Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Takut.


__ADS_3

"Apa kau menemukan nya Pa Lim?" tanya Morgan yang menoleh ke arah Pa Lim dengan napas yang tersengal- sengal.


"Be- belum tuan muda." Sahut Pa Lim terbata, karena melihat raut wajah tuan mudanya yang sangat kesal dan pucat saat ini.


"Ya tuhan... perlu 1 bulan untuk merapikan tempat ini. Bahkan semua buku juga terkena imbasnya, nyonya muda pulang lah. Sebenarnya kemana anda pergi?, kalau anda tidak pulang malam ini isi Villa ini akan hancur." Pa Lim hanya mampu berguman dalam hatinya, melihat semua yang terjadi saat ini.


"Owh!" Seru Morgan meremas dadanya, yang tiba- tiba terasa sangat sakit. Sebelah tangan nya bertumpu pada dinding, agar tubuhnya tidak jatuh.


"Tuan muda!, anda kenapa?." Tanya Pa Lim panik, karena melihat tuan mudanya seperti orang kesakitan.


"Pa Lim, bawa aku kekamar sekarang." lirih Morgan yang terus meremas dadanya kesakitan.


"Baik tuan muda, baik." ucap Pa Lim gugup. Ia pun memapah tuan mudanya kekamar utama, dan membaringkan nya di kasur.


"Pa Lim, panggilkan aku Gerry kemari. Dan katakan padanya, kalau jantungku sangat sakit." lirih Morgan yang masih meremas dadanya.


"Tapi tuan muda, apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja?. Saya sangat khawatir melihat anda sekarang, sebaiknya kita langsung kerumah sakit!." ucap Pa Lim yang tidak tega melihat ke adaan tuan mudanya saat ini.


"Tidak Pa Lim, aku ingin menunggu dia pulang. sebentar la-" Morgan tidak dapat meneruskan ucapan nya, karena jantungnya terasa sangat sakit dan membuatnya pingsan saat itu juga.


"Tuan muda!, tuan muda!" pekik Pa Lim membangunkan tuan mudanya yang sudah tidak sadarkan diri.


Pa Lim pun segera membawa tuan mudanya kerumah sakit, ia tidak menyangka kalau kondisi tuan mudanya sangat lemah saat ini.


Saat diperjalanan menuju rumah sakit, ponsel Pa Lim pun berdering. Pa Lim segera mengangkatnya, karena ia melihat nama panggilan itu.


"Pa Lim, dimana tuan muda?. Kenapa ponselnya tidak dia angkat?" tanya asisten Jo yang kini masih berada didepan rumah kontrakan Rossa, ia sudah mengetahui semua tentang nyonya mudanya itu dengan menyuruh seseorang untuk mencari informasinya. Dan kini asisten Jo ingin kembali kerumah sahabat nyonya mudanya itu, karena tidak menemukan nyonya mudanya dirumah kontrakanya.


"Asisten Jo, apa kau sudah menemukan nyonya muda?." Ucap Pa Lim malah balik bertanya pada asisten Jo, dengan sangat gugup dan gelisah.


"Aku belum menemukan nya Pa Lim, tapi sebentar lagi aku akan membawanya pulang. Anda kenapa Pa Lim?, kenapa terdengar begitu panik?. Oh iya, sampaikan pada tuan muda, kalau aku a-" Asisten Jo tak sempat meneruskan kata- katanya, karena Pa Lim lebih dulu menyela.


"Aku sedang membawa tuan muda kerumah sakit!, tuan muda mendadak sakit dibagian dadanya dan tidak sadarkan diri. Kau harus cepat menemukan nyonya muda, dan segera bawa dia menemui tuan muda dirumah sakit A." sela Pa Lim.

__ADS_1


"Apa! tuan muda tidak sadarkan diri?." ulang Jo pada Pa Lim.


"Iya benar!, aku takut terjadi apa- apa pada tuan muda Jo." jawap Pa Lim.


Kini ia dan tuan mudanya sudah sampai dirumah sakit, dan langsung disambut oleh dokter Gerry yang sudah Pa Lim hubungi dari tadi sebelum ia berangkat.


"Baik lah Pa Lim, aku mengerti." ucap asisten Jo. Ia memutuskan sambungan telepon itu, dan kembali kemobilnya mencari sebuah map yang berisi semua informasi lengkap tentang kehidupan Rossa.


Asisten Jo menekan sebuah nomor telepon yang baru saja ia dapatkan, dan tak menunggu lama nomor telepon itu pun tersambung.


"Hallo?." ucap seseorang diseberang telepon itu dengan suara lembut.


"Nyonya muda!, saya asisten Jo. Dimana anda sekarang?" Tanya asisten Jo yang sangat bersyukur, kalau ia dapat menemukan nyonya mudanya itu sekarang.


"Eeh Jo?, untung kau menghubungiku. Aku sungguh tidak ingat dimana Villa tuan muda itu berada sekarang, bisa kah kau menjemputku?." tanya Rossa yang sangat bahagia, karena asisten Jo menghubunginya sekarang.


"Tentu nyonya muda, saya akan menjemput anda. Dimama anda sekarang?, saya akan segera kesana."Jawap Jo pada Rossa.


"Sekarang aku berada di tempat sahabat ku Jo, akan aku kirimkan lokasinya padamu sekarang juga." ucap Rossa.


Tidak menunggu lama, pesan Rossa pun sudah asisten Jo terima. Dan lokasi tersebut sudah pernah asisten Jo datangi sebelumnya, ia hanya tersenyum melihat lokasi tersebut.


"Hump..! sepertinya seseorang berusaha menyembunyikan anda nyonya." gumam asisten Jo dalam hatinya.


...☘☘☘...


"Siapa yang menghubungimu malam- malam begini?" tanya Silla tak sengaja mendengar Rossa berbicara di telepon barusan. Dan melihat kearah jam dinding dikamarnya yang sudah menunjukan pukul 00:15, sambil mengucek matanya.


"Itu Sill, asisten Jo." jawap Rossa yang beranjak dari tempat tidur untuk mengemasi tasnya.


Rossa memang tidak bisa tidur dari tadi, entah kenapa perasaan nya begitu resah. Seakan-akan ada sesuatu yang akan terjadi, dan membuat matanya tak bisa terpejam.


"Dia lagi?" tanya Silla membulatkan matanya.

__ADS_1


Rossa mengerutkan keningnya, mendengar ucapan sahabanya itu.


"Apa maksudmu mengatakan dia lagi?" Rossa malah bertanya pada Silla, karena merasa ada sesuatu yang Silla sembunyikan darinya.


Silla menepuk kepalanya, karena keceplosan bicara. Ia berusaha mencari alasan lain dikepalanya, untuk mengelabui Rossa. Tapi sayang sekali, ia tidak menemukan alasan apapun yang bisa menutupi kesalahan nya itu dari Rossa saat ini.


"Aah, itu Ross!. Sebenarnya tadi.., asisten itu datang kemari. Tapi aku sangat kesal melihat suamimu itu dimedia, makanya aku suruh maid mengatakan kalau kau tidak ada disini dan meminta alamat tempat tinggalmu agar aku bisa mengantarmu besok." jawap Silla menjelaskan pada Rossa.


Deg.


Jantung Rossa tiba- tiba bedetak hebat, mendengar ucapan Silla yang mengatakan asisten Jo mencarinya dari tadi.


"Benarkah?" tanya Rossa tak percaya.


Silla hanya mengangguk, takut sahabatnya itu akan marah padanya.


"Ya ampun Silla.., kenapa tidak bilang dari tadi?. Kamu tau aku sangat takut kalau Beruang Kutub itu akan marah besar padaku, tapi kau malah menyembunyikan ini padaku?." bentak Rossa pada sahabatnya itu.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan nya, hanya saja.. Apa kau sudah melihat berita di media hari ini?, apa kau tidak apa- apa dengan itu?." tanya Silla sambil menelisik wajah Rossa.


"Sill, harus berapa kali aku katakan padamu? Itu semua bukanlah urusanku, ingat Sill. Aku dan Morgan hanya menikah kontrak, tidak ada perasaan di antara kami." jawap Rossa dengan mantapnya.


Silla tersenyum mendengar ucapan Rossa, dan tidak ada keraguan dalam setiap kata yang Rossa ucapkan barusan. Hingga membuat Silla menghembuskan napas panjangnya, yang sedari tadi ia tahan karena merasakan sesak untuk sahabatnya itu.


"Haah.., akhirnya adiku ini sudah dewasa. Aku sampai- sampai ingin menangis untukmu melihat semua berita itu, tapi lihatlah dirimu?. Kau bahkan takut akan kemarahan Beruang Kutubmu itu dan rela tidak tidur memikirkan nya." ucap Silla memeluk Rossa sambil mengelus kepalanya lembut.


Terdengar suara klakson mobil dari luar rumah Silla, Rossa pun melepaskan pelukan mereka berdua untuk melihat kejendela kamar Silla dilantai 2 itu.


"Mungkin itu Jo Sill, aku akan pulang sekarang. Kamu jangan khawatir lagi ya." ucap Rossa tersenyum manis pada sahabatnya itu.


Silla hanya menganggukan kepalanya pada sahabatnya itu, tapi dalam hati Silla merasa kasian sekaligus tertekan untuk Rossa.


"Semoga saja kekhawatiran ku ini hanya perasaan ku saja." gumam Silla dalam hatinya.

__ADS_1


.


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya😉...


__ADS_2