
"Pinjamkan aku uang dulu Sill, buat bayar taksi didepan." ucap rossa dengan nada yang bergetar, menahan isak tangis yang ia tahan agar tidak meledak saat itu juga.
"Sil...?" panggil Rossa lagi.
Silla yang masih bergelut dengan pemikiran nya sendiri, langsung mengangguk dan masuk kedalam mencari dompetnya. Tak berapa lama, Silla keluar lagi kedepan pintu. Ia masih melihat Rossa berdiri mematung disana, tidak nergerak sedikit pun.
"Kamu masuk dulu Ros, biar aku yang bayar ongkos taksi nya." ucap Silla, yang tidak tega melihat kondisi sahabatnya itu.
Silla pun keluar dari rumahnya dan melihat kiri kanan, kesana kemari tapi tak ada taksi yang di maksud Rossa.
Silla pun mengangkat bahu nya, seakan tak perduli. "Kalau pak sopir taksi nggak mau dibayar, ya udah. Mungkin dia sudah kaya kali.?" batinya berlalu masuk lagi kedalam rumahnya.
Silla masuk kedalam rumah nya dan menutup pintu, ia masih melihat Rossa duduk mematung di sofa seakan pikiran nya kosong.
"Ros..!" seru Silla.
"Kamu mandi dulu biar segar, nanti kalau sudah mandi. Kamu bisa cerita sama aku, kemana kamu menghilang malam ini? Dan aku juga ada yang mau aku sampaikan sama kamu." ucap Silla yang duduk di hadapan Rossa, sambil menggegam kedua tangan Rossa. Seakan memberi energi, agar sesalu tegar.
Rossa memandang wajah Silla yang tersenyum hangat kepada nya, perasaan Rossa kebali kepada titik paling membeci diri nya sendiri.
Perasaan jijik bercampur putus asa, terngiang di benak nya. Air mata Rossa lolos kembali seperti air yang tumpah dipipinya
"Jangan menangis lagi, kamu itu wanita yang paling popoler dikampus kita. Kamu tau?kenapa aku mau berteman dengan mu? walau pun kamu miskin..?" tanya silla sambil menghapus air mata Rossa yang membasahi pipi nya.
Rossa hanya menggelengkan kepalanya.
"Karena dulu aku punya banyak teman,! tapi mereka cuma ingin menikmati uangku saja. Mau barang-barang berharga dan bermerek yang aku punya, kalau aku menolak permintaan mereka.. mereka akan sangat marah padaku."
"Jadi.. aku memutuskan untuk tidak lagi menuruti permintaan mereka. Dan lebih baik sendiri, dari pada aku selalu mengejar ketidak tulusan mereka berteman dengan ku."
"Tapi, waktu bertemu dengan mu. Aku jadi tau, berteman yang sejati itu seperti apa..?
Kamu begitu apa adanya, dan tidak punya pemikiran yang selalu ingin meminta bantuan dari orang lain." ucap silla yang tersenyum sambil memeluk Rossa, agar mau berbagi sedihan nya bersama Silla. Yang Silla tau, Rossa pasti akan memendam kesedihan nya seorang diri.
Rossa pun ingin menangis lagi, kerana perlakuan sahabat nya yang sangat menghargainya itu. Walau pun perbedaan mereka sangat lah jauh, Silla adalah anak pengusaha ternama di kota A, sedangkan rossa hanyalah sebutir debu yang akan terbang kesana kemari kalau di terpa angin.
"Udah yaa, kamu bersihin diri dulu. Ada yang ingin aku sampaikan padamu, dan sebentar lagi juga pagi ini sudah jam 5 subuh." ucap Silla yang masih menggosok punggung Rossa, lalu melepaskan nya kembali.
__ADS_1
"Yuk kita naik ke kamarku!." seru Siilla. Yang ingin menarik tangan Rossa membawanya kelantai atas, namun Rossa hanya diam saja di tempat duduknya. Tak bergerak sedikit pun, Silla pun menoleh ke arah rossa.
"Aku pinjam kamar tamu dibawah saja Sill, bisa engga?" tanya Rossa sambil menghapus sisa air matanya.
"Bisa, pilih aja mau yang mana?" ucap Silla yang melepaskan tangan Rossa, tangan Rossa yang nampak bergetar . "Dari tadi tubuh nya bergetar terus, sebenarnya rossa kenapa.?" batin Silla bertanya- tanya.
Rossa pun beranjak dari duduk nya dengan sangat pelan, karena anggota tubuhnya yang lain terasa begitu menyiksanya. "Biar aku antar kamu kekamar tamu Ros" ucap Silla lagi, yang tidak tega dengan sahabatnya itu.
☘☘☘
Sementara di tempat lain.
Jo sebagai Asisten pribadi Morgan dan juga Gerry seorang dokter sekaligus Sahabat Morgan, masih mematau Sebuah rumah mewah kawasan elite itu.
"Aku enggak percaya, kalau Morgan si anti wanita itu sampai berbuat begituan sama wanita tadi.!" ucap Gerry yang memandang kosong kearah rumah mewah berlantai dua itu.
Dokter Gery.
.
Asisten Jo dan Dokter Gerry pun saling manatap.
Asisten Jo.
.
"Maksudmu Morgan dijebak..?" tanya Dokter Gerry pada Asisten Jo.
"Saya tidak tau pasti tuan, tapi kita bisa memastikan nya setelah ini. Ayo kita kembali kehotel." ucap Asisten Jo, lalu membawa mobilnya kembali kehotel keluarga Lois.
☘☘☘
Hotel FL
__ADS_1
Matahari masih malu-malu untuk keluar menyinari dunia, karena memang masih sangat pagi sekali.
Terlihat seorang pria, yang masih berbalut selimut itu tertidur dengan tenang.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu kamar nya.
Tok... tok... tok... tok.... suara ketukan dari pintu luar kamar.
"Tuan, apa anda didalam..? saya akan masuk sekarang.." ucap Asisten Jo, yang didampingi Dokter Gerry disampingnya. Mereka berdua pun membuka pintu, dan masuk kedalam kamar yang tidak terkunci itu.
Terlihat Morgan masih sangat nyaman memeluk bantalnya dengan tengkurap, sama seperti sebelumnya waktu Rossa meninggalkannya.
"Kau lihat itu jo,..?" ucap dokter Gerry yang lalu mendudukan bokong nya disofa.
"Kita berdua bergadang semalaman, menunggu nya di ruang cctv. Melihat keadaan monitor depan kamarnya, dan ternyata dia hanya bersenang-senang dengan seorang wanita. Dan tertidur pulas sangat nyaman dikasurnya, sungguh bodoh sekali..!" ucap dokter Gerry. Menyandarkan kepalanya disofa panjang, nan empuk dikamar termewah itu.
"Hanya saya sendiri yang bergadang memantau cctv tuan, tuan Gerry juga tertidur dikamar sebelah.." ucap Jo yang tak terima.
"Tapi kau juga membangun kan ku, waktu wanita itu keluar dari kamar ini..! Itu berarti kita berdua.!" ucap dokter Gerry yang tak mau kalah.
Karena mendengar orang yang sangat berisik, Morgan pun membuka matanya lalu bersandar di kepala ranjang king size itu.
"Kenapa kalian kesini, jam berapa sekarang.?" tanya Morgan yang masih mengumpulkan kesadaran nya, karena kepala nya yang sangat terasa sakit.
"Ini baru pukul 05: 40 tuan." jawap asisten Jo.
Mata asisten Jo tertuju pada kasur yang terlihat berantakan, dan ada sesuatu yang makin membuatnya penasaran. Ia pun mendekat, untuk memastikan penglihatan nya.
Asisten Jo menutup wajah nya malu, setelah melihat yang ia pastikan itu.
Dokter Gerry yang melihat tingkah laku asisten Jo pun mengeryitkan dahi nya! "Ada apa dengan anak itu..?" batinya.
Ia pun berdiri, dan melangkah kan kakinya ke arah asisten Jo yang nampak malu-malu dan wajah nya yang sudah merah padam bagaikan udang rebus.!
.
.
__ADS_1
Novel ini masih dalam revisi, mungkin bab selanjutnya akan sedikit berbeda dari dialog sebelum nya.
Terima kasih yang sudah mampir..😍 jangan lupa tinggalkan jejak di empat kolom terakhir yaa. See you..😘