
Hoam ...
Arinka menguap, matanya terbuka sedikit demi sedikit melihat sinar matahari yang sudah terang di cela-cela jendela kaca besar itu.
Arinka bangun dan beranjak dari kasur itu. Ia segera memakai pakaiannya. ia tersenyum melihat lelaki disampingnya yang tengah tidur dengan pulas tanpa mengernyit sedikitpun.
Arinka membuka gorden hitam besar itu. Benar saja matahari sudah terang. Arinka keluar dari kamar membuka pintu yang mengarah langsung kekolam renang.
"Ah segarnya udara disini, benar-benar nyaman."
Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Arinka mendekat dan menempelkan telinga di pintu itu.
"Layanan kamar, ini sarapan. Mohon buka pintunya!"
Arinka tertawa sejenak dengan tingkahnya yang konyol, jika Renza melihat mungkin ia akan habis dijahili. Ia membuka pintu itu, pelayan kamar itu datang membawa sarapan dan menatanya di atas meja. Setelah selesai mereka keluar.
Arinka bergegas masuk ke kamar mandi. Sebenarnya ia sangat ingin berenang tapi masih pagi. Renza membuka matanya dan melirik kesamping tempat tidurnya, Renza mengusap matanya dan menguap. Perlahan ia bangkit memakai celananya dan berjalan keluar kamar dengan bertelanjang dada, Renza berdiri di pintu belakang yang menghadap ke laut, menarik napas dalam dan menghembuskannya.
"Hemm, Benar-benar pemandangan yang indah. Bangun tidur langsung menatap birunya langit dan laut bersamaan."
Arinka membuka pintu kamar mandi. Ia keluar memakai kimono dengan rambut basah, ditangannya memegang handuk kecil untuk memgeringkan rambut. Arinka masuk kedalam kamar melihat Renza sudah tidak ada lagi diranjang.
Arinka berjalan ke arah pintu belakang, pintu itu terbuka. Ia menghampiri pintu itu dan melihat Renza tengah melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah. Renza menoleh dan menatap Arinka yang sudah selesai mandi dan tersenyum manis.
"Morning, Baby!"
"Morning too, sayang."
Arinka berjalan menghampirinya dan memeluk lengan Renza. Arinka benar- benar takjub dengan pemandangan disana, sangat indah. Cuaca pagi cerah, angin sepoi-sepoi ditambah deburan ombak benar-benar menambah nilai plus resort ini.
Arinka menatap Renza seraya bergelayut manja di lengannya. Renza benar-benar tampan walaupun dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur, dada nya yang bidang memperlihatkan enam kotak roti sobek yang menambah pesona baginya. Arinka tersenyum manis menatap keseluruhan penampilan Renza. Renza diam-diam melirik dengan ekor matanya ikut tersenyum.
"Kenapa? mau menyentuh dada ku?" ucap Renza seraya menggenggam tangan Arinka dan menempelkannya pada dada bidang nya.
"Ishh, sok tahu!"
"Aku melihat kau senyum-senyum menatapku."
Wajah Arinka memerah, kemudian ia mengalihkan pandangannya dan betingkah biasa saja. Renza memegang kedua pipi Arinka dan mengecup keningnya.
"Manis dan cantiknya istriku ini."
"Tampannya suamiku ini, upss." Arinka menutup mulutnya, ia keceplosan memuji Renza. Renza tertawa malu.
"Padahal aku selalu percaya diri, pekerja wanita di kantor selalu menyebutku tampan dan seksi, sikap ku biasa saja. Tapi kenapa saat Mimom yang memuji, aku ingin berteriak girang."
"Ahh ... jangan begitu, sebaiknya Pipom mandi dulu sana, habis ini kita sarapan."
"Siap, Nyonya Renzaldi."
Renza berjalan meninggalkan Arinka dan masuk ke dalam kamar mandi. Arinka masuk dan berganti pakaian. Hari ini ia mengenakan dress floral selutut dengan tali kecil. Mereka berencana akan bersenang-senang mengelilingi pulau ini.
Arinka menyisir rambutnya, kemudian ia menggunakan pelembab wajah dan tidak lupa menggunakan sun protection. Bibirnya sedikit ia beri warna memakai liptint pembelian dari Renza. Rambutnya ia ikat satu tinggi seperti ekor kuda. Tak lupa ia menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
Arinka keluar dari kamar dan duduk di sofa empuk yang mengarah ke kolam renang. Renza selesai mandi, kemudian mengganti pakaiannya dengan baju kaos dan celana pendek selutut. Benar-benar sangat berbeda karena Renza setiap harinya selalu menggunakan jas. Sekarang ia terlihat casual dan santai.
"Sayang!" panggil Renza.
"Iya. Sudah selesai mandi?" sahut Arinka seraya mengampirinya, kemudian Renza memeluknya.
"Cantik sekaligus seksi, jika selain di pulau ini, tidak boleh memakai gaun ini dirumah, kecuali dikamar."
"Iya, lagian ini bukan aku yang berkemas. Bukannya ia Pipom sendiri yang membawanya?"
"Iya, karena disini tidak ada yang mengenal kita. Dan aku ingin kamu tampil berbeda."
"iya ... iya ... Ayo sarapan!" ajak Arinka.
Renza dan Arinka menikmati sarapan, setelah sarapan mereka beranjak duduk di teras kecil yang mengarah langsung kelaut itu, mereka duduk diatas sofa yang sangat empuk.
Pemandangan yang luar biasa, bahkan dari tempat mereka duduk bisa melihat sunset. Bau air laut serta similar angin yang menyenjukkan membuat hati menjadi damai.
Renza menatap Arinka dengan tatapan nakal. Perlahan tangannya menjamah bahu Arinka yang terekspos itu. Renza mengusap-usapnya. Kemudian, tangan itu menjamah telinga Arinka. Arinka menggeliat geli. Sebenarnya telinga itu adalah salah satu titik sensitif nya. Renza sudah tahu betul sekarang area-area sentitif istrinya itu.
__ADS_1
Renza menyerigai melihat Arinka menggeliat, perlahan bibirnya mendekat dan mencium area leher Arinka, Sedang tangannya masih memegang telinganya. Hembusan nafas kasar sudah terdengar jelas ditelinga Arinka.
Arinka menggeliat lagi menerima perlakuan dari Renza. Bibirnya mulai ia dekatkan dengan bibir Arinka, kemudian Renza tersenyum melihat bibir ranum istrinya itu, dengan lembut ia mulai ******* bibir itu.
Perlahan-lahan Renza mulai membaringkan Arinka seraya terus ******* bibirnya. tangannya menyibak tali baju Arinka, dengan sedikit kasar ia menarik dress itu dan menurunkannya. Dada putih Arinka terlihat jelas ditambah pantulan sinar matahari.
Renza masih terpesona dengan tubuh Arinka walaupun sudah sering menatapnya. Renza sedikit terpaku ketika melihat sosok yang begitu cantik kini terbaring pasrah lagi dibawahnya. Arinka sekarang hanya berbalut bra dan celana dalam berwarna hitam.
Arinka memejamkan matanya menghirup aroma maskulin tubuh Renza dalam-dalam. Kemudian, tangan Renza mulai meraba-raba sampai menemukan kaitan bra Arinka dan melepaskannya.
Arinka dan Renza saling bertatap. Dari tatapan matanya terlihat perasaan cinta yang begitu besar, hasrat yang melebur dan bisa membakar, seakan bisa menghanguskan cinta mereka yang tidak akan padam.
Degupan jantung saling berpacu, nafas saling memburu, membuat hawa nafsu saling menggebu-gebu. Dua insan itu saling memberikan sentuhan satu sama lain. Gejolak rasa asmara mereka saling membara, di sambung dengan nafsu yang meraja rela.
Lagi-lagi mereka bersatu, rintihan dan desahan berbaur menjadi irama-irama indah. Sesekali mereka merubah posisi dan membiarkan Arinka mendominasi permainannya.
Selang beberapa puluh menit kemudian, mereka menyudahi agenda bercintanya. Pelu keringat membasahi setiap inci tubuh mereka. Mereka berdua terkapar tak berdaya, yang ada hanya rasa lemas di sekujur tubuh mereka.
Selesai melakukan tugas mereka, Arinka dan Renza memutuskan akan berjalan-jalan mengelilingi pulau itu. Mereka keluar menggunakam sendal jepit. Seraya berjalan di jalan setapak yang teduh dengan pepohonan itu, Arinka melihat ayunan. Arinka bergegas berjalan menghampiri ayunan dan segera menaiki.
Renza tertawa menatap istrinya yang telah duduk di ayunan. Arinka memanggil Renza supaya bisa mendorongnya, "Sini cepat dorong aku!"
Renza berjalan cepat menghampiri dan kemudian mendorong ayunan itu pelan. Arinka tertawa bahagia seperti anak kecil. Renza mengeluarkan ponselnya dan memotret setiap momen nya di pulau ini.
Setelah dirasa cukup bermain ayunan, mereka berjalan lagi menyusuri jalan setapak. Ada beberapa pasangan yang keluar dari toko pernak-pernik. Renza menarik tangan Arinka untuk memasuki toko itu.
Di dalam toko itu banyak menjual beragam benda couple, kaos, gelang, sendal, topi dan banyak lagi. Renza dan Arinka memilih-milih barang yang akan dibeli. Mereka memcoba topi dan berputar didepan cermin. Arinka mengambil ponselnya dan memotret gaya konyol mereka disitu.
"Kita beli topi ini, ya?" ucap Renza.
"Oke, bagaimana jika kita membeli ole-ole juga?"
"Boleh, pilih saja nanti kita bagi-bagi kepada orang rumah."
"Aku ingin membeli untuk temanku juga."
"Jangan lupa untuk si bodoh Deni juga."
"Iya."
Selesai membeli baju itu mereka pergi. Mereka menyuruh pemilik toko itu mengantar ke kamar resort mereka.
Matahari mulai berada ditengah-tengah kepala. Arinka dan Renza berjalan kesebuah restauran besar dan mewah di resort itu. Mereka merasa perutnya harus diisi. Renza memesan makanan yang paling direkomendasikan di restauran itu.
Sembari menunggu, mereka saling mengobrol beberapa hal dan saling menunjukkan perasan.
"Pip, kamu sudah tahu ya kalau Dina itu sepupunya Deni?"
"Oh ya? Tidak, aku tidak tahu."
"Ya, Dina sendiri yang bilang."
"Deni tidak bicara, dia mungkin sengaja mencari orang dekatnya karena menyangkut pertemanan kamu nantinya. Deni itu sangat jeli dan tegas, walaupun kadang bodoh juga," ucap Renza tertawa.
"Haha, tahu tidak? waktu pertama kali Dina memperkenalkan diri, aku kode-kodean sama Deni, maksudku ini ada cewek, ayo kenalan. Eh, malah dia acuh. tenyata eh ternyata sepupunya."
"Dia memang gitu, jika menyangkut wanita seperti tak berkutik."
"Semoga dia cepat dapat pasangannya. Amin."
Beberapa menit kemudian, makanan sudah tersedia dimeja. Mereka makan dengan lahap. Lama-kelamaan Arinka mulai terbiasa memakan makanan mahal mengikuti selera Renza. Sesekali Renza menyuapi istrinya itu. Mengusap bibirnya jika belepotan.
Selesai makan, mereka berjalan lagi dan saling menggenggam tangan masing-masing. Entah mengapa berjalan kaki bagi mereka sangat romantis.
Seharian ini begitu menyenangkan. Setelah hampir seharian berkeliling resort pulau itu, Renza melihat ada tempat penangkaran penyu. Renza kemudian mengajak Arinka ke tempat penangkaran penyu itu. Banyak sekali penyu disana, beragam ukuran sampai yang paling kecil. Renza menunjukkan tukik-tukik yang lucu itu kepada Arinka. Arinka sangat senang, kebetulan hari ini mereka akan dilepas kelaut.
Renza dan Arinka akan ikut melepaskan penyu kecil itu menuju laut lepas. Sesampainya di bibir pantai, saat akan melepaskan penyu kecil itu mata Arinka berkaca-kaca.
Renza menatapnya panik, ia takut istrinya kesakitan atau terkena sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Mimom sayang, kenapa?"
"Tidak apa."
__ADS_1
"Kenapa matamu berkaca-kaca seperti akan menangis? Apa kau sakit sayang?"
"Tidak, aku hanya sedih haru melepaskan penyu sekecil ini, lihat saja yang terkena terpaan ombak itu? mereka bersusah payah untuk berenang."
"Sayang, kau ini sangat menggemaskan. Hatimu juga lembut. Tapi sayang, ini bukan seperti kita tega kepadanya? ini memang sudah seharusnya, jika ia bisa bertahan dia bisa hidup, dan kelak dia akan menghasilkan telur yang lebih banyak."
"Benarkah? bagaimana jika penyu kecil ini mati?"
"Itu sudah hukum alam." ucap Renza seraya tersenyum.
"Ayo ambil dan lepaskan!"
Arinka melepaskan penyu kecil itu dengan hati-hati. Ia bersedih dan mengucapkan selamat tinggal. Tiba-tiba ombak datang, Kaki Arinka basah terkena deburannya. Arinka sangat bahagia sekali.
Arinka memainkan air laut itu, kemudian menyipratkannya kepada Renza yang sedang berdiri. Renza sontak terkejut dan tertawa.
"Awas ya, aku jadi basah!"
Arinka berlari seraya menyingsing dress floral nya menyusuri tepian pantai. Renza mengejarnya pelan seraya menyiramkan air laut kepada Arinka. Dengan langkah yang cepat Arinka tertangkap oleh Renza.
Renza memeluk erat tubuh Arinka seraya mengangkat dan berputar. Mereka sangat bahagia dan berharap waktu berhenti begitu saja.
Arinka dan Renza duduk di tepi pantai. Renza berdiri dan mengambil kayu. ia menuliskan kata-kata cinta untuk Arinka. Arinka tersipu malu.
Kemudian, Renza duduk lagi menghampiri Arinka. Renza melihat ada pasangan yang difoto oleh seorang fotografer. Renza berlari menghampiri fotografer itu. Ia ingin fotografer itu mengabadikan momen bulan madunya.
Kebetulan, fotografer itu khusus di pulau ini. Jika mereka yang berkunjung ingin mengabadikan momen nya hanya perlu membayar sedikit. Renza rela membayar bahkan jika mahal ia akan membayar demi sebuah momen berharga ini.
Jika ada Deni, aku tidak perlu mwngurusi hal seperti ini. Bisa-bisanya dia melupakan fotografer?
Renza kembali lagi berjalan menghampiri Arinka. Arinka sedang asyiknya menyentuh air laut. Pakaiannya sudah sedikit basah gara-gara permainan saling menyiram tadi.
"Ayo kita berfoto!" ucap Renza.
"Ponsel kita disana, ditempat penangkaran penyu."
"Kita akan menyuruh lelaki itu." ucap Renza.
"Aku malu."
"Jangan malu, aku ingin momen indah ini diabadikan."
"Hmmm... baikalh."
"Setelah pulang nanti, jika weekend kita akan berfoto lagi memakai pakaian pengantin, aku ingin menggantungnya didepan ruangan tamu dengan foto yang sangat besar."
"Iya sayang."
Potografer itu mulai mengambil gambar, beberapa kali lelaki potografer itu mengatakan jangan tegang, tetapi Arinka sangat tegang. Setelah cukup lama berpose bak model couple, Arinka mulai rileks. Sangat banyak foto yang diambil. Renza bilang bisa mengirimkannya nanti ke perusahaan Fariq company.
Mereka duduk kembali di bibir pantai, setelah melakukan beberapa pose foto. Arinka kembali menjahili Renza, ia menyiraminya dengan air laut. Mereka saling siram dan akhirnya baju mereka berdua hampir basah total.
Sore itu senja sangat indah, Renza dan Arinka msih duduk menunggu sunset. Sesekali Renza berbaring diatas pasir putih itu. Momen yang sangat indah bisa menatap sunset dengan seseorang yang dicintai di bibir pantai.
Perlahan Renza menatap Arinka lekat. Ditengah sunset itu Renza mengecup lembut bibir Arinka. Berulang kali dan sangat lama, sampai-sampai mereka hampir kehabisan oksigen.
Suasana senja yang sangat indah, momen bulan madu manis yang tak akan bisa dilupakan sepanjang hidupnya.
**Bersambung...
Hay Readers, masih edisi honeymoon ya? jadi masih menceritakan romantisme Arinka dan Renza, yang menanyakan Deni, sabar dulu ya ☺ gimana? apa kalian suka part ini?
Jika suka tolong beri like nya nya sayang...
dan jangan lupa juga kasih vote dan comment.
Yang ingin memberikan saran dan masukkan tulis aja, tapi yang sopan ya 😊
Author membaca semua comment kalian, tapi maaf Author tidak bisa membalas semuanya.
Terima kasih atas dukungan kalian ya ❤
Salam sayang dariku buat pembaca semua, Luv u All 😘😘**
__ADS_1