
Pagi hari, suasana masih sangat asri. Mentari masih malu-malu menampakkan cahaya dari ufuk timur. Embun berjatuhan dari ujung-ujung dedaunan menapaki tanah. Kicau burung bersahutan menambah syahdunya pagi itu. Setiap orang memulai aktifitas rutin mereka mengais rezeki.
Arinka sudah bangun dan menuruni tangga kamarnya. Ia berjalan keluar rumah. Arinka berpamitan kepada bi Ami untuk jalan-jalan pagi keliling komplek perumahannya. Arinda tak ingin membangunkan Renza, karena suaminya itu terlihat kelelahan.
"Jangan jauh-jauh, ya, Nya!" ucap Bi Ami.
"Iya, Bi. Keliling kompleks saja sekalian cari udara segar. Jika Renza bangun nanti, bilang padanya aku jalan-jalan sebentar."
"Baiklah, Nya."
Wanita itu meninggalkan rumahnya setelah memakai sepasang sepatu couple pembeliannya sendiri. Sambil mengikat rambut panjangnya, wanita itu berjalan kecil menapaki jalan yang sepi didaerah kompleks perumahannya.
Langkah kakinya pelan sambil menghirup udara segar. Tangannya sesekali ia angkat ke udara. Bibirnya tak henti menggunggingkan senyuman. Sesekali ia mengusap perutnya sambil bermonolog sendiri. Yah, maksudnya berbicara kepada baby dalam perutnya.
Cukup jauh ia berjalan, ada rasa lelah menghampirinya. Kini mata Arinka melihat tempat duduk yang berada dibawah pohon akasia besar. Dengan langkah cepat ia menghampiri tempat duduk itu.
"Huh!" hembus napas kasar keluar dari mulut mungil nya. Lama kelamaan duduk angin sepoi yang menerpa tubuh berkeringat nya itu membuat badannya menjadi dingin. Sambil bersandar, Arinka memejamkan mata menikmati suasana dibawah pohon akasia itu.
Renza bangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba kasur tempat Arinka tidur. "Sayang," seru Renza dengan mata tertutup. Namun, tangan itu tak menemukan apa yang ia cari dan tak ada jawaban dari seruan nya itu.
Renza membuka mata, melirik setiap sudut kamar. "Pasti sudah didapur," pikirnya. Segera Renza masuk kekamar mandi. Sekilas Renza melihat pakaian kerja yang sudah istrinya siapkan dengan rapi di atas meja.
Beberapa menit melakukan aktivitas mandi, Renza keluar dari kamar mandi. Ia memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Arinka tadi. Kemeja putih dengan celana chino. Tak lupa Renza menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum.
Renza menuruni tangga dengan senyuman. Bola matanya memutar mencari sosok wanita yang ia cari. Namun, mata itu tak menemukan apa yang ingin ia lihat.
Bi Ami yang menyadari Renza sudah bangun, segara berucap fasih. "Ny. Arinka pamit jalan-jalan pagi di sekeliling kompleks," ucap Bi Ami sambil meletakkan buah yang sudah di potong.
"Jalan-jalan sendirian? kata Renza yang sedari tadi berdiri itu segera berjalan keluar mencari Arinka.
Ada rasa panik saat istrinya itu berjalan sendiri tanpa seseorang yang menemani. Dengan langkah seribu, ia berlari mencari istrinya itu. "Dimana sih kamu, sayang?" kata Renza sambil berlari celingukan.
Arinka masih duduk dibawah pohon akasia mendongakkan kepalanya sambil menghirup udara segar sambil memandang langit yang mulai kebiruan. Matanya sesekali terpejam mendengarkan kicauan burung.
Seseorang berdeham didekatnya. "Ahem!" Arinka membuka mata dan melirik ke sosok yang berdeham itu. Arinka mengernyitkan dahinya merasa aneh melihat orang didepannya.
"Boleh duduk sini," ucap wanita itu. Dengan anggukan Arinka menjawab perkataan wanita yang langsung duduk sebelum di iya kan.
"Kamu jalan-jalan pagi juga?" tanya wanita yang tersenyum menatap kearah Arinka.
"Iya, kamu juga?" Arinka menyunggingkan bibirnya tipis sambil menggaruk kepalanya.
"Kamu pasti bingung, kan? Kenapa aku ada didaerah kompleks ini? Ga mau bertanya kah?"
"Emm ... hehe." Arinka hanya tertawa kecil.
"Kami pindah kesini, kebetulan Jeffran membeli rumah di seberang sana." Sinta menunjuk rumahnya.
"Oh ... jadi kalian yang tinggal disana sekarang? Selamat atas kepindahan kalian, ya." Arinka masih tersenyum tapi tak saling menatap. Wanita itu memilih berpaling menatap awan.
__ADS_1
Sinta berbicara layaknya mereka berteman dekat. Arinka menjawabnya dengan santai walau mungkin dalam hatinya ada rasa risih. Pasalnya mereka tidak benar-benar dekat.
"Mimom ... mimom!" teriak seseorang dari kejauhan. Bola matanya secepat kilat memutar mendengar nama panggilan kesayangannya dipanggil. Walau dengan mata terpejam pun ia tahu bahwa itu suaminya.
Renza berjalan menghampiri Arinka. Matanya menatap sinis kearah wanita disamping Arinka.
"Hey," sapa Sinta dengan senyumannya. Renza menoleh sekilas tapi tak terlalu menggubris sapaan Sinta. Matanya langsung fokus kearah istrinya. Bibirnya seketika langsung banyak bicara.
"Kenapa jalan sejauh ini, sih? Padahal kan sering musim hujan. Gimana kalau hujan tiba-tiba. Jangan buat pipom panik, dong, sayang." Renza merangkul Arinka dengan senyuman paling manis. Sedangkan ada sorot mata iri disampingnya melihat kekhawatiran Renza kepada istrinya itu.
"Kan ga terlalu jauh. Kalaupun hujan bisa berteduh," sahut Arinka memberi pembelaan diri.
"Mana bisa, tidak ada tempat untuk berteduh disini. Ayo pulang!" ajak Renza menggandeng lengan Arinka.
"Eh, Sin ... duluan nya," kata Arinka sambil melambaikan tangan. Sinta mengangguk dengan senyuman paksa. Rasa cemburu masih membakar dadanya melihat orang yang pernah ia cintai itu bermesraan didepan matanya.
"Kenapa masih saja terasa sakit. Padahal aku sudah memiliki lelaki lain. Aku masih mencintainya," ucap Sinta bermonolog.
Renza dan Arinka berjalan sambil bergandengan tangan pulang kerumahnya. Setelah lumayan jauh dari Sinta, Renza menegur Arinka agar jangan terlalu sering berjalan sendiri.
"Iya maaf, nanti kalo jalan-jalan ga bakalan jauh sampai ke taman. Tadi hanya keasyikan mendengar suara burung."
"Pipom marah jika mimom berpergian sendiri. Dan juga kenapa wanita itu ada di sekitaran kompleks kita?"
"Sinta baru pindah. Berarti mereka sudah menikah," jawab Arinka bicara sambil menatap langkah kakinya.
"Oh, jadi mereka penghuni baru."
" Belum."
"Pasti terlalu panik 'kan?" Arinka tertawa lucu menatap wajah sang suami yang mulai emosian.
"Tertawa? Ga tau apa pipom panik seperti ini. Pipom takut mimom kena hujan, terlalu capek. Atau kemungkinan lain di culik org."
"Siapa yang mau culik? Ada-ada aja."
"Ada-ada aja?" Renza membesarkan matanya. "Bagaimana jika si gila Giska kemarin belum tertangkap? Dia bisa saja menyakiti mimom. Lagipula Pipom juga ga suka mimom dekat sama Sinta. Walau sudah jadi tetangga kita, tolong kasih jarak."
"Masih suka, ya, sama mantan?" Arinka melepaskan tangannya dari Renza dan berlari meninggalkan suaminya. Terdengar suara tawa yang meledak menjauh meninggalkan Renza.
"Ish, jahilnya istriku ini ... Tunggu, Pipom!" teriak Renza. Namun, Arinka sudah jauh meninggalkannya.
Sesampai didepan teras rumah, Arinka duduk di kursi panjang. Napasnya berhembus cepat akibat berlari terlalu cepat. Sesekali ia mengusap perutnya dan tersenyum menatap perutnya sendiri.
"Astaga, bumil ini larinya cepat juga," kata Renza sembari duduk disebelah Arinka.
"Yah, bajunya jadi bau keringat. Ganti lagi." Arinka beranjak dari kursi. Namun, dengan cepat Renza memeluk Arinka dari belakang. Arinka terperanjat. Sambil menoleh, ia mencubit lengan Renza. "Aww," ucap Renza manja.
"Mimom mau masuk kedalam, ayo sarapan! Ganti baju juga. Kenapa juga, sih, lari-larian?"
__ADS_1
"Kan lari ngejar mimom. Lain kali jangan lari seperti itu, takut perutnya mimom sakit."
"Iya. Maaf, ya, sayang."
"Eh, kok, minta maaf. Gapapa ... Ayo masuk jangan mematung, katanya tadi mau masuk nemenin sarapan?" Renza memegang tangan Arinka, lalu menariknya pelan.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah. Tak lama, terdengar suara mobil yang sangat familiar ditelinga. Mobil itu menyalakan klakson.
"Pagi," sapa Deni dengan bibir tertarik sempurna. Terlihat dari raut wajahnya lelaki itu sedang bahagia.
"Pagi juga," sahut Arinka sambil menarik kursi makan. Renza tak menyahut hanya menaikkan alisnya dan mengatakan, "Hm ..."
"Baru mau sarapan?" tanya Deni.
"Iya," jawab Arinka.
"Lah? Kenapa Pak Renza terlihat berkeringat? Habis olahraga?"
"Ya, habis olahraga!" jawab Renza dengan nada seperti membentak.
"Pagi-pagi sudah ngegas." Deni cekikikan sambil menutup mulut.
"Kau menertawakanku?" Renza membulatkan mata menatap Deni.
"Mana berani," sahut Deni melengos mengalihkan pandangan. Arinka tersenyum lucu menatap mereka berdua.
"Kau terlihat sangat gembira, Den. Ada apa?" tanya Arinka sambil meminum air putih dari gelas yang dipegangnya.
"Hmm ... Nyonya hebat! Bisa menebak wajah orang."
"Istriku memang selalu hebat," sahut Renza sambil menyuap sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Pandangannya lurus kedepan menatap Arinka tanpa menoleh kearah orang yang sedang bicara.
"Iya, sudah tahu." Lagi-lagi Arinka tertawa menatap dua orang itu. Semenjak Arinka hamil, Renza seperti musuhan kepada Deni. Entah hal aneh apa yang terjadi. Arinka malah senang melihat perkelahian mereka.
"Paling masalah Risa, apalagi yang membuat dia sebahagia itu."
"Ya begitulah. Wajar lah bahagia, sebentar lagi aku akan melamar nya."
"Wah! Biasa aja, sih," ucap Renza memasang wajah datar.
"Haih ..." Deni menghembuskan napas kasar.
"Selamat!" ucap Arinka tersenyum lebar.
"Belum juga lamaran, kenapa dikasih selamat." Lagi-lagi Renza membuat Deni mulai kesal. Untung saja, ia sudah terbiasa.
"Mimom sangat senang melihat kalian tidak akur," ucap Arinka sambil tertawa terbahak.
"Hah! Wah ... kalian benar-benar sesuatu!" Deni menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Renza memperlihatkan senyumnya. Namun, bukan terlihat manis, malah terlihat menyeramkan.
Selesai sarapan, Renza naik keatas. Beberapa menit kemudian, ia turun dengan kemeja berbeda. Yah, ia menggunakan kemeja warna biru langit. Setelah mengecup kening istrinya, Renza berangkat kekantor melesat menggunakan mobil bersama Deni.