Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 11 : Pengangkatan Ceo


__ADS_3

"Sangat cocok Nenek suka Arin memakai gaun itu, coba lagi yang lain dan beli juga tas yang bagus yang selaras dengan warna gaun dan sepatunya."


"Mau berapa banyak lagi, sudah cukup, Nek. ini sudah banyak bagi Arin."


"Gapapa kan jarang, Rin, kita berbelanja seperti ini."


Kalau dipikir, memang benar. lagian juga aku ingin memakai gaun yang mahal dan pergi kesalon, aku ingin terlihat cantik didepan Tuan Renza.


Selesai membeli pakaian, Arinka dan Nenek pergi ke salon menata rambut dan makeup, alhasil Arinka tampak beda dengan dirinya yang tadi.


Mereka pulang dengan membawa tas belanjaan yang banyak, mereka harus berkemas dan pergi menghadiri Pesta pengangkatan Ceo baru Renzaldi Alfariq.


 


Suara tepuk tangan riuh, ketika penobatan Renza menjadi Ceo Fariq Company, Nek Murti sangat bahagia dengan posisi baru cucunya itu.


"Selamat ya kak Murtiyani, cucu anda telah berhasil menjadi Ceo Fariq, aku senang sekaligus bersedih." ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Saudara tiri Nek Murti Dahlan Gani."


"Terima kasih, dan terima kasih juga kau sudah datang" dengan senyuman yang dipaksakan.


"Aku pasti datang, aku tak sabar melihat perkembangan Fariq company di tangan cucu tersayangmu itu, apabila pada masa jabatan menjadi CEO dia tak mengalami kemajuan, aku akan dengan sigap merebutnya kembali." tertawa pelan namun menusuk.


"Kau jangan khawatir itu semua tak akan terjadi" tertawa sinis menyerigai.


Renza berjalan mendekati Nenek dan Saudara tirinya Dahlan, Renza membungkukan badan tanda hormat dan juga bersalaman.


"Apa kabar, Paman?" ucap Renza.


"Kabarku baik, tak perlu basa basi aku tetap tak menyukaimu,huh!" setengah berbisik.


Renza menyerigai dengan tatapan ramahnya seraya berbisik kembali, "Aku juga tak suka basa basi, sebaiknya jika kau tak menyukaiku, silahkan pergi dari sini dengan hormat."


Wajah Dahlan seketika merah padam menahan marah, untung ditempat ramai, kalau tidak mungkin Renza telah dipukulnya, Dahlan berjalan pergi meninggalkan acara tersebut.


"Arinka, ayo kesini! kita berkeliling menyambut tamu lainnya."


Apa dia berbicara padaku sambil tersenyum, benarkah?


"Aa-aku," jawab Arinka gelagapan.


"Iyaa, Ayo kita kesitu menyapa teman dan kolega lainnya."


Dia pasti kepedean, tapi dia benar-benar luar biasa cantik, aku sempat pangling dan hampir tak mengenalnya.

__ADS_1


Sementara itu, Deni sibuk menahan seorang wanita yaitu: Giska, dia ingin masuk keacara Renza dan memberi selamat, Deni sekilas melihat Renza sudah menggandeng istrinya Arinka didepan khalayak ramai, dengan sigap Deni menghentikan Giska jangan sampai ada kesalahan.


Dasar wanita tak tau malu, Pak Renza sudah tau kau punya kekasih lain, dasar tak setia dan tak tau diri, Cih!


"Aku ingin bertemu kekasihku, kenapa kau menghalangiku?


"Maaf, Nona. ini acara resmi yang tak berkepentingan dilarang masuk."


"Tapi dia tak menjawab telponku, juga tak membalas pesanku, ada apa dengannya? Tak biasanya dia seperti ini, sesibuk apapun dia pasti ada waktuku. Minggir aku ingin masuk." setengah berteriak.


Nenek murti sekilas melihat wanita itu tetapi tertutupi dengan tamu penting yang berbincang dengan beliau.


"Maaf tetapi anda tidak diperbolehkan masuk, silahkan pulang!"


Aku muak melihat wanita pengkhianat ini.


"Kau ingin mencari gara-gara rupanya, minggir bodoh! atau aku teriak biar semua orang disini tau bahwa aku pacarnya Renza."


Dengan sigap Deni menarik tangan Giska masuk kedalam ruangan kosong, sedikit kasar dan membuat wanita itu meronta ingin dilepaskan.


"Aww sakit, dasar laki-laki tak tau diri! kau ingin dipecat! setelah aku adukan kau berlaku kasar padaku, dia pasti akan segera memecatmu, Renza itu sangat mencintaiku."


"Hah! jangan terlalu pede dulu, Nona. kau lihat tadi Pak Renza menggandeng tangan Istrinya Nyonya Arinka."


"Memangnya kenapa? persetan dengan istrinya itu, karena akulah yang ada dihatinya."


"Memang benar kau yang ada dihatinya, tetapi akan bertahan berapa lama, cara bicaramu sangat kasar tak sesuai dengan bentuk wajahmu yang lugu itu, sayang sekali kenapa Pak Renza bisa jatuh cinta pada wanita seperti ini."


"Terserah apa katamu, kita lihat saja nanti akhirnya."


Mengapa kata-katanya begitu tenang, apa dia tau rahasiaku, ahh tidak mungkin.


"Jika kau ingin menunggu, silahkan tunggu diluar dan jangan cari masalah, jika kau cari masalah aku tak akan tinggal diam, buat lah acara ini berjalan dengan semestinya dan jangan berani mencoba merusak reputasinya, kau dengarrr!!" ucap Deni dengan nada yang setingkat lebih tinggi dan penuh penekanan sambil berlalu meninggalkan wanita itu.


Kenapa aku jadi takut pada lelaki ini, jika Renza tau dia menggertakku, habis lah kau sekretaris gila, haha.


Nenek murti sangat bahagia melihat Renza dan Arinka bergandengan tangan seperti itu, "Semoga kalian bisa secepatnya saling mencintai...," gumam Nek Murti dalam hati. Nek Murti melihat kesana kemari dia mencari sosok Deni, dia ingin menanyakan apa yang terjadi diluar, dengan siapa dia berbicara, tetapi Deni seolah menghindar dari Nek Murti, ia tidak ingin memperkeruh suasana.


Deni mendekati Renza dan berbisik ditelinganya, airmuka Renza sedikit berubah tapi kemudian normal kembali, entah apa yang diucapkan Deni, Arinka hanya menduga-duga.


"Sayang, ini kepala divisi keuangan perkenalkan namanya Tio."


Apa dia memanggilku sayang, aku dia mimpi, atau dia sedang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Saya Tio," ucap lelaki itu.


"Saya Arinka." sambil bersalaman.


"Selamat atas pernikahan kalian Nyonya."


"Dia masih single sayang," ucap Renza sambil tertawa sedang Arinka hanya tersenyum tipis.


Andai setiap hari aku melihat dia tersenyum dan memanggilku sayang, Ah sadar Arinka.


"Istri anda sangat cantik, Pak. sayangnya dia bertemu Pak Renza duluan, jika tidak mungkin aku yang akan menjadikannya istri," ucap Tio terkekeh.


Raut wajah Renza seketika berubah, padahal itu hanya sebuah candaan tetapi ada rasa kesal terbesit dibenaknya.


Beraninya dia berbicara begitu, aku sangat marah,ingin ku balas perkataan kurang ajarnya itu, tapi kenapa? Apa yang salah dengan kata-katanya, berusaha menyakinkan hatinya.


"Maaf, Pak Renza. aku hanya bercanda, jangan diambil hati."


Tak seharusnya aku bercanda seperti itu, mampus aku jika dia marah.


"Ah, tidak apa santai saja." sambil berlalu dan menarik lengan Arinka dengan kuat.


Aww sakit sekali, kenapa lagi dia ini? Tadi aku sangat bahagia dia bilang sayang sekarang berulah lagi


Renza masih dengan raut wajah senyumnya berjalan melewati karyawan-karyawannya masih sambil memegang lengannya Arinka, ditengah keramaian itu Renza berbisik sesekali.


"Kau jangan terlalu gampang dipuji, kau tidak cantik dan juga dia tadi hanya bercanda berkata begitu."


Apa maksudnya, aku juga tak bergeming dengan pujiannya, karena aku tau itu hanya bualan.


"Ahh romantis sekali sih Pak Ceo dengan istrinya itu." teriakan itu terdengar sampai ketelinga Renza, Renza lalu berbisik kembali membuat Arinka tersipu malu.


"Ayo kita perankan suami-istri yang baik didepan mereka yang terlihat sangat mesra dan mencintai."


Arinka hanya mengangguk pelan.


Ada apa dengan hatiku, kemarin aku memakinya hari ini sekali mendapat perlakuan baik sedikit aku menjadi luluh kepadanya, apakah benar hati ini mulai menyukainya? Haha, tidak mungkin. aku tidak akan mungkin menyukainya dengan sikap arogannya itu.


**Bersambung..


Berikan Vote dan comment sebagai dukungan kalian padaku, agar aku lebih semangat menulis lagi..


Jika selesai baca jangan lupa tekan like ya 😊**

__ADS_1


Luv u 😘


__ADS_2