Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Sudah Sadar?


__ADS_3

Sudah 4 bulan berlalu, Rossa masih setia menemani Morgan dirumah sakit. Membersihkan tubuh yang tidak berdaya itu setiap hari, layaknya merawat seorang yang telah mati karena tidak bergerak sama sekali.


Hari- hari Rossa lewati dengan ceria, tanpa ada beban yang ia tunjukkan diwajahnya. Karena Rossa tahu ia harus selalu membawa Morgan bicara setiap hari, membicarakan tentang anak-anaknya yang mulai aktif dalam perutnya.


Sampai ada rasa sesak dalam perutnya karena anak-anaknya yang bergerak kesana kemari, membuatnya sampai meringis karena sedikit sakit. Dan itu ia tunjukkan kepada Morgan, setiap kali ia membersihkan tubuh suaminya itu dipagi hari.


Kini Rossa tinggal diruangan vvip rumah sakit negara J, yang mana fasilitasnya semua lengkap. Seperti apartemen mewah yang ia tinggalkan dinegara A, pemberian suaminya yang kini ia ajak bicara dengan senyum yang merekah.


"Bukankah dulu kau bilang aku harus memanggilmu sayang atau suamiku? tapi kenapa sekarang kau tidak mau bangun saat aku memanggilmu suamiku!. Kau tahu, anak-anakmu sangat nakal. Mereka selalu bermain didalam sana, membuatku tidak bisa tidur nyenyak karena mereka selalu bergerak. Apa dulu kau juga senakal itu? sehingga mereka seperti ini padaku setiap malam!. Nah kan, baru saja mommy bilang papi kalian nakal. Dan sekarang kalian sudah buat onar pagi-pagi begini hemp, apa kalian sudah lapar mau minum susu atau sarapan?." Tanya Rossa pada perutnya yang selalu bergerak, karena saat ini kandungannya menginjak usia 7 bulan.


Dengan perlahan Rossa mengelus perut besarnya, dan tanpa sengaja air matanya menetes karena meresa terharu memiliki anak yang akan segera lahir.


Tapi disisi lain, ia juga sedih melihat Morgan yang masih terbaring lemah tidak berdaya dihadapannya.


"Coba kau rasakan, bukankah mereka sangat nakal. Selalu bergerak seperti ini setiap pagi dan malam, aku sampai sesak napas kalau ketiganya bergerak seperti ini diwaktu yang sama." Ucap Rossa pada Morgan, yang kini tangan Morgan ia letakkan diatas perutnya.


Rossa meletakkan tangan Morgan diatas perutnya yang terbuka, tanpa dihalangi apapun sehingga kulit mereka bertemu.


Dan tanpa Rossa sadari, jari tangan Morgan bergerak beberapa kali. Karena Rossa hanya asyik memindahkan tangan Morgan kesana kemari, mengikuti gerakan anak-anaknya yang sangat aktif dipagi hari sebelum ia sarapan.


"Nah, kau tahu kan kalau mereka nakal. Jadi cepatlah bangun, karena aku tidak bisa mengurus mereka kalau sendirian." Ucap Rossa, dan air matanya kembali lolos membasi pipinya. Yang terlihat chubby karena selalu makan dengan teratur 3 kali sehari. Serta buah- buahan lainnya sebagai makanan penutup, yang selalu dokter kandungan sarankan untuknya.


Rossa menghapus air matanya, lalu kembali membersihkan tubuh Morgan dengan sebuah handuk kecil yang ia basahi dengan air hangat.

__ADS_1


Dan tidak lama setelah itu, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Yang membuat Rossa berdiri dari duduknya, yang masih diatas tempat tidur Morgan lalu berjalan kearah pintu untuk membukanya. Karena ruangan itu seperti sebuah apartemen mewah yang ia dan Morgan tinggali bersama Rommi dan dokter Gerry, yang selalu berjaga setiap malam.


Setelah membuka pintu ruangan itu, Rossa sangat terkejut melihat orang dihadapannya. Yang tidak lain adalah mertuanya sendiri, orang tua Morgan.


"Sayang, apa kabar.. Ahh, aku sangat rindu padamu.. Eh sebentar! sayang kau!." Pekik mama Mardiana membelalak melihat perut Rossa yang sudah membesar, karena selama ini mereka tidak tahu sama sekali tentang keadaan Morgan atau Rossa. Karena mereka percaya pada Morgan, yang mampu mengatasi masalahnya sendiri.


Mama Mardiana langsung memeluk Rossa dengan senangnya, dan mencium pipi chubby Rossa serta seluruh wajah menantunya itu tanpa henti.


"Maa, kau mau melukai ibu dari cucu kita? Lepaskan, dan cepat masuk kedalam." Ucap papa mertua Rossa, yang langsung masuk kedalam ruangan anaknya dirawat.


"Ishh, kau itu tidak bisa melihatku senang saja. Jangan hiraukan dia sayang, ayo masuk kedalam." Ucap mama Mardiana memegang lengan menantunya, seperti orang yang sedang sakit.


Rossa hanya mengangguk melihat kehebohan mertuanya, yang selama ini tidak pernah ia pikirkan bagaimana kondisi mereka. Karena hanya sibuk mengurus suaminya dirumah sakit, dan memperhatikan kandungannya.


"Ada apa pa, kenapa ekspresi papa seperti itu?." Tanya mama Mardiana, pada suaminya.


"Ah tidak, aku seperti melihat mata Morgan terbuka tadi. Tapi setelah aku mendekat, ternyata masih tertutup." Ucap papa Ferino pada istrinya.


"Hah, benarkah!.. Mungkin saja dia sudah sadar pa, cepat pangilkan dokter!." Ucap mama Mardiana, dengan cepat memencet tombol darurat diatas tempat tidur Morgan.


Rossa yang juga ikut terkejut hanya tertegun mematung ditempatnya berdiri, ia tidak tahu harus berbuat apa. Karena hatinya merasa sangat senang, sampai ingin kembali menangis haru kalau orang yang ia anggap mantan suaminya itu sudah sadar saat ini.


Dan tidak menunggu lama, beberapa dokter pun masuk kedalam ruangan itu termasuk dokter Gerry yang selalu menjaga Morgan.

__ADS_1


"Maaf tuan besar, apa terjadi sesuatu?." Tanya seorang dokter pria, yang sudah sangat terkenal dirumah sakit negara J itu.


"Ya dokter, tadi suamiku melihat mata anakku terbuka. Apa dia sudah sadar kembali dokter? tolong cepat periksa!." Ucap mama Mardiana, yang kini sudah mendekati anaknya.


"Baik nyonya besar, kami akan segera periksa. Harap nyonya memberi ruang untuk saya, dan lebih baik menunggu disofa." Ucap dokter itu dengan ramah, pada mama Mardiana.


Dokter itupun memberikan kode pada rekannya, agar memastikan sesuatu yang sesungguhnya terjadi.


Dengan perasaan gugup dan gelisah, Rossa dan kedua mertuanya menunggu disofa ruangan itu.


"Sayang,.. apa kau sudah sarapan pagi ini?." Tanya mama Mardiana pada Rossa, yang kini terlihat meremas kedua tangannya dan rambut yang masih terurai berantakan seperti baru bangun tidur. Tapi masih terlihat cantik dan manis, apalagi saat ini Rossa sedang mengandung terlihat begitu cantik sekali.


"Belum ma, tadi setelah bangun aku langsung membersihkan tubuhnya. Agar terlihat lebih segar, kalau sudah dibersihkan." Ucap Rossa.


"Sayang, kau harus memperhatikan dirimu juga. Apa lagi saat ini ada cucuku disini, maaf ya kalau mama tidak tahu kehamilan mu ini. Karena mama harus menemani papamu keluar negeri untuk urusan bisnis, ini sudah berapa bulan sayang? Sepertinya sangat besar, bukankah kalian menikah baru 7 bulanan. Tapi perutmu sudah sangat besar, seperti kembar saja." Ucap mama Mardiana, mengelus perut besar Rossa dengan senyum bahagianya.


"Sudah masuk 7 bulan maa, mereka ada 3 orang. Triplets maa.." Ucap Rossa.


"Apa! ti- tiga tiga orang! Mereka kembar tiga sayang? apa kau tidak berbohong!" Pekik mama Mardiana dengan hebohnya, sampai- sampai semua dokter yang saat ini memeriksa keadaan Morgan juga ikut melihat kearah 2 wanita menantu dan mertua itu.


........


.......

__ADS_1


...See you all 😌...


__ADS_2