
"Ini..." Ucap Rossa tertegun, menyaksikan layar yang melekat di dinding ruangan itu.
"Ya, seperti yang kau lihat." Jawap dokter Jane, yang juga menatap layar itu tersenyum.
Sedangkan dokter Martin menekan pelipisnya kuat, dengan kedua tangannya. Ia merasa kepalanya semakin nyeri!, apalagi melihat layar itu yang sangat nyata.
.
...☘☘☘...
.
FL Morgan Chase.
FL Morgan Chase, merupakan perusahaan perbankan terbesar di New York City. Amerika Serikat, perusahaan yang menyediakan jasa keuangan besar senilai USD 2 triliun.
Bank ini digunakan sebagai divisi sekuritas, jasa keuangan, pengelolaan kekayaan global, bank investasi, pengelolaan aset serta perbankan swasta. Yang tidak lain adalah, milik keluarga Lois.
"Aku tidak mau tahu!, mulai dari sekarang jangan ada yang memakai parfum di kantor ini!. Dan buat peraturan untuk memakai masker!, karena aku tidak suka melihat wajah mereka." Bentak Morgan pada Jo dan sekretarisnya, dalam ruang kerjanya.
"Baik tuan muda, apa ada lagi?" Tanya Jo pada Morgan, karena disaat mereka masih diluar negeri. Tuan mudanya itu selalu mual saat mencium aroma parfum, bahkan Jo dan dokter Gerry juga disuruh memakai masker. Karena alasan yang sama, TIDAK SUKA MELIHAT WAJAH MEREKA!.
"Mulai hari ini!, ganti semua pewangi ruangan dengan aroma lavender." Sambung Morgan, yang kini masih memakai masker dan kaca mata hitamnya dalam ruangan.
"Baik tuan muda, akan segera kami lakukan." Ucap Jo menundukkan kepalanya pada Morgan, lalu berbicara pada seseorang disebelahnya.
"Sekretaris Jim, tolong anda urus semua yang tuan muda minta. Kalau ada yang melanggar!, langsung beri surat teguran. Sesuai prosedur perusahaan yang baru dibuat saat ini, anda mengerti?." Tanya Jo, dengan wajah datarnya.
"Saya mengerti Asisten Jo, kalau tidak ada yang dibahas lagi. Saya mohon undur diri, permisi.." Ucap sekretaris Jim menundukan kepalanya, lalu keluar dari ruangan Morgan.
"Haah,.. akhirnya dia keluar juga. Aku sangat tidak suka melihat wajahnya, apa lagi melihat wajahmu setiap hari." Sinis Morgan pada Jo, karena Asisten Jo saat ini juga terpaksa memakai masker dan kaca mata hitam. Sama halnya seperti Morgan saat ini, sama- sama memakai masker dan kaca mata hitam dalam ruangan.
"Aku rasa penyakit yang tuan muda derita semakin banyak!, setelah berobat keluar negeri." Batin Jo merasa prihatin, pada tuan mudanya.
__ADS_1
...☘☘☘...
"Bagaimana?, apa kau merasa sudah lebih baik sekarang?." Tanya dokter Jane pada Rossa, yang kini sedang berada diruangan vvip untuk dirawat.
"Hm,.. aku sudah lebih baik dari yang tadi bi." Jawab Rossa dengan suara seraknya, setelah lumayan lama menangis sampai tidak sadarkan diri.
"Rossa, bibi ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau akhir- akhir ini ada masalah, atau memikirkan sesuatu selain memikirkan tentang Ibu dan adikmu?." Tanya dokter Jane, yang kini duduk disamping Rossa yang tengah berbaring di ranjang pasien.
Rossa terdiam sejenak, mengingat pesan dari Vania Bella di ponsel suaminya saat itu.
"Kalau Bibi tidak salah tebak, apa kau memikirkan tentang skandal suamimu dengan kekasih masa kecilnya itu?." Tanya dokter Jane lagi, karena melihat mimik wajah Rossa yang selalu terlihat murung.
Melihat Rossa yang hanya diam, dan tidak berkata apapun atau membantah. Dokter Jane menghirup udara panjang, dan membuangnya kembali.
"Bibi sarankan,.. kau jangan terlalu stres!. Karena itu berpengaruh pada kandunganmu saat ini, untung saja mereka kuat. Kalau tidak, kau akan kehilangan mereka. Walau pun kau tidak tahu siapa ayah mereka, kami akan selalu mendukung keputusanmu." Ucap dokter Jane lagi, memberi semangat pada anak sahabatnya itu.
.
Bahkan ia juga menjelaskan, bahwa tidak tahu sama sekali. Siapa pria malam itu, karena penglihatannya yang sangat buram. Oleh pengaruh obat bius yang membunuh seluruh saraf ditubuhnya, bahkan tidak dapat mengeluarkan suara sedikitpun.
Dan hal menjijikan itu terjadi, saat malam ibunya masuk rumah sakit. Sehari sebelum ia menikah dengan Morgan, dan memakai kontrasepsi ditubuhnya.
Sungguh Rossa tidak menyangka, kalau dirinya akan menjadi seperti ini sekarang.
Rossa tidak tahu harus bagaimana lagi, sebab kandungannya sudah masuk minggu ke 8. Dan kemungkinan perutnya akan terus membesar, seiring berjalannya waktu!.
Bahkan kalau dirinya masih bertahan bersama Morgan, dan Morgan menerima anak- anaknya seperti yang Morgan dambakan. Memiliki anak bersama dengannya, mungkin suatu hari nanti identitas anak- anaknya akan terungkap!.
Kebohongan besar akan memakannya hidup- hidup, bahkan anak- anaknya akan lebih menderita lagi dari dirinya. Karena membohongi Morgan, dengan memberitahukan. Kalau anak yang ia kandung, adalah anaknya dan Morgan.
Rossa menggelengkan kepalanya kuat, bersamaan dengan air matanya. Yang tak henti- hentinya menetes sedari tadi, membayangkan masa depannya dan anak- anaknya yang masih ada dalam kandungannya.
Rossa tidak ingin hal yang ia pikirkan itu sampai terjadi, sudah cukup penderitaan yang ia rasakan kehilangan Ayahnya. Dan kini Ibunya yang belum juga sadarkan diri, setelah menjalani operasi bedah jantungnya 5 minggu lalu.
__ADS_1
Dan kini, meski pun dirinya tidak tahu. Siapa Ayah dari anak- anaknya, ia akan tetap mempertahankannya. Karena bagi Rossa, mereka adalah penggati orang yang sudah tiada. Yang akan menemaninya seumur hidup, walau pun tanpa seorang ayah untuk anak- anaknya.
"Aku harus cepat bercerai denganya, karena tidak mungkin aku harus memberitahukannya kalau sekarang ini aku sedang mengandung. Morgan pasti menganggap ini adalah anaknya, dan kalau itu sampai terjadi!. Maka kebohongan ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak, kapan pun saat waktunya tiba!. Tidak,.. aku tidak ingin anak- anakku menderita." Batin Rossa, yang kini meletakan lengannya di kening untuk menutupi wajanya yang sedang menangis.
.
.
Villa Golden.
Seharian ini Rossa lewati hanya berbaring dirumah sakit, karena dirinya masih memerlukan istirahat yang cukup. Serta vitamin untuk memperkuat kandungannya, yang hampir bermasalah karena steres. Cairan demi cairan masuk kedalam tubuh Rossa melalui jarum infus, demi menjaga buah hatinya yang masih sebesar biji jagung itu.
Kini sudah hampir pukul 7 malam, Rossa masih mempersiapkan dirinya untuk bertemu orang tua Morgan.
Perasaan gugup membuat dirinya hampir tidak percaya diri, sampai- sampai tidak mendengar suara langkah kaki yang masuk kedalam kamarnya.
"Sayang,.." Suara lembut itu tertengar sangat manja, bahkan langsung memeluk Rossa dari belakang dan mengangkatnya dari depan meja rias.
"Kyaaa..." Pekik Rossa yang merasa melayang, karena diangkat menuju tempat tidur.
Morgan meletakan tubuh istrinya dengan perlahan di atas kasur empuk itu, lalu menindihnya dari atas.
"Aku sangat merindukanmu, biarkan seperti ini beberapa menit." Ucap Morgan, lalu mengec*p bibir istrinya itu dengan lembutnya tanpa menuntut untuk sesaat.
"Tapi suamiku, kau sangat berat." Balas Rossa, setelah bibir mereka berdua sudah terlepas.
Karena Rossa takut, Morgan akan menindih perut ratanya yang sudah ada beberapa makhluk kecil yang sedang tidur didalam sana.
"Kalau begitu, bagaimana kalau seperti ini?." Tanya Morgan, yang membalik tubuh Rossa keatasnya.
........
.......
__ADS_1