Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 7 : malam pernikahan


__ADS_3

Renza berbaring di sofa dengan santai, sambil teringat Arinka yang terpeleset bibirnya mulai mengembang, Arinka tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat Renza semakin tersenyum lebar, "Ada apa denganku, apakah aku menyukainya? Ah tak mungkin," batinnya.


Arinka mondar mandir didepan pintu kamar mandi, dia ingin sekali keluar tetapi dia sangat malu untuk menatap wajah Renza, Arinka tidak pernah berpikir akan ada kejadian menggelikan ini dimalam pernikahannya.


"Apakah aku akan keluar, kalau keluar aku harus apa? Cuek saja atau menyapa atau langsung bergegas tidur." Arinka mengoceh terus sembari bibirnya gugup sambil menggigit jari.


"Apakah kau sudah selesai, apa yang kau lakukan dikamar mandi, aku sudah gerah sedari tadi belum mandi, cepat keluar!" ucap Renza penuh penekanan.


Arinka tak berbicara apa-apa, sebelum membuka pintu Arinka menghirup napas dalam dalam membuang sembarang.


Kreekk...


Arinka bergegas keluar tanpa menoleh kiri kanan, ia hanya fokus kedepan saja, Renza yang sudah berdiri didepan pintu segera masuk tanpa aba-aba.


"Apa yang kau lakukan didalam, kenapa sangat lama, apakah sesulit itu memakai piyama, dasar kampungan?" ucap Renza sedikit kasar.


Arinka tak menjawab dan hanya berlalu, dia pura-pura tak mendengar ucapan Renza.


Arinka sangat bingung, apa yang akan dilakukan mereka pada malam ini, Arinka tak pernah terpikirkan akan ada malam erotis antara mereka, ia hanya melamun tak menyangka dirinya telah menjadi istri sah Renzaldi Alfariq, Pemilik Fariq Company. dan kini statusnya sudah berubah menjadi nyonya Alfariq.


Tok... tok...


Suara ketokan pintu membuyarkan lamunan Arinka, dia segera membuka pintu, tak disangka ternyata Giska yang datang dengan style elegan, Arinka sebenarnya sangat ciut didepan Giska, karena bagi Arinka, Giska sangat cantik bak bidadari, tapi sayang kelakuannya sangat berbeda dari wajahnya.


Giska langsung menerobos masuk tanpa permisi dan tanpa dipersilahkan. Tatapan mata Giska melihat Arinka dari atas sampai kebawah lalu Giska tertawa.


"Astaga kamu benar-benar kampungan, piyama itu sangat cocok dengan gayamu yang norak," ucap Giska sambil tertawa meremehkan.


Arinka tak menjawab apapun dan berlalu duduk di sofa sedangkan Giska duduk di ranjang.


"Gaya seperti itu hanya membuat Renza muak, kau buka type nya, sadar diri lah ya, bagi Renza cewe seperti kau ini hanyalah mainan dan babu," ucap Giska tertawa sinis.


Lagi-lagi arinka hanya diam memendam kata-kata, ingin Arinka membalas ucapannya tapi dia berusaha bersabar.


"Bu, eh babu kemana Renza?"


Arinka tak menjawab lagi.


Ingin ku maki saja wanita tak sopan ini, dan kutampar mulut kurang ajarnya itu tapi aku harus sabar, cuek aja..., gumam Arinka.

__ADS_1


"Apa kau bisu, kau membuatku jengkel, dasar kampung ga tau diri! mau aku pukul ya biar kau bicara!"


Arinka hanya menghela napas dan membuang sembarang, sabarr Rin...


"Kau dengar ya wanita kampung, kau ini hanya akan bertahan paling lama 5-6 bulan saja, setelah itu kau akan diceraikan, kau ingat aku bicara apa tadi di pesta pernikahan, sepertinya aku hamil, maka dari itu persiapkan diri dan jangan sok mencari simpati kepada Renza, apalagi sampai menggodanya, ga akan ngaruh juga, Renza tetap mencintaiku, dari awal pernikahan kalian hanya keterpaksaan saja demi sebuah jabatan besar," ucap Giska menaikan nada setingkat lebih tinggi.


Aku tak ingin diam lagi, aku harus menjawab wanita ini. Arinka menghirup napas dalam lalu berbicara.


"Aku sudah berusaha bersabar dengan kalian, walau aku kampungan aku juga berhak atas diriku, kalau dihina berkali-kali aku tidak akan diam saja, kau jangan takut, Aku juga tidak mencintai Renza, tak perlu panjang lebar karena aku juga sudah tau pernikahan ini terpaksa, sedikitpun aku tak ada rasa untuk lelaki arogan itu, tetapi disini aku istri sah nya sedangkan kau hanya pacar? jadi tolong hormati aku sedikit dengan berbicara sopan," jawab Arinka tegas.


Plaakk!


Sebuah tamparan mendarat dipipi Arinka, Giska dengan berani menampar wajah Arinka, sehingga membuat wajah Arinka memerah, Arinka ingin menangis karena ini pertama kalinya dia diperlakukan dengan buruk, tetapi ia berusaha tak membalas tamparan Giska walaupun dalam hatinya ia ingin membalas.


"Dasar jalang murahan! beraninya kau meremehkanku, kau bilang hormat, berbicara sopan. Huh, sungguh menggelikan!" pekik Giska sampai terlihat urat-urat lehernya.


"Aku bukan jalang! sekali lagi aku ini istri sah, kalau kau suka setengah mati sama si Tuan Arogan itu ambil saja. Aku juga muak dengan kalian, jangan mentang-mentang aku diamz kalian bisa seenaknya denganku, melukai harga diriku. Jika kau ingin menikahinya cari cara agar kami bisa berpisah, aku sangat bahagia dan berterima kasih."


Kreekk...


Pintu kamar mandi terbuka, Renza keluar menggunakan handuk yang hanya membalut bagian bawah sedangkan dadanya dibiarkan polos.


Giska segera berlari kearah Renza, dan Arinka segera membalikan badan melihat tubuh atletis Renza.


"Gadis kampungan itu beraninya dia memanggilku jalang." Fitnah Giska.


Arinka terkejut padahal Giska la yang berbicara seperti itu kepadanya dan menamparnya pula, Giska pura-pura menangis didepan Renza.


Dasar wanita licik..., gumam Arinka.


"Beraninya kau Arinka, kau baru menjadi istriku belum satu hari tapi sudah berani mengatakan keburukan kepada pacarku. Dasar tak tau di untung! sudah aku bilang urusan wanitaku kau tak boleh ikut campur."


Giska tersenyum jahat penuh kemenangan karena telah di bela oleh sang kekasih, sedangkan Arinka hanya menahan tangis mendengar perkataan menyakitkan itu.


"Tadi kau berani bicara didepanku, kenapa sekarang kau mendadak diam, dia tidak berani bicara didepanmu yang, padahal aku lah yang tersakiti disini," ucap Giska melirik sambil menyerigai.


Arinka hanya menangis sambil membelakangi Renza dan Giska, Arinka meneguk air digelas dan segera keluar dari kamar hotel dan pergi meninggalkan meraka berdua.


Arinka berjalan menuju taman, ingin sekali ia pulang tapi Arinka tak ingin membuat Bi Yati khawatir, pasalnya ini malam pernikahannya, masa iya pulang kesana, pasti akan timbul banyak pertanyaan.

__ADS_1


Arinka duduk di sendiri di bangku taman memakai piyama, Arinka menangis teringat perkataan Renza yang menyakiti hatinya, "Aku benci orang seperti Renza dan Giska," bergumam pelan sambil terisak.


Dikejauhan Arinka melihat Renza dan Giska berjalan menuju mobil dan pergi entah kemana, "Sungguh miris nasibku, malam pernikahan ditinggal suami berselingkuh," jerit Arinka dalam hati.


"Hah, sebentar lagi hatiku akan keras seperti batu, selalu tersakiti terus, sungguh sial!" gumamnya sambil meneteskan air mata.


Arinka melirik sekitar, bola matanya memutar melihat sekeliling, dilihatnya ada seorang laki-laki yang melihat kearahnya, Arinka merasa curiga dan takut, kemudian ia duduk berpindah, tetapi lelaki itu ikut berpindah.


"Siapa disana?" teriak Arinka.


Tiba-tiba muncul seorang lelaki gagah, lelaki itu sangat tinggi dan tampan menuju kearah Arinka dan duduk disampingnya.


"Nyonya Arinka, perkenalkan saya Denista bisa panggil saya Deni, saya tangan kanannya Pak Renza, maaf sudah membuat Nyonya takut, saya kesini atas perintah Pak Renza."


"Kenapa dia memberi perintah? Apa pedulinya?" jawab Arinka, masih sambil menahan isak tangis.


"Iya Nyonya, Pak renza memang memberi perintah bahwa harus mengawasi gerak gerik Nyonya, supaya tak melapor kepada Nyonya Besar."


"Astagaa..., segitu takutnya Tuanmu itu kepada neneknya, Dasar!!" Arinka tak berani melanjutkan kata-katanya, karena Deni terus memandangnya dengan sorot tajam.


"Kenapa kau melihatku begitu, ada yang salah denganku? Oh ya aku tau aku wanita kampungan, miskin, menjijikan, dan juga jalang," pekik Arinka menangis menjadi-jadi.


Deni hanya diam, tak menjawab perkataan Arinka, Deni merasa iba melihat Arinka yang merutuki dirinya sendiri.


"Apa salahku? Kalau terlahir menjadi orang kampung apa itu salah, kalau terlahir miskin apa itu juga salah, bukan salahku bila aku menikah dengan Tuanmu itu, aku hanya terpaksa dan aku juga tak mencintainya."


Hiks... hiks...


Arinka menangis semakin menjadi dan terus bibirnya terus mengoceh, "Aku juga tak ingin menikahinya, aku sangat membenci dirinya, kelakuannya sangat memalukan bagiku, didepan neneknya dia baik padaku, sedangkan dibelakangnya dia memaki ku, Dasar pria munafik! Omong-omong kamu ada tisu?"


Seketika Denis tertawa sambil menyodorkan sapu tangan, sungguh wanita lugu batinnya.


Bersambung..


Dukung Aku ya, dengan cara beri kritik dan saran, jangan jadi pembaca gelap tanpa menghargai penulis..


Jika selesai membaca, jangan lupa tekan like nya 💋


Luv U 😘

__ADS_1


__ADS_2