Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Tidak Apa-Apa.


__ADS_3

Setelah makan bersama, kini papa Ferino dan mama Mardiana masih berada diruangan Morgan. Mereka berbincang- bincang dari masalah perusahaan sampai masalah Morgan yang mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu.


Sampai menyebabkan Morgan koma begitu lamanya, dan sekarang perusahaan yang Morgan penggang masih mengalami kesulitan. Karena pemilik saham lainnya ingin membagi suaranya untuk Miranda, kakak Morgan sendiri agar bisa menggantikan posisi Morgan saat ini.


"Morgan, apa rencanamu kalau kau kembali keperusahaan nanti? Sebab saat ini masih sangat kacau, papa tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana lagi dengan para pemegang saham lainnya." Ucap papa Ferino, yang saat ini terlihat sedikit bingung dengan sesuatu yang ia pikirkan.


"Papa jangan khawatir, Jo sudah menyelesaikan semuanya dengan baik." Jawab Morgan dengan biasa saja, karena saat ini yang ia tatap hanyalah istrinya. Yang masih mengobrol asyik dengan mamanya dengan tawa canda, sehingga membuat Morgan sedikit cemburu pada mamanya sendiri.


"Apa kau akan kekantor besok? karena saat ini keadaan diperusahaan sangat kacau. Papa tidak mengerti kenapa keadaannya malah semakin rumit begini." Ucap papa Ferino, berbicara pada anaknya Morgan.


"Mungkin minggu depan pa, aku tidak bisa tergesa- gesa harus kekantor! Kakiku masih sangat kaku untuk berdiri, apa lagi harus melihat semua berkas yang sudah lama aku tinggalkan." Jawab Morgan, pada papa Ferino dihadapannya.


"Oh ya pa! aku mau mengadakan resepsi pernikahanku. Bagaiman menurut papa? dan juga. Aku mau bulan madu bersama Rossa, sebelum dia melahirkan nanti." Sambung Morgan lagi, sambil menyeruput kopinya dengan perlahan.


"Uhuk uhuk uhuk..." Rossa tersedak air susu yang baru saja dokter Gerry buatkan untuknya minum.


"Sayang, kau tidak apa-apa? Minumnya pelan-pelan sayang, tenangkan dulu dirimu. Tarik napas lewat hidung, setelah itu buang dari mulut perlahan.." Ucap mama Mardiana pada Rossa, sambil mengusap pelan punggung menantunya.


"Sayang kau tidak apa-apa? Gerry! Kau campur kan apa dalam susu ini! kenapa istriku bisa tersedak begini?." Tanya Morgan dengan nada sedikit tinggi, pada sahabatnya itu.


Morgan langsung beranjak dari tempat duduknya, mendekati Rossa. Dan menajamkan matanya pada dokter Gerry sahabatnya itu, yang dari tadi membelalak melihatnya terkejut karena ucapannya.


"Astaga, itu hanya tersedak!.. Kau pikir aku meracuninya? hah!.. Ada- ada saja, sungguh merepotkan. Kalau begitu kau saja yang membuatkannya susu! aku tidak mau lagi!." Ucap dokter Gerry merasa tertuduh, hanya karena masalah sepele seperti itu.


"A- aku tidak apa-apa, ini hanya tersedak karena mendengar ucapanmu yang tadi!." Ucap Rossa malu- malu, karena semua orang memperhatikannya.


"Ucapannya yang mana sayang? mama tidak terlalu memperhatikan Morgan bicara tadi!." Ucap mama Mardiana pada Rossa, lalu mengambilkan kotak tisu untuk menantunya itu.


"Bersihkan wajahmu dulu sayang, ini tisunya." Sambung mama Mardiana lagi pada Rossa, tapi tisunya sudah Morgan rebut dari tangan mama Mardiana dan memberikannya pada Rossa.

__ADS_1


"Sayang kau tidak apa-apakan? apa anak kita baik-baik saja!. Apa ada yang sakit? ayo kita periksa kedokter kalau ada yang sakit!." Ucap Morgan dengan nada sedikit khawatir pada istrinya itu, dan duduk berjongkok dihadapan Rossa melihat ekspresi sang istri yang terlihat malu-malu.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya tersedak." Ulang Rossa pada Morgan, dan kini tangan suaminya itu sudah mengusap tisu di wajahnya.


"Baiklah, kalau kau bilang seperti itu. Tapi kenapa kau sampai tersedak sayang? apa susunya tidak enak!? Aku akan meminta Gerry mencarikan susu yang baru untukmu nanti." Ucap Morgan pada istrinya.


Dokter Gerry hanya memutar matanya lelah, mendengar ucapan Morgan pada istrinya Rossa.


Karena selalu saja dirinya yang disalahkan, kalau ada sesuatu yang terjadi pada Rossa atau pun kandungannya.


"Tidak usah, susunya sangat cocok ko! Tadi hanya tersedak saja, jangan terlalu dipersoalkan.." Ucap Rossa lagi, mengulang kembali kata- katanya tadi.


"Baiklah sayang, kalau begitu.. Bagaimana kalau kita pulang saja? aku sudah sangat bosan disini." Ucap Morgan dengan lembutnya, pada Rossa.


"Maksudmu, pulang ke- kemana?." Tanya Rossa sedikit gugup, karena villa yang dulu mereka tempati dinegara A sudah pasti dimiliki Vania Bella.


Dan Rossa juga tidak mau, kalau sampai kembali lagi kevilla itu lagi. Karena sedikit banyaknya perasaan Rossa merasa sedikit cemburu pada Vania Bella, karena Morgan sudah menyediakan villa besar itu untuk mantan kekasihnya.


"Papa dan Mama ada mansion disini, mungkin kita akan tinggal disana beberapa waktu kalau kau mau." Ucap Morgan, yang kini juga duduk disofa yang sama dengan Rossa.


"Emm, aku ada permintaan padamu. Bagaimana kalau resepsi pernikahan kita ditunda dulu sampai aku melahirkan?." Ucap Rossa pada Morgan, dihadapan kedua mertuanya.


"Baiklah, tapi kita lakukan bulan madu kita disini bagaimana?." Ucap Morgan, sambil menatap wajah wanitanya.


"Ti- tidak masalah." Jawab Rossa malu, dengan wajah yang terlihat memerah menahan.


"Mama setuju dengan Rossa, saat ini dia sedang mengandung. Pasti akan sangat kelelahan kalau kalian melakukan resepsi pernikahan, biarkan saja sampai Rossa habis melahirkan nanti." Ucap mama Mardiana, yang setuju dengan keputusan Rossa.


"Kalau Papa terserah kalian saja, yang penting kalian nyaman." Ucap papa Ferino.

__ADS_1


"Kalau begitu kita pulang saja bagaimana? dari pada kita disini. Kasian menantu dan cucu kita Pa, setiap hari berada dirumah sakit!." Ucap mama Mardiana pada suaminya, lalu menatap Morgan.


"Iya ma, aku juga ingin segera pulang. Rasanya sudah sangat bosan disini, sayang apa kau sudah selesai makannya." Tanya Morgan pada istrinya, saat ini tangan Morgan berada dibahu Rossa.


Membuat dada Rossa kembali berdebar- debar tidak menentu, hanya ada disamping suaminya ia merasa sudah sangat berdebar.


Apa lagi mereka berdua sudah lama tidak saling bersama, membuat jantung Rossa berdegup tidak menentu berada disamping suaminya.


"A- aku sudah selesai ma- makan, kau sendiri bagaimana?." Tanya Rossa pada suaminya, Rossa terbata- bata sambil menundukan kepalanya. Karena menahan debaran dadanya yang terus berdetak tak menentu, membuatnya sedikit cangung dihadapan semua orang.


Morgan tersenyum puas melihat tingkah istrinya, ia tahu kalau wanitanya ini sedang grogi!. Atau dengan kata lain istrinya saat ini sedang malu, pada semua orang yang berada diruangan itu.


"Baiklah, Gerry! Kau siapkan semuanya, kita pulang sekarang juga!." Ucap Morgan pada sahabatnya itu, karena dirinya pun merasakan debaran dadanya yang terus berdetak saat berada didekat istrinya saat ini.


.


.


...☘☘☘...


Mansion keluarga Lois.


Rossa lagi-lagi tercengang melihat kemewahan mansion yang ia masuki sekarang, sungguh ia sangat kagum akan semua yang ada didalam ruangan itu.


"Rossa..."


Tiba-tiba ada suara yang sangat familiar memanggil nama Rossa, yang membuat semua orang menoleh kepada orang tersebut.


........

__ADS_1


.......


...See you all 😘...


__ADS_2