Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Kesempatan.


__ADS_3

Sesampainya Rossa diruang dapur, ia menyandarkan tubuhnya kedinding. Kakinya gemetaran menahan tubuh nya, Rossa menutup mulutnya yang hampir terisak karena menangis. Betapa ia sangat tidak ingin melakukan hal ini, tapi.. Ia harus tega kepada mantan kekasihnya itu, agar dirinya dan juga anak- anaknya terlindungi dari mamanya Alvan yang selalu ingin mengganggunya.


"Maaf Alvan, maaf!.. Tidak maksudku untuk membencimu, tapi semua ini aku lakukan agar kau menjauhiku. Cukup sudah aku dan keluargaku menerima hinaan dimasa lalu, tapi tidak sekarang. Aku akan mempertahankan derajat keluargaku, aku akan melawan siapa saja yang ingin menggangguku walau itu keluarga Lois" Batin Rossa, yang kini duduk bersimpuh dilantai dengan air mata rasa bersalahnya kepada Alvan.


Tiba- tiba...


"Aku tahu kau tidak sekejam itu Rossa! karena aku sangat mengenalmu." Suara pria didepan pintu sebelah Rossa, dan Rossa pun mendongakkan kepalanya keatas melihat orang itu.


"Kenapa kau belum pergi dari rumahku, cepat pergi! Bahkan aku sudah sangat muak melihatmu walau hanya sedetik, apalagi kau ada dirumahku saat ini!." Ucap Rossa kepada Alvan, dan memalingkan wajahnya kearah lain untuk menghapus air matanya.


"Aku akan pergi setelah ini." Balas Alvan yang juga ikut berjongkok, dengan kaki satunya melipat kedepan melihat wajah Rossa.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, untukmu. Walau pun ini sudah lewat satu hari, tapi doa yang terbaik selalu untukmu Rossa. Terimalah kado ini dariku, sebagai permintaan maafku padamu kalau ada salahku yang menyakitimu. Selamat ulang tahun Rossa, sekarang kau menjadi wanita dewasa yang sudah bisa dicium. Bukankah dulu kau bilang, saat usiamu 20 tahun baru bisa menciummu?. Tapi,.. sepertinya kesempatanku sudah tidak ada saat ini." Ucap Alvan tersenyum pahit, sungguh pahit bagaikan racun yang siap mematikan semua anggota tubuhnya saat ini.


Rossa sama sekali tidak bergeming, menoleh pun ia tidak mau kepada Alvan yang kini masih menemaninya duduk dilantai.


Melihat Rossa yang begitu membencinya saat ini, Alvan hanya berdehem menetralkan perasaannya. Ia yakin, saat ini Rossa hanya butuh ruang untuknya sendiri. Agar perasaannya lebih baik, karena baru saja mendapat musibah.


"Kalau begitu aku pulang saja, jangan lupa jaga kesehatanmu. Kalau ada apa- apa, hubungi saja aku. Bukankah kita sekarang keluarga, kata akan semakin sering bertemu." Ucap Alvan.


Namun Rossa masih diam saja, ia tidak mau kalau sampai luluh oleh sikap lembut Alvan lagi padanya.


Alvan sangat ingin sekali menyentuh kepala Rossa, seperti biasa ia lakukan dulu saat masih berstatus kekasihnya. Tapi saat ini, wanita dihadapannya ini adalah Istri pamannya. Tangan Alvan yang sudah terulur tadi ia tarik kembali, dan mengepalkan telapak tangannya kuat. Ia berdiri dari hadapan Rossa lalu perpaling ingin keluar dari batas pintu dapur, dan baru beberapa langkah kaki Alvan menjauh ia pun berpaling kembali kesamping Rossa dan...


"Berbahagialah dengan hidupmu yang baru, besok aku akan kembali keluar negeri. Kuharap kau baik- baik saja, dan semoga sukses." Ucap Alvan yang kini memberanikan diri, menyentuh kepala Rossa.

__ADS_1


Alvan pun pergi, dan terdengar sedang berpamitan dengan Rommi diluar.


Air mata Rossa kembali menetes, sungguh dirinya sangat jahat pada Alvan. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah jalan satu- satunya yang harus ia lakukan agar Alvan menjauhinya.


.


.


Pagi pun menyapa dunia, seperti biasa Rossa akan pergi kekantor untuk bekerja setelah meminta izin cuti 3 hari karena masih dalam keadaan duka.


Kini ia merasa sedikit lebih segar, karena meminum vitamin dari Jack. Yang secara langsung dibuatkan dari berbagai sayur- sayuran dan buah- buahan segar, dari dokter ahli jizi kepercayaan keluarga Moan yang dikirim langsung dari luar negeri. Dan berbagai varian rasa susu Ibu hamil, yang Jack sediri membawakan untuk Rossa secara pribadi.


"Rossaaaaaa...." Teriak Vivi, teman kerja Rossa yang paling dekat dengannya.


"Ah, akhirnya kau kembali kekantor!.." Seru Vivi memeluk Rossa dengan senangnya, sampai ia tidak sadar bahwa mereka berdua saat ini masih diluar kantor mereka.


"Eh, apa kau tidak tahu? Kalau kau memenangkan juara 1, dalam lomba menggambar perhiasan itu. Ahh, Rossa selamat yaa.. Apa kau tahu hadiah utamanya? kau bisa melanjutkan S2mu di negara J kyaaaa..." Teriak Vivi, yang begitu bersemangat untuk sahabatnya.


"Ehemm.." Suara pria dibelakang Vivi dan Rossa saat ini, yang membuat mereka berdua menoleh.


"Hee,.. selamat pagi pak Limo.." Ucap Vivi malu- malu melihat pria pujaan hatinya.


"Selamat pagi pak Limo.." Ucap Rossa pula pada atasannya itu.


"Pagi juga semuanya, Rossa. Kau bisa keruanganku setelah ini, ada yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Limo, lalu pergi memasuki kantornya.

__ADS_1


"Haah, dia sangat mempesona. Membuat hatiku cenat- benut saja, saat melihatnya." Ucap Vivi, yang kini masih melihat punggung pria yang ia sukai tadi.


Sedangkan Rossa hanya tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu, yang menurutnya sedikit lucu.


Rossa pun masuk kedalam kantor mereka, dan segera menuju ruangan atasannya yang tidak lain adalah Limo.


Rossa mengetuk pintu ruangan manajernya dan disuruh masuk kedalam, yang kini telah duduk berhadapan.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Ibumu Rossa, maaf tidak bisa hadir dipemakamannya." Ucap Limo.


"Tidak apa- apa pak, terima kasih banyak." Jawab Rossa tersenyum seperti biasa.


"Kalau begitu aku langsung saja pada intinya, selamat ya Rossa. Kau mewakili kantor kita memenangkan lomba, dan sketsamu dipilih untuk menjadi perhisan nomor satu yang akan dibuat oleh perusahaan negara J. Ini semua berkas- berkas yang perlu kau pelajari dan kau baca, kau akan mendapatkan pendidikan gratis dinegara J kalau kau bersedia kesana. Dan mendapatkan rekomendasi langsung dari perusahaan untuk kuliah sambil bekerja di perusahaan mereka." Ucap Limo sambil menyodorkan sebuah dukomen.


Rossa sangat terkejut mendengar itu, ia pikir Vivi hanya bercanda padanya tentang pendidikan gratisnya di negara J. Sebab menuntut ilmu dan bersekolah di negara J adalah cita- cita Rossa dari kecil. Dan benar saja, setelah Rossa mempelajari dan membaca dukomen yang manajer Limo berikan adalah. Surat Kontrak untuknya melanjutkan pendidikan gratis, sekaligus langsung bisa bekerja diperusahaan tersebut. Dengan gajih yang sangat luar biasa, dan kedudukan yang sangat sesuai dengan minatnya. Yang selama ini ia sukai adalah fasion, menjadi seorang perancang perhiasan mewah kelas dunia.


"Bagaimana? apa kau tertarik untuk melajutkan pendidikan dinegara J!." Tanya manajer Limo pada Rossa, yang kini telah menitikan air matanya kerena cita- citanya untuk menjadi seorang perancang kelas dunia telah terwujud.


"Aku sangat tertarik pak, bahkan ini adalah cita- cita Ayahku untuk menyekolahkanku kenegara J untuk menjadi seorang perancang." Sahut Rossa dengan mata yang sudah berbinar, karena senang bercampur haru atas kesempatan yang ia raih saat ini.


"Benarkah, kalau begitu selamat. 3 hari lagi kau akan diminta untuk segera kesana, karena negara J ingin cepat- cepat membuat perhiasan yang kau rancang. Untuk putri menteri yang akan segera meenikah, dan selama 3 hari ini kau bisa mengurus semua perlengkapanmu sebelum berangkat." Ucap Limo, yang juga merasa bangga pada Rossa. Karena sudah mengharumkan kantor cabang yang ia pimpin selama ini yang biasa saja, kini malah terkenal dan akan menjadi kantor pusat karena banyaknya rekan kerja sama.


........


.......

__ADS_1


...See you all❤...


__ADS_2