Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Hanya 2tahun


__ADS_3

"Bagaimana Rossa..?" tanya dokter Martin melihat kearah Rossa yang menundukan kepalanya.


"Maafkan paman jika ini sangat keterlaluan bagimu, tapi tadi pagi kau sendiri yang mengatakan nya walau harus menjual kehormatan mu kau akan terus memperjuang kan ibu mu sampai sembuh. Tapi ini jauh lebih terhormat Rossa, dari pada kau harus malakukan hal yang sangat bertentangan denganmu.." ucap dokter Martin yang merasa bersalah pada putri sahabatnya.


"Paman memang benar, sepertinya aku butuh suami untuk pengobatan ibuku." jawap Rossa tanpa ada suara ragu dalam ucapan nya kepada dokter Martin.


Dokter martin pun refleks memandang wajah Rossa di samping nya, ditatapnya lagi kedua mata itu. "Apakah ini benar jawaban anak gadis ini..?" batin dokter Martin membulatkan matanya memandang wajah Rossa yang terlihat tenang menerima ucapan nya.


"Kau bilang apa barusan..? Apa kau serius dengan ucapan mu rossa..?" tanya dokter Martin memastikan kembali pendengaran nya.


"Ya, aku sangat serius paman. Apa lagi yang aku cari, bahkan ini ada lah suatu berkah bagiku bisa mendapatkan suami dalam keadaan seperti ini." jawap Rossa yang tersenyum memilukan di pandangan dokter Martin.


"Aku setuju dengan paman, jadi kapan aku akan menikahi pria itu..?" tanya Rossa yang ingin secepatnya mendapatkan tempatnya bersandar untuk membayar uang rumah sakit ibunya.


"Dan satu lagi paman, apa paman sudah mengatakan kalau aku sangat miskin dan juga tidak terlalu cantik..? Apa pria itu mau menerima ku, sedangkan ia menderita coitophobia. (rasa takut berhubungan intim) Bagaimana bisa dia melakukan hubungan suami istri dengan ku nantinya.?" tanya Rossa yang sudah mengetahui seluk beluk tentang penyakit pria yang dokter Martin bicarakan padanya.


Rossa memang bukan seorang dokter, tapi dengan kepintaran yang ia miliki sangat tau penyakit yang diderita pria yang akan menjadi suaminya nanti.


"Entahlah, dia memang memiliki penyakit phobia pada wanita. Tapi dia juga tidak bisa bertahan dengan kondisi nya yang sekarang, bahkan kalau dia bisa bertahan hanya mengandalkan obat penenang yang akan perlahan membunuh nya." jawap dokter Martin sambil menghembuskan napasnya panjang.


Penjelasan dokter Martin menganai calon suami nya, membuat Rossa merasa tidak akan terancam akan dirinya. Karena yang ia nikahi bukanlah orang mesum yang hanya membutuhkan tubuhnya.


Sebab itulah Rossa menyetujuinya untuk menikah, dan hal baik nya hanya sebatas kontrak yang saling menguntungkan satu sama lain.


"Baiklah kalau kau sudah menyetujuinya, besok kalian akan ku pertemukan terlebih dahulu agar lebih akrab. Karena efek obat bius yang ada pada dirinya akan bereaksi pada jam yang sama saat dia meminum nya, dan itu akan berlangsung selama penawar nya belum ditemukan. Paman tau ini sangat berat untukmu Rossa, tapi paman hanya ingin membantu mu. Dan satu lagi, jangan sampai kau ada rasa cinta dan mempunyai anak. Kau harus menjaga perasaanmu, sebab kalau kau mempunyai rasa cinta dan seorang anak itu akan menyakiti diri mu sendiri. Karena Morgan sudah mempunyai kekasih, ia sangat mencintai kekasih nya itu. Jadi jangan sampai kau mencintai nya, ingat lah ini hanya bisnis." ucap dokter Martin menjelaskan pada Rossa.


"Aku akan mengingat ucapan paman, jangan khawatir. Aku bersyukur paman sudah meringan kan beban ku, ini adalah hal baik." jawap Rossa yang juga melihat ka arah dokter Martin.

__ADS_1


"Maaf kan paman Rossa, karena telah menyembunyikan sesuatu dari mu. Aku yakin kau akan kuat, setelah semuanya selesai akan ku beri tau semuanya.." batin dokter martin yang merasa bersalah pada Rossa, yang telah menyembunyi kan sesuatu.


"Ngomong- ngomong Bagaimana kuliahmu Rossa..?" tanya dokter Martin sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Semua nya baik paman, besok aku sudah mulai berkerja.." jawab Rossa dengan senyum indahnya.


"Bagus lah, dia sudah maulai ceria. Sepertinya alasan ku menjodohkan nya, tidak buruk juga.." batin dokter Martin tersenyum melihat anak sahabat nya itu mulai ceria.


Karena ia sudah berjanji pada ayah Rossa, akan selalu menjaga istri dan anaknya kalau dia sudah tiada agar selalu aman.


"Lalu bagaimana dengan adikmu, apa kau sudah menghubunginya.? Dia masih terlalu muda untuk menghadapi kenyataan ini, ku harap dia bisa menerimanya dengan tabah." tanya dokter Martin yang merasa kasian dengan Rommi adiknya Rossa.


"Aku sudah menghubunginya paman, tapi ponsel nya tidak aktiv. Dan aku hanya mengiriminya pesan saja, ku harap dia segera membacanya." jawap Rossa.


"Bagus lah, kalau begitu. Sudah tidak ada yang perlu paman sampaikan lagi, kau pulang lah. Besok kau datang lah kerumah sakit jam delapan pagi langsung keruangan ku, kau paham..?"


Dokter Martin hanya melihat Rossa yang berjalan semakin jauh, dan sampai tak terlihat lagi.


"Keluar lah, aku tau kau mendengarkan percakapan kami." ucap dokter Martin yang merasakan ada orang lain, telah mencuri dengar pembicaraan nya dengan Rossa tadi.


"Kau memang peka Gerdian/Martin..ucap seseorang dibalik batang pohon besar ditaman itu.


...☘☘☘...


Sesampai nya Rossa di rumahnya, ia pun masuk kekamar dan merebahkan punggung nya dikasur. Ia pun mengingat pembicaraan nya dengan dokter Martin, yang menyetujui untuk menikah.


"Apakah keputusan ku sudah tepat.?" ucapnya bertanya ragu sambil melihat kearah atas kamarnya.

__ADS_1


"Aku rasa ini lah yang tepat, setelah bercerai nanti. Aku akan mendapatkan surat cerai dan buku nikah, seorang janda. Ini lebih baik dari pada seorang gadis, tapi sudah tidak perawan lagi.." tuturya mengingat kejadian dirinya diperkosa malam itu.


"Semangat lah Rossa, kau nanti akan menjadi seorang penghangat ranjang saja. kurang lebih seperti seorang pelac*r, ucap Rossa tersenyum gentir membayangkan nasip nya yang akan datang.


.


.


Pagi- pagi Rossa sudah siap dengan pakayan yang akan ia kenakan kekantor, namun karena ada sesuatu hal. Pakaian itu ia kenakan ketempat lain, kerena menurutnya hanya itu yang paling cocok untuk ia kenakan menemui calon suaminya.


"Eeh.. kenapa aku semangat sekali ingin menemui tuan muda itu..? sampai- sampai harus berdandan seperti ini..." gerutu Rossa melihat rambut yang ia buat bergelombang, yang sedikit aneh menurut nya.


"Haah.., sudah 2 hari aku bolos berkerja. Apakah ini hal baik, apakah aku masih bisa dianggap kariawan. Sedang kan berkerja saja tidak pernah datang, huuh.." ucap Rossa yang melihat expresi nya mencoba untuk tersenyum di cermin.


"Aku rasa ini tidak buruk, baiklah ayo kita berangkat." ucapnya.



Sesampainya Rossa di rumah sakit, ia melihat kearah jam tangan nya yang baru jam 7 pagi..


"Ternyata aku terlalu bersemangat ahahaha.." ucapnya yang menertawai dirinya sendiri merasa konyol..


.......


.............


Novel ini masih direvisi, karena terjadi kesalahan pada bab 11. Dan akan diperbaiki segera.!

__ADS_1


Kalau suka dengan cerita ini jangan lupa like, komen dan Favorit yaa agar tau up nya.😍 Terima kasih sudah mampir..😘


__ADS_2