Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 57 : Kunjungan Risa


__ADS_3

Setelah semalaman dirumah sakit. Akhirnya, hari ini Arinka sudah diperbolehkan keluar. Arinka sudah sembuh total. Renza ingin membolos bekerja, tapi Arinka tidak memperbolehkannya.


Hari ini, Arinka hanya seharian dirumah. Kerjaannya hanya nonton televisi. Ia sangat bosan sekali. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Arinka mendapatkan sebuah pesan dari Risa. Risa ingin mengajaknya bertemu.


Arinka sangat senang, tapi ia belum bisa menemui Risa jika diluar rumah, tapi Risa berkata ia akan berkunjung kerumahnya.


Dari luar terlihat seorang wanita dan seorang pria yang sedang berjalan kearahnya. Arinka mengernyitkan keningnya menatap heran.


Deni membawa Dina dan Pak Ahmad kerumah besar Renza. Mulai hari ini mereka akan bekerja. Deni mempersilahkan kedua orang itu untuk memperkenalkan diri kepada Nyonya rumahnya.


"Nyonya, dua orang ini akan bekerja disini mulai hari ini. Perkenalkan diri kalian!"


Masing-masing dari mereka memperkenalkan diri. Arinka tersenyum menatap Dina. Arinka menyipitkan matanya kepada Deni seraya memberi kode dan mengarahkannya ke Dina. Deni hanya mengendikkan bahu acuh.


Arinka tertawa geli melihat Deni acuh seperti itu. Deni bergegas ke dapur memanggil Bi Ami. Deni ingin mereka memperkenalkan diri juga kepada Bi Ami, agar semuanya menjadi lebih akrab.


"Semoga kita semua bisa akrab dan menjadi keluarga, ya!" ucap Arinka.


"Baik, Nyonya."


"Selamat bekerja." ucap Deni.


"Maaf, Pak Deni. Jika Nyonya Arinka tidak kemana-mana dan dirumah saja, aku harus melakukan apa?"


"Kau bisa membantu Bi Ami!" ucap Deni tegas.


"Oh ya, Bi. Nanti akan ada temanku berkunjung kerumah, Bi Ami masak yang banyak, ya?"


"Baiklah."


Mereka semua pergi ke menyebar dirumah itu. Keadaan rumah menjadi ramai. Arinka menyukainya. Arinka masih duduk di sofa seraya nonton televisi ditemani Deni yang sedang menyeruput kopinya. Deni tampak asyik menatap ponselnya.


"Deni!" panggil Arinka.


Deni tidak menjawab sama sekali, ia hanya fokus menatap ponselnya saja. Hingga Arinka sedikit menaikan suaranya.


"Ada apa?" ucap Deni menatap Arinka tajam.


"Tidak ada, aku hanya ingin menanyakan kabarmu?" Arinka terkekeh.


"Wah, Nyonya bisa melihat sendiri kan keadaanku, Aku baik-baik saja."


"Aku hanya menanyaimu saja, memangnya tidak boleh?"


"Nyonya benar-benar bosan ya? sampai-sampai bertanya seperti ini padaku."


"Heum."


"Apa Nyonya ingin mempunyai kesibukan?"


"Aku mau."


"Apa Nyonya ingin mengikuti kelas make up atau semacamnya?


"Boleh, aku ingin mengikuti kelas membuat kue. Nanti malam aku akan menanyakannya kepada Renza, Jika diperbolehkan kau bisa mendaftarkanku ya?"


"Baiklah Nyonya. Oh ya, besok kalian akan pergi berbulan madu."


"Hemm," ucap Arinka singkat.


"Setelah menghabiskan kopi ini, aku akan kembali ke kantor!"


Tak lama terdengar suara ponsel Arinka. Arinka mengambilnya dan melihat tulisan Pipom calling. Arinka menjawab seraya tersenyum.


"Halo sayangku."


"Iya, Ada apa?"


"Sudah makan siang, kah? jangan telat makan ya. Pipom takut kejadian kemarin terulang lagi."


"Sudah makan kok, Pipom sudah makan?"


"Sudah, lagian ini sudah pukul 2 juga. haha."


"Nanti malam aku akan pulang agak telat, jadi jangan menungguku untuk makan malam. Makan malam saja bersama Bi Ami."


"Iya sayang."


"Deni masih dirumah?"


"Masih, dia sedang mendengarkan percakapan kita sambil memainkan ponselnya, Deni senyum sendiri."


"Mungkin dia sedang jatuh cinta, haha." terdengar suara tawa keras dari ponsel Arinka.


"Kalian membicarakanku, ya?" ucap Deni menatap Arinka.


"Sedikit." ucap Arinka tertawa.


"Ya sudah, Pipom masih ada kerjaan. Dadah... Muaacchh."


Sambungan telpon itu terputus. Arinka menaruh ponselnya di atas meja. Arinka berjalan ke arah taman belakang. Bunga-bunga sedang bermekaran. Terlihat Pak Tino sedang memotong rumput.


Arinka menarik nafas dalam dan menghembuskannya sembarang. Ia berjalan-jalan sedikit kemudian duduk berayun diatas ayunan.


Tak terbayangkan rasanya aku akan seperti ini, tinggal dirumah besar dan menjadi nyonya. Benar-benar sebuah rahasia perjalanan takdir.


***


Deni berjalan keluar rumah, ia berniat akan pulang. Sesampainya di teras, Deni melihat Risa yang berjalan masuk melewati taman depan. Deni berdiri tegap dan pura-pura memainkan ponselnya acuh.


"Pak Deni, apakah kak Arin ada didalam rumah?"


Risa menyapa Deni dan menanyakan Arinka. Namun, Deni pura-pura tak mendengar.


"Hey, Helloww ... Pria yang ada disana?" ucap Risa berteriak sebal.


Ini orang tuli atau apa sih? gumam Risa pelan.


"Ya, Kenapa? aku mendengarmu mengatakan kalau aku tuli?"


"Kalau tidak tuli, kenapa tidak menjawab!"


"Aku sengaja! kenapa?"


"Menyebalkan sekali sih! kenapa juga aku harus bertemu dengan orang seperti ini!"


"Aku juga sebal, kenapa harus bertemu dengan orang sepertimu!"


"Huh! Dasar sombong!"


"Terserah, aku tidak tertarik meladenimu!"


"Jangan terlalu sombong, nanti kalau tertarik padaku baru tahu rasa, haha." ucap Risa tertawa sinis.


"Ya... berpikirlah sesukamu!" seraya pergi meninggalkan Deni.


Di dalam mobil, Deni benar-benar sebal di buat Risa. ia terus teringat perkataannya.

__ADS_1


Siapa juga yang akan tertarik padanya... gumamnya pelan.


Deni masih membuka aplikasi kencan online itu, seorang wanita mengajaknya ketemu. Deni ragu-ragu, tapi dalam hatinya ia sangat penasaran dengan wanita itu, dari foto profilnya wanita itu mirip seperti type wanitanya Deni.


Deni membalas pesan itu dan berjanji akan menemui wanita itu sepulang kerja. Apa salahnya menemuinya, jika tidak suka kan bisa pergi, pikirnya dalam hati. Deni sangat gugup karena sudah lama ia tidak pernah menemui wanita, apalagi kencan seperti ini benar-benar sesuatu yang baru. Deni banyak menghabiskan hidupnya untuk bekerja saja.


***


Di rumah, Risa sudah dipersilahkan masuk oleh Dina. Diana membawa Risa ke taman belakang menemui Arinka. Risa sangat takjub dengan rumah besar itu, perabotan dirumah itu didominasi warna putih. Benar-benar rumah yang sangat mewah.


Arinka masih duduk di atas ayunan, menatap indahnya langit dengan warna khas biru terang serta awan-awan bergelombang yang berserakan dilangit. Di taman itu sangat teduh banyak bunga-bunga cantik yang sedang bermekaran dan bau nya semerbak mengisi udara di taman itu.


"Kak Arin!" panggil Risa.


"Risa! kamu sudah sampai? Maaf, Aku tidak tahu. Ponsel ku diatas meja didepan televisi, aku lupa membawanya, jadi aku tidak mendengar panggilan telponmu."


"Tidak apa kak. Wah, rumah kak Arin sangat besar, ya?"


"Ya begitulah, sangat besar hingga terasa sepi jika hanya sendiri."


"Wah, aku benar-benar takjub kak! di taman ini juga sangat segar dan sejuk."


"Iya, disini sejuk. Ayo duduk." ucap Arinka seraya menunjuk kursi.


Arinka sedang berayun di ayunan, ayunan itu belakangan sedang instagramable. Risa ingin mencoba menaiki ayunan itu dan menyuruh Arinka memotret dirinya sedang duduk disitu. Beberapa pose dilakukan bergantian oleh Risa sedang Arinka hanya tersenyum.


Setelah selesai memotret Risa, Risa mengambil selfie dengan Arinka. Arinka sempat menolak, ia sangat malu jika berfoto. Risa mengatakan jika Arinka benar-benar terlihat cantik jika di foto.


Risa mengunggah foto itu di instagramnya. Arinka hanya memperhatikan. Selesai memainkan ponselnya Risa menaruhnya ditas.


"Kak, tadi siapa? wanita itu?"


"Itu Dina, orang yang baru bekerja hari ini. Kebetulan aku ada supir baru juga."


"Ya ampun, enak ya jadi kak Arin."


"Iya, nasib baik sedang menyelimutiku." ucap Arinka tertawa.


"Semoga nasib baik itu menular padaku. amin."


"Amin."


Tak lama kemudian, Bi Ami dan Dina datang membawakan cemilan dan minuman dan menaruhnya diatas meja. Arinka memanggil Dina agar duduk bersama dengannya.


"Dina, kamu disini saja. kalian ini seperti seumuran, harusnya bisa akrab."


"Iya, Nyonya." ucap Dina.


"Kenapa kau memanggilku begitu, panggil saja aku Kakak. Kau pasti seumuran dengan Risa?" ucap Arinka seraya meminum jus jeruk.


"Ya, baiklah. Aku akan mencoba. Umurku 24 tahun."


"Benarkah, kita memang seumuran." ucap Risa


Arinka mempersilahkan Risa memakan camilan dan meminum jus jeruk. Arinka juga menyuruh Dina untuk makan. Tapi Dina masih canggung dengan majikannya itu.


"Kak Arin umurnya berapa?" tanya Risa.


"Umurku 26."


"Kalau suami kak Arin?"


"Umurnya 28."


"Wah, pasangan ideal lebih tua 2 tahun. tapi Pak Renza itu sangat tampan, ya? malah terlihat baru berusia 20 tahun." Risa terkekeh dan menoleh kearah Dina meminta pembenaran.


"Jangan canggung, berbaur saja." ucap Arinka.


"Oh ya kak, ternyata pak Renza itu mantannya kak Sinta, ya?"


"Heum, kau tahu dari mana, Ris?"


"Kak Sinta itu sepupuku."


"Wah, benarkah? Ya ampun, sempit sekali dunia ini, semuanya hanya berputar disekeliling kita saja."


"Tapi pak Renza itu membencinya, kak Sinta itu pacarnya banyak, orang cantik kan begitu."


"Iya, dia memang cantik. Jadi waktu dicafe hari itu kau bersama Sinta, ya?"


"Iya kak, kak Sinta itu lama tinggal diluar negeri."


"Oh begitu."


"Dan kak Sinta itu mantannya pak Jefran juga, aku bekerja sambilan di restauran juga karena pak Jefran tahu aku sepupunya kak Sinta."


"Ternyata begitu. Sekarang Sinta itu sudah menikah apa belum?"


"Dia pernah menikah tapi sudah bercerai. Berpisah dari suaminya, ia pulang kesini." ungkap Risa.


"Wah, seru juga cerita hidupnya." ucap Dina.


Arinka sontak tertawa mendengar ucapan Dina yang tiba-tiba berbicara begitu. Mereka bertiga benar-benar larut dalam pembicaraan yang seru.


"Apa kak Arin takut kalau kak Sinta datang akan merebut pak Renza?"


"Tidak, buat apa takut. Saling percaya saja intinya. Jika memang sudah di takdirkan untuk berakhir, sekeras apapun usahanya pasti akan berakhir."


"Aku senang bisa bertemu kak Arin, dan bisa berteman juga."


"Aku juga senang."


"Buat apa sombong, nantinya rugi sendiri." ucap Risa dengan raut kesal.


"Kenapa tiba-tiba wajahmu sekesal itu, Ris?"


"Aku sebal kak, tadi di depan aku bertemu sekretarisnya pak Renza. Aku bertanya kak Arin kepadanya, dia malah acuh dan menyebalkan sekali. isshh membicarakannya saja membuatku darah tinggi."


"Deni memang seperti itu, sebenarnya dia orang yang baik dan pengertian, hanya saja sifatnya cuek." ucap Arinka.


"Hemm, Kak Deni juga orangnya humoris."


"Iya benar. Eh, kau tahu sifat Deni juga?" Arinka menatap lekat Dina, tak kalah lekat dari Risa.


"Upps" Dina menutup mulutnya.


"Kau kenal Deni?" ucap Arinka masih menatap tanpa berkerip sedikitpun.


"Sebenarnya aku dan kak Deni itu sepupu." ucap Dina pelan.


"Astaga, benar-benar lucu ya, kita hanya berputar disekeling ini saja." ucap Arinka tertawa.


"Pantas saja waktu aku menjahilinya dan memberi kode kearah Dina, Deni acuh. Ternyata kalian sepupu." Arinka masih tertawa mengingat kejadian tadi.


"Apa dia semenyebalkan begitu, ya ampun sifatnya itu membuatku ingin memakinya?"


"Kak Deni itu orangnya lucu, tapi kalau dirumah kak Deni memang jarang berbicara, bukan apa karena kalau pulang kerumah ia sudah capek."

__ADS_1


"Tetap saja aku membenci orang yang sombong begitu." ucap Risa.


"Awas saja ya, benci dan cinta itu tipis!" ucap Arinka tertawa mencolek lengan Risa.


Arinka mengambil jus jeruknya dan meminumnya, tenggorokannya kering akibat berbicara terlalu banyak. Arinka sangat bahagia karena ia tidak merasa kesepian hari ini.


"Dina, bisa kau ambilkan ponselku di atas meja diruang keluarga?"


"Iya, Nyonya."


"Kau suka membaca buku, Ris?"


"Suka, hanya membaca novel saja, sih."


"Jika kau mau meminjam, nanti bisa lihat-lihat diatas."


"Oke kak."


Dina berjalan membawakan ponsel Arinka, ia memberikannya dengan sopan. Arinka menaruhnya diatas meja.


"Dina, kenapa Deni tidak memberi tahu kalau Dina itu sepupunya?"


"Mungkin karena Nyonya tidak bertanya."


"Iya juga sih, apakah Renza tahu ya?" ucap Arinka berbicara sendiri.


"Apa kak Arin tidak penasaran tentang kak Sinta?"


"Penasaran kenapa? dia kan hanya mantan."


"Wah, kak Arin benar-benar hebat. Jika aku pasti sudah kepo setengah mati," ucap Risa terkekeh.


"Sebenarnya sih penasaran sedikit," ucap Arinka tertawa.


"Ya ampun, Nyonya ini menggemaskan sekali," ucap Dina.


"Jangan panggil Nyonya, panggil kakak saja."


"Aku sebenarnya tidak terlalu tahu sih dengan cerita kak Sinta, tapi kak Sinta itu matre. kak Sinta hanya mau sama lelaki yang punya harta banyak. Dulu saja ia meninggalkan Pak Jefran itu gara-gara Pak Renza belum terlalu sukses, sedangkan pak Jefran sudah lama sukses, makanya Kak Sinta meninggalkan pak Renza. begitu sih menurut cerita pak Jefran."


"Jadi Jefran sendiri yang bercerita seperti itu. Ceritanya sama seperti Renza."


"Iya, kedua orang tua kak Sinta bukan orang kaya, hanya membuka usaha kecil mini market saja. Bahkan kemarin gedung yang disewa untuk mini marketnya itu milik pak Renza dan sudah menunggak selama 5 bulan. Mereka akan segera diusir."


"Kasian juga ya."


"Hmm, aku juga kasian, orang tuaku tidak bisa bantu banyak juga, soalnya kami bukan kelurga kaya."


"Tapi mereka masih punya usaha lain?"


"Punya, bisnis restauran kecil-kecilan sih. Kak Sinta itu orangnya agak sombong, aku aja yang sepupunya dulu jarang bertegur sapa, sekalinya dia pulang dari luar negeri, ia jadi akrab padaku."


"Tidak baik menjelekkan saudara sendiri. Walau bagaimanapun dia tetap saudaramu."


"Iya kak, kak Arin terbaik pokoknya. By the way, aku harus pulang sebentar lagi, sudah sangat sore. aku Shift malam nanti di restaurant."


"Makan dulu yuk?"


"Duh, ini saja sudah kenyang kak, masih mau makan lagi?"


"Hmm... harus!"


Arinka beranjak dari taman itu diikuti Risa, sedangkan Dina masih mengemasi sisa makanan tadi. Arinka mengajak Risa duduk di meja makan. Bi Ami sedang menyiapkan makanan.


Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Arinka sudah tahu pasti dari suaminya. ia segera menjawabnya.


"*Sayang, lagi apa?"


"Sedang di meja makan, mau makan."


"Makan sendiri? ajak Bi Ami atau Dina menemani ya?"


"Ada Risa berkunjung dirumah*."


"Risa temanmu yang di acara amal itu? dia itu kemarin bersama Sinta juga?"


"Iya, sayang. Risa itu sepupunya Sinta."


"Benarkah? Ya ampun, benar-benar kebetulan."


"Ya sudah, Aku mau makan dulu ya, sayang."


"Sebentar, apa kurir bunga sudah ada?"


"Belum, kenapa? kirim bunga lagi?"


"Iya, jika Pipom terlambat Pipom akan mengirim bunga."


"Uh, untung jarang terlambat. Jika setiap hari pasti satu ruangan akan penuh dengan bunga." ucap Arinka tertawa sedangkan Risa memperhatikan dan melirik Dina tersenyum.


"Ya sudah ya sayang, sampai nanti."


"Kecup kangen, muuuaachhhh."


Sambungan telpon itu putus, sehari Renza bisa menelpon sampai 5 kali. Renza sangat khawatir jika nantinya Istrinya itu lupa makan.


Arinka mempersilahkan Risa makan dan memanggil semua penghuni rumah untuk makan bersama. Mereka semua makan dengan bahagia. Setelah selesai makan Risa pamit pulang.


Di kantor, Renza sangat mengantuk. pasalnya semalaman di rumah sakit, ia begadang menjaga Arinka. Renza benar-benar tidak tidur sama sekali, ia hanya memperhatikan istrinya saja.


Deni masuk kedalam ruangan itu, Deni mengatakan jika besok mereka akan pergi bulan madu selama 3 hari. Renza sangat bahagia dan sangat fokus mengerjakan tugasnya. ia memilih lembur demi cuti 3 hari kemudian.


"Dimana lokasi bulan madunya?"


"Dalam negeri saja, Pak Renza akan menginap di pulau pribadi, pulau itu banyak di datangi oleh pasangan untuk berbulan madu."


"Baiklah, kerja bagus."


"Jadi, aku tidak harus pergi 'kan?"


"Tidak, tapi jika ada sesuatu yang mendesak kau harus datang jika aku telpon."


"Oke."


Kesempatan baik untuk menemui teman kencan. gumam Deni dalam hati.


Wajah Renza sangat bahagia, ia tidak sabar ingin pergi kesana bersama Arinka. Menghabiskan malam-malamnya yang panjang, becinta bersama istrinya.


***Bersambung...


Hay Readers, Apa kabar? Btw happy valentine days ya? kalian dapar coklat ga hari ini?


Author ga dapet coklat, mesti beli sendiri 😂😂


Jangan lupa like ya jika selesai membaca, vote dan comment aku tunggu.


Salam sayang dariku, Luv u All 💋💋***

__ADS_1


__ADS_2