Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 85 : Sebuah paket


__ADS_3

Setelah bermanja-manja, Arinka dan Renza duduk di tempat favorit mereka, yaitu di balkon. Mereka paling suka di sana karena bisa menatap cahaya bulan dan kemerlip bintang.


Arinka duduk dan menyandarkan kepalanya dibahu Renza. Beberapa menit mereka duduk di sana, tidak ada percakapan apapun. Renza hanya mengelus rambut Arinka lembut. Suasana menjadi hening. Sampai ketika terdengar suara perut yang cukup keras. Si cacing sudah minta di isi dengan makanan.


Kreok ...


Renza menoleh dan mengernyit. "Mimom lapar, ayo kita makan?"


"Hehe, iya mimom lapar. Tapi masih betah di sini."


"Nanti sesudah makan kita duduk di sini lagi, sampai larut juga boleh. Sekarang kita makan dulu, jangan sampai nantinya terjadi apa-apa dengan Mimom. Pipom tidak mau sampai Mimom sakit."


"Iya, sayang. Ayo turun!"


Renza dan Arinka bangkit dari kursi dan masuk ke dalam rumah. Kemudian, mereka menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Di sana makanan sudah tersedia di atas meja. Arinka tersenyum menatap Bi Ami dan mengatakan terima kasih.


Bi Ami memasakkan sup kesukaan Renza. Akhir-akhir ini, setelah Arinka keguguran, ia jarang berada di dapur karena Renza tidak menyuruhnya.


Mereka berdua makan dengan lahap sambil sesekali mengobrol.


"Aku sudah lama tidak memakan sup ayam," ucap Renza.


"Maaf, ya, Mimom tidak memasakkan untuk pipom."


"Tidak apa-apa, selain ke tempat kursus mimom dilarang memasak di dapur. Istirahat saja biar kandungan Mimom cepat pulih."


"Tapi ini terlalu manja."


"Tidak, pokoknya mimom harus mendengarkan pipom, ya?"


"Baiklah, sayang."


Setelah selesai makan, mereka berdua duduk di sofa di depan televisi. Ada suara bel di bunyikan di luar. Arinka berdiri, ia ingin membukakan pintu. Renza mendongak. Namun, Arinka tersenyum. Arinka kasihan melihat Bi Ami sedang sibuk membereskan meja makan.


"Biar saya saja, Nyonya," ucap Bi Ami.


"Tidak apa-apa, Bi. Bibi teruskan saja membersihkan meja makan."


"Pipom saja yang buka," kata Renza.


"Sudah biar Mimom saja. Hanya sebentar, kok."


Arinka berjalan menuju pintu utama di rumah itu. Pintu buka dua itu sangat kokoh dan elegan. Arinka baru menyadarinya, karena ia tidak pernah sama sekali membukakan pintu.


"Pengantaran paket."


"Malam-malam begini ada paket?"


"Iya, ini hari ini pengiriman paketnya banyak jadinya sampai malam," ucap kurir lelaki yang memakai helm itu.


"Terima kasih," ucap Arinka.


"Iya, saya permisi dulu, ya." Kurir itu melajukan motornya dengan cepat meninggalkan halaman rumah mereka.


Arinka berjalan menuju ruang keluarga seraya membawa kotak paket persegi itu kepada Renza. Karena paket itu di tujukan untuk Renza.


"Siapa?" tanya Renza tersenyum sambil mengganti siaran televisi menggunakan remote.


"Kurir," jawab Arinka seraya meletakkan kotak persegi di atas meja.


"Kurir? Kenapa kurir semalam ini?"


"Katanya hari ini banyak paket, makanya kurir itu mengantar sampai malam."


"Oh ... Mimom memesan sesuatu?"


"Tidak. Ini untuk Pipom."


"Untukku." Renza mengeryitkan dahinya. "Dari siapa?" memegang kotak persegi itu ingin membukanya.


"Di situ tidak ada nama pengirim, dari siapa, ya?"


"Tak tahu juga. Buka saja."


Renza mulai membuka paketan kotak persegi itu dengan membuka lakban yang menempel di kotaknya. Lumayan sulit hingga membutuhkan bermenit-menit untuk membukanya. Arinka sangat antusias karena paketan itu tidak berat tapi juga tidak ringan.


Setelah dibuka, Arinka berteriak ketakutan. Renza segera menyingkirkan kotak itu. Renza bergegas bangkit dan memeluk Arinka. Renza merasakan jantung Arinka berdebar sangat kuat.


"Kurang ajar! Siapa yang berani bermain-main denganku. Bisa-bisanya mereka mengirim boneka bayi berlumuran darah seperti ini."

__ADS_1


"Aku benar-benar terkejut. Siapa yang tega mengirimi kita barang seperti ini? Boneka bayi berlumur darah ... hiks." Arinka mulai terisak.


"Tidak, jangan menangis! Ada Pipom di sini."


Arinka memeluk Renza dengan sangat erat. Renza memanggil Bi Ami untuk membawa kotak persegi itu ke dapur dan membuangnya. Bi Ami terkejut melihat isi boneka bayi itu dan segera membawanya ke dapur.


Renza berusaha menenangkan Arinka dengan mengusap rambut dan mencium keningnya berulang kali. Lalu Renza juga menepuk-nepuk pelan punggung Arinka.


"Tidak apa-apa. Jangan takut lagi, ini hanya keisengan. Nanti Pipom akajmn menyuruh Deni menyelidiki siapa yang berani berbuat begini."


"Iya, baiklah."


"Ayo ke kamar, sayang!" ajak Renza. Renza menggenggam tangan Arinka erat. Tangan itu benar-benar gemetar dan berkeringat.


Renza dan Arinka menaiki tangga satu-persatu. Sesampainya di kamar, Arinka duduk di tepi ranjang. Renza mengisi gelas dengan air minum dan memberikannya kepada Arinka.


"Minum dulu, ya, sayang." ucap Renza menatap Arinka tersenyum.


Arinka mengambil gelas dari tangan Renza dan meminumnya sampai habis. Arinka berjalan mengambil ponselnya yang berada di nakas dan berjalan ke balkon untuk menelepon.


Renza merasa geram. Ia memekik dalam hatinya. Renza benar-benar ingin tahu siapa yang berani mengiriminya prank seperti itu.


Sementar itu, Deni sedang bersiap-siap akan pergi ke sebuah restauran bersama Milka. Deni melihat layar ponselnya mendapat panggilan dari Renza. Segera ia menjawabnya.


"Ada apa, Pak?"


"Aku ingin kau menyelidiki sesuatu untukku!"


"Perihal apa, Pak?"


"Seseorang telah mengirim sesuatu ke rumahku."


"Bisa bicara lebih spesifiknya, Pak?"


"Aku baru saja mendapat kiriman paket dari kurir berisi boneka bayi yang berlumuran darah. Siapa yang berani bermain-main denganku? Arinka sampai syok dan ketakutan melihat boneka itu. Segera selidiki! Aku ingin kau segera mendapatkannya."


"Apakah ini ulah Dahlan?"


"Jika ini ulah Dahlan, akan aku pastikan dia benar-benar membusuk di penjara. Akan aku buat dia menyesal telah bermain-main denganku! Tidak akan aku biarkan dia hidup tenang. Selidiki dengan hati-hati dan jangan sampai ketahuan." bentak Renza dengan emosi meluap-luap.


"Iya, Pak. Aku akan menelpon David untuk menyelidiki secara diam-diam."


"Baiklah. Aku tunggu kabar baik darimu."


Arinka sudah berbaring di atas ranjang. Wajahnya masih di selimuti ketakutan. Renza duduk di tepi ranjang dan tersenyum seraya mengelus pipi wanita yang ia cintai itu.


"Tidak apa, sebentar lagi akan terungkap siapa yang beraninya iseng seperti itu?" ucap Renza masih mengelus pipi Arinka lembut.


"Kenapa mereka tega? Apa salah keluarga kita? Aku benar-benar takut. Aku teringat saat keguguran kemarin sangat berat bagi kita. Ini sudah timbul lagi masalah baru," ucap Arinka lirih.


Kurang ajar sekali! Aku berharap pengirimnya cepat ditemukan oleh Deni.


"Tidak, ini masalah tidak serius, sayang. Mungkin itu adalah kiriman yang salah sasaran. Tidak usah dipikirkan, ya? Ayo kita ingat-ingat saat bahagia kita."


Arinka bangkit dan duduk di kasur. Renza beringsut mendekat kepada Arinka menatap kedua bola mata coklatnya. Kemudian, Renza mengecup bibir Arinka lembut seraya berbisik diatas bibirnya. "Tetaplah bahagia, karena Pipom selalu berada disamping Mimom. Jangan pikirkan hal menyulitkan. Biarlah itu jadi urusan pipom."


Arinka mengangguk pelan. "Emm ... baiklah." lalu mereka saling mengecup bibir satu-sama lain.


***


Sementar di sebuah Restauran, Deni sudah duduk dan menunggu Milka datang. Deni menatap layar ponselnya dan tersenyum. Ternyata Deni menatap foto Risa yang di salinnya dari kamera. Deni mengusap-usap foto itu sampai tak menyadari seseorang sudah berdiri didepannya.


"Deni!" panggil Milka.


Deni mendongak dan meletakkan ponselnya cepat. Sekilas Milka melihat Deni memandang foto seseorang.


"Sudah sampai?" jawab Deni.


"Kau tersenyum? Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa!"


"Aku tahu." Risa nyengir kuda.


"Tahu apa?"


"Kau memandangi foto seseorang, 'kan?" tanya Risa seraya menyangga dagunya dengan tangan. Milka menatap Deni tajam. Namun, Deni mengimbanginya dan menatap tajam juga ke arah Milka.


Aku berani menatap Milka, sedangkan menatap Alien tidak bisa. Aku benar-benar yakin dengan hatiku. Aku benar-benar menyukai Risa.

__ADS_1


"Ayo pesan makanan," ucap Milka.


"Ehm ... pesan saja."


"Kau menyukai seseorang?" tanya Milka.


"Bukankah sudah aku bilang? Aku menyukai seseorang dan itu nyata."


"Benarkah? Jadi kau tidak bisa menyukaiku?"


"Sepertinya aku tidak bisa. Karena di hatiku sudah ada nama wanita itu yang mengisi hamoir seluruh relung hatiku."


"Aku benar-benar tersakiti dengan ucapanmu itu," ucap Milka lirih.


"Maaf ... karena sesuai perjanjian, jika kita tidak bisa saling menyukai, kita akan sepakat untuk tidak melanjutkan hubungan ini, 'kan?"


"Tapi aku menyukaimu, aku tulus menyukaimu sejak dari zaman SMA dulu. Aku ingin kau terus bersamaku."


Deni mulai merasa bersalah. Wajahnya mendadak pias.


"Tapi aku sudah menyukai orang lain."


"Kau harus menyukaiku!"


"Kenapa kau seperti ini? Ini bukan perjanjian awal kita. Lagi pula aku tidak pernah mengatakan iya kepadamu."


"Kau tega, kau tidak memikirkan perasaanku. Aku sudah lama menyukaimu, kenapa kau tidak mencoba membalas perasaanku. Aku tahu kau menyukai Risa, 'kan? Apa beda dia denganku? Aku lebih cantik dan lebih sopan. Sedangkan Risa? Kalian selalu saja bertengkar."


"Kau tahu? Mungkin ini saatnya aku jujur kepadamu. Dulu masa SMA, aku pernah menyukaimu! Dan tidak di pungkiri bahwa kau cinta pertamaku. Tapi Risa, dia berbeda."


"Kalau begitu kita sama. Aku menyukaimu sejak SMA juga, 'kan? Kenapa tidak saling menyukai seperti masa itu."


"Apa kau yakin menyukaiku?"


"Aku yakin," ucap Milka tersenyum. Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Dan sekarang makanan sudah di hadapan mereka masing-masing."


"Kau tidak pernah melihatku semasa SMA. Aku pernah bertemu dan bertegur sapa kepadamu. Namun, kau acuh. Bahkan tidak melirikku sama sekali. Kau tidak pernah menyukaiku. Masa SMA itu kau hanya menatap lelaki kaya yang tampan."


"Memangnya kau tahu isi hatiku saat itu?"


"Tidak, tapi aku mudah sadar dengan sikap seseorang. Saat aku tersenyum, kau dan teman-temanku menertawakanku."


"Tidak, aku tidak pernah begitu." Milka meremas jemarinya gugup.


"Kau menyukaiku saat kita bertemu di acara reuni, 'kan? Kau melihatku karena aku sudah berubah dan sudah bekerja di sebuah perusahaan besar. Oleh karena itu, kau mengejarku?"


Milka terdiam. Bibirnya keku tak bisa berucap karena itu memang kenyataan yang sebenarnya.


"Tolong, akhiri hubungan sepihak ini."


"Kenapa Risa berbeda?"


"Karena ini urusan hati. Kau tidak bisa menebak kapan seseorang akan jatuh cinta. Aku melihatnya berbeda bukan karena fisik kalian. Tapi karena aku menatapnya dengan perasaan suka."


"Jika aku berniat mempertahankan hubungan ini bagaimana?"


"Kau akan tersakiti. Oleh karena itu, mengertilah! Aku tahu kau tidak menyukaiku?"


"Aku menyukaimu," ucap Milka lirih.


Deni memberanikan menarik tangan Milka dan memegangnya. Kemudian, menatap Milka lekat seraya berkata, "Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku. Aku tahu kau pasti bisa mendapatkan seseorang yang lebih mapan dariku. Kau kaya, sedangkan aku hanya dari keluarga biasa."


"Ehm ... baiklah. Jika memang kita ditakdirkan bersama lagi, aku akan senang hati menerimamu."


"Yah, jika urusan takdir aku pasrah. Karena memang Tuhan yang mengaturnya."


"Mari berteman baik," ucap Milka.


"Iya," jawab Deni seraya merubah posisi tangan yang menggenggam menjadi bersalaman. Kemudian, Mereka berdua tersenyum dan melahap makanan di depannya.


***


"Lihat saja, aku akan membuat kalian panik setengah mati dengan paketan yang aku kirim setiap hari, Hahaaha ...."


Terdengar tawa yang begitu keras mengisi ruangan itu.


Bersambung...


Jangan lupa like nya ya readers..

__ADS_1


Aku menunggu komentar kalian. Beri vote juga ya biar Author semakin semangat.


Salam sayang dariku buat pembaca semua 😊 Luv u all 💋❤😘


__ADS_2