Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Kotor dan Menjijikan


__ADS_3

"Maksud kamu apa sih Sill? aku nggak ngerti.! Aku tuh nanya ponsel aku, kamu bawa kan tadi malam..?" tanya rossa lagi.


Silla memandang wajah Rossa yang nampak binggung akan perilaku nya barusan, Silla menggangguk kan kepala nya lalu beranjak dari kursi meja makan dan menarik tangan Rossa keruang tamu.


"Kamu duduk dulu, aku ambilin ponsel kamu di atas.." ucap Silla. Ia pun naik keanak tangga menuju kamarnya di atas.


Rossa masih nampak binggung dengan sahabatnya itu, ia merasa sangat tidak nyaman.. Hati nya mulai gelisah, entah itu karena kejadian yang menimpa nya semalam sehingga dada nya mulai berdebar- debar.


Tak lama, terlihat Silla turun membawa tas dan juga kunci mobil serta ponsel Rossa di tangan nya.


"Kamu mau kemana Sill, pagi- pagi begini jam6 juga belum masa mau kekampus.?" tanya Rossa yang makin merasa binggung dengan sahabatnya itu.


"Nanti kamu juga tau, nih ponsel kamu.." Silla menyodorkan ponsel Rossa di hadapan nya.


Rossa manerima ponselnya dan melihat layar yang retak itu masih belum menyala, ia pun menekan tombol power itu. Dan seketika ponsel nya hidup langsung dengan suara pesan yang begitu banyak masuk ke ponselnya.


Rossa pun merasa kaget karena begitu banyak pesan masuk di ponselnya, ia melihat semua daftar pesan singkat dan beberapa panggilan tak terjawap dari adiknya Rommi, Alvan, dan nomor tidak dikenal. Tapi ada satu nomor yang membuat Rossa mengerutkan alisnya. "Rumah sakit.." gumam nya terbata.


Tak lama ponsel nya pun berdering lagi, terlihat dilayar ponselnya nomor tak dikenal menghubunginya.


Rossa merasa ragu untuk mengangkatnya, hingga ponselnya terus berdering.


Silla yang mendengar itu pun merasa deg deg kan.


"Kenapa kamu nggak angkat Ros, siapa tau penting..?" tanya Silla yang mulai meremas tangan nya.


"Aku enggak kenal nomor nya Sil, soalnya nomor baru." jawap rossa.


Nomor itu terus menghubunginya, sampai tiga kali panggilan tak terjawap.


Silla yang melihat itu mulai berkeringat dingin, ia sudah tidak sabar ingin membicara kan yang sebenar nya terjadi pada Rossa.

__ADS_1


"Ross sebenarnya ib-" perkataan Silla terhenti, kala ponsel Rossa kembali berdering. Kali ini nomor dari rumah sakit, Rossa seperti berpikir sejenak.


"Kenapa banyak sekali telepon masuk.? padahal masih sangat pagi." batinya. Sambil memandang kearah sahabatnya yang berhenti bicara.


Rossa pun menekan tombol hijau itu, karena terus berdering.


"Halo.." ucap Rossa menerima telepon dari nomor rumah sakit itu.


"Rossa Ferdias...?" tanya seseorang diseberang telepon.


"Iya saya sediri.." jawapnya.


"Ini paman Martin ross.." sahut orang itu.


Rossa mulai mengingat- ingat nama itu, karena sangat jarang ia temui dilingkungan nya.


"Apakah ini paman martin teman ibu dan ayah dulu?" batin Rossa merasa ragu.


"Aah.. paman martin, apa kabar paman..?" ada apa paman menelepon ku..?" ucap Rossa yang sudah merasa tidak nyaman akan perasaan nya.


"Aku.., pon-ponsel ku tadi malam terbawa teman ku paman. Makanya aku datang untuk mengambil nya sekarang, ada apa dengan ibuku paman..?" tanya Rossa dengan terbata- bata, karena sudah merasa ada desiran-desiran kegelisahan di hatinya.


"Kau cepat lah kerumah sakit A sekarang juga.! Akan aku jelaskan semua nya ketika kau sudah disini.." ucap pria diseberang telepon itu.


"Ba-baik baiklah paman, aku akan segera kesana.." ucap Rossa yang tiba-tiba merasa sangat gugup, dan ada rasa takut dihatinya.


Rossa memandang wajah sahabat nya itu penuh tanya!


"inikah yang ingin Silla katakan dari aku datang tadi..?" batinya.


Rossa pun memeluk Silla erat dan mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu enggak bilang dari aku baru datang, kalau ibuku masuk rumah sakit.. Kenapa kamu malah menghibur ku Silla kenapa..?" raung Rossa dengan isak tangisnya.


"Aku baru saja mendapatkan masalah besar karena diperkosa, kenapa ada lagi musibah yang datang secara bersamaan.?" batin Rossa meronta, mempertanyakan takdirnya.


Silla membalas pelukan Rossa. "Aku enggak mau kamu kepikiran sampai kamu juga drop Ross, aku udah lihat keadaan kamu yang kacau gara- gara Alvan tunangan tadi malam." ucap Silla yang juga mulai meneteskan air matanya.


"Aku enggak mau kehilangan Rossa yang dulu ceria, sabar, serta seorang wanita tangguh hanya karena masalah sepele. Hanya karena masalah Pria Ross, kamu jadi kacau semalaman enggak pulang -pulang. Dimana Rossa sahabat ku yang dulu..?" tanya Silla yang melepaskan pelukanya dan memegang kedua bahu Rossa.


"Tadi malam adik kamu menghubungi ponselmu berkali- kali, sampai akhirnya aku jawap. Dia bilang pihak rumah sakit A hubungin dia karena ibu kamu terkena serangan jantung, dan menjadi koma. Aku enggak tau harus ngomong apa sama adek kamu..? karena kamu enggak ada kabar Ross.! Aku sudah cari kamu kemana- mana,sampai- sampai bayar pengawal buat mencarimu dan melihat ruang cctv tapi enggak ada hasil.! Kamu jujur sama aku Rossa, kamu tadi malam kemana..? Jawap ross! kamu kemana..?" lirih silla sambil menghapus air mata nya.


Rossa hanya menahan isak tangis nya, yang merasa dirinya sangat kotor untuk mengingat kejadian semalam..


Peristiwa yang sangat menjijikan!


"Apakah Silla masih mau bersahabat dengan orang kotor dan menjijikan sepertiku..? apakah Silla masih akan menaruh simpati pada ku, seperti mencariku dikala aku pergi tanpa kabar seperti tadi malam..?" batin Rossa.


Rossa merasa dunia nya akan hancur, semua yang ia miliki akan direnggut satu persatu.


"Ooh tuhan, betapa kejamnya dunia ku yang telah engkau takdirkan.." batin rossa yang tak tahan menahan tangisan nya, yang semakin tak mampu ia bendung.


Rossa menggigit bibir bawahnya karena menahan kekesalan pada dirinya sendiri, hingga bibir nya terluka dan mengeluarkan air merah yang mengalir di samping bibirnya berbau amis.


Silla yang melihat itu terkejut, ia sontak berlari mencari sesuatu untuk menghapus darah segar yang mengalir di dagu Rossa yang lumayan banyak itu. Sementara rossa tak sadar apa yang telah ia lakukan.


"Ross..! kamu bego ya..? kenapa kamu gigit bibir sampai berdarah gitu.." ucap Silla yang mendapatkan tisu dari meja makan didapur karena panik, padahal di meja sofa dekatnya duduk sudah tersedia tisu yang duduk manis di atas meja.


Rossa hanya menggeleng mendengar ucapan Silla sahabatnya, yang ia akan takutkan adalah Silla akan menjauhinya kalau ia menceritakan kejadian yang menimpanya tadi malam.


Rossa memilih diam, ia hanya ingin mendapatkan bahu untuk nya bersandar sekarang. Dada nya lagi- lagi merasakan sakit, yang luar biasa. Rossa kembali memukul dadanya yang terasa sesak dan perih.


"Kalau kamu enggak mau cerita ya udah, enggak apa- apa. Aku ngerti perasaan kamu sekarang, aku akan selalu ada untukmu kalau kau butuh bantuanku." ucap Silla yang kembali memeluk Rossa.

__ADS_1


.


Jangan lupa jempol dan komen yaa kak..😍 Tekan favorit untuk tau update nya.


__ADS_2