
Hari sudah hampir sore, tapi Jessica belum juga keluar dari kamarnya. Ada perasaan khawatir dalam benak Alvan, karena sedari tadi dirinya ingin sekali mengetuk pintu kamar itu. Tapi ia juga tidak mau Jessica salah paham akan perhatiannya ini.
Setelah kejadian siang tadi, Jessica tidak mau keluar kamarnya sama sekali. Membuat Alvan semakin pusing harus berbuat apa? karena Jessica bukanlah orang seperti itu yang biasanya merujuk seperti anak kecil!.
Dengan terpaksa, akhirnya Alvan mengetuk pintu kamar Jessica. Karena bagaimana pun, saat ini wanita itu tengah mengandung anaknya. Benih yang tidak sengaja ia titipkan tanpa sadarkan diri, telah melakukannya dalam keadaan mabuk berat.
" Tok.. tok.. tok.. Jessica, Jessica.. Apa kau mendengarku? Jessica!.." Suara Alvan sedikit meninggi, karena tidak ada jawaban dari dalam kamar itu.
Alvan menutup matanya terpejam, perasaan geram dan kesalnya menjadi satu saat ini pada calon istrinya itu. Karena tidak ada jawaban sama sekali yang ia dengar, dari dalam ruangan yang tadi ia ketuk pintunya.
"Jessica! kalau kau mendengarku! Cepat keluar, atau kau ingin aku mendobrak pintunya!?." Bentak Alvan yang sedari tadi menahan kesalnya, pada wanita yang tidak lama lagi akan memasuki kehidupannya.
Namun tidak ada jawaban dari dalam ruangan itu, membuat Alvan berinisiatif untuk mendobrak pintunya sampai terbuka.
Sudah berulang kali Alvan mendobrak pintunya, tapi nihil!. Pintu dihadapannya sama sekali tidak terbuka, karena pintu ruangan itu memang terbuat dari bahan yang mahal dan tentunya tidak mudah untuk dirusak begitu saja.
Alvan kembali memanggil nama Jessica berulang kali, tapi tetap saja sama! tidak ada jawaban yang ia dengar dari dalam pintu itu. Ia pun turun kelantai bawah, untuk menanyakan kunci lainnya pada beberapa pelayan.
Dan tidak menunggu lama, kunci cadangan pun sudah ia dapatkan dan beberapa pelayan yang ia bawa untuk melihat keadaan Jessica dalam kamarnya.
Setelah berhasil membuka pintu kamar Jessica dengan kunci lainnya, Alvan pun masuk kedalam ruangan itu.
"Jessica! Jessica.. Dimana kamu? Jessica!." Teriak Alvan, yang kini melihat kesemua arah pada ruangan itu.
Tapi nihil, tidak ada suara yang menyambut teriakan Alvan pada ruangan itu.
Alvan mulai mencari Jessica ketempat tidur dan balkon, tapi juga tidak ada disana.. Dan tempat terahir adalah kamar mandi, yang kini mulai Alvan tuju mencari Jessica.
Setelah sampai didepan pintu kamar mandi, Alvan memutar gagang pintunya. Tapi ternyata dikunci dari dalam, Alvan pun memakai kunci cadangan karena sudah tidak sabar ingin melihat Jessica yang sedari siang tadi belum juga keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Alvan setelah membuka pintu kamar mandi itu, melihat Jessica terkulai tak berdaya dalam bathtub yang terisi penuh dengan air..
"Jessica!." Seru Alvan memanggil calon istrinya itu dengan nada meninggi, membuat semua pelayan yang mengikutinya tadi menoleh kearah kamar mandi.
Dengan rasa gugup Alvan langsung menyelimutinya dengan handuk, dan menggendong wanita yang terkulai lemah tak berdaya itu. Dengan perlahan Alvan membaringkannya diatas tempat tidur, dan langsung menyelimutinya agar tetap hangat.
"Cepat panggilkan dokter Gerry dibawah, ini sangat darurat!." Ucap Alvan pada pelayan yang mengikutinya tadi, dan beberapa pelayan itu segera melakukan tugas yang diberikan oleh majikannya.
Alvan memegang tangan Jessica, yang kini terasa sangat dingin. Karena disaat Alvan mengangkatnya dari bathtub tadi, air yang Jessica gunakan untuknya berendam adalah air dingin!.
Wajah wanita dihadapannya saat ini sangat pucat, tangannya yang tadi mulus kini keriput karena mungkin terlalu lama berendam dalam air.
Perasaan Alvan sedikit terganggu akan hal yang menimpa wanita dihadapannya saat ini, hatinya sedikit merasa bersalah akan apa yang telah terjadi saat ini.
Dulu, sebelum dirinya bertemu dengan Rossa. Alvan pernah menjalin kasih dengan wanita dihadapannya saat ini, tapi!.. Wanita ini terlalu merendahkan Alvan, sehingga membuat Alvan merasa tak dianggap sebagai tunangannya.
Dirinya sangat menyayangi wanita ini, tapi setelah tahu kalau wanita ini hanya menganggapnya seorang yang bisa dimanfaatkan.
Wanita dengan sejuta pesona, serta ramah- tamahnya membuat hati Alvan terketuk untuk mengejar Rossa. Dan akhirnya menjalin kasih, sampai 3 tahun lamanya..
.
.
Dokter Gerry pun masuk kedalam ruangan Jessica, membawa peralatan medisnya untuk memeriksa wanita itu.
"Apa yang terjadi? apa aku melewatkan sesuatu?." Tanya dokter Gerry pada Alvan, yang kini hanya melipat tangannya didada melihat kearah wanita yang kini terbaring lemah tak berdaya diatas tempat tidur.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Sebaiknya kau cepat periksa dia, dan apakah perlu dibawa kerumah sakit atau tidak!?." Ucap Alvan dingin pada dokter Gerry, membuat dokter Gerry hanya mengangkat bahunya saja. Karena melihat ekspresi Alvan, yang sedikit dingin padanya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, dokter Gerry pun sudah selesai memeriksa keadaan Jessica.
Dokter Gerry menarik napasnya dalam, lalu membuangnya kembali dari mulutnya.
"Bagaimana? apa perlu dibawa kerumah sakit!?." Tanya Alvan pada dokter Gerry, yang kini seperti menyuntikkan sesuatu dilengan Jessica.
"Sepertinya sangat perlu, karena dia terlalu banyak kehilangan cairan dalam tubuhnya. Dan dia juga sepertinya mengalami stres berat, apa ada masalah antara kalian?." Ucap dokter Gerry, balik bertanya pada Alvan.
Alvan hanya terdiam menutup mulutnya dengan tangan, dirinya saat ini sangat bingung. Karena kalau ia membawa Jessica kerumah sakit, maka mamanya akan datang kenegara J bersama orang tua Jessica.
Tapi kalau dirinya tidak membawa Jessica kerumah sakit, ia juga takut terjadi sesuatu pada wanita yang tengah mengandung anaknya saat ini.
"Apa bisa dirawat disini saja? aku tidak mau orang tua kami tahu hal seperti ini terjadi!. Jadi kau rawat dia disini saja, dan tolong rahasiakan ini dari Kakek dan Nenek." Ucap Alvan pada dokter Gerry, dengan kalimat yang sangat memaksa.
"Aku tidak yakin, karena aku bukan dokter kandungan. Tapi, aku bisa membawa temanku kesini untuk merawatnya bagaimana? Dia seorang dokter kandungan yang sangat terkenal, dan sangat berpengalaman." Ucap dokter Gerry.
"Baiklah, selama Kakek dan Nenek tidak tau akan hal ini tolong bantuanmu." Jawab Alvan.
"Kau yakin mereka tidak tau akan hal ini?" Tanya dokter Gerry lagi, agar Alvan tidak salah dalam mengambil keputusan.
Alvan kembali terdiam, karena ia tahu. Orang-orang yang mamanya kirim untuk mengawasinya kini semakin banyak, apa lagi setelah tahu kalau Jessica mengandung anaknya.. Alvan merasa selalu diikuti kemana-mana, sampai akhirnya ia juga memilih tinggal dimansion Kakek dan Neneknya.
Agar ada kelonggaran dari pengawasan orang tuanya, dan saat ini dapat Alvan sadari.. Kalau para pelayan yang tadi ia bawa, kini semakin banyak.
Dan mereka sudah berjejer menunggu perintahnya, Alvan tersenyum kecut. Ia merasa salivanya sangat masam, sehingga sangat susah untuknya telan kembali.
Sangat ironis nasibnya yang selalu diawasi oleh orang tuanya, yang selalu mengatur kehidupannya tanpa bisa ia jalani dengan bebas seperti teman-temannya yang lain.
Sampai sini Alvan paham maksud dokter Gerry padanya, bahwa tidak ada yang bisa ia tutupi dari siapapun tentang keadaan Jessica. Yang saat entah mencoba untuk bunuh diri! atau hanya kecelakaan yang tidak sengaja terjadi?.
__ADS_1
...☘☘☘...
...See you all ♡😘...