyiapkan baju tidur dari lemari ini. aku buka ah, mumpung orangnya ga ada.
Arinka berjalan mengunci pintu, kemudian ia berlari dengan cepat menuju lemari diruang pakaian itu,
Wahh, luar biasa semua koleksi jam tangannya ada dilaci seperti ini, Dasi nya juga. Ya ampun rapi sekali. jika bi Ami yang mengerjakan semua ini pasti bakalan kewalahan, untungnya ini pekerjaan orang lain.
Arinka terus menerus melihat lemari dengan banyak koleksi lainnya, kemudian ia berlari dan menjatuhkan dirinya di ranjang King size Renza. benar-benar empuk sampai Arinka berguling dan meloncat disana berulang kali.
Memangnya enak tadi meneriakiku di restauran, makanya aku buat berantakan ranjangmu, haha. Aku juga ingin tidur di ranjang seperti ini. ahh nyamannya.
Setelah ia puas membuat ranjang itu berantakan, ia segera merapikan kembali. ia melihat isi pakaiannya yang dibelikan Renza tadi pagi.
"Kenapa juga harus membeli barang sebanyak dan semahal ini? untuk siapa? jika untukku, aku tidak akan memakainya!"
Cekrek...cekrek
__ADS_1
bunyi suara gagang pintu yang tidak bisa dibuka, setelah itu terdegar suara pintu yang di ketuk dengan keras, dengan sigap Arinka berlari membuka pintu itu.
"Hey, apa yang kau kerjakan didalam? aku pikir kau mandi, nyatanya masih tetap seperti ini dari sejak pagi."
"Maaf, Tuan. aa-aku" berpikir alasan yang masuk akal.
Ayo berpikir Arinka, cepat.
"Kau kenapa? jangan-jangan kau mau mengerjaiku, yah?"
tersenyum.
"Tidak Tuan, aku hanya sedang berbaring saja tadi."
Kau pasti sedang melihat isi lemari baru ini kan? haha
"Kenapa membeli banyak barang seperti ini, pemborosan tau, jika hanya ingin dipajang sebaiknya jangan dibeli?"
"Hah, siapa yang ingin memajangnya? ini semua untukmu, bodoh!"
"Kenapa membelikanku barang-barang mewah seperti itu, tidak cocok untukku, lagian aku juga tidak tertarik memakainya."
"Terserah kau saja, sana mandi. aku tidak suka bau restauran itu. kalau perlu kau berhenti saja."
"Kenapa? Aku suka kerja disana? lagian urusan kerja kan urusan pribadiku."
"Kau suka Atasan yang sering memegangmu seperti itu yah?"
"Tidak, bukan seperti itu. percuma bicara dan menjelaskan. sebaiknya aku mandi dulu" sambil meraba isi kantong dan mengeluarkan sapu tangan.
Arinka bergegas masuk kekamar mandi dan terdengar ia menguncinya, Renza segera berjalan mendekati benda yang ditaruh Arinka diatas sofanya. ia mulai memegang benda itu ternyata sebuah sapu tangan dengan bordir samping bertuliskan J dan sekotak kue coklat.
"Sial! dia memberikan sapu tangan dan kue. Dasar kampret tak tau malu! beraninya dia memberikan hadiah dan kue untuk istriku. huh! tunggu saja kau Jefran, aku akan memberi tau kau bahwa Arinka itu adalah istriku."
Renza kemudian berbaring dengan wajah kesalnya itu, ia memikirkan bagaimana jika Arinka kelak jatuh hati pada Jefran.
"Tidakkkkk."
Bersambung...
jangan lupa vote dan comment..
salam sayang dariku untuk semua readers 😊
Luv u 😘
Sskali lagi Happy New Year 2020 🎉🎉🎉🎉
__ADS_1