
Kini Rossa sudah membeli sebuah mobil pilihan nya sendiri, tapi tidak seperti yang asisten Jo sampaikan padanya. Karena, mobil yang ia beli hanyalah mobil biasa. Bukan sebuah mobil mahal, ataupun keluaran terbaru seperti yang asisten Jo sampaikan. Atau lebih tepatnya, keinginan tuan muda Morgan.
"Kanapa kau tidak beli saja sebuah mobil sport, atau mobil mahal lain nya? Toh uangnya juga punya pria kaya itu, lagi pula dia juga sudah memberimu sebuah kartu kredit tanpa batas. Dan uang didalam kartu itu tidak akan pernah habis, kecuali dia bangkrut.!" ucap Silla pada Rossa.
Kini mereka berdua sudah berada di sebuah cafe, setelah berbelanja seharian.
Rossa yang mendengar sahabatnya itu berbicara, hanya tersenyum sambil memakan kue kesukaan nya.
"Pria itu?, kenapa sekarang kamu jadi terdengar seperti membecinya?." tanya Rossa sengaja.
Karena Rossa tau, sahabatnya itu juga pernah mengagumi suaminya yaitu Morgan. Tapi itu terjadi sebelum Rossa dan Morgan menikah, tapi entah kenapa sekarang Silla seakan- akan sangat tidak suka dengan suami Rossa saat ini.
"Aku tidak membencinya, hanya saja tidak suka dengan kelakuan nya.." jawab Silla ketus.
Rossa terkekeh mendengar sahabatnya itu membicarakan suaminya, Silla bukanlah tipe wanita yang suka memedam perasaan nya saat sedang suka atau tidak menyukai seseorang. Karena Silla orang yang sangat blak- blakan, dan juga tidak tertarik untuk mencari tau kesalahan orang lain.
"Bukankah dulu kamu bilang suamiku itu pria yang sangat manis, dan kalau tidak salah kamu juga bilang dia adalah pria tipemu?." goda Rossa pada Silla.
"Hais.. kau ini!." sahut Silla seperti orang yang ingin memukul Rossa dengan tasnya.
Rossa hanya tertawa, dan memberi penghalang dengan tangan nya agar Silla tidak memukul kepalanya.
"Kau terlihat begitu bahagia hari ini, apa yang terjadi sebenarnya?." tanya Silla.
Kini wajah Silla seperti sangat serius pada Rossa, karena dirinya melihat sahabatnya itu seperti menyembunyikan sesuatu dibalik kebahagian nya sekarang.
Rossa tersenyum dan meminum, minuman nya agar terlihat tenang. Karena ia tau, Silla pasti sadar akan sikapnya saat ini.
"Ya, kamu memang seperti seorang indigo. Yang selalu bisa membaca pikiran orang lain, dan sangat- sangat peka." jawab Rossa.
Rossa menghirup udara dari hidungnya, lalu membuangnya lagi dengan mulut.
"Sepertinya aku membutuhkan pekerjaan baru Sill, karena aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini." ucap Rossa.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu waktu itu, apa masih bisa diteruskan?." tanya Silla.
"Aku tidak tau, bahkan aku malu kalau kembali kesana. Karena sudah hampir satu minggu ini aku tidak hadir, bahkan tidak pernah hadir satu haripun." jawab Rossa menundukan kepalanya.
"Aku rasa ada yang lain, yang mengganjal dihatimu. Coba katakan, kenapa kau ingin berkerja.?" tanya Silla lagi.
Rossa hanya diam, ia tidak tau harus bercerita dari mana tentang Morgan yang kini telah pergi untuk berobat keluar negeri.
__ADS_1
"Ross.., ceritakan lah. Karena dengan menceritakan masalahmu, kau akan sedikit lega dan berpkir jernih. Lagi pula aku bukan orang lain yang akan menjual ceritamu untuk mencari ketenaran, kita ini sahabat. Kau sudah kuanggap seperti adik ku sendiri, maka dari itu jangan anggap aku orang lain." Ucap Silla tersenyum, lalu menggenggam tangan Rossa yang berada di atas meja untuk menyakinkan nya.
Rossa pun membalas senyum sahabatnya itu, sebenarnya ia sangat malu untuk menceritakan hal ini pada Silla. Karena ini adalah rahasia rumah tangganya, tidak seharusnya ia katakan pada siapapun tentang aib suaminya.
"Hari ini Morgan pergi keluar negeri untuk perjalanan bisnis, dan mungkin kepergian nya akan lama. Aku hanya merasa bosan, lagi pula aku tidak bisa terus mengandalkan nya. Aku harus banyak menabung untuk kebutuhan keluargaku di kemudian hari, karena bagaimana pun Aku dan Morgan hanya menikah kontrak." jawab Rossa.
Silla menatap wajah Rossa, memang benar tidak ada kebohongan dari cerita Rossa padanya. Tapi ia merasa, masih ada yang disembunyika sahabatnya itu darinya.
Silla pun melepaskan genggaman tangan mereka, dan tampak berpikir.
"Begini saja, kau kan suka fashion. Bagaimana kalau kau berkerja disalah satu cabang perusahaan mamaku, sebenarnya mama sudah lama menyuruhku untuk belajar beberapa Desain Fashion. Tapi kau tau sendiri kalau aku sangat ingin menjadi dokter, dan berakhirlah aku di sekolah Manajemen oleh papa." ucap Silla.
"Kita berdua sama- sama sekolah Manajemen, bagaimana kalau kita berdua yang pergi bekerja keperusahaan mamamu?." tanya Rossa antusias pada silla.
Silla menggelengkan kepalanya pada Rossa.
"Itu tidak mungkin, aku harus belajar lagi dirumah tentang Manajemen. Dan selalu memberi laporan untuk papaku, setelah selesai. Meskipun mereka berada diluar negeri, papa dan mama terus memantauku." jawab Silla dengan cemberutnya.
"Berarti aku sendirian dong disana?" tanya Rossa lagi.
"Masih banyak teman lain, aku yakin kau pasti punya banyak teman disana. Bagaimana?" ucap Silla dengan senyumnya bertanya pada Rossa.
"Hm.., aku setuju. Semoga saja ini jadi awal yang baik, aku hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan." ucap Rossa.
"Tentu, oh ya Sill. Sepertinya sudah hampir malam, aku harus segera pulang. Walaupun tidak ada orang disana, aku tetap harus pulang." ucap Rossa mengemasi barang nya.
"Oke, apa kau sudah tau jalan pulang keVilla suamimu itu.?" tanya Silla.
"Sudah, asisten Jo sudah memberitahu ku semuanya." jawab Rossa.
.
...☘Disisi lain☘...
.
"Tuan muda, sepertinya nyonya sudah membeli mobilnya. Hanya saja-" ucapan asisten Jo terjeda.
Morgan yang masih kesal kepada asisten nya itu, mengernyitkan alisnya. Merdengar perkataan yang, membuatnya penasaran akan kabar istrinya itu.
Asisten Jo yang melihat tuan nya seperti itu semakin binggung, ia memikirkan sebuah cara agar tuan mudanya tidak tambah marah padanya.
__ADS_1
"Maksud saya, nyonya sudah membeli sebuah mobil. Hanya saja harganya.." lagi- lagi asisten Jo menggantung kalimatnya.
"Apa kau gagap?, atau tidak bisa bicara? Dari tadi hanya saja, hanya saja!." bentak Morgan kesal.
"Nyonya muda sudah membeli mobilnya tuan muda, hanya saja mobilnya yang biasa saja. Dan harganya juga tidak seberapa." jawab asisten Jo sambil memikirkan sesuatu agar tuan muda nya tidak marah.
"Apa dia pikir aku sangat miskin, sehingga dia menghemat uangku?. Lalu, apa lagi selain mobil.?" tanya Morgan lagi dengan wajah yang mulai memerah menahan marah.
"Sepertinya nyonya membeli perhiasan, tetapi harganya juga tidak seberapa dan beberapa pakaian." Jawab Jo menundukan kepalanya, karena masih belum mendapatkan ide untuk meredakan amarah tuan mudanya.
Asisten Jo kembali mengingat beberapa saat yang lalu, ketika tuan mudanya bertanya. Kepadanya dan dokter Gerry, ada apa dengan mereka berdua yang melihat Morgan selesai makan.
...Beberapa saat uang lalu....
"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Morgan heran. Pada dokter Gerry dan Jo dihadapan nya.
"Kenapa tidak makan, dan kenapa kalian menatapku seperti itu?." tanyanya lagi.
"Tuan muda, tadi anda telah memakan pesanan tuan Gerry." ucap asisten Jo.
Dokter Gerry memelototkan matanya pada Jo, karena ia tau kalau Morgan pasti akan muntah kalau sadar telah memakan burger miliknya tadi. Sebab Morgan sangat tidak suka pada petty(daging pipih bulat) yang ada pada burger tersebut.
"Memangnya apa yang telah dia pesan, sampai kalian berdua tidak bisa makan melihatku?." tanya Morgan sambil mengangkat gelas didepan nya untuk minum.
"Tuan Gerry tadi me-" ucapan Jo terhenti, karena dokter Gerry langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Kau akan mati, bila dia tahu apa yang dia makan tadi." bisik dokter Gerry pada Jo.
Pfyuurrrr...
Morgan menyemburkan air soda yang baru saja ia minum, kewajah kedua orang di hadapan nya.
"Jangan katakan kalau aku telah memakan Hamburger milikmu?." bentak Morgan pada kedua orang dihadapan nya.
Dokter Gerry dan asisten Jo hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Dengan segera Morgan langsung merasa mual dan berlari kebathroom untuk memuntahkan makanan yang baru saja ia makan itu.
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa😍 Like, komen dan favorit agar tau up selanjutnya. Terima kasih sudah mampir😘