
Apa kalian sudah menebak siapa pelakunya?
Siapa, ya? 🤔🤔
Author juga penasaran 😅
***
Mata berkabut, tangan mengepal dan gigi menggeram. Begitulah ekspresi Renza ketika mengingat kotak yang berisi pecahan beling. Kotak itu sudah di sembunyikan oleh Deni. Jangan sampai menambah panas suasana lagi nantinya.
Bi Ami membawakan dua cangkir kopi ke halaman belakang itu. Deni menyuruh Renza agar merilekskan diri. Renza menghirup napas panjang dan membuang sembarang. ia mencoba mengalihkan dengan melihat awan yang berarak di langit. Lumayan bisa membuat perasaannya menjadi tenang.
"Aku ingin berenang," ucap Renza.
"Tadi di luar masih ada wanita polos. Nanti mata mereka ternodai lagi." Deni terkekeh.
"Haiss ... Aku tidak sebodoh itu!"
"Bisa saja," jawab Deni seraya bersiul dan mengalihkan pandangan menatap bunga-bunga yang bermekaran di sana.
"Wah! Pak Tino benar-benar jago urusan kebun. Lihat saja bunga di sini mekar dengan sempurna."
"Hmm ... Arinka sangat suka di sini. Oleh karena itu, aku menyuruhnya menanami banyak bunga, sehingga Arinka bisa berbahagia setiap hari."
"Anda ini memang romantis, Pak. Tapi kadang terlihat bahwa anda terlalu bucin pada istri anda."
"Jelas saja, dia itu istriku. Aku akan melakukan apa saja untuk membahagiakannya."
Ketika mereka sedang mengobrol, Arinka dan dua wanita tadi berjalan menghampiri Renza dan Deni. Arinka membawa kantong plastik yang didalamnya ada kotak berisi donat kecil nan lucu.
"Pip, boleh kami ke sana?" tanya Arinka tersenyum.
"Boleh," jawab Renza tersenyum tak kalah manis dari Arinka.
Di sisi lain, Deni dan Risa saling bercuri tatap dan tersenyum tipis. Renza yang peka melirik dengan ekor mata dan berpura-pura acuh dengan dua orang itu. Namun, Renza tersenyum jahil dan mengangkat alis sebelah melempar kode kepada Arinka. Arinka buru-buru beralih pandang dan tersenyum tipis.
"Hoy, yang main mata?" Dina berucap yang sontak empat orang yang sedang tersenyum ini saling menoleh ke arahnya. "Hehe ... maksudku Deni dan Risa, bukan Pak Renza dan Kak Arin."
"Haha ...." Renza tertawa terbahak setelah mendengar ucapan Dina. Deni mengeryit salah tingkah.
"Kenapa kita jadi diam-diaman seperti ini. Ayo duduk." Arinka memerintah.
"Ah ... iya, Kak." Risa segera duduk.
"Kalian ini apakah sudah jadian?" tanya Dina polos, membuat wajah Deni dan Risa memerah seketika.
"Hadeh ... kau diam saja, Dina." ujar Deni menatap kesal.
"Jangan begitu, aku kan hanya bertanya." Dina terkekeh. Dina tahu pasti nanti ia akan kena ceramah dari Deni setelah ini.
Di sela percakapan mereka, Bi Ami membawa cemilan dan minuman. Mereka semua tersenyum dan berterima kasih.
Arinka melirik setiap sudut. Bola matanya memutar melihat sekitar tempat duduk Renza. Renza memperhatikan istri tercintanya itu. Ia tahu pasti bahwa Arinka penasaran dengan kotak paket itu.
"Kenapa?" tanya Renza.
Semua yang ada di situ menoleh menatap Renza. Renza tersenyum dan berkata, "Aku bicara dengan istriku," katanya.
Tak terasa saking asyiknya berbincang dan tertawa, hari sudah sangat sore. Dina pamit dan Risa juga mengikuti. Arinka sangat senang jika ada mereka bertamu ke rumahnya.
"Aku juga harus pulang. Besok kita akan bertemu Dahlan," ujar Deni bangkit dari tempat duduknya.
Risa mengeluarkan ponsel dari tasnya. Dia mengirim pesan kepada Deni. Deni segera membuka kunci ponselnya ketika ada notifikasi pesan dari Risa. Kemudian, Risa pulang dan melajukan mobilnya. Deni tersenyum dan menyimpan ponselnya di dalam saku jas dan pulang.
***
Sesudah makan malam, mereka sudah kembali ke kamar. Arinka penasaran dengan isi kotak paket itu. Setelah mandi ia duduk menyandar di ranjang. Seraya menunggu Renza yang sedang mandi, Arinka menyalakan televisi. Tak kunjung selesai, Arinka turun dari ranjang itu dan berdiri di depan jendela besar di kamarnya.
Arinka membuka jendela kamarnya itu. Kemudian ia berdiri dan menyilangkan tangannya ke dada. Ia merasakan semilir angin masuk dan berhembus menghampirinya. Angin itu menari-nari mengitari tubuhnya dan membuat rambut panjang legam itu melambai-lambai.
Renza keluar dari kamar mandi. Bibirnya mengyunggingkan senyuman melihat Arinka yang sedang berdiri dengan elegan menurut Renza. Rambut Arinka yang melambai-lambai itu membuat Renza ingin segera mengelusnya.
"Sedang apa?" tanya Renza seraya memeluk Arinka dari belakang.
"Eh?" Arinka terperanjat, ia benar-benar fokus sampai tidak menyadari Renza berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Termenung?" tanya Renza lagi sambil menelusupkan kepala di sebelah wajah Arinka.
"Tidak, hanya memperhatikan gemerlip lampu saja. Sangat indah. Kenapa aku baru menyadarinya, sih."
"Yah begitulah." Renza tertawa kecil.
Sesekali Renza menciumi pipi Arinka. Arinka tersenyum, kemudian mereka saling menautkan kepala masing-masing dan mengerakannnya ke kiri dan ke kanan.
Sesaat mereka terhanyut dalam suasana syahdu itu. Semenjak beberapa waktu ini, mereka jarang bermesraan seperti saat ini. Arinka tersadar bahwa Renza belum menggunakan pakaian. Renza hanya berbalutkan handuk di bagian bawah saja.
"Pip, pakai baju dulu. Anginnya sangat kuat. Nanti kedinginan."
"Baiklah ... Ny. Renzaldi," ucap Renza melepas pelukannya dnn membalikkan tubuh Arinka. "Apa kita akan bertugas dulu." Katanya menyerigai.
"Tugas apa, ya?" Arinka pura-pura bodoh. Tanpa aba-aba Renza mengangkat Arinka ke atas ranjang. Malam berlalu sangat panjang bagi dua insan itu. Yang terdengar adalah suara desahan manja yang memenuhi ruangan kamar.
***
Pagi hari, mentari telah terbit dari ufuk timur. Sinarnya menerangi seluruh kehidupan di muka bumi ini. Seperti biasa, setiap orang memulai aktifitas mereka secara rutin. Karena kebiasaan akan selalu berulang setiap harinya.
Begitu pula dengan Arinka dan Renza, mereka sudah duduk di meja makan dengan sarapan yang sudah tersedia di depan mata. Deni sudah datang dan ikut duduk, tapi ia hanya membaca koran.
Deni mendapat telepon dari David, bahwa ada lelaki yang mencurigakan sudah berada di rumah wanita itu. Lelaki yang memakai hoodie hitam dan memakai masker. Deni segera beranjak dari kursi. Renza menatap tajam. Namun, Deni berlalu.
"Aku ada urusan sebentar. Pak Renza di antar oleh Pak Ahmad, ya?"
"Kau mau kemana?"
"Ada yg mendesak." Deni melangkahkan kakinya dengan cepat dan masuk ke dalam mobil. Renza tahu, pasti menyangkut David. Karena berada di depan Arinka, ia pura-pura saja bertanya. Arinka mengernyit dan menanyakan kepada Renza tentang Deni. Namun, Renza hanya tersenyum dan berkata, "Urusan kantor."
David sudah mengerahkan anak buahnya untuk menangkap lelaki memakai hoodie hitam itu. Jika lelaki itu keluar, anak buahnya akan segera menyergapnya.
Tak perlu waktu lama, lelaki itu sudah berada di tangan David. Dua anak buah David memegang tangannya dengan sangat erat. Kemudian David juga membawa wanita di rumah itu dan menyewa orang untuk mengasuh anaknya.
"Kalian siapa?" berontak lelaki berhoodie hitam.
"Apa kau harus tahu siapa kami!" bentak David. "Ikat tangannya," perintahnya.
David membawa mereka di sebuah gedung kosong. Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil dari luar. Lelaki dengan setelan jas abu tua itu turun dari mobil. Pakaiannya sangat rapi dengan sepatu kulit hitam oxpord yang mengkilap.
"Pak Deni!" panggil David.
"Itu orangnya, aku belum bertanya. Wanita ini juga aku ajak kesini untuk kesaksiannya."
Deni melangkahkan kakinya pelan. Namun, penuh wibawa. Bibirnya menyerigai licik menghampiri lelaki itu. Lelaki yang di dekatinya itu menelan ludah dengan sangat payah. Tatapan Sinis dan mematikan itu Deni tujukan kepadanya.
"Siapa kamu?" ucap Deni seraya menarik kasar masker yang menempel di wajahnya dan membuka penudung hoodienya.
"Kenapa kalian membawaku ke sini?" Bentak lelaki itu.
"Kau membentakku? Huh! Beraninya kau ...."
"Aku tidak mengenalmu, lepaskan aku!"
"Aku juga tidak mengenalmu, kau bekerja sama dengannya? Wanita itu?" tunjuk Deni kepada ibu muda yang berumur 30an.
"Apa benar?" tanya Deni melirik ke arah wanita itu meminta penjelasan.
"Be-benar," ucap wanita 30an itu gagap.
"Siapa yang menyuruh kalian!" Deni menendang kursi di samping lelaki yang di ikat tadi. "Apa kalian sudah bosan hidup?" Ia tertawa sinis.
"Ma-maaf, Pak. Aku benar-benar tidak tahu." Wanita itu berucap.
"Kau pasti tahu, 'kan? Jangan membohongiku!" pekik Deni mencengkam dagu lelaki itu. Namun, dalam batas normal tidak menyakiti.
"Ayo bicara!" teriak David.
"Siapa yang menyuruhmu? Apa kalian ingin aku masukan ke dalam penjara. Huh! Orang seperti kalian sangat gampang aku bersihkan, seperti sampah jalanan yang tak berarti." bentak Deni sambil tertawa sinis.
"Ma-maafkan aku, Pak. Aku sebenarnya hanya suruhan!" jawab lelaki berhoodie itu mulai ketakutan.
"Apakah orang bernama bernama Dahlan yang menyuruhmu? JAWAB!" teriak David.
"Dahlan? Ii-iya." lelaki itu menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Kenapa aku melihat seperti ada keraguan di matanya ..." gumam Deni
"Ternyata benar suruhan Dahlan," ucap David.
"Kau amankan dulu dua orang ini, nanti siang aku memang akan bertemu Dahlan. Aku harus ke kantor dulu."
"Baik, Pak."
Deni berjalan dari gedung kosong itu. Pikirannya berkecamuk. Berkali-kali ia menghembuskan nafas kasar.
***
Di kantor, Renza sudah menunggu Deni. Renza berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung bertingkat. Tangannya terus ia remas karena emosi.
Seseorang mengetuk pintu, Renza segera menoleh. Ternyata Tio, ia datang memberikan berkas untuk Renza. Renza duduk di sofa dan tanpa di persilakan Tio segera duduk.
"Sepertinya ada yang tidak beres, Pak." ucap Tio menyodorkan kertas di tangannya.
"Ada apa?" Renza mengambil kertas dari tangan Tio.
"Sepertinya cabang baru itu banyak menggunakan dana yang tidak perlu."
"Iya aku sudah menduganya, aku tahu Dahlan ingin mengambil alih cabang baru itu, makanya ia mendekor perusahaan itu dengan bagus."
"Bukan hanya itu, Pak. Sepertinya Ganier's project berusaha membeli saham cabang baru itu.
"Biarkan saja. Aku ingin melihat perkembangannya sejauh apa?"
"Baiklah, Pak."
"Aku sudah mendiskusikannya kepada Deni. Kau tak perlu khawatir. Nanti siang aku akan bertemu dengannya."
"Baik, Pak. Aku permisi."
Tak lama Tio keluar, Deni masuk dengan wajah datar. Renza segera menanyakan ketika Deni duduk di sofa.
"Bagaimana?"
"Lelaki itu memakai hoodie hitam dan memakai masker, setelah aku buka, aku tidak mengenalinya. Ia bilang orang suruhan Dahlan."
"Sudah aku duga. Pasti Dahlan dibalik semua ini."
"Aku sepertinya masih keliru."
"Keliru kenapa?"
"Ucapannya seperti ragu-ragu."
"Selain Dahlan kau mencurigai siapa?"
"Belum tahu, Pak."
"Ya sudah. Ayo bekerja dulu. Nanti saat kita menemui Dahlan, kita akan memancingnya."
"Baiklah."
epilog
Di perjalanan menuju ke kantor, Deni menyetir dengan pelan. Pikirannya berkecamuk. Ia tidak yakin dengan ucapan lelaki berhoodie itu.
Deni berhenti di sebuah toko bunga. Deni akan mengikuti jejak Renza untuk menjadi penggemar rahasia. Selagi ia memilih bunga, ia menatap keluar jendela. Sekilas ia melihat seorang yang familiar baginya.
Deni berusaha mengingat-ngingatnya. Orang itu segera membalikkan badannya dan menutupi wajahnya, dengan cepat masuk ke dalam taksi.
"Siapa orang itu? Aku seperti pernah melihatnya?"
Selagi berpikir, wanita pemilik toko bunga itu membuyarkan pikirannya.
"Di kirim ke alamat biasa?"
"Iya," jawab Deni tersenyum.
***Bersambung...
Jangan lupa vote dan komentar.
__ADS_1
Salam sayang dariku buat sahabat Arinza (Singakatan Arinka dan Renza) Eeaaaaa 😅😅
Luv u all 😘😘***