Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 13 : Pindah Rumah part 2


__ADS_3

Renza turun ke bawah ingin mengambil air minum, dilihatnya meja makan sudah penuh dengan makanan yang lumayan banyak, matanya tertuju ke makanan kesukaannya yaitu : sop ayam.


"Tuan silahkan makan, ini makanan yang disiapkan khusus untuk anda, ini buatan Nyonya sendiri, Nyonya sangat semangat sekali membuatnya untuk Tuan."


"Aku sudah makan tadi, buang saja!"


"Hmm.. Baiklah, Tuan."


Kenapa harus dibuang? padahal Nyonya sudah masak bersusah payah, ada apa dengan Tuan dan Nyonya apa mereka tak saling bicara, kasian kamu nnyonya.


Bi ami membawa makanan itu ke dapur, tapi tak membuangnya, ditaruhnya sop ayam buatan Arinka tadi dilemari dapur, Renza berjalan ke ruang tengah menyalakan televisi sambil mengusir rasa bosannya, terngiang suara Bi Ami yang mengatakan bahwa Nyonya membuatnya dengan semangat.


Apa aku terlalu keterlaluan? Makan apa tidak ya, ahh sudahlah.


Renza berjalan kedapur celingak celinguk seperti pencuri, dia mempehatikan apakah ada orang disana, diperhatikannya Bi Ami sudah masuk kedalam kamar selesai beberes tadi, dengan langkah pelan, Renza membuka lemari, dimana tadi dia melihat Bi Ami menaruh sop ayam buatan Arinka.


Dibukanya pelan-pelan lemari itu, dilihatnya sop ayam dalam mangkuk yang lumayan besar, dia memberanikan diri menyicipi makanan itu.


"Hmmm... rasanya lumayan, sesuai dengan seleraku, ternyata dia jago juga masaknya," tersenyum tipis, "Apaaaaa!! Aku memujinya, gila aku tarik kembali ucapanku."


Bi Ami teringat bahwa Nyonya Arinka belum makan, Bi Ami sangat kasian teringat kata-kata Tuan Renza tadi, Bi Ami keluar kamar ingin mengambil air minum, dilihatnya Tuan Renza sedang membuka lemari, Bi Ami buru-buru menutup pintu dan mengintip.


Kenapa tuan Renza membuka lemari, ah, Tuan Renza mencicipi makanan buatan Nyonya, tapi kenapa tadi bilang di buang saja? apa Tuan ini sedang malu-malu atau gimana? aku pusing, sebaiknya aku diam saja, lagi pula bukan urusanku juga.


Bi ami mengamati dibalik pintu sambil tersenyum diam-diam. tiba-tiba, Pak Tino masuk kerumah mencari Bi Ami, Pak Tino mendapati Tuan Renza sedang mencicipi makanan dengan lemari terbuka, Pak Tino merasa kebingungan, kenapa majikannya itu tak makan di meja makan.


"Tuan, kenapa makan disitu? Apa harus aku panggilkan Bi Ami kesini?"


Mampus aku ketahuan, bagaimana ini?


Bersikap biasa saja, huh tarik napas dan senyum.


"Ssttttt! jangan berisik." raut wajah terkejut melihat kehadiran Pak Tino yang entah datang dari mana tetapi mencoba tersenyum semanis mungkin.


"Kenapa Tuan, ada apa?" Pak Tino memelankan suaranya.


"Jangan banyak bertanya, dan jangan memanggil Bi Ami, aku hanya melihat lemari terbuka jadi aku menutupnya." gelagapan seperti ketauan mencuri.


"Tapi aku lihat Tuan sedang makan, itu tadi sedang mencicipi makanan dan sendok juga masih ditangan Tuan?" berbicara dengan polos tanpa merasa bersalah.


Renza dengan segera melepaskan sendok hingga terjatuh kelantai, dan segera berlalu ke ruang tengah tanpa berkata lagi, ia meninggalkan Pak Tino yang sedang dalam kebingungan yang hakiki.


Bi Ami keluar dari kamar setelah melihat pak Renza berjalan keluar dari dapur menghampiri Pak Tino yang masih terlihat bodoh berdiri mematung disana.

__ADS_1


"Ada apa, Pak Tino? kenapa berdiri disini? Apa ada perlu? Dan mengapa sop ayam ini disini?" berpura-pura tak tau kejadian apa yang terjadi barusan.


"Aa-aku juga kebingungan, tadi Tuan bilang..." belum selesai melanjutkan perkataannya Renza berdeham, membuat Pak Tino kelupaan akan kata-katanya.


Renza mondar mandir sambil melihat kearah dapur seperti orang bodoh, ia takut kebohongannya tadi dibeberkan oleh Pak Tino.


Kenapa juga aku terlihat bodoh, aku pemilik rumah ini. aku yang berkuasa mereka pasti tunduk dengan kata-kataku dan menghormatiku.


"Ya ampun jangan-jangan aku lupa menaruhnya tadi, astaga aku sungguh pelupa," ucap Bi Ami bersandiwara dengan baik.


Syukurlah, ternyata dia lupa. Huh! lega.


Pak tino yang sudah lupa dengan kata-katanya tadi hanya ingin meminta Bi Ami membuatkan kopi, Pak Tino itu sosok orang yang pelupa jika omongannya dipotong begitu saja.


"Tuan, apa Tuan ingin dibuatkan kopi? Oh ya, Nyonya kemana? Apa sudah tidur? "


"Boleh juga, Bi. iya... dia sudah tidur."


"Padahal Nyonya belum makan sama sekali, tadi Nyonya menunggu Tuan untuk makan bersama."


Apaaa, dia belum makan? Menungguku? Kenapa? Bukannya malah makan sendiri saja, dasar bodoh! percuma juga padahal aku sengaja meghindarinya, kasihan juga dia belum makan, aku harus bagaimana? Aku bangunkan saja sebaiknya, ah tidak aku suruh Bi Ami saja.


"Bi Ami pergi bangunkan dia, nanti dia kelaparan tidak makan, sebenarnya tidak akan mati semudah itu juga, jika tidak makan sehari."


Kenapa Tuan sedingin ini? aku jadi takut kalau-kalau membuat masalah dengannya, tak bisa ditebak, benar-benar aneh.


Bi Ami naik ketangga menuju kekamar utama dirumah itu, diketuknya pintu memang tak ada jawaban, Bi Ami membuka pintu pelan dan masuk, dilihatnya Arinka tengah terlelap di sofa, ada bantal dan selimut disitu seperti memang tempat tidur seseorang.


Apa jangan-jangan mereka tidur terpisah, kalau iya ada apa dengan mereka?


Mereka memang tidur terpisah, tetapi Renza tak menyuruh Arinka tidur di kamar lain, karena pasti akan mengundang pertanyaan besar. apalagi Renza tak ingin ketauan dari Neneknya kalau-kalau ada seseorang yang mengadu nantinya.


"Nyonya bangun, Nyonya belum makan malam," ucap Bi Ami sambil menyentuh tangan Arinka.


Arinka dengan sigap bangkit dari tidurnya seperti orang terkejut. ia mengusap matanya dan tersenyum.


"Astaga aku ketiduran ya, Bi? Apa Tuan Renza sudah makan, jam berapa ini?"


"Tuan sudah makan, Nyonya."


"Ah, syukurlah."


"Tapi makan diluar, Nyonya. tadi sepulang dari kantor mungkin."

__ADS_1


Raut wajah kecewa terpancar jelas di wajah Arinka, entah kenapa dia sangat bersemangat dengan hari ini, mungkin karena hari ini hari pindahnya kerumah baru, jadi dia ingin semuanya seperti baru, begitu juga dengan sikap Renza, tapi sayang itu mustahil, Renza tetaplah Renza yang kemarin yang belum berubah.


"Tidak apa-apa, Bi. yang penting dia sudah makan."


Sudah aku duga, Ah.. yang penting aku sudah berusaha.


"Ayo, Nya, kita turun."


Mereka turun bersamaan dari lantai atas menuju kedapur, Arinka melihat Renza sedang menonton tv dengan pw. (posisi wenak)


"Bibi hampir lupa, tadi Tuan ingin kopi, akan aku buatkan sebentar, Nyonya makan saja, masih ada makanan dimeja hanya sop ayam saja yang Bibi taruh di lemari."


"Kenapa, Bi. hanya sop ayam yang ditaruh lemari?"


"Maaf ya, Nyonya, Tuan bilang tadi buang saja."


Segitu tak berartinya aku dimatanya, tak bisakah sedikit saja bersandiwara? sampai makanan pun ia tidak suka, bahkan harus dibuang.


"Tidak apa-apa, Bi, kan bukan salah Bibi."


"Ada apa sih dengan Tuan dan Nyonya, apa lagi bertengkar?" keingintauannya membuncah.


"Hmm tidak ada apa-apa, Bibi mengerti lah, kami ini kan hanya pasangan perjodohan." sambil tersenyum penuh kekecewaan, namun Bi Ami masih mencerna kata-kata Arinka.


"Iya, Nya, oh ya, Bibi antar kopi dulu ya?"


"Jangan, letakan disitu saja, biar Arin yang antar, Bibi kemasin saja semua makanan dimeja ini sampai bersih ya, Arin sudah selesai makan."


"Baik, Nyonya."


Arinka berjalan menghampiri Renza sambil membawa secangkir kopi panas kemudian meletakkannya dimeja.


"Ini kopinya? Maaf aku yang mengantarnya, tapi tenang saja yang membuatnya tetap Bi Ami, bukan aku, jadi diminum saja jangan dibuang."


"Hemm." menjawab dengan kata-kata yang paling singkat, setelah itu hening tanpa pembicaraan apa-apa lagi.


Bersambung..


Yang suka, bisa like ya. dan bantu vote.


comment kalian aku tunggu ya 😊


Salam sayang buat Readers semua ❤

__ADS_1


Luv u 😘💋


__ADS_2