
"Paa,.. kita dapat 3 cucu sekaligus pa! Puji syukur kepada tuhan, semoga kamu selalu sehat sayang. Kamu harus cepat sarapan, sebentar mama pesankan makanan dulu. Kebetulan mama dan papa juga belum sarapan, kamu suka makanan yang bagaimana sayang?." Tanya mama Mardiana pada Rossa, karena terlalu bahagianya akan segera mendapatkan cucu dari menantu satu-satunya itu.
"Apa saja tidak masalah ma, aku tidak pemilih dengan makanan." Jawab Rossa pada mama Mardiana dengan senyum sedikit kaku, karena dirinya memang belum terbiasa dengan mama mertuanya yang hanya pernah bertemu sekali saja.
"Baiklah mama akan pesankan makanan yang sehat untuk ibu hamil, agar cucuku selalu sehat didalam sana dan cepat besar." Ucap mama Mardiana lagi, masih mengelus perut besar menantunya.
Hati Rossa seakan berwarna, karena mendapatkan perhatian mama mertuanya yang sangat tulus padanya. Ia teringat akan Ibunya yang sudah tiada, dalam hati Rossa bertanya. Bagaimanakah tingkah Ibunya andai masih ada didunia bersama mereka, memperlakukan dirinya yang saat ini tengah mengandung. Pasti sangat perhatian dari biasanya, dan pastinya sangat cerewet.
.
"Ini,.. ini ada kemajuan tuan besar. Sepertinya beberapa anggota tubuh tuan muda ada yang bisa digerakkan oleh alam bawah sadarnya, hal ini biasanya karena kemauan pasien untuk sadar sangat tinggi. Jadi pasien bisa merespon setiap pembicaraan yang ia dengar, karena pasien penderita koma memang biasanya bisa mendengar dan mengingat setiap perkataan yang ia dengar." Ucap dokter yang menangani Morgan itu, berbicara pada papa Ferino.
"Apa yang saya lihat tadi itu nyata dokter? tadi saya melihat matanya terbuka. Tapi setelah saya perhatikan lagi, matanya masih terpejam seperti ini." Tanya papa Ferino.
"Sepertinya tuan muda memang ingin segera sadar tuan besar, apa lagi saat ini nyonya muda sedang mengandung. Pasti ini lah yang membuat tuan muda ingin segera sadar kembali, hasil dari pemeriksaan semuanya baik-baik saja tuan besar." Ucap dokter itu menjelaskan kembali.
Rossa hanya mendengar pembicaraan papa mertuanya dengan sang dokter dari tempat duduknya disofa, karena saat ini makanan yang mama mertuanya pesankan sudah datang dan sedang disiapkan oleh beberapa orang yang entah siapa mereka Rossa pun tak tahu.
Baru saja beberapa dokter itu pamit ingin keluar dari ruangan Morgan, dan papa Ferino pun mengantar mereka sampai didepan pintu.
Hanya dokter Gerry yang masih melihat semua alat yang terpasang ditubuh sahabatnya itu, tapi tiba-tiba mata Morgan terbuka kembali dan mengerjapkannya beberapa kali.
Membuat dokter Gerry, ingin kembali memanggil dokter yang ahli dalam bidangnya, untuk melihat keadaan Morgan lagi. Tapi, tiba-tiba tangan dokter Gerry seperti dicengkram. Membuatnya menoleh kembali kebelakang kearah sahabatnya itu, untuk memastikan apa yang terjadi pada Morgan.
Dan disaat dokter Gerry menoleh kebelakang, Morgan pun menggelengkan kepalanya. Membuat dokter Gerry kaget dan ingin memanggil nama sahabatnya itu, tapi lagi-lagi Morgan menggelengkan kepalanya agar dokter Gerry tetap diam.
__ADS_1
"Kau sudah sadar? aku akan memanggil dokter yang menanganimu untuk melihat keadaanmu sekarang." Ucap dokter Gerry, dengan suara yang sengaja ia pelankan.
Tapi Morgan lagi-lagi menggelengkan kepalanya, dan matanya tertuju pada Istrinya Rossa. Yang saat ini mulai menikmati makanan yang begitu banyak dihadapannya, dan itu membuat dokter Gerry paham. Kalau sahabatnya itu ingin menyembunyikan berita kesadarannya dari semua orang, termasuk orang-orang yang berada disofa yang saat ini terlihat menikmati makanan mereka.
"Apa kau menginginkan sesuatu?" Tanya dokter Gerry lagi dengan nada pelan, pada Morgan yang masih melihat kearah sofa.
Dengan rasa haru yang tidak mampu ia tahan, Morgan meneteskan air matanya karena melihat badan istrinya itu membesar. Terlebih lagi melihat perut istrinya saat ini, yang ia tahu sedang mengandung anaknya.
"Gerry, bila ini mimpi! Aku tidak mau bangun dari mimpi ini, biarkan saja aku terus tidur bersama keluarga kecilku." Lirih Morgan, yang tidak mampu menahan gejolak hatinya yang terasa sangat bahagia.
Dokter Gerry pun mengikuti arah pandangan sahabatnya itu, ia tahu apa yang Morgan katakan itu tertuju pada Rossa istri sahabatnya itu saat ini. Tapi yang dokter Gerry bingungkan, kenapa Morgan tidak mau mengakui bahwa dirinya sudah sadar dari komanya.
"Apa kau merasa baik-baik saja? atau ada yang masih sakit!." Tanya dokter Gerry lagi.
Morgan hanya menggelengkan kepalanya, karena pandangannya saat ini hanya tertuju pada Rossa.
Morgan hanya menganggukan kepalanya saja, dan mulai menggerakkan semua anggota tubuhnya dari kaki sampai tangan dan wajahnya.
Tapi dibagian kakinya, Morgan tidak merasakan apapun. Bahkan ia tidak bisa menggerakkannya, walau hanya jari kakinya saja.
"Gerry, kakiku tidak bisa digerakkan!." Lirih Morgan merasa sedikit khawatir, karena ia tahu itu pertanda kelumpuhan.
"Apa! kau coba sekali lagi. Kau jangan membuatku panik, ini sangat penting Morgan. Kau tahu ini bukan candaan, dan bukan waktunya main- main." Ucap dokter Gerry sedikit meninggikan suaranya, karena panik ia lupa memelankan suaranya.
Semua mata pun tertuju pada dokter Gerry, yang saat ini terlihat seperti terciduk akan keceplosannya.
__ADS_1
"Ada apa Gerry? kau bicara dengan siapa!" Tanya papa Ferino yang kini menghentikan kegiatan makannya.
Dan dengan cepat Morgan kembali memejamkan matanya, karena papa Ferino seperti memperhatikan mereka dan mendekat kearah mereka berdua.
"Ah, bukan apa-apa paman. Tadi aku sedang berbicara pada temanku disambungan telepon, hahaha bukan masalah besar." Jawab dokter Gerry dengan segera, agar orang- orang dihadapannya tidak curiga.
Papa Ferino kembali memperhatikan keadaan putranya, ia merasa sedikit ganjal dalam hatinya. Karena melihat posisi Morgan yang menghadap samping saat ini, padahal saat beberapa dokter tadi memeriksanya masih terlentang.
"Apa yang kau lakukan padanya? kenapa tubuh Morgan malah menghadap kesamping." Tanya papa Ferino pada dokter Gerry, yang saat ini nampak gugup.
"Ah itu paman, aku hanya ingin memasangkannya pakaian. Benar! memasangkannya pakaian." Jawab dokter Gerry, karena dari tadi Morgan memang tidak memakai bajunya setelah Rossa membersikan tubuhnya dengan handuk basah.
"Oh, apa kau perlu bantuan?." Tanya papa Ferino lagi.
"Tidak paman, aku akan memakaikannya sendiri untuknya. Paman lanjutkan saja makannya, setelah selesai aku akan menyusul kalian untuk makan." Ucap dokter Gerry.
"Baiklah." Ucap papa Ferino, lalu kembali ketempat duduknya disofa melanjutkan makannya yang sempat terhenti tadi.
Dokter Gerry menarik napasnya dalam lalu membuangnya kembali, karena hampir saja dirinya dan Morgan ketahuan tengah berbohong. Iapun membalikkan tubuh Morgan, dan berbicara kembali.
"Kau gerakan la-, astaga!! ." Pekik dokter Gerry terkejut.
Karena tiba-tiba Rossa berada di belakangnya mendekat, dan membuat dokter Gerry sangat terkejut sampai terjatuh kelantai saking kagetnya.
........
__ADS_1
.......
...See you all. ...