
Bugghh
Arinka jatuh tepat diatas tubuh Renza. Arinka refleks berpelukan kepada Renza, ada perasaan aneh dalam pelukan itu. jantung mereka berdegup kencang, mata mereka saling bertatap, deru nafas menjadi tak karuan, yah itu pertama kalinya mereka bersentuhan, bahkan berpegangan tangan saja mereka belum pernah,mereka berdua menjadi salah tingkah, bibirnya sangat dekat, hingga hampir saling mengenai satu sama lain, banyak pertimbangan dalam hati Renza apakah ia akan membalas pelukan itu, karena ia tau itu hanya pelukan refleks Arinka yang muncul dari ketakutan yang dibuat oleh dirinya, tetapi ada hasrat besar jauh didalam sana yang tidak bisa dielakan lagi bahwa ia sangat menyukai wanita ini.
Glek
Renza menelan ludahnya, samar-samar ia melihat wajah Arinka dalam gelap, bentuk hidungnya yang mancung dan bibir yang kecil.
Ah, kenapa ini? aku sangat ingin mengecup bibirnya.
Seketika Renza memegang bahu Arinka dan mendorongnya.
"Kau mencari kesempatan kepadaku ya? menjauh sana!"
Sial, kenapa aku berbicara begitu sih!
Arinka dengan cepat berdiri, membenarkan rambut dan bajunya, ia merasa malu telah memeluk Renza sembarang.
"Tidak, aku hanya reflek, Tuan sih mengejutkanku."
"Aku kan hanya bercanda, dasar kau saja ingin menyetuh tubuhku" tertawa licik.
"Isshh, jangan keGeeran ya, lagian itu hanya sebuah kesalahpahaman, kedepannya walaupun aku setakut apapun, aku tidak akan memeluk tubuh berhargamu itu." mendengus kesal.
Dia marah, sial aku salah bicara lagi. bagaimana aku akan membuatnya menyukaiku jika sikapku begini.
Renza menggaruk kepala padahal tidak gatal, ia kesal dengan tingkah dan omongannya, padahal itu suatu kesempatan yang langkah. Arinka mendekat dan mengambil remote disamping Renza dan menyalakan lampu.
"Bagaimana aku akan tidur jika lampu seterang ini?" ucap Renza
"Bagiamana aku akan tidur jika dalam keadaan gelap." bantah Arinka.
"Padahal dirumah kau tidur dalam gelap, kan? kenapa disini jadi masalah? kau beneran takut hantu ya?" terkekeh
Arinka diam tak menjawab pertanyaan Renza, sedang Renza dengan santainya tertawa terbahak tanpa memperdulikan Arinka, begitu pikir Arinka.
"Kau takut dengan suster ngesot ya?"
"Sial! jangan berbicara begitu disini."
__ADS_1
"Buahahaa" tertawa Renza sangat nyaring, sampai ia terbatuk saking lucu baginya, padahal Arinka ketakutan setengah mati.
"Tuan tidak suka kan aku menempel padamu, apakah Tuan ingin aku menempeli Tuan semalaman hingga Tuan tak bisa tidur." tertawa licik
Dia geli kepadaku, haha. lihat saja jika aku menempel padanya, aku atau dia yang tidak bisa tidur.
Pikiran Arinka itu sangatlah polos, Arinka masih menyangka selama ini Renza sangat membencinya dan tidak ingin berada dekat-dekat dengannya, ia berpikir jika ia menempel padanya, Renza akan sangat risih. ia salah besar berpikiran seperti itu, karena Renza yang kemarin sudah berbeda hari ini, Renza hari ini adalah Renza yang mulai menyukainya, dan sedang berusaha memenangkan hatinya walaupun dengan kelakuan konyol dan emosi yang meledak tidak karuan.
"Jika kau berani tidur diranjang ini awas saja."
Kau ingin aku menerkammu, ya?
"Aku akan sangat berani Tuan, jika Tuan mematikan lampu ini aku akan tidur di sebelahmu" nada mengancam yang konyol.
"Cih! kau sudah berani ya kepadaku?" melotot tajam memperhatikan Arinka. Arinka dengan cueknya menjulurkan lidah.
Dia menjulurkan lidahnya, ya ampun dia sangat manis.
kenapa setiap tingkahnya membuatku berdebar sih, bisa-bisa aku jadi Bucin. menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak, aku hanya merasa terancam, makanya aku membela diri."
"Ya sudah, terserah kau saja! Aku harus istirahat."
Aku sangat takut, kenapa sih harus sesepi ini di ruang vip. jika dibangsal umum mungkin aku tidak akan ketakutan, mana mungkin juga Renza ingin dikamar biasa. haha dia kan orang kaya dan seorang Ceo. Aku baru sadar bahwa Tuan Renza ini sangat dihormati, hanya aku saja yang tidak menghormatinya kadang-kadang. tertawa sendiri.
Arinka mulai berbaring di sofa itu, pikirannya menerawang jauh di kepalanya, banyak hal yang dipikirkannya, ia menoleh melihat Renza telah tidur. pelan tapi pasti matanya mulai lelah, ia merasakan kantuk dan akhirnya terpejam dengan lampu yang terang benderang.
beberapa jam kemudian Renza terbangun dan mematikan lampu dengan remote, yang tinggal hanyalah lampu remang yang romantis.
***
Pagi telah tiba, matahari sudah muncul dengan cahaya benderangnya, sinar nya masuk di celah-celah jendela kamar kesakitan itu. Rasanya sedikit aneh bagi Renza, ranjangnya menjadi sempit seketika, ia menoleh alangkah terkejutnya mendapati Arinka telah tidur diranjang bersamanya, baju yang ia kenakan sangat seksi membuat Renza menelan saliva melihat kemolekan tubuh itu.
"Kyaaaa" teriak Renza dengan susah payah Arinka membuka mata.
"Ada apa? sepagi ini teriak-teriak? apa ada kecoa?" ia masih tidak sadar akan keberadaannya.
"Kauuuu, kenapa kau bisa naik ke ranjang?" Renza merasa heran.
__ADS_1
"Apaaaaaaa!!" dengan cepat ia bangkit dari tempat ranjang kesakitan itu.
"Jangan-jangan kau menyentuhku seenaknya ya semalam" ucap Renza terkekeh.
"Sialan! memang aku semurahan itu sampai ingin menyentuh Tuan Renza yang agung ini." mendengus kesal
"Hahaha, bilang saja jangan malu-malu."
Ini orang menyebalkan sekali sih, ingin rasanya aku buang kelaut saja, dan aku musnahkan. Arinka menatap kesal.
Kenapa sakit ini seperti berkah buatku. gumam Renza pelan.
Arinka bergegas masuk kekamar mandi, ia sangat malu dengan perbuatannya, ia berusaha mengingatnya. benar saja ia naik di ranjang itu semalam dengan setengah sadar, saat ia terbangun lampu sudah gelap, ia sangat panik dan merasa ketakutan. ia merutuki dirinya dikamar mandi terdengar suara teriakan dari dalam sana, sedang Renza masih sibuk tertawa bahagia.
Mereka sudah berkemas pagi ini, hari ini mereka akan meninggalkan rumah sakit karena keadaan Renza sudah membaik. Deni sudah datang dengan setelan jas nya dan berdiri menanyakan kabar Atasannya itu. Renza menjawab dengan santai bahwa ia sudah membaik dan akan segera berangkat bekerja. Arinka masih sibuk berkemas, tak lama kemudian Dokter datang memeriksa keadaan dan perawat membuka jarum infus dari tangannya, terlihat wajahnya masam dan keningnya berkerut, Arinka yang memperhatikan tertawa kecil, ia tidak menyangka seorang Renza yang galak, tegas dan sombong itu sangat penakut kepada jarum suntik.
Deni sudah menyiapkan mobil, mereka naik kedalam mobil dan pulang kerumah, Renza berkata bahwa Arinka tidak boleh bekerja dulu hari ini, karena ia harus mengurus Renza dirumah, Arinka mengambil ponselnya dan menelpon Jefran, Arinka berbicara sangat sopan dengan senyuman lebar diwajahnya, Renza yang memperhatikan kesal setengah mati dengan senyuman Arinka, Renza mengambil ponsel Arinka dan mematikannya dengan cepat padahal ia belum selesai berbicara tapi untung saja ia sudah bilang tidak bisa kerja hari ini dan Jefran memakluminya.
"Kalau menelpon jangan lama-lama, dan jangan kebanyakan senyum, Aku tidak suka ya kau tersenyum begitu seperti wanita murahan padahal sudah punya suami." mendengus kesal.
Huh, Dia memang sudah kembali menjadi Renza asli setelah sakit kemarin dengan emosi dan ucapan anehnya itu.
"Aku kan menelpon Atasanku, mana mungkin aku berbicara kasar kepadanya, lagian dia tidak tau aku sudah punya suami." berbicara dengan nada tinggi.
"Dengannya kau bicara lembut, ini terbukti kau bicara kasar kepadaku, kau harus bilang bahwa kau sudah punya suami." menyerigai
"Haiss, iya akan aku bilang jika ia menanyakan nanti... iya aku minta maaf, Tuan."
Renza tersenyum penuh kemenangan,sedangkan Arinka mendengus kesal menatap keluar jendela, Deni yang mendengarkan tersenyum lucu mendengar perdebatan kecil sepasang suami istri itu.
**Bersambung.....
Jangan lupa vote dan comment ya Readers 😊
jika selesai baca aku harap kalian menekan tombol jempol, dan yang belum menekan ❤ silahkan tekan.
Salam sayang dariku..
Luv u 😘😘**
__ADS_1
Renzaldi Al-Fariq